Menu

18 May 2018

Malas Nulis? Ini Yang Saya Lakukan



Saya rasa kita semua sudah pernah diingatkan kalau menjaga konsistensi menulis itu penting. Bahkan kita juga ikut ngingetin teman, saudara, dan siapa pun yang ceritanya mau jadi penulis, bahwa menjaga konsistensi nulis itu wajib hukumnya.


Tapi, jujur deh...menjaga konsistensi nulis itu gampang atau susah? Puasaan lho, tar kalau bohong dosa dan batal puasanya 😁.


Kenapa sih konsisten nulis itu susah? Karena tidak mudah. Titik. 


Oya, ada yang bilang ini namanya writer's block, tapi demi kebaikan bersama, kita bilang aja 'males nulis' ya. Kan ujung-ujungnya sama aja....nggak nulis hehehehe.


Kalau buat saya, ada beberapa aktivitas yang saya lakukan ketika rasa malas nulis menyerang. 


Blogwalking

Kebetulan saya lebih banyak nulis untuk saya posting di blog daripada nulis buku. Jadi, aktivitas blogwalking alias unjung-unjung ke blog orang adalah aktivitas yang saya pilih ketika rasa malas datang menghampiri.


Buat saya, selain mendapat inspirasi, saya juga 'terpaksa' nulis opini saya di kolom komentar. 


Walaupun nggak sepanjang 300 kata, tapi lumayan lah buat ngelemesin jempol (soalnya pake hape).


Makanya, jarang saya ngasih komen singkat seperti 'pertamax', nice, thanks, dll. Kecuali kalau sudah capek-capek nulis ternyata webpage-nya nge-reload.


Scrolling Timeline

Kebetulan saya punya satu akun Facebook baru yang isinya teman-teman blogger. Ceritanya sih sengaja dipisah dari akun pribadi.


Di timeline biasanya ada beberapa kawan blogger yang curhat soal blognya, ngeshare postingan, atau sekedar ngupdate nggak jelas. Kadang dari situ saya dapat inspirasi nulis.


Kadang kalau postingannya tentang blogging, saya ikutan nimbrung komen. Nah, nulis juga kan jadinya.


Tapi, perlu dibatesi juga. Jangan kelamaan scrolling di satu medsos. 3x scrolling, pindah ke medsod lainnya. 


Bikin Quotes

Sekarang ini jamannya 'quotes'. Apa aja di-quote-in. Makanya di playstore ada bejibun aplikasi quotemaker.


Kalau saya, biasanya pakai aplikasi Canva.


Walaupun template di aplikasi nggak sebanyak versi web-nya. Namun untuk sekadar ngedit-edit gambar dan teks, sudah cukup oke lah.


Selanjutnya diposting di Instagram, Whatsapp, atau Facebook.


Tantangannya adalah bagaimana merangkai kata yang nggak kepanjangan, ada rimanya, dan dipadu ilustrasi yang pas.


Blogging

Aktivitas-aktivitas di atas adalah 'pengalihan' supaya rasa malasnya pergi. Setelah itu balik lagi deh nulis di blog. 



Jadi begitulah ceritanya ketika saya malas nulis. Saya yakin, kamu pun punya cara lain yang efektif buat kamu. Boleh dong dibagi ceritanya.


Kita ketemu lagi di postingan selanjutnya. Jangan lupa subscribe ya biar dapet update dari blog ini langsung ke email kamu.

Share:

17 May 2018

Tetap Produktif Menulis Selama Bulan Puasa



Bulan penuh berkah...bulan suci Ramadhan telah datang. Alhamdulillah, kita masih dipertemukan dengan bulan yang mulia ini. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjalani Ramadhan sampai selesai.


Oya, bicara soal bulan puasa biasanya banyak orang yang produktivitasnya mulai seret nih. Tak terkecuali blogger dan para penulis kreatif lainnya.


Lagi puasa nih, jadi nggak kuat mau nulis, atau ide nggak ngalir nih gara-gara puasa. Hehehe...puasa dibawa-bawa 😅.


Tapi itu orang lain (yang nggak baca blog ini). Kalau kamu pasti puasa malah semakin kenceng nulisnya.


Bicara soal puasa dan produktifitas menulis, ada beberapa tips nih yang bisa kamu terapkan biar puasamu jadi tambah greget (insya Allah).


Tips 1 : Tentukan Waktu Untuk Menulis

Salah satu alasan blogger (di luar sana, bukan kamu) nggak menulis adalah karena mereka nggak punya waktu. Apalagi kalau harus nyiapin menu sahur, sarapan si kecil yang belum puasa, hingga ke menu berbuka. 


Rasa-rasanya udah habis waktu sehari buat ngerjain itu semua. Kurang malah 😁.


Tapi, tahu nggak kalau yang namanya menulis itu nggak butuh waktu seharian juga kok. Kalau dari pengalaman saya, 15 menit sekali duduk itu sudah cukup kok.


Nggak perlu sampai kelar satu novel. Cukup selesaikan 300 kata dalam waktu 15 menit. Kalau nggak selesai nggak apa-apa, nanti dilanjut lagi.


Coba perhatikan rutinitasmu. Kapan kira-kira kamu punya free time 15 menit dari serangkaian kepadatanmu itu.


Luangkan waktu, jangan tunggu ada waktu luang


Itu kuncinya. Karena waktu luang hanya ada kalau diadakan



Tips 2 : Siapkan Senjatamu


Kita semua punya preferensi sendiri-sendiri di dalam memilih aplikasi untuk menulis. Ada yang lebih nyaman menggunakan PC, Laptop, atau seperti saya yang menggunakan handphone.


Apapun itu, pastikan semua siap akses di saat kamu sudah 'punya waktu' menulis.


Jangan sampai pas momennya ada, eh tools-nya nggak ready. 


Tips 3 : Duduk dan Menulislah

Last but not least adalah, duduk dan mulailah menulis.


Gerakkin aja jari jemarimu di atas papan ketik. Biarkan mereka menari-nari dengan bebasnya. Jangan dikit-dikit diedit, dikoreksi, diganti, dsb. Nanti ada waktunya sendiri buat ngedit. Tulis aja.


Write with your heart, rewrite with your head


Cukup mudah kan? Jadi, jangan jadiin puasamu sebagai alasan untuk nggak nulis ya. Itu bukan alasan, hanya alesan yang kamu buat-buat. Supaya kamu boleh absen nulis.


Punya tips menulis lainnya? Boleh dong di-share di kolom komentar. 

Share:

15 May 2018

Logo Baru, Semangat Baru



Kawan, apa sih arti ngeblog buat kalian? Pernah nggak, sedikit aja terlintas pertanyaan di kepala kita, "Ngapain sih kita ngeblog?"


Apakah demi uang? Popularitas? Sekedar menyalurkan hobi nulis? Atau...karena teman (mungkin gebetan) juga ngeblog?


Jujur, beberapa hari ini saya mencoba berpikir ulang tentang ngapain sih saya ngeblog (nulis di blog). Harapannya sih, saya bisa punya jawaban super keren seperti para blogger rendah hati lainnya, ngeblog karena ingin berbagi.


Nyatanya tidak!


Kalau saya bilang ngeblog karena saya ingin berbagi, dari lubuk hati yang terdalam... saya bisa bilang kalau itu hanyalah omong kosong. Karena faktanya, saya ngeblog demi satu tujuan...popularitas.


Ketika ada yang mengunjungi blog saya, memberikan komentarnya terhadap postingan saya, rasanya itu menyenangkan sekali. Dan menciptakan efek ketagihan.


Akibatnya, saya tidak lagi murni menulis dari hati. Melainkan ada pamrihnya. Yaitu untuk dikomenin.


Saya nge-share postingan saya di beberapa grup Facebook untuk blogger. Tujuannya sebenarnya bukan untuk sharing, melainkan meningkatkan jumlah pengunjung blog saya.


Awalnya saya kira itu normal. Ternyata tidak.



MELIHAT KEMBALI ALASAN MEMULAI


Di saat kebingungan melanda, tak ada salahnya bagi kita untuk sejenak melihat kembali alasan kita memulai. Seperti halnya memasang pigura. Kita perlu sesekali bergerak mundur untuk melihat apakah pigura yang kita pasang sudah lurus atau belum. Kalau ada yang bantu ngelihatin, that's great. Kalau tidak pun tak jadi soal.


Dan, alasan saya ngeblog ternyata karena saya suka menulis. Saya menulis tentang apapun di blog saya. Fiksi, non fiksi...jurnal, esai, review, dan lainnya.


Karenanya saya sampai hari ini tetap menulis sekalipun tak ada orang yang membaca tulisan-tulisan saya.


Ngomong-ngomong soal tulisan, saya percaya pada tiga hal yang akhirnya saya jadikan tagline blog ini. Sekaligus pengingat ketika postingan-postingan saya mulai sedikit 'keluar jalur'. Begitu pentingnya ketiga hal ini sampai-sampai saya jadikan value alias nilai di dalam blog ini.


1.Valuable

Poin pertama dari value blog ini adalah soal 'kualitas' konten di setiap tulisan yang saya posting. 


Sekalipun blog ini adalah sebuah blog pribadi, tetapi saya terlanjur berjanji kepada diri sendiri untuk menjaga setiap kualitas konten. Karena bagi saya, menjaga kualitas konten merupakan cara untuk menghormati waktu dan atensi yang diberikan pengunjung blog saya.


2. Readable

Sebaik-baiknya tulisan tak ada gunanya bila tidak terbaca. Ingat buku-buku jaman kuliah dulu? Mana yang paling kalian ingat? Isinya atau sampulnya?


Atau contoh lain, pernah tanda tangan kontrak/perjanjian yang isinya banyak pasal dan klausulnya?


Kira-kira bentuk-bentuk tulisan seperti itu readable atau mudah dibaca nggak? Perlu upaya ekstra keras untuk memahami isinya. Sukur-sukur bisa dipahami. Kalau pas lagi banyak kerjaan dan urusan, biasanya asal teken tanpa memahami secara detail isi dari kontrak/perjanjian tersebut.


Belajar dari hal itu, saya nggak kepengen blog saya ini kontennya tidak readable, nyusahin orang yang mau baca. 


Karenanya setiap selesai menyusun draft, saya selalu melihat sekilas bagaimana tampilan tulisan itu. Sudahkah tulisan saya itu terlihat menarik dan user-friendly, sebelum saya melangkah lebih jauh untuk mengedit kontennya?


Membuat konten yang bagus dan nyaman dibaca adalah dua elemen penting untuk postingan-postingan saya.


3. Uncopyrighted

Tulisan-tulisan saya semua sifatnya uncopyrighted alias tidak memiliki hak cipta. Saya selaku pemilik dan penulis blog membebaskan siapa pun untuk mengambil, menyalin sedikit/semua isi di blog ini. Nggak perlu minta ijin, nggak usah sungkan.


Kenapa saya melepaskan hak cipta saya atas tulisan-tulisan saya? Bukannya setiap tulisan oleh blogger itu adalah hak kekayaan intelektual yang harus dijaga ya? Kalau nanti di-copas sembarangan, dijual, gimana?


Silahkan saja.


Kalau tulisan saya (yang nggak seberapa bagus ini), kemudian dipoles sedemikan rupa sehingga membuatnya lebih asik dibaca dan menjangkau banyak orang, ya kenapa enggak? Bukankah itu baik?


Saya nggak terlalu mikirin sih mau di-copas atau diapain tulisan-tulisan saya. Pun demikian dengan pencantuman nama saya. Mau disebut terima kasih, enggak ya nggak apa-apa.




Nah, kebetulan saya ini orangnya pelupa. Jadi supaya selalu ingat value/nilai yang saya pegang untuk blog ini, maka saya tuliskan lah di header blog. Saya jadikan tagline di blog minimalis ini. 


Itulah cerita singkat di balik logo baru Minimalist Blog ini. 



Kita ketemu lagi di postingan selanjutnya. 


Share:

13 May 2018

Jika Aku Teroris

Pagi ini, seperti biasa saya dan istri saya menjalankan aktivitas akhir pekan dengan menjalankan bisnis kecil kami. Sebuah bisnis yang baru saja kami mulai jalani sejak 3 minggu belakangan ini.


Selepas kami selesai menata barang-barang dagangan, sambil menunggu pelanggan berdatangan, saya isi waktu dengan scrolling media sosial. Killing time lah.


Lagi asyik-asyik scrolling, saya dikejutkan dengan sebuah status dari seorang kawan bahwa pagi ini terjadi pemboman di gereja. Tak hanya satu, tapi 3 gereja di Surabaya, ketika kawan-kawan umat Kristiani sedang menjalankan aktivitas ibadah mereka.




Aksi terorisme telah menyerang kota Surabaya.

Surabaya berduka, seluruh rakyat berduka. Apalagi ketika siang hari saya mendapat kabar bahwa salah satu korban meninggal dunia adalah senior saya semasa kuliah dulu. Walaupun saya tidak mengenalnya, tapi tetap saja duka ini menjadi lebih personal untuk saya.


Apa kabar netizen?
Hampir seluruh timeline Facebook, Twitter, Instagram, sampai status Whatsapp, penuh dengan duka mendalam dan kecaman sampai kutukan terhadap teroris dan terorisme. Hashtag #SurabayaWani dan #SurabayaKuat menghiasi aneka ragam postingan di media sosial.


Seperti biasa, ketika sebuah fenomena merebak...perang opini pun terjadi di antara netizen.


Mereka semua mengecam aksi terorisme, tapi entah kenapa, opini-opini itu berujung pada debat kusir, saling menghujat, dan menyudutkan pihak tertentu.


Ada pula netizen yang 'baik hati' membagikan update terbaru foto dan video dari tragedi peledakan bom pagi ini. Foto dan video uncensored yang dengan gamblang menunjukkan gambar seorang korban meninggal dalam kondisi mengenaskan.


Saya bertanya-tanya, para netizen yang bijak ini semua mengecam dan bahkan menyatakan perang terhadap terorisme, tapi aksi mereka seolah mendukung aksi terorisme, dengan menjadi kepanjangan tangan para teroris ini untuk menebar teror.




Berempati Kepada Teroris
Empati sejauh yang saya tahu adalah kemampuan seseorang untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. Sederhananya, menempatkan diri di posisi orang lain.


Kalau versi KBBI :

em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan
n mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;


Terus maksudnya berempati kepada teroris itu gimana? Apa kita memaklumi dan memaafkan aksi terorisme?


Nope. Absolutely not!


Maksud saya berempati kepada teroris adalah, kenapa nggak kita coba berpikir dan merasa seperti layaknya teroris.


Coba kita tanyakan kepada diri kita sendiri,

 

"Kalau saya teroris, apa yang saya mau orang-orang pikirkan dan rasakan dari aksi terorisme yang saya lakukan?"


Kalau saya jadi teroris, pastinya mati karena bom bunuh diri bukanlah tujuannya. Itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Keresahan, ketakutan, perpecahan sepertinya lebih berharga dibanding sekedar mati bunuh diri.


Sekarang, mari kita melihat ke dalam diri kita masing-masing. Sudahkah kita mencoba berpikir dan merasa selayaknya para teroris itu berpikir dan merasa?


Mungkin, kalau kita mau sedikit saja melihat dari sudut pandang teroris, kita tidak perlu debat opini di media sosial, share video maupun gambar detik-detik meledaknya bom yang membuat kawan dan saudara kita sendiri semakin resah, atau bersih-bersih friend list.


Bukankah kesuksesan aksi terorisme itu diukur dari sejauh mana efek 'teror' yang mereka lakukan menghantui kita?


Melihat apa yang kawan-kawan netizen lakukan, sepertinya aksi terorisme terbilang sangat sukses. Ironisnya, kita turut andil dalam menyukseskan terorisme ini.


Share:

10 May 2018

Perceraian Dan Pihak Ketiga


Eh, sudah pada denger belum kalau artis S itu mau cerai? Pasti itu gara-gara ada orang ketiga ya. Ck...ck...ck...kok tega ya dia kaya gitu.

Jadi public figure itu memang gampang-gampang susah. Segala tindak tanduknya mudah sekali jadi konsumsi publik. Mulai yang resmi sampai paparazzi.

Pun demikian dengan si publik sebagai konsumennya. Ada yang bertindak sebagai end user, ada pula yang mengolahnya lagi menjadi sesuatu yang dramatis dan bombastis untuk kemudian 'dijual' lagi kepada konsumen lain.

Dan bicara soal berita-berita artis dan selebritis. Apa ada yang lebih menarik dari berita kawin-cerai para artis?

Di dalam dunia jurnalistik, ada istilah bad news is a good news. Semakin buruk beritanya, semakin baik. Karena semakin banyak orang yang tertarik untuk baca dan mengikuti perkembangannya.

Karenanya tak heran, kalau berita-berita kawin-cerainya para artis ini sangat laku bak kacang goreng (jangan banyak-banyak makan kacang, nanti asam urat).

Mana yang lebih 'clickable' dari kedua berita berikut :
  1. Artis A bercerai dengan pasangannya karena sudah tidak lagi ada kecocokan, atau
  2. Artis B bercerai dengan pasangannya karena ada orang ketiga

Tentu saja berita kedua akan lebih membangkitkan minat dan gairah kita dibandingkan berita pertama. Bahkan sekalipun kita mengklik berita pertama, pastinya kita punya asumsi kalau penyebab perceraian artis A itu juga gara-gara orang ketiga.

Pertanyaannya, dari semua penyebab perceraian yang ada, kenapa kita lebih berharap kalau penyebab perceraian adalah orang ketiga?

Dramatis.

Sebagai manusia, kita adalah makhluk yang emosional. Nggak laki, nggak perempuan sama saja. Kita lebih suka dengan hal-hal yang sifatnya dramatis yang menyentuh sisi emosi kita.

Nggak percaya? Masih ingat film Titanic yang dimainkan oleh Leonardo De Caprio dan Kate Winslet? Film ini menceritakan tentang kecelakaan kapal yang diklaim terhebat di masanya. Terus, kenapa harus ada adegan percintaannya? Kenapa pakai musik-musik melow? Kenapa nggak dibikin aja, kapal berangkat terus nabrak gunung es, lalu tenggelam, selesai.

Jawabannya sederhana, nggak laku.


Sama halnya dengan kasus perceraian artis karena pihak ketiga. Kita lebih tertarik mengklik, menyimak, dan mengikuti perkembangan terbaru berita perceraian dan orang ketiga ini, karena dramatis dan emosional.

Dari sisi bisnis, sifat konsumen semacam ini adalah sebuah peluang. Makanya sinetron masih tetep eksis kan?

Sama halnya dengan kasus perceraian karena pihak ketiga. Minimal di dalam drama ini kita akan disuguhkan dua versi yang masing-masing punya tiga sudut pandang, dan masing-masing punya dramanya sendiri-sendiri.

Versi 1 : Suami Selingkuh
Di sini kita akan disajikan drama sang istri sebagai korban, drama suami dan selingkuhannya sebagai sang penjahat.

Versi 2 : Istri Selingkuh
Kurang lebih sama dengan versi pertama, tinggal dibalik aja siapa dapat peran apa.

Pada akhirnya semua berita ini akan memunculkan sifat dasar kita sebagai manusia, menghakimi.

Kita menghakimi si suami, istri, dan selingkuhan dengan pola pikir kita, yang kita anggap benar, kemudian kita tuangkan di media-media sosial. Tak lama berselang 'hakim-hakim' lain datang memberikan analisa dan penghakimannya di kolom komentar.

Dan apa yang terjadi ketika para hakim berkumpul dalam satu forum (komentar)?

Saling menghakimi.

Inikah fitrah kita sebagai manusia? Menjadi seorang hakim? Padahal sebentar lagi lebaran dan kita semua berharap untuk kembali fitrah.

Kembali fitrahnya seperti ini?
Share:
Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén