Menu

24 June 2018

Anak Nakal vs Ayah Kurang Akal




Ironis. Mungkin itulah satu kata yang paling menggambarkan kondisiku saat ini. Betapa tidak, di satu sisi aku paling kuatir apabila ada orang lain (misal : asisten rumah tangga) memarahi dan membentak-bentak anakku, memperlakukannya dengan kasar, menorehkan luka entah itu fisik maupun psikis. Namun nyatanya, kekerasan itu tetap ia alami. 


Berita baiknya, bukan dari orang lain perlakuan tak pantas itu ia terima. Melainkan dariku, orang tuanya. Sosok yang seharusnya melindunginya.


Di momen libur panjang lebaran yang harusnya kami manfaatkan dengan baik untuk mengukir memori indah bersama, justru menjadi saat yang mengerikan untuknya.


Kerap kali kreativitas yang ia hendak pamerkan pada kami, dengan harapan menerima apresiasi dan atensi figur idolanya, berakhir jauh dari harapan. Jangankan sekedar perhatian apalagi pujian, justru bentakan yang meluncur deras dariku.


Ketika ia memamerkan keahliannya berjalan di tepi got dangkal depan rumah, yang ditutup dengan kegagalan mempertahankan keseimbangan dan membuatnya tercebur di got itu. Bukan iba maupun kuatir yang spontan keluar, melainkan sebuah tatapan penghakiman. Sebuah pesan tak terucap, "Tuh kan, makanya jangan aneh-aneh toh, sekarang jadi ngrepotin papa mama kan," terkirim mantap ke dalam jiwanya.


Wajahnya seketika memucat pasi. Ketakutan tergambar jelas dari wajah kecilnya.


Label 'anak nakal' pun terukir di benakku saat menatapnya.


Ironis. Mengingat betapa 3 tahun yang lalu, aku lah yang selalu mendorongnya agar tak ragu mengeksplorasi dan mencoba pengalaman baru. Waktu itu, aku juga yang selalu sabar mendampinginya, ada di sisinya, menjaganya, memberinya perasaan aman agar ia mau mulai melangkah dan terus melangkah. Hingga akhirnya ia pun memiliki kepercayaan diri untuk mencoba, karena ia tahu papanya ada untuk menjaganya.


Waktu berlalu, kreativitasnya pun bertambah. Sayangnya, tidak demikian dengan kesabaranku.


Alih-alih mendorongnya untuk terus mengeksplorasi dunianya, malah aku pasang pagar besi yang sangat tinggi. Menutupnya rapat-rapat demi 'keamanannya'. Dan aku selalu meyakinkan diriku kalau semua ini aku lakukan karena aku 'menyayanginya'.


Dan karena itulah, aku layak menyandang gelar sebagai ayah pembohong.


Ya, aku membohonginya dan diriku sendiri. Karena sebenarnya, apa yang kulakukan tidak lain adalah karena keegoisan dan kemalasanku semata. Dua hal yang membuat akalku tumpul. 


Akibatnya, aku cenderung melabelnya sebagai si nakal untuk menutupi kenyataan bahwa akulah yang sebenarnya...kurang akal.


Tak banyak waktu tersisa dari libur panjang ini. Semoga masih cukup masa untuk menutup liburan ini dengan meninggalkan kenangan indah untuknya. Kenangan bersama sosok idolanya...ayahnya.


Share:

23 June 2018

Make Over Instagram ala Minimalist Blogger




Waktu awal  menggunakan Instagram (IG), saya menggunakan IG sebagai tempat untuk posting-posting foto pribadi maupun bersama keluarga. Ya seperti pengguna IG pada umumnya lah.


Kebetulan IG kan bisa link ke Facebook, jadi sekali posting langsung muncul di dua media sekaligus. Lebih efisien paket data.


Sejak mengenal dunia blogging, saya tidak lagi menggunakan IG sebagai media posting foto-foto pribadi. Saya memperlakukan IG seperti layaknya blog. Memposting hal-hal yang bermanfaat buat follower maupun pengunjung yang kesasar di IG saya (entah karena faktor hashtag maupun kebetulan follower dia ngefollow saya).


Karenanya ada beberapa perubahan (penyesuaian) yang saya lakukan dalam ber-Instagram. Berikut adalah beberapa hal yang saya perbarui dari IG saya:


1. Membuat akun baru

Seperti yang saya lakukan terhadap akun Facebook. Saya pun membuat akun IG baru yang sifatnya public account.


Tujuannya agar siapapun, follower atau bukan, bisa menikmati dan mendapat sesuatu yang baik dari postingan-postingan saya. 


2. Membuat akun bisnis

Di akun yang baru, saya membuat akun ini menjadi akun bisnis. Sebenarnya saya nggak jualan apapun sih di sini. Cuma, saya mau masang tombol email aja. Hehehhee... .


Sebenarnya selain tombol email, ada juga opsi lain seperti call (telepon) atau direction (alamat). Tapi nggak ah, mau ngapain banyak-banyak. Wong ya nggak jualan apa-apa.


3. Memperbarui bio

Supaya orang tahu siapa saya dan apa yang saya lakukan, saya pun membuat bio yang relevan. Prinsipnya seperti membuat halaman About Me. Cuma, di IG saya nggak bisa seliar di blog karena ada batasan jumlah karakter.


Dalam mengupdate bio, menurut beberapa internet marketer yang saya jumpai di web/blog mereka, ada tips yang bisa kita gunakan supaya bio Instagram kita makin kece dan ramah SEO-nya Instagram.


  1. Gunakan nama yang merepresentasikan brand kamu. Di kasus saya, saya memilih nama Prima (Minimalist Blogger) untuk membentuk brand image saya.
  2. Pilih username yang mudah dibaca dan ditulis. Username itu beda dengan nama. Kalau username itu adalah alamat profilmu di IG, (instagram.com/username). Saya sendiri sudah beberapa kali gonta-ganti username sampai akhirnya menggunakan @byprimachandra seperti sekarang.
  3. Cantumkan link web atau blog kamu, supaya orang bisa nyasar dan menikmati konten-konten di dalam web/blog-mu.
  4. Gunakan emoji. Selain biar asyik, juga supaya lebih eye-catching.
  5. Gunakan hashtag.





4. Mengisi feed

Sebelumnya postingan-postingan saya sifatnya random alias acak. Atau lebih tepatnya acak-acakan.


Saya nggak terlalu pusing mikirin tema dalam memposting gambar. Pokoknya saya mau posting ya posting aja.


Sampai saya ketemu sama IG seorang kawan dengan Agrippina Widjanarko.


Yang membuat saya tertarik dengan IG kawan saya ini adalah pola postingannya. Di akun IG-nya, ia punya 2 jenis postingan, food dan selfie. Anehnya atau uniknya, tiap kali ia memposting gambar baru, semua postingan selfie-nya seolah sama-sama bergeser ke sebelah kanan. Yang awalnya di kolom kiri, tiba-tiba pindah ke tengah...dari atas sampai bawah. Ini kelihatan kalau kamu mengklik profilnya.


 

Penasaran, saya pun japri untuk nanya tips dan triknya supaya tampilan feed IG saya bisa seperti punya dia.


Ternyata apa yang dia lakukan cukup simpel. Ia menggunakan formula 1-2-2 (1 : selfie; 2 : food).


Jadi, pola postingannya adalah selfie-food-food.


Simpel banget kan? Padahal awalnya saya kira perlu instal aplikasi khusus untuk ini.


Selain menggunakan formula 1-2-2, ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk membuat feed IG jadi lebih estetik, yaitu formula 1-2-1.


Contohnya yang menggunakan cara ini adalah Courtney Cover. Saya sih belum menggunakan cara ini, tapi untuk penampakannya kurang lebih jadi seperti ini :




5. Membuat story highlight

Sejak 2016, IG mengenalkan fitur story yang katanya mengadopsi Snapchat. 


Saya sendiri bukan pengguna Snapchat jadi saya nggak bisa cerita banyak soal media sosial yang satu ini. Namun, kalau yang saya lihat fitur story IG ini mirip fitur update status Whatsapp. Jadi, setelah 24 jam postingan kita akan hilang.


Tapi di IG, ada satu fitur bernama Highlight (atau Sorotan) yang memungkinkan story-story kita tidak hilang. Fitur ini membuat tampilan IG semakin kece.




Saya menggunakan fitur ini untuk menampilkan value blog saya. How to-nya, kita bahas lain waktu ya.


In short, penambahan stories membuat tampilan IG saya menjadi seperti ini :




Nah, itulah cerita saya make over Instagram saya. Kalau kamu gimana nih Instagramannya? Boleh dong di-share 😊


°°°°°


Jangan lupa subscribe dan follow Minimalist Blogger di FacebookTwitter, dan Instagram ya. Cek juga tulisan-tulisan saya lainnya di Medium.


Share:

18 June 2018

7 Langkah Membuat Blog Post Ala Minimalist Blogger



Masing-masing blogger punya cara sendiri yang berhasil buat mereka. Nah di tulisan kali ini, saya mau berbagi proses ngeblog ala saya. 


Sederhananya, prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Brainstorming ide
  2. Menyusun draft
  3. Membuat postingan baru
  4. Proofreading
  5. Menentukan gambar ilustrasi
  6. Posting
  7. Promosi


Cukup sederhana ya. Sekarang mari kita go through per poinnya.



Brainstorming Ide

Semua berawal dari ide. Namun, ada kalanya blogger suka mengeluh kehabisan ide tulisan. Atau macet nulis gara-gara kena writer's block.


Kalau saya, brainstorm suka saya lakukan dalam perjalanan kerja (berangkat maupun pulang). Dengan jarak tempuh yang memakan waktu  +/- 30 menit, saya punya lebih dari cukup waktu untuk memirkan 1-2 ide tulisan.


Biar nggak lupa, begitu nyampe kantor/rumah langsung buka notes dan nulis poin-poin ide tadi.


Objective-nya brainstorming ini sebenarnya adalah nandon alias ngumpulin sebanyak mungkin ide tulisan. Mulai pengalaman sehari-hari, opini, hari besar nasional, maupun kompetisi blog.


Perlu diingat, dalam proses brainstorming, tidak ada ide yang terlalu baik/jelek. Jadi jangan batasi dirimu.


Menyusun Draft

Selanjutnya adalah mulai menuliskan draft/naskah tulisan. 


Dalam menyusun draft, ada beberapa pendekatan yang biasa saya gunakan. Yang pertama menggunakan target jumlah kata. Kadang saya juga membuat target waktu dalam menyelesaikan draft awal (misal, nulis selama sejam).


Untuk target jumlah kata, saya selalu berusaha menulis lebih dari 500 kata. Alasannya, mengurangi lebih mudah daripada menambah. 


Oya, 500 kata ini nantinya akan berkurang signifikan di proses proofreading.


Di sini saya menggunakan aplikasi Writer Plus Android. Karena selain simpel dan ramah memori, juga memiliki fitur word counter.


Dalam proses penulisan draft, sebaiknya kita selesai sekali duduk. Nggak perlu terlalu perfeksionis waktu drafting, kan ada proofreading.


Membuat Postingan Baru

Setelah draft siap dan lolos proofreading. Setelahnya saya mengakses situs Blogger.com lewat browser (Google Chrome) dan membuat draft baru.


Tujuan aktifitas ini untuk 'membuatkan' rumah bagi postingan terbaru saya. Jadi saya hanya menulis judul postingan, dan mengkustomisasi permalink supaya lebih enak dibaca nantinya.


Selesai, saya simpan draft tersebut dan saya tutup browser Chrome saya.


Proofreading

Kita sudah sama-sama tahu dan sepakat bahwa Proofreading itu penting. Sangking pentingnya, memposting tulisan yang belum lolos proofreading itu amat tidak bijak.


Di awal penyusunan naskah, fokus proofreading saya adalah tentang kualitas konten. Lalu di proofreading kedua, saya lebih menitikberatkan proses proofreading pada readibility alias kemudahannya untuk dibaca dan dipahami. Ini termasuk pemilihan gambar ilustrasi, atau memasukkan link di anchor text.


Dalam proses ini saya menggunakan aplikasi Blogger Pro untuk Android. 


Memilih Gambar Ilustrasi

Gambar di postingan-postingan saya, bersumber dari beberapa situs  seperti Pexels, Pixabay, maupun Shutterstok.


Secara layout, konsep gambar di postingan saya adalah landscape dengan lebar maksimal. Konsep ini saya adopsi dari template postingan di Medium.com.


Posting

Setelah semua ready, saya baca lagi dengan cepat sekali lagi untuk memastikan postingan tersebut bernilai dan terbaca.


Setelah baca bismillah, tulisan terbaru pun akhirnya terposting.


Promosi

Langkah berikutnya yang nggak kalah penting adalah promosi.


Dulu saya malu promosi konten di media sosial pribadi. Hanya berani share di grup blogger (seperti Warung Blogger dan Blogger Crony). 


Namun, saya coba memberanikan diri promosi di Facebook timeline, share status di Whatsapp dan Instagram, setelah sebelumnya saya bikin materi promosi menggunakan Canva.


Ternyata respon teman-teman pun juga cukup baik. Nggak seperti bayangan saya.




Nah, jadi itulah proses saya menulis s.d memposting update di blog. 


Mostly aktivitas blogging saya lakukan via handphone. 




Untuk aplikasi yang saya gunakan yaitu: Writer Plus (menulis draft), Google Chrome (membuat postingan baru, edit permalink, browsing gambar, promosi di Facebook), Blogger Pro (finishing touch), Canva (membuat materi promosi), dan Instagram & Whatsapp, untuk mempromosikan konten terbaru.


Kalau kamu gimana? Seperti apa sih proses update blog post di blog kamu?


•••••


Subscribe dan dapatkan update terbaru blog ini langsung ke inbox kamu.

Share:

16 June 2018

Review : Writer Plus Untuk Android




90% aktivitas menulis dan blogging saya lakukan lewat handphone. 


Untuk aplikasi menulis, kali ini saya mau share sebuah aplikasi buat kamu 'mobile writer'. Aplikasi ini bernama Writer Plus.


Writer Plus adalah aplikasi menulis besutan Easy4U yang terinspirasi oleh aplikasi Writer buatan James McMinnin. Ceritanya sih, berhubung Writer nggak ada update selama 4 tahun, akhirnya si Easy4U ini memtuskan untuk menciptakan aplikasi Writer Plus ini.


  Baca juga : Jotterpad Android


Memang, sekilas tampak sama antara Writer dan Writer Plus. Hanya ada beberapa fitur tambahan (tapi tidak terlalu banyak). 


Konsep minimalis yang diusung oleh Writer Plus ini cocok sekali untuk kamu yang nggak mau ribet dan fokus nulis. Di sini, kamu hanya perlu menekan tombol ➕ dan mulailah menulis.


Kamu masih bisa menyesuaikan jenis dan ukuran font yang nyaman buatmu. Namun, jangan berharap pilihan font yang macem-macem ya. Ini aplikasi untuk nulis. Kalau mau make over tulisanmu, nanti kalau tulisanmu sudah jadi, silahkan dipermak di aplikasi blog.




Kelebihan Writer Plus dibandingkan aplikasi menulis lain yang pernah saya coba yaitu ukurannya yang tidak sampai 1 MB. 


Buat saya, aplikasi ini berfungsi untuk membuat draft tulisan-tulisan di blog primachandra.com, sebelum saya copas ke Blogger Pro untuk proofreading dan finishing.


  Baca juga : Simplenote Android


Oya, kalau kamu termasuk blogger yang concern sama jumlah kata (kan biasanya di beberapa lomba blog mensyaratkan jumlah minimal kata), Writer Plus juga sudah dibekali fitur Word Count. Jadi, kamu bisa tahu progresmu sudah sejauh mana.


Nah, kalau kamu penasaran seperti apa sih performa Writer Plus ini. Coba saja kamu install dan pakai untuk menulis satu artikel. Setelah itu, up to you mau pakai terus atau cari aplikasi lain.


Itu dulu review sekilas dari saya. Semoga bermanfaat. Jangan lupa klik subscribe ya, supaya nggak ketinggalan update terbaru Minimalist Blogger.


•••••


Mumpung masih nuansa lebaran, saya juga mau menghaturkan Taqobalallahu minna wa minkum...mohon maaf lahir dan batin.


Share:

12 June 2018

Gagal Wawancara Kerja? Mungkin Ini Alasannya



Saya mengawali karir di HR sebagai seorang staff rekrutmen di perusahaan farmasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Setahun berselang, saya pindah ke perusahaan jasa SDM (outsourcing), masih sebagai seorang rekrutmen.

Di tahun 2011 saya bergabung dengan perusahaan manufaktur alas kaki di daerah Sidoarjo. Alasan pindah waktu itu, saya lebih menyukai lingkungan kerja manufaktur. Tidak ada masalah lain, hanya soal preferability.

Kalau dihitung, kurang lebih 4 tahun saya bergelut di dunia rekrutmen dan seleksi.

Selama itu saya melihat ada beberapa alasan, saya menerima atau menolak calon karyawan baru. Walaupun ini bukan sebuah standard di dunia rekrutmen, tapi mungkin ini bisa jadi referensi buat kamu yang saat ini sedang melamar kerja atau dalam proses rekrutmen (mis: psikotes, wawancara, dsb.).

1. Kamu Kurang Pintar
Jelas, kalau kamu tidak sepintar kualifikasi di posisi yang kamu lamar, ya sudah terima saja kegagalanmu dengan lapang dada.

Misalnya nih, posisi yang kamu lamar mensyaratkan, bisa berbahasa Mandarin dengan lancar. Nyatanya, satu-satunya bahasa Mandarin yang kamu kuasai adalah 'Xie-xie'. Jadi nasib lamaranmu sudah jelas adanya.


Baca Juga : Passion


2. Kamu Terlalu Pintar
Alasan berikutnya, alih-alih kurang menguasai bidang pekerjaan yang kamu lamar, kamu justru sangat excellence di situ. Eh siapa sangka itulah yang membuatmu gagal.

Kok bisa?

Well ada banyak faktor. Tapi logikanya sih, kalau dari skala 1(buruk sekali) s.d 10 (luar biasa), nilaimu itu adalah 9. Namun, posisi yang kamu lamar 'hanya' mensyaratkan kemampuan di angka 3.

Tentunya ini juga menjadi pertimbangan tersendiri buat perusahaan. Jangan-jangan kamu nggak kerasan karena kurang tantangan, dan ujung-ujungnya kamu resign. Alhasil perusahaan harus hunting lagi penggantimu.

Nah, itu kan jadi cost lagi buat perusahaan.

Lho, kan bisa dikembangkan ke jenjang yang lebih tinggi?

Well, idealnya sih begitu. But let's face it, di duniamu yang sekarang aja, mana lebih banyak terjadi ideal atau nggak ideal?

3. Kamu Kurang Baik
Selain faktor kemampuan dan keterampilanmu, bagaimana sikap kamu selama proses tes dan wawancara juga memiliki andil lho.

Let say, kamu adalah lulusan terbaik di angkatanmu. Tapi selama proses rekrutmen, kamu menunjukkan kesongongan dan tanda-tanda arogansi. Padahal posisi yang kamu lamar menuntutmu bisa bekerja sama dengan orang atau departemen lain. Tentunya sikapmu seperti ini akan menyulitkanmu menunjukkan performa yang baik. Dan pada akhirnya, berimbas kepada performa perusahaan juga.

Baca Juga : Dream Job

Kadang hal-hal sepele seperti perilakumu di media sosial pun juga masuk dalam penilaian lho. Setidaknya itu yang saya lakukan kepada calon karyawan baru. Ngepoin gimana kelakuan si calon karyawan di media sosial sering saya lakukan, untuk memastikan saya nggak salah rekrut.

Simply put, tanpamu saja sebua perusahaan sudah memilki segudang masalah. Jadi ngapain nambah masalah dengan mempekerjakan orang yang kurang tepat.

4. Kamu Terlalu Baik
Kebalikan dari poin nomer 3. Kadang-kadang terlalu baik pun juga bisa jadi penyebab kegagalanmu menjalani proses rekrutmen.

Penyebabnya bisa jadi karena posisi yang kamu lamar menuntutmu untuk tegas, bahkan mungkin keras. Kalau kamu adalah orang yang terlalu baik, (misal : mukul nyamuk aja nggak tega) tentu saja posisi itu bukan untukmu.

Salah-salah kamu bisa stress sendiri ntar kalau dipaksain.


KESIMPULAN


Pada dasarnya lolos atau tidaknya kamu dalam proses rekrutmen dan seleksi ditentukan oleh:

  1. Profilmu
  2. Profil pekerjaan yang kamu lamar
  3. Profil lingkungan kerjamu


Jadi ketika kamu mengikuti proses rekrutmen dan gagal, artinya kamu tidak sesuai dengan pekerjaan yang kamu lamar, titik. Ini hanya masalah kesesuaian saja. Kalau sesuai hayuk, kalau enggak ya sudah. Nggak usah baper.

Bisa jadi, kegagalanmu itu adalah kesuksesanmu. Karena bayangin kalau kamu diterima dan tenyata kerjaannya jauh lebih berat dari bayanganmu, bosmu jauh lebih galak dari harapanmu, dan rekan kerja yang sikutnya lebih tajam dari silet. Apa nggak mati berdiri tuh jadinya.

Anggaplah kamu adalah seorang pebisnis. Kamu dan skillmu adalah produk yang kamu tawarkan. Kalau memang customermu (perusahaan) nggak butuh produkmu, ya sudah.

Some will, some won't, so what. 

Share:
Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén