Menu

18 June 2018

7 Langkah Membuat Blog Post Ala Minimalist Blogger



Masing-masing blogger punya cara sendiri yang berhasil buat mereka. Nah di tulisan kali ini, saya mau berbagi proses ngeblog ala saya. 


Sederhananya, prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Brainstorming ide
  2. Menyusun draft
  3. Membuat postingan baru
  4. Proofreading
  5. Menentukan gambar ilustrasi
  6. Posting
  7. Promosi


Cukup sederhana ya. Sekarang mari kita go through per poinnya.



Brainstorming Ide

Semua berawal dari ide. Namun, ada kalanya blogger suka mengeluh kehabisan ide tulisan. Atau macet nulis gara-gara kena writer's block.


Kalau saya, brainstorm suka saya lakukan dalam perjalanan kerja (berangkat maupun pulang). Dengan jarak tempuh yang memakan waktu  +/- 30 menit, saya punya lebih dari cukup waktu untuk memirkan 1-2 ide tulisan.


Biar nggak lupa, begitu nyampe kantor/rumah langsung buka notes dan nulis poin-poin ide tadi.


Objective-nya brainstorming ini sebenarnya adalah nandon alias ngumpulin sebanyak mungkin ide tulisan. Mulai pengalaman sehari-hari, opini, hari besar nasional, maupun kompetisi blog.


Perlu diingat, dalam proses brainstorming, tidak ada ide yang terlalu baik/jelek. Jadi jangan batasi dirimu.


Menyusun Draft

Selanjutnya adalah mulai menuliskan draft/naskah tulisan. 


Dalam menyusun draft, ada beberapa pendekatan yang biasa saya gunakan. Yang pertama menggunakan target jumlah kata. Kadang saya juga membuat target waktu dalam menyelesaikan draft awal (misal, nulis selama sejam).


Untuk target jumlah kata, saya selalu berusaha menulis lebih dari 500 kata. Alasannya, mengurangi lebih mudah daripada menambah. 


Oya, 500 kata ini nantinya akan berkurang signifikan di proses proofreading.


Di sini saya menggunakan aplikasi Writer Plus Android. Karena selain simpel dan ramah memori, juga memiliki fitur word counter.


Dalam proses penulisan draft, sebaiknya kita selesai sekali duduk. Nggak perlu terlalu perfeksionis waktu drafting, kan ada proofreading.


Membuat Postingan Baru

Setelah draft siap dan lolos proofreading. Setelahnya saya mengakses situs Blogger.com lewat browser (Google Chrome) dan membuat draft baru.


Tujuan aktifitas ini untuk 'membuatkan' rumah bagi postingan terbaru saya. Jadi saya hanya menulis judul postingan, dan mengkustomisasi permalink supaya lebih enak dibaca nantinya.


Selesai, saya simpan draft tersebut dan saya tutup browser Chrome saya.


Proofreading

Kita sudah sama-sama tahu dan sepakat bahwa Proofreading itu penting. Sangking pentingnya, memposting tulisan yang belum lolos proofreading itu amat tidak bijak.


Di awal penyusunan naskah, fokus proofreading saya adalah tentang kualitas konten. Lalu di proofreading kedua, saya lebih menitikberatkan proses proofreading pada readibility alias kemudahannya untuk dibaca dan dipahami. Ini termasuk pemilihan gambar ilustrasi, atau memasukkan link di anchor text.


Dalam proses ini saya menggunakan aplikasi Blogger Pro untuk Android. 


Memilih Gambar Ilustrasi

Gambar di postingan-postingan saya, bersumber dari beberapa situs  seperti Pexels, Pixabay, maupun Shutterstok.


Secara layout, konsep gambar di postingan saya adalah landscape dengan lebar maksimal. Konsep ini saya adopsi dari template postingan di Medium.com.


Posting

Setelah semua ready, saya baca lagi dengan cepat sekali lagi untuk memastikan postingan tersebut bernilai dan terbaca.


Setelah baca bismillah, tulisan terbaru pun akhirnya terposting.


Promosi

Langkah berikutnya yang nggak kalah penting adalah promosi.


Dulu saya malu promosi konten di media sosial pribadi. Hanya berani share di grup blogger (seperti Warung Blogger dan Blogger Crony). 


Namun, saya coba memberanikan diri promosi di Facebook timeline, share status di Whatsapp dan Instagram, setelah sebelumnya saya bikin materi promosi menggunakan Canva.


Ternyata respon teman-teman pun juga cukup baik. Nggak seperti bayangan saya.




Nah, jadi itulah proses saya menulis s.d memposting update di blog. 


Mostly aktivitas blogging saya lakukan via handphone. 




Untuk aplikasi yang saya gunakan yaitu: Writer Plus (menulis draft), Google Chrome (membuat postingan baru, edit permalink, browsing gambar, promosi di Facebook), Blogger Pro (finishing touch), Canva (membuat materi promosi), dan Instagram & Whatsapp, untuk mempromosikan konten terbaru.


Kalau kamu gimana? Seperti apa sih proses update blog post di blog kamu?


•••••


Subscribe dan dapatkan update terbaru blog ini langsung ke inbox kamu.

Share:

16 June 2018

Review : Writer Plus Untuk Android




90% aktivitas menulis dan blogging saya lakukan lewat handphone. 


Untuk aplikasi menulis, kali ini saya mau share sebuah aplikasi buat kamu 'mobile writer'. Aplikasi ini bernama Writer Plus.


Writer Plus adalah aplikasi menulis besutan Easy4U yang terinspirasi oleh aplikasi Writer buatan James McMinnin. Ceritanya sih, berhubung Writer nggak ada update selama 4 tahun, akhirnya si Easy4U ini memtuskan untuk menciptakan aplikasi Writer Plus ini.


  Baca juga : Jotterpad Android


Memang, sekilas tampak sama antara Writer dan Writer Plus. Hanya ada beberapa fitur tambahan (tapi tidak terlalu banyak). 


Konsep minimalis yang diusung oleh Writer Plus ini cocok sekali untuk kamu yang nggak mau ribet dan fokus nulis. Di sini, kamu hanya perlu menekan tombol ➕ dan mulailah menulis.


Kamu masih bisa menyesuaikan jenis dan ukuran font yang nyaman buatmu. Namun, jangan berharap pilihan font yang macem-macem ya. Ini aplikasi untuk nulis. Kalau mau make over tulisanmu, nanti kalau tulisanmu sudah jadi, silahkan dipermak di aplikasi blog.




Kelebihan Writer Plus dibandingkan aplikasi menulis lain yang pernah saya coba yaitu ukurannya yang tidak sampai 1 MB. 


Buat saya, aplikasi ini berfungsi untuk membuat draft tulisan-tulisan di blog primachandra.com, sebelum saya copas ke Blogger Pro untuk proofreading dan finishing.


  Baca juga : Simplenote Android


Oya, kalau kamu termasuk blogger yang concern sama jumlah kata (kan biasanya di beberapa lomba blog mensyaratkan jumlah minimal kata), Writer Plus juga sudah dibekali fitur Word Count. Jadi, kamu bisa tahu progresmu sudah sejauh mana.


Nah, kalau kamu penasaran seperti apa sih performa Writer Plus ini. Coba saja kamu install dan pakai untuk menulis satu artikel. Setelah itu, up to you mau pakai terus atau cari aplikasi lain.


Itu dulu review sekilas dari saya. Semoga bermanfaat. Jangan lupa klik subscribe ya, supaya nggak ketinggalan update terbaru Minimalist Blogger.


•••••


Mumpung masih nuansa lebaran, saya juga mau menghaturkan Taqobalallahu minna wa minkum...mohon maaf lahir dan batin.


Share:

12 June 2018

Gagal Wawancara Kerja? Mungkin Ini Alasannya



Saya mengawali karir di HR sebagai seorang staff rekrutmen di perusahaan farmasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Setahun berselang, saya pindah ke perusahaan jasa SDM (outsourcing), masih sebagai seorang rekrutmen.

Di tahun 2011 saya bergabung dengan perusahaan manufaktur alas kaki di daerah Sidoarjo. Alasan pindah waktu itu, saya lebih menyukai lingkungan kerja manufaktur. Tidak ada masalah lain, hanya soal preferability.

Kalau dihitung, kurang lebih 4 tahun saya bergelut di dunia rekrutmen dan seleksi.

Selama itu saya melihat ada beberapa alasan, saya menerima atau menolak calon karyawan baru. Walaupun ini bukan sebuah standard di dunia rekrutmen, tapi mungkin ini bisa jadi referensi buat kamu yang saat ini sedang melamar kerja atau dalam proses rekrutmen (mis: psikotes, wawancara, dsb.).

1. Kamu Kurang Pintar
Jelas, kalau kamu tidak sepintar kualifikasi di posisi yang kamu lamar, ya sudah terima saja kegagalanmu dengan lapang dada.

Misalnya nih, posisi yang kamu lamar mensyaratkan, bisa berbahasa Mandarin dengan lancar. Nyatanya, satu-satunya bahasa Mandarin yang kamu kuasai adalah 'Xie-xie'. Jadi nasib lamaranmu sudah jelas adanya.


Baca Juga : Passion


2. Kamu Terlalu Pintar
Alasan berikutnya, alih-alih kurang menguasai bidang pekerjaan yang kamu lamar, kamu justru sangat excellence di situ. Eh siapa sangka itulah yang membuatmu gagal.

Kok bisa?

Well ada banyak faktor. Tapi logikanya sih, kalau dari skala 1(buruk sekali) s.d 10 (luar biasa), nilaimu itu adalah 9. Namun, posisi yang kamu lamar 'hanya' mensyaratkan kemampuan di angka 3.

Tentunya ini juga menjadi pertimbangan tersendiri buat perusahaan. Jangan-jangan kamu nggak kerasan karena kurang tantangan, dan ujung-ujungnya kamu resign. Alhasil perusahaan harus hunting lagi penggantimu.

Nah, itu kan jadi cost lagi buat perusahaan.

Lho, kan bisa dikembangkan ke jenjang yang lebih tinggi?

Well, idealnya sih begitu. But let's face it, di duniamu yang sekarang aja, mana lebih banyak terjadi ideal atau nggak ideal?

3. Kamu Kurang Baik
Selain faktor kemampuan dan keterampilanmu, bagaimana sikap kamu selama proses tes dan wawancara juga memiliki andil lho.

Let say, kamu adalah lulusan terbaik di angkatanmu. Tapi selama proses rekrutmen, kamu menunjukkan kesongongan dan tanda-tanda arogansi. Padahal posisi yang kamu lamar menuntutmu bisa bekerja sama dengan orang atau departemen lain. Tentunya sikapmu seperti ini akan menyulitkanmu menunjukkan performa yang baik. Dan pada akhirnya, berimbas kepada performa perusahaan juga.

Baca Juga : Dream Job

Kadang hal-hal sepele seperti perilakumu di media sosial pun juga masuk dalam penilaian lho. Setidaknya itu yang saya lakukan kepada calon karyawan baru. Ngepoin gimana kelakuan si calon karyawan di media sosial sering saya lakukan, untuk memastikan saya nggak salah rekrut.

Simply put, tanpamu saja sebua perusahaan sudah memilki segudang masalah. Jadi ngapain nambah masalah dengan mempekerjakan orang yang kurang tepat.

4. Kamu Terlalu Baik
Kebalikan dari poin nomer 3. Kadang-kadang terlalu baik pun juga bisa jadi penyebab kegagalanmu menjalani proses rekrutmen.

Penyebabnya bisa jadi karena posisi yang kamu lamar menuntutmu untuk tegas, bahkan mungkin keras. Kalau kamu adalah orang yang terlalu baik, (misal : mukul nyamuk aja nggak tega) tentu saja posisi itu bukan untukmu.

Salah-salah kamu bisa stress sendiri ntar kalau dipaksain.


KESIMPULAN


Pada dasarnya lolos atau tidaknya kamu dalam proses rekrutmen dan seleksi ditentukan oleh:

  1. Profilmu
  2. Profil pekerjaan yang kamu lamar
  3. Profil lingkungan kerjamu


Jadi ketika kamu mengikuti proses rekrutmen dan gagal, artinya kamu tidak sesuai dengan pekerjaan yang kamu lamar, titik. Ini hanya masalah kesesuaian saja. Kalau sesuai hayuk, kalau enggak ya sudah. Nggak usah baper.

Bisa jadi, kegagalanmu itu adalah kesuksesanmu. Karena bayangin kalau kamu diterima dan tenyata kerjaannya jauh lebih berat dari bayanganmu, bosmu jauh lebih galak dari harapanmu, dan rekan kerja yang sikutnya lebih tajam dari silet. Apa nggak mati berdiri tuh jadinya.

Anggaplah kamu adalah seorang pebisnis. Kamu dan skillmu adalah produk yang kamu tawarkan. Kalau memang customermu (perusahaan) nggak butuh produkmu, ya sudah.

Some will, some won't, so what. 

Share:

04 June 2018

Jangan Posting Sebelum Proofreading


Pernah dengar istilah, Proofreading? 

Waktu saya masih aktif sebagai kontributor di majalah karyawan, proofreading merupakan proses krusial. Karena di sinilah kami mengecek typo, mengedit, menata ulang urutan paragraf, sampai merombak total naskah yang dari kontributor. Tujuan proofreading hanya satu, memastikan pesan tersampaikan dengan jelas ke pembaca.

Apalagi majalah karyawan merupakan jembatan informasi antara pihak manajemen dan karyawan. Kalau sampai pesan yang disampaikan multitafsir, bahkan melenceng jauh...kan bisa bahaya.

Jadi itulah sekilas tentang proofreading. Lalu, bagaimana caranya?

Berikut beberapa poin yang saya tahu tentang cara proofreading. Kalau kurang, tambahin ya.

1. Selesaikan Naskahmu
Hal pertama sebelum proofreading adalah menyelesaikan draft alias naskahmu. Sounds so obvious padahal iya.

Kamu nggak akan bisa proofreading kalau nggak ada naskah yang bisa kamu proofread kan?

Sama halnya kamu nggak bisa menikmati soto ayam kalau ayamnya belum disembelih.

Selesaikan naskahmu dulu sebelum lanjut ke poin berikutnya.

2. Simpan dan Cuekin Naskahmu
Bukan untuk selamanya, cuma sementara aja. Paling cepet, kalau kamu selesaiin naskah ba'da Dhuhur, cuekkin sampe ba'da Maghrib. Tapi supaya lebih efektif sih 1-2 hari (hari ya, bukan tahun atau pun abad).

Tujuannya adalah kamu bisa melakukan langkah ketiga dengan efektif.

3. Baca Naskahmu
Inilah penyebab kamu perlu cuekkin naskah buatanmu selama beberapa saat. Supaya kamu bisa memposisikan diri sebagai pembaca. Dan, inilah poin penting proofreading : bagaimana naskahmu di mata pembaca.

Terkait : Membuat Tulisan Terbaca

Sad but true, seringkali kita sebagai penulis (termasuk blogger) lupa tentang bagaimana tulisan kita di mata pembaca.

Selesai, ya sudah...posting. Ndilalah, ketika ada yang meluangkan waktu dan atensinya mengunjungi blog kita (entah sungkan karena diminta BW balik atau memang tertarik sama topik kita), mereka kesulitan memahami apa inti tulisan kita.

Typo kececeran di mana-mana, nggak ada titik maupun koma, susunan paragraf nggak karu-karuan, bertele-tele, sampai inti pesan yang nggak jelas njluntrungannya.

Terus kita berharap dapat komentar apa nih kalau seperti ini postingan kita?

Karenanya, proofreading itu penting. Itu adalah cara kita memastikan apa yang kita sampaikan tertangkap sebagaimana adanya di mata pembaca.

4. Editing


Setelah kamu selesai membaca ulang naskahmu, dan gatel-gatel sendiri membacanya. Next thing to do adalah, perbaiki kesalahanmu. Bahasa kerennya sih, editing.

Ada beberapa cara untuk memudahkan proses editing ini.

Pertama, kamu bisa menggunakan Microsoft Word dan rubah format bahasa menjadi Bahasa Indonesia (jika naskahmu berbahasa Indonesia). Selanjutnya kamu fokus ke kata-kata bergaris merah dan perbaiki bila perlu.

Kedua, yang agak ribet. Print dan coret-coret naskahmu dengan bolpen merah. Sebagaimana halnya dosen pembimbingmu dulu.

Biasanya, ketika saya melakukan editing...dua paragraf pertama selalu jadi korban yang saya buang. Alasannya karena nggak add value apapun di situ.

Hanya opening nggak penting.


5. Finishing
Selesai editing, next thing adalah melakukan sentuhan akhir.

Bisa dengan memberikan ilustrasi yang relevan dengan topik yang kamu tulis, menambahkan link (external maupun internal), mungkin juga dengan menebali dan mencetak miring kata-kata tertentu di tulisanmu.


6. Baca Doa Sebelum Posting
Kalau kamu Islam, baca Bismillah dulu sebelum posting. Niatin postinganmu itu untuk ibadah dan membantu orang.

Boleh nggak berdoa supaya banyak yang baca alias traffic tinggi? Boleh, asal niatnya adalah semakin banyak yang baca, semakin banyak yang terbantu. Bukan sekedar ndongkrak DA/PA blogmu.

•••••

Nah, itulah sedikit yang bisa saya bagikan tentang proofreading. Semoga bermanfaat dan membantu meningkatkan kualitas tulisanmu.

Boleh di-share, boleh di-copas.

Terkait : Uncopyright

Last but not least, kalau kamu merasa tulisan-tulisan di blog ini bermanfaat, silahkan subscribe dan dapatkan update terbaru langsung di email kamu.
Share:

31 May 2018

Bahagia Itu Sederhana?


Bahagia itu sederhana, kitanya yang ruwet. Kita menetapkan terlalu banyak syarat dan ketentuan untuk bahagia.

Harus punya sekian rupiah, punya pasangan cantik atau ganteng, punya anak yang penurut, punya barang-barang branded, bisa jalan-jalan ke luar negeri minimum 4 kali seminggu. Barulah kemudian, kita bisa menyebut diri bahagia.

Tapi apa iya semua itu harus ada biar kita bahagia? Jadi kalau itu semua nggak ada, kita nggak bahagia gitu?

Bahagia itu pilihan. Kita yang menentukan kebahagiaan kita. Atau lebih tepatnya, kita yang memilih apakah kita bahagia atau tidak. Karena, kita yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam diri kita.

Baca juga : Why Me...Why Not?
Bahagia, bukan semata soal senang-senang. Jangan salah mengartikan antara kebahagiaan dan kesenangan. Karena itu adalah dua hal yang berbeda.

Menjadi pengusaha sukses dengan mengalami banyak kegagalan, diolok-olok, dibully, dibohongi, itu semua nggak ada senang-senangnya. Yang ada malah sakit semua. Tapi, itulah harga sebuah kebahagiaan. Ada perjuangan dan pengorbanan. Terlebih bila konsekuensi dari tidak menjadi sukses lebih mahal daripada menjadi sukses (misal : keluarga terlantar, kelaparan, dll).

Seorang ibu yang bangun tengah malam untuk menyusui anaknya, menyempatkan pumping di sela-sela kesibukan pekerjaan, atau guling-guling jungkir balik untuk menyelesaikan masakan, cucian, dan nyuapin buah hatinya...apa iya itu menyenangkan? 99% mungkin akan menjawab tidak.

Tapi kan memang bahagia tidak selalu menyenangkan.

Segala sesuatu perlu proses. By default ketika kita mau memanen, kita harus mau menabur. Kalau tidak mau menabur, kita pun tetap perlu berkorban uang untuk membeli. Sudah hukum alam seperti itu.

Bahagialah karena kita memilih untuk menjadi bahagia. Karena bahagia itu sederhana.
Share:
Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén