Oct 7, 2018

My Blogging Values : Cerita Seorang Blogger

"Mas Prim, kamu kan blogger. Ajarin dong gimana sih caranya ngeblog?"


Ada yang pernah terima pertanyaan seperti ini nggak? Ya walaupun kita, Anda dan saya, bukan blogger beken seperti Koh Huang, Febriyan Lukito, Mas Sugeng atau pun Agus Mulyadi. Namun, berhubung orang tahunya kita rajin ngeblog, jadi ya akhirnya mereka nanyanya ke kita.

Antara sungkan dan senang karena dianggap kompeten untuk tanya-tanya seputar blogging.

Sungkan karena ya masih banyak yang perlu dipelajari, ilmu masih cetek, nulis masih serampangan, page view ya segitu-gitu aja, tampilan blog ya biasa-biasa...eh, dimintain advis cara ngeblog. 😅

Rasanya kok ya durung pantes.


Balik Tanya
Saya sendiri, kalau ada yang nanya gimana caranya ngeblog, saya akan ajukan dua pertanyaan.

Pertama, saya tanya balik, udah googling belum? Kan pastinya bukan dia seorang manusia di muka bumi ini yang penasaran gimana caranya ngeblog. Jadi, pastilah ada banyak sumber tentang cara ngeblog dari para expert. Nah, kalau yang sesederhana googling aja males, apalagi ngeblog.

Pertanyaan kedua, alih-alih saya sok-sokan ngajarin, saya akan tanya "Kenapa kamu mau ngeblog?"

Sederhananya, kalau alasan ngeblog aja nggak jelas, mau jadi apa blog dia nanti. Karena ngeblog itu butuh konsistensi, kemauan belajar (plus praktek, soalnya belajar tanpa praktek itu nol besar), dan disiplin diri. Kalau enggak, blog itu akan dibuat asal-asalan, nggak jelas tujuannya, lebih-lebih nggak ada value lebih yang ditawarkan buat pembaca.


Me & My Blog
Blog buat saya adalah media untuk menyalurkan hobi menulis sekaligus, melatih kecakapan saya menyampaikan ide secara sistematis dan mudah dipahami. Selain untuk berbagi informasi dan inspirasi.

Jadi walaupun blog ini adalah blog pribadi, tapi sebisa mungkin saya nggak akan posting curhat full emosi tanpa esensi di sini.

Tentunya, tiap orang punya value-nya masing. Namun buat saya, ada 3 hal penting dalam blogging.


1. Valuable
Istilah konten adalah raja, sudah jadi rahasia umum buat mereka yang bergelut di dunia blogging. Saya sendiri mengibaratkan blog tak ubahnya seperti bisnis, yaitu sama-sama menolong orang.

Bisnis menolong orang lewat produk dan jasanya, sedangkan blog lewat konten.

Karenanya, akan lebih bijak bila kita semua para blogger benar-benar memperhatikan kualitas konten kita, terutama dari sisi kebermanfaatannya bagi para pembaca.

Bahkan, lebih baik lagi kalau jika semua konten kita seperti status Facebook, cuitan di Twitter, maupun gambar-gambar Instagram benar-benar kita jaga kebermanfaatannya.

Dunia internet sudah penuh dengan konten-konten 'sampah', jadi tidak perlu kita tambah satu lagi kan.

2. Readable
Sebaik-baiknya konten dan value yang terkandung di dalamnya, apabila disajikan dengan ala kadarnya, susah dimengerti, bikin bingung, ya sama saja bohong.

Blogging bukan lagi tentang (sekedar) menulis. Melainkan bagaimana mengemasnya dengan seatraktif mungkin, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami konten yang kita sajikan.

Dan sebenarnya, tak terlalu sulit kok membuat konten kita menjadi readable alias mudah dibaca.

Beberapa cara yang saya lakukan antara lain: (1) menggunakan kalimat dan paragraf pendek, (2) membuat list, (3) menebali sub paragraf dan/atau menggunakan huruf kapital, dan (4) memasukkan gambar di awal dan tengah tulisan.

Karena 90% penduduk bumi adalah orang visual, bila saya hanya menyajikan plain text, mungkin tak banyak yang akan membaca dari awal sampai akhir. Boro-boro baca, lihat aja udag ogah mungkin.

3. Uncopyright
Saya pertama mengenal istilah ini dari seorang blogger asal Amrik bernama Leo Babauta.

Konsepnya adalah, melepaskan hak cipta atas konten kita.

Lho kok? Jadi nggak apa-apa nih kalo konten di blog ini ada dijiplak orang, disebarluaskan tanpa seijin saya, lalu orang itu dapat untung, sedangkan saya nggak dapat bagian sedikit pun. Bahkan sekedar back link ke blog ini?

Yup, that's right.

Kalau apa yang saya tulis di sini memang layak dijiplak dan disebarluaskan, berarti tulisan saya bagus dan readable dong. Buat saya, itu sudah cukup.

Jadi, bagi siapapun yang berniat melakukan plagiarisme konten saya, saya persilahkan. Mungkin dengan begitu, pesan saya lebih tersampaikan dengan baik dan didengar lebih banyak. Kalau mau kasih kredit buat saya, terima kasih...tapi enggak juga nggak apa-apa.


Ngeblog itu perlu kah?
Perlu nggak sih kita punya blog? Hmm...pertanyaan yang bagus.

Perlu atau enggak ya tergantung ya. Tapi sebelum kamu memutuskan untuk mulai bikin blog, saya mau share beberapa manfaat ngeblog buat saya. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan buat kamu sebelum akhirnya memutuskan untuk ngeblog.


  1. Ngeblog melatih kemampuan saya dalam menuangkan ide secara sistematis dan mudah dipahami
  2. Ngeblog melatih kreativitas saya dalam menulis
  3. Ngeblog melatih kedisiplinan saya, dalam hal mengupdate konten
  4. Ngeblog merupakan media untuk menginspirasi orang lain dengan membagikan pengalaman pribadi saya
  5. Ngeblog melatih kesabaran untuk tidak tergesa-gesa mem-publish tulisan sebelum proofreading
  6. Ngeblog memperluas networking saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama dengan saya, dan terakhir
  7. Ngeblog adalah jurnal pribadi, media untuk mengabadikan proses-proses yang saya lalui dalam hidup

Jadi, masih perlu ngeblog? Saya sih perlu. Kamu gimana?


°°°°°

Disclaimer
Postingan ini diikutsertakan dalam lomba blog #C2CreatorContest oleh C2Live.

Sep 30, 2018

Pertimbangan-Pertimbangan Sebelum Beli Apapun, Sebuah Pengalaman Pindah Kontrakan


Hidup sebagai kontraktor, ngontrak sana, ngontrak sini memang memiliki tantangan tersendiri.

Ini adalah cerita saya dan keluarga ketika kami pindah dari rumah kontrak. Rumah yang sudah kami huni selama kurang lebih empat tahun itu terpaksa harus kami tinggalkan karena beberapa hal. Pertama dari sisi kelayakan rumah, kemudian dari segi biaya yang membumbung tinggi (terlebih bila dibandingkan dengan kondisi rumah saat itu).

Setelah berbagai pertimbangan dan negosiasi alot dengan si pemilik rumah, kami sampai pada keputusan kalau telah tiba saatnya kami pergi.

Dan mulailah petualangan kami hunting sana sini, survey ke sana kemari, untuk menemukan hunian berikutnya. Standard kami sebenarnya cukup sederhana, yang penting rumahnya nyaman, aksesnya mudah, lingkungan aman, dan tentunya ramah di kantong.

Singkat cerita, kami berhasil mendapat kata sepakat untuk sebuah hunian yang berlokasi tak jauh dari Taman Dayu Pandaan.


WAKTUNYA PINDAHAN
Setelah sukses meminang rumah tersebut, maka langkah berikutnya adalah memindahkan segala jenis perabotan dari rumah sebelumnya ke rumah yang baru ini.

Dan di sini, kami baru menyadari betapa banyak barang-barang yang kami punya. Bahkan ada beberapa yang kami sendiri nggak ingat pernah punya. 😥

Mengingat ukuran kontrakan baru kami tak selapang kontrakan yang sekarang, rasanya kok kurang bijak kalau semuanya diboyong. Wis jelas nggak mungkin.


MENGELOLA KELEBIHAN BARANG
Saya dan istri kemudian sepakat untuk melakukan 3 hal terhadap barang-barang kami yang banyaknya minta ampun ini. Saya menyebutnya 3D (sebuah singkatan yang dipaksakan dan dipas-paskan) yaitu, dijual, disumbangkan, dan dibuang.

Maksa banget kan singkatannya 😄

1. Dijual
Barang-barang baru yang nggak pernah kami pakai hasil beli tapi nggak bisa dipakai lagi seperti kemeja lengan pendek istri saya (karena sekarang ia berhijab) atau pemberian dari kolega bisnis yang nggak pernah digunakan (misal parfum, padahal nggak ada yang doyan pakai parfum), tetapi masih memiliki nilai ekonomis, kami jual. Sepatu-sepatu koleksi hasil pemberian perusahaan setiap tahun pun masuk ke dalam daftar jual.

Mulai media online maupun offline, yang penting barang-barang tersebut 'bergerak'.

Hasil penjualan barang-barang itu kami gunakan untuk (1) ongkos pindahan, (2) tambahan untuk ganti barang yang lebih berkualitas, dan (3) nambah tabungan.

2. Disumbangkan
Barang-barang yang masuk kategori donasi adalah barang yang masih layak pakai tapi dijual nggak laku. Jadi daripada darah tinggi gegara calon pembeli menawar dengan sesadis-sadisnya, ya sudah disumbangkan saja.

Harapannya, barang-barang tersebut bisa lebih bermanfaat dan bernilai buat orang lain. Selain tentunya, mengurangi timbunan barang di rumah sih.

3. Dibuang
Nah, untuk yang kategori ketiga ini saya sendiri merasakan sulitnya memilah milah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Beberapa hal yang secara esensi nggak diperlukan, tapi memiliki nilai emosional. Istilahnya sih sentimental items.

Berat sekali untuk bisa tegas pada diri sendiri dan berkata tidak, saya nggak perlu ini.

Lalu, saya mencoba menganalisa (okay, nggak gitu-gitu juga sih ), kapan terakhir saya menggunakan barang tersebut, kapan saya mau menggunakannya lagi, dan berapa kali sebulan saya mau menggunakannya. Kalau frekuensi pemakaiannya rendah, bisa jadi saya memang nggak perlu punya barang tersebut. Sederhananya sih begitu, walaupun prakteknya...ya, perlu sedikit perjuangan.

Lalu, dari segi fungsi. Ada kalanya barang-barang yang saya pikir perlu, sebenarnya nggak ada pun nggak apa-apa.

Contohnya dalam kasus saya, amplop atau sampul ijazah. Ijazah-ijazah sekolah dan kuliah biasanya sepaket dengan cover-nya. Tujuannya untuk melindungi ijazah iti sendiri dan mempercantik. Namun, perlu space lebih kalau saya harus menyimpan ijazah beserta album/sampulnya. Masalahnya, tidak ada space lebih.

Jadi saya membuang cover itu, saya gabungkan semua ijazah ke dalam satu amplop. Less space more values.


PELAJARANNYA
Pengalaman pindahan ini menyisakan beberapa pelajaran bagi saya dan istri saya. Terutama dalam hal kepemilikan barang-barang.

Quality Over Quantity
Punya banyak dengan kualitas seadanya nggak lebih baik daripada punya sedikit tapi berkualitas. Selain lebih awet, barang-barang berkualitas baik juga memiliki nilai jual yang lumayan membantu neraca keuangan kami.

Setidaknya untuk disumbangkan pun masih cukup layak lah.

One In One Out
Supaya mencegah timbunan barang-barang di lemari baju, garasi, dan sudut rumah lainnya, saya dan istri sama-sama sepakat, lain kali kalau mau beli sesuatu (misal baju baru, celana baru) artinya harus ada barang lama yang keluar.

Tidak ada cukup ruang untuk semua barang dan kebetulan kami tidak berniat memfungsikan rumah kami sebagai gudang.

Apa Perlu?
Karena kami paham betul ukuran rumah kontrakan kami yang baru, maka setiap hendak membawa pulang barang dari toko, kami selalu menanyakan satu pertanyaan sederhana, apa perlu?

Apa perlunya barang yang mau dibeli itu? Apakah sebagai pengganti? Apakah untuk memudahkan sebuah aktivitas? Kalau kita nggak beli, resikonya apa? Nggak kebagian diskon saja, atau ada lainnya yang lebih krusial.

Memang jadi sering ngempet kalau jalan-jalan dan pas ngelihat sesuatu yang kita suka. Nggak dibeli kok ya lagi diskon, dibeli tapi ya nggak perlu-perlu banget. But in the end, it's worth for.

Sep 28, 2018

Jenis Caleg Yang Tidak Layak Dapatkan Suaramu


Tanpa terasa, sudah hampir 5 tahun sejak Pemilu Presiden diselenggarakan. Tahun depan, kita gelar lagi pesta demokrasi di negeri tercinta.

Seperti halnya 5 tahun yang lalu, jelang Pemilu Presiden ada Pemilu lain yang juga tak kalah seru, yaitu pemilihan anggota legislatif.

Mumpung masih tahun depan, kali ini saya mau berbagi beberapa jenis calon legislatif a.k.a Caleg yang nggak layak buat dapetin suara kamu. Harapan saya, kamu bisa lebih bijak dalam 'mengutus' wakilmu di dewan legislatif.

Ini dia... .

Caleg Ngeksis
Nyaleg juga perlu ngiklan, supaya masyarakat tahu dan (semoga) tergerak untuk memilih sang caleg. Namun, kamu perlu tahu, ngiklan itu nggak gratis.

Semakin banyak iklannya, semakin besar ukurannya, artinya semakin tinggi pula biayanya.

Moga-moga saya salah, tapi saya punya stereotipe kalau biaya iklan itu ibarat investasi. Namanya investasi, perlu modal dan tentunya berharap balik modal.

Ya, moga-moga aja nanti ketika sudah terpilih caleg tersebut nggak cari balik modal dengan cara yang berujung rompi orange.

Plus, biasanya caleg seperti ini suka nggak tanggung jawab. Masa kampanye sudah lewat eh, selebarannya kemana-mama

Caleg Minta Doa
Pernah lihat caleg di iklannya bilang, "Mohon Doa Restunya"?

Nah, saran saya jangan pilih caleg seperti ini. Alasannya, dia cuma minta didoain bukan? Karenanya, doakan lah dia.

Doa apa? Ya terserah kamu lah. Pokoknya doa. Kan doi juga nggak bilang minta doa apa.

Caleg Minta Dukungan
Lho, minta dukungan kok malah nggak dipilih? Berarti nggak ndukung dong.

Tenang, tidak memilih si caleg bukan berarti kamu nggak dukung dia. Perlu kamu tahu, yang namanya dukungan itu bentuknya macam-macam. Ada dukungan materi, dukungan moril, bahkan sekadar pesan singkat, "Aku mendukungmu" itu sudah jadi bentuk dukungan.

Artinya, kamu sudah memberikan apa yang dia minta. Selesai.

Caleg Motivator
Selain caleg peminta-minta tadi, ada juga jenis caleg motivator. Caleg jenis ini sangat berapi-api dalam memberikan motivasi.

Mulai dari motivasi untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, sampai anti korupsi (yang tak lama berselang ia jadi tersangka kasus korupsi).

Kenapa caleg jenis ini tidak perlu kita pilih? Alasannya sederhana, orang ini nggak nyaleg. Dia hanya orang baik yang punya uang lebih untuk sewa billboard buat menyampaikan pesan inspiratif, yang entah siapa yang bikin atau dari mana asalnya, demi memotivasi rakyat.

◇◇◇◇◇

Nah, begitulah jenis-jenis caleg yang nggak layak dapatkan suaramu. Semoga informasi ini berguna bagi nusa dan bangsa.

Selamat mencoblos!

Sep 25, 2018

Ala Kadarnya

Beberapa waktu lalu, ada seorang kawan membuat update status yang cukup menarik di akun Facebook-nya.

Di situ ia menuliskan tentang, kapan mau kaya kalau hanya jadi sekedar relawan saja.

Yang menarik tentu saja, beberapa komentar-komentar 'bijak' seputar, kalau kaya jangan jadi relawan, atau kaya itu bukan cuma tentang harta, dan beberapa komentar menarik lainnya.

Membaca status itu, gatal juga kalau nggak kasih komentar. Akhirnya, saya pun membubuhkan komentar singkat dengan teknik paraphrasing plus sedikit fine tuning.

Ini komentar saya,

"Ketika sudah menjadi relawan yang bukan hanya sekedarnya"

Gimana? Keren kan?

Tak lama berselang, saya langsung tertampar sendiri. Saya sendiri bagaimana? Sudahkah saya mengerjakan aktivitas-aktivitas saya dengan sungguh-sungguh? Atau hanya 'sekedarnya'.

Di kantor, saya merasa belum benar-benar all out menggunakan kemampuan saya untuk memberi kontribusi lebih. Di rumah, saya juga belum cukup greget untuk jadi panutan buat istri dan anak saya.

Jangan-jangan, hidup saya selama ini nggak lebih dari hidup yang sekedarnya.

Oh no!

Sep 23, 2018

Apa Misimu?


Masih teringat jelas di kepala saya sebuah kejadian mengenaskan beberapa hari lalu. Ceritanya, waktu itu saya, sepulang kerja, memacu Honda Beat saya dengan cukup kencang, karena saya harus belanja beberapa bahan untuk bisnis saya.

Saya memang waktu itu sedang cepet-cepetan. Kebetulan di kantor, load kerja lagi gila-gilaan yang membuat saya pulang telat. Kalau nggak buruan, nanti mempersiapkan dagangan bakalan malam banget, dan itu nggak bijak. Plus, semakin tipis pula waktu menemani Fabio bermain.

Saya mampir ke beberapa mini market sepanjang perjalanan pulang untuk mencari bahan yang saya perlukan. Namun, entah kenapa hari itu bahan tersebut menjadi sebuah bahan yang langka.

Akhirnya saya mendarat di salah satu gerai Indomaret dekat Taman Dayu, Pandaan. Saya berharap-harap cemas, moga-moga bahan yang saya perlukan ada di situ. Sayangnya, nasib baik belum berpihak kepada saya. Alhasil, saya harus pulang dengan tangan kosong nih, pikir saya.
.
Lalu, saya teringat Alfamidi di dekat Masjid Cheng Ho Pandaan. Biasanya saya dan istri belanja bahan-bahan di situ waktu sedang ada promo.

Tanpa pikir panjang, saya pacu Honda Beat saya. Putar balik ke arah Masjid Cheng Ho.

Dekat perempatan tol, saya sudah ancang-ancang untuk belok kiri menuju Masjid Cheng Ho. Di depan saya, sebuah mobil sedan putih (lupa merknya) melaju. Saya juga sempat melihat pengendara motor di depan sedan itu.


Dan, di situlah tragedi itu terjadi.
Entah bagaimana, sedan putih itu menabrak pengendara motor hingga terjatuh.

Jerit histeris pecah dari seorang wanita yang dibonceng oleh si pengendara motor yang entah seperti apa kondisi pastinya, tersungkur di aspal dan tidak bergerak sama sekali lagi.

Sontak, para pengamen jalanan di ujung jalan berhamburan menggotong badan pria yang masih diam tak bergerak itu. Dari belakang, wanita itu terus berteriak histeris, meraung-raung penuh kepedihan.

Melihat ekspresi wanita itu, pikiran saya mulai menerka-nerka kemungkinan terburuk yang terjadi. Apalagi dengan kondisi pria itu yang tetap diam tak bergerak, di tengah hiruk-pikuk orang-orang di sekitarnya.

Merasa tak banyak yang bisa saya perbuat, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kecelakaan itu.

Entah kenapa, setelah kejadian tersebut saya tak lagi mampu memacu Honda Beat saya melebihi angka 40 km/jam. Padahal sebelumnya, saya dengan gagah berani berjalan dua kali lebih cepat.

Saya merasakan sendi-sendi di kaki saya gemetaran. Jantung berdebar-debar, dan paranoid ketika melihat titik-titik perlintasan seperti pertigaan, perempatan, dan putar balik.

Setelah sampai di Alfamidi dan mendapatkan bahan yang saya cari. Saya mengabarkan apa yang baru saja terjadi, dan imbasnya terhadap kaki-kaki saya. Saya merasa perlu menenangkan diri dulu, karena masih perlu menempuh perjalanan lagi sebelum sampai di rumah.


Shock Terapy
Sejenak beristirahat di bangku-bangku di depan Alfamidi, saya berpikir, apakah ini cara Tuhan mengingatkan saya?

Saya yang sebelumnya penuh percaya diri merangsek bak Valentino Rossi, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang tak berdaya.

Peristiwa naas tadi benar-benar seperti shock terapy buat saya. I was literally shocked.




Sebuah Pelajaran
Setiap orang lahir ke dunia dengan mengemban peran dan misi masing-masing dari Tuhan. Ada yang diserahi kekayaan berlimpah dengan misi menyejahterakan saudara-saudaranya yang kekurangan. Ada pula yang dimiskinkan materi tapi kaya hati, sehingga saat mereka sukses kelak, menjadi pelajaran bagi manusia lainnya untuk bekerja keras dan pantang menyerah.

Pun mungkin demikian dengan pria tadi. Mungkin salah satu misinya adalah sebagai pelajaran bagi orang-orang di sekitar lokasi kecelakaan, yang seperti saya, memacu kendaraan tanpa memikirkan resikonya.

Kebetulan momennya pas dengan hari-hari di kantor yang lagi hectic tingkat tinggi. Yang dengan sukses membuat saya frustasi menjelang depresi.

Lalu saya berpikir, mungkin apa yang saya alami mungkin adalah salah satu misi dari Tuhan. Tuhan 'menjerembabkan' saya di situasi ini, karena mungkin Ia tahu saya mampu mengatasi semua ini. Lebih-lebih, mungkin juga, saya sedang dijadikan contoh pembelajaran buat orang lain, yang kurang hati-hati dan presisi dalam bekerja.

Mungkin. Toh, kita tak pernah tahu apa rencana Tuhan.


Sep 17, 2018

Ketika Hidup Terasa Berat

Tahun lalu, dunia digemparkan oleh berita kematian Chester Bennington, vokalis band rock asal Amrik, Linkin Park. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Kabarnya, keputusannya itu dipicu oleh depresi tingkat tinggi yang ia alami. Entah ada hubungannya atau tidak, 2 bulan sebelumnya, sahabat karib Chester, Chris Cornell juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama. Depresi juga ditengarai sebagai biang keladi kematian Chris.

Saya bukan fans fanatik Linkin Park, tapi kematian seorang Chester ini membawa saya ke beberapa tahun lalu. Kembali ke masa-masa suram di mana mengakhiri hidup rasanya seperti satu-satunya solusi yang ada.

Sayangnya, saya belum memiliki nyali sebesar Chris maupun Chester.

Back to the future
Sejenak mengenang kembali masa-masa tersebut, saya cukup bersyukur tak senekat itu dulu. Kalau tidak, mungkin saya tak kan pernah merasakan dinamika menjadi seorang suami, ayah, dan rekan kerja di kehidupan saat ini.

Memang, ada kalanya ketika kehidupan terasa begitu berat, sejenak terlintas kembali solusi masa lalu itu. Namun, ada satu hal yang jadi pertimbangan saya sebelum 'bertindak' :  hidup itu berat, sayangnya ada kehidupan setelah hidup

Poinnya adalah hidup memang tak mudah. Namun, mati pun juga tak lebih menyenangkan. Karena kematian hanyalah sebuah gerbang menuju kehidupan lain. Hidup yang abadi.

Kabarnya, hidup yang abadi ini tidak lebih friendly dibanding hidup saat ini. Apalagi untuk orang-orang yang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri.

Sep 16, 2018

Diniati, Ditelateni, Disyukuri


Perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya merupakan momen-momen inspiratif buat saya. Bagaimana tidak, rute yang saya lalui memaksa saya untuk bersanding dengan truk-truk besar pengguna jalan yang sama.

Terus insipiratifnya di mana?

Kalau kamu hidup sedikit cukup lama, truk-truk jaman now mengalami perubahan dibanding yang dulu. Terutama di sisi belakang truk.

Dulu, area ini merupakan area penggoda iman, karena diisi gambar-gambar wanita berbusana minim dan berpose mulet, dengan ekspresi melas. Namun, sejak kemunculan trend quote dan kata-kata bijak...beberapa truk pun turut ambil bagian membijakkan masyarakat lewat quote yang terpampang di belakang body.

Contohnya:
Banter Nguber Opo, Kalem Ngenteni Sopo (ngebut ngejar apa, pelan nunggu siapa), Boleh Gagal Tampan, Tapi Jangan Gagal Mapan, dll.

Namun, ada satu quote inspiratif yang saya jumpai kemarin dalam perjalanan menuju kantor. Sebuah prinsip yang menggugah sanubari saya dalam memaknai kehidupan yang kadang cenderung sering, pahit.

Quotenya adalah sbb:
Diniati, ditelateni, disyukuri

Diniati
Segala tindakan dinilai dari niatnya, betul? Hal ini yang menggugah saya untuk memperbaiki niat-niat saya dalam menjalani aktivitas saya. Kerjaan, bisnisan, dan ngeblog-an.

Memperbaiki niat kalau segala sesuatu yang dilakukan adalah menggapai ridho-Nya.

Seperti kata Kang Dewa, seorang pebisnis online, bisnis adalah wasilah (jalan), tujuannya Lillah (Allah). Pun demikian dengan kerja, ngeblog, dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Ditelateni
Kita hidup di dunia yang penuh dengan hoax, dan hoax terbesar dalam kehidupan adalah mereka yang bilang bahwa semua akan indah pada waktunya.

Kenapa saya bilang itu hoax? Sebab, yang namanya hidup itu nggak pernah bisa selalu mulus. Langit aja nggak selalu biru. Kadang lagi asyik-asyiknya di jalan, eh mendung. Terpaksa deh pulang buat masukkin jemuran.

But that's life. Memang perlu ditelateni. Nggak bisa grusak-grusuk. Banter ora opo-opo mung ojo kesusu.

Disyukuri
Segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur. Manusia berencana, Allah menentukan. Dan sebaik-baiknya rencana tentu saja adalah rencana Sang Pencipta.

Sederhananya gini, nabi dan rasul, orang-orang pilihan Allah saja hidupnya penuh cobaan. Lah kita ini apa, kok dikasih pahit dikit ngeluh.

Prinsipnya, ikhtiar dan tawakkal. Usaha dan berserah. Ini adalah penjumlahan, bukan milih salah satu. Usaha thok tapi nggak mau berserah, hidup nggak tenang. Berserah mulu tapi nggak ada usaha, ya nggak dapat apa-apa.

Kalau udah usaha tapi hasilnya nggak sesuai harapan, jangan patah arang. Cek dulu usahanya, udah bener belum. Kalau yang dilakukan udah sesuai tapi hasilnya nggak seindah harapan, bisa jadi Allah punya rencana lain buat kita. Gampang toh?

•••••

Hidup itu sederhana, yang ruwet orangnya. Bukan kamu sih, saya kok. Tapi kalau kamu ngerasa, ya sudah sama-sama dibenerin yuk.

Sep 14, 2018

Kerja Lebih Cerdas?


Work smarter, not harder

Pernah dengar kalimat ini? Kalau diterjemahkan, artinya bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras.

Kedengarannya masuk akal memang.

Kerja keras tapi kalau hasilnya segitu-segitu aja, ya ngapain? Dapet capek doang. Jadi, kerja cerdas dong.

Kerja cerdas itu kuncinya cuma dua, efektif dan efisien.

Efektif berarti ngomong soal hasil, kualitas dan kuantitas. Kalau efisien berarti kita ngomong proses. Ringkas, sederhana, dan cepat.

Hasil oke, tapi prosesnya berdarah-darah, keluar modal lebih banyak daripada untung, itu namanya tekor. Karena nggak sebanding antara apa yang dikerjakan dan apa yang dihasilkan.

Jadi, kerja cerdas itu penting.

•••••

Oya, ngomong-ngomong bagi sebagian orang (termasuk saya), menjadi cerdas itu pun perlu kerja keras lho.

So What

We all have things we are good at, and things we are not. It is easy to carry out something in which we are good at. 

But, for something we're not good at. Requires lots of effort to finish it. 

Often we need to do whatever it takes (literally whatever it takes) to get done certain task which another person can do easily. 

But so what if we have to?

Truth be told, no one really cares how much it took you. They just see how much you can get things done.

Pity?

Maybe. But, unfortunately...that's how it's work.

That's why, it is always wise to be clear, on why you do what you do. Is it worth the price you must pay (and what you'll pay on)? 

Only you can answer.