Jan 11, 2019

Memaknai Kerja


Ada yang bilang, kerja itu ibadah. Sebagian lagi menganggap kerja itu cari uang. Ada juga yang berpikir, kerja adalah aktualisasi diri, pemenuhan misi, dan bahasa-bahasa tingkat tinggi lainnya.

Buat saya, bekerja sesederhana melakukan dan menghasilkan sesuatu.

Dulu waktu masih sekolah, kita belajar tentang kalimat sempurna. Masih ingat? Kalimat sempurna harus terdiri dari 3 komponen yaitu, subyek, predikat (kata kerja), dan objek.

Kalau kerja itu cari uang, masa iya kata kerja berarti kata cari uang?

Tapi kalau kita ditanya, 'kerja apa' kenapa ya by default kita akan menjawab tentang pekerjaan alias profesi kita. Padahal waktu ditanya itu, bisa jadi kita sedang nulis, nyapu, atau mungkin nyuci mobil.

Kenapa nggak dijawab aja, "Oh, saya nyapu."

Kerja tuh nggak melulu soal pekerjaan/profesi. Tapi apa yang kita lakukan dan hasilkan kan?

Bahkan, kita menggunakan pekerjaan/profesi kita sebagai jati diri. "Saya Prima, blogger", misalnya. Padahal hidup kita kan ada banyak sekali komponennya. Selain profesi kita, kita juga adalah seorang anak, orang tua, tetangga, teman, saudara, dan banyak lagi. Namun, kita lebih bangga mengenakan profesi sebagai jati diri.

Itu personal branding atau sekedar lupa, kalau hidup itu nggak 'cuma' soal pekerjaan.

Bagaimana menurutmu?

Jan 10, 2019

Tema 2019 : Simplifikasi


Beberapa hari lalu istri saya santai bertanya, "Papa, apa resolusimu di tahun 2019?"

Spontan saya menjawab, "simpler life"

Hidup lebih simpel. Itu adalah tema yang saya pilih di tahun 2019. Kenapa begitu? Sederhananya begini, saya adalah orang yang sangat rumit, ruwet, dan njelimet. Hal-hal yang tampaknya sederhana, di tangan saya akan jadi luar biasa kompleka. Yang bisa selesai dalam 5 menit, saya buat jadi 15 menit. Bahkan lebih. Hasilnya...nggak lebih baik.

Apa pasal? Saya adalah orang yang dikaruniai kreativitas sedikit lebih banyak dibanding orang-orang di sekitar saya. Istri saya, maupun rekan kerja.

Saya suka mengkreasi sesuatu. Melakukan improvement agar sesuatu tampak lebih indah dan bagus.

Namun, seringkali apa yang saya kreasikan bukannya jadi lebih baik. Malah sebaliknya. Nggak selesai, atau lebih parah, nggak sesuai harapan dan kesepakatan.

2018 menjadi tahun yang cukup berat buat saya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan terutama dalam melakukan sesuatu yang sebut sebagai, simplifikasi diri. Seringkali lewat cara sulit dan menyakitkan.

Saya sadar kalau apa masih ada banyak PR buat saya dalam men-simplifikasi diri. Dan, perjalanan 2019 baru saja dimulai.

Tentunya tak elok bila bicara target maupun resolusi tanpa tahu, apa targetnya, seperti apa indikator keberhasilannya, dan kenapa hal itu perlu dilakukan.

Buat saya simplifikasi semacam be more with less.

Apa saja sih 'more'-nya?
1. Kuantitas
2. Kualitas
3. Kepuasan diri
4. Positive impact
5. Produktivitas
6. Dan lain-lain

Sedangkan 'less'-nya antara lain
1. Proses (jenis dan waktu)
2. Stres
3. Waste
4. Emosi negatif
5. Dan lain-lain

Kenapa be more with less alias simplifikasi ini perlu? Sederhananya begini, kita semua punya waktu yang sama kan dalam sehari? Sama-sama 24 jam per hari. Namun, yuk jujur sama diri sendiri, berapa banyak sih yang bisa kita hasilkan selang waktu tersebut? Berapa persen sih tingkat efektifitas kita? Dan, berapa lama sisa waktu kita?

Kita semua punya waktu yang terbatas. Namun, sayangnya tuntutan dan ekspektasi yang kita terima seringkali lebih banyak dari waktu yang tersedia. 24 jam sehari, bukan berarti 24 tugas yang harus dituntaskan.

Dan sebagai makhluk yang pasti mati tanpa tahu kapan. Sudahkah kita memikirkan, sejauh mana pencapaian tugas kita? Sebagai suami, sudah sejauh mana kita melakukan tugas kita menyiapkan keluarga bila sewaktu-waktu ajal menjemput? Sudah cukup mandirikah mereka tanpa kita? Mampukah kita menyiapkan kemandirian mereka bila kita sibuk dengan keruwetan kita sendiri?

Itu baru dari satu sisi, keluarga. Bagaimana dengan pekerjaan, spiritualitas, atau untuk diri kita sendiri? Bermimpi punya bisnis, tapi ruwet dengan pertanyaan-pertanyaan: bisnisnya apa, modalnya dari mana, marketnya bagaimana, dan keruwetan-keruwetan lain yang kita ciptakan sendiri.

Apakah memang menjadi ruwet ini adalah sifat dasar kita? Jangan-jangan ada hubungannya dengan anatomi otak kita yang mlungker-mlungker. Atau, bisa jadi karena sejak kecil kita terlalu sering dicekoki 'jangan' (jangan bening, jangan tewel, maupun jangan lodeh), sehingga kita terus meruwetkan diri setiap kali hendak melangkah dengan mbatin, jangan-jangan nanti... .

"Simplicity is the ultimate sophistication - Leonardo da Vinci"

Simplifikasi memang bukan perkara gampang. Bahkan simplifikasi cenderung ruwet minta ampun. Tak jarang yang kita kira simplifikasi, ternyata berujung semakin ruwet dan kompleks. Pernah? Saya sih sering.

Simplifikasi berarti memahami esensi.

Apa sih esensi kita berumah tangga, bekerja, menulis, ngeblog? Ketika kita memahami esensi dari setiap aktivitas itu, melakukan simplifikasi menjadi lebih efektif. Karena kita tahu apa esensinya, kita bisa memilah, mana proses yang must have dan mana yang sekedar nice have.

Simplifikasi bukan hasil akhir. Hanya sebuah alat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kita pribadi. Bukan berlomba-lomba mengurangi dan mengurangi.

Kuncinya, efektif dan efisien.

Jadi itu tema saya di tahun 2019. Bagaimana denganmu kawan? Apa tema kamu tahun ini?

Jan 8, 2019

Kapan Saring Sebelum Sharing Jadi Budaya?

Dua hari ini, Facebook dan Whatsapp penuh dengan share konten tentang kasus jajan 80 juta. Mungkin kamu juga menerima sharing berita maupun meme terkait kasus ini di media sosial kamu.

Entahlah, tapi melihat fenomena ini saya jadi teringat sebuah kalimat sederhana dari seorang narablog (yang mohon maaf, lupa namanya) sebagai berikut :

Saring Sebelum Sharing

Memang di era teknologi, ketika arus perputaran informasi bergulir begitu deras dan kencang, seolah membuat kita berlomba untuk cepet-cepetan jadi yang pertama membagi sebuah informasi. Sangking cepatnya, sampai-sampai kita lupa keabsahan, kebenaran dari informasi yang kita bagikan itu. Apalagi, memikirkan faedahnya bagi yang baca.

Bodo amat, bermanfaat atau enggak. Yang penting share dulu, kalau salah mari tertawa bersama.

Kalau sudah seperti ini mentalitasnya, kira-kira kamu kuatir nggak sama anak-anak kita nanti? Mereka yang sering pinjam gadget orang tuanya tanpa ijin, lalu tanpa sengaja mengakses konten yang dibagikan teman-teman kita. Konten yang, mohon maaf, sedikit manfaat banyak gaya.

Kalau gitu, jangan pinjamin anak kita gadget dong. Sederhana kan? Hmm..kamu kaya nggak tahu anak jaman sekarang. Yang jaman dulu aja, dilarang makin menjadi. Apalagi jaman now.

Sharing is caring, only if you care with what you share

Kita memang tidak bisa menyuruh semua orang sadar diri, menghidupkan budaya saring sebelum sharing. Namun, kalau kita mulai dari diri sendiri dan orang sekitar kita, sepertinya cukup realistis lah.

Jadi bagaimana? Mau memulai?

Jan 7, 2019

3 Hal Yang Bikin Bossmu, Nggapleki!


Boss vs Leader. Dua figur kepemimpinan yang selalu diperbandingkan satu sama lain. Herannya, boss selalu dilihat sebagai sosok antagonis, bengis, dan jahat. Sedangkan Leader, mendapat peran sebagai sosok yang ideal dan sempurna.

Entah siapa yang mengawali, memprovokasi, dan mempropagandakan sosok boss sebagai si jahat. Namun kalau mau ditelaah lebih jauh, saya melihat bahwa ternyata ada 3 faktor yang membuat sosok boss itu menjadi...kalau bisa dibilang, nggapleki.

1. Faktor Personal
Ini adalah faktor yang tidak bisa kita rubah sebagai manusia. Karena ini merupakan kehendak Tuhan YME.

Jangan protes, kenapa Tuhan menciptakan orang-orang nggapleki. Nanti kalau Tuhan mencabut nyawa semua orang nggapleki, bisa-bisa tar nyawamu ikutan kecabut. Atau lebih parah, nyawa orang di sebelahmu. Mau?

2. Faktor Atasan Yang Nggapleki
Nggak semua boss itu berada di puncak kekuasaan. Ada boss-boss tertentu yang masih punya boss di atas mereka. Bisa jadi, boss-nya inilah penyebab boss kamu jadi nggapleki.

Karenanya, alih-alih membenci, menghujat, mengumpat, bahkan menggunjing boss-mu di media sosial. Seharusnya kamu menunjukkan empati, simpati, bahkan bantuan supaya nasib buruk boss-mu bisa tereduksi.

Jangan sibuk meratapi nasib karena punya boss yang nggapleki, karena bisa jadi boss yang kamu benci, juga sedang membenci hidupnya.

3. Faktor Bawahan Yang Nggapleki
Selain atasan, bawahan yang nggapleki juga kerapkali menjadi penyebab utama seorang boss ikut nggapleki.

Bayangin kalau kamu sebagai seorang boss, punya bawahan yang disuruh A ngerjain B, disuruh selesai jam 10 lah baru mulai ngerjain jam 9.45, dikasih 10 tugas...yang selesai cuma 1 (sisanya si boss terpaksa turun tangan ngerjain), diajarin tapi ngeyel thok, dan lain-lain. Kira-kira, gimana nasib tekanan darah, kolesterol, dan gula darahmu kalau 10 tahun kerja sama orang seperti ini?

Walaupun demikian, tentunya sebagai manusia normal, lebih enak kalau kita menyangkal kenyataan ini. Paling mudah ya, salahkan saja si boss.


Nah sekarang, mari kita lihat sama-sama wajah boss kita masing-masing. Wajah yang penuh derita itu, yang kerapkali kita gosipin dan omongin tanpa sepengetahuan mereka. Sudah pantaskah ia menerima perlakuan tersebut dari kita yang notabene, dipekerjakan untuk menjadi solusi atas permasalahan yang ia hadapi dengan pekerjaannya?

Lalu, mari sama-sama berjanji pada diri sendiri,

  1. Jangan nggapleki sehingga menambah masalah mereka
  2. Jangan nggapleki waktu nanti giliran kita yang jadi boss


Setuju?

Jan 3, 2019

For Money or Love?


It's said that the best way to kill your passion is by forcing yourself to make money from it. Money is not the problem, but when it become the end goal, that is when the problem arise.

For years I don't know if I have passion in writing. Even now, when I start enjoying and passionate about writing, it didn't actually happen the way I thought it would. I thought, finding what we passion about was merely knowing what we like to do, do it, and make money from it.

Not me.

I hated writing. As a matter of fact, I hated writing with all my heart. Or you can say, I hated it passionately.

But then, on 2014, I was assigned to a job which force me to be good at writing. Can you imagine? How the hell I could do good for something I didn't love to do? It doesn't make sense right?

But that what happened. I put into a situation then I was forced to be good at it, and guess what...I've became good at it. Even better, I found it enjoyable and have so much fun on doing it.

In short, I started blogging. Not for money or glory...but simply because I love writing.

As time goes, I tried to enter one or two blogging competition. Just to measure how good my writing was. The result was obvious, I failed few times untill I won my first blogging competition.

I was happy and tried another one, and another one. And without I even realize it, the goal was no longer measure how well I write. But for the prizes.

I thought that if I keep doing this (entering competition without winning it), than I'm just wasting my time. Suddenly, writing is no longer fun and enjoyable as it were. The pressure of I-have-to-win has turn the hobbies to a job.

I already have one...a stressful one. So why would I add one more stressful thing to my life? I have a life I have to live with all my heart, yet I put so much burden and cause me loose the passion of life. Is it something worth to do?

Instead of doing that, why wouldn't I spend more time with my family.

So, I come to a conclusion. I love writing, I do. And if I could get an extra income from it, that would be great. But if it doesn't, I completely fine with that. I write not only because I'm passionate about it, but also it give me a chance to add values to other people.

But of course, that just me isn' t it?

Dec 31, 2018

Memberi Mainan Itu Mudah


Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh keceriaan dan kegembiraan. Dengan caranya sendiri, mereka mampu menciptakan kebahagiaan dengan dunia mereka. Imajinasi dan fantasi yang sangat hidup, jauh berbeda dengan kebanyakan orang dewasa. Boro-boro mau bahagia, lihat tagihan aja udah migrain.

Tapi ya begitulah anak-anak. Mereka senang sekali bermain dengan apapun yang ada di sekitar mereka.

Melihat keasyikan mereka bermain, kadang kita sebagai orang tua ingin mendukung dan menambah keseruan aktivitas mereka. Salah satu cara yang paling umum adalah, memberikan mainan.

Namun, pernah nggak kita sebagai orang tua memikirkan tentang mainan-mainan yang kita berikan kepada si buah hati? Bukan soal niat ya, karena pasti niatnya sama, menyenangkan membahagiakan anak.

Buat saya pribadi, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan saya dan istri dalam memilihkan mainan untuk kami berikan pada putra kami.

 1. Jenis mainan
Buat si kecil, apapun yang berlabel mainan itu pasti menyenangkan. Namun, tidak demikian halnya bagi si orang tua.

Tentunya, kita para orang tua ingin membahagiakan anak dengan memberi mainan. Namun, tentunya kita wajib bijaksana dalam memilih mainan yang akan kita berikan. Bagaimana dampak terhadap tumbuh kembang mereka? Alias, jangka panjang bagaimana.

Kami sendiri, bukan tipe pemberi-gadget-pada-anak. Karenanya, tidak ada satu pun game yang terinstal di handphone saya dan istri saya.

Bukan apa-apa, kami cuma agak miris saja melihat anak kecil jalan-jalan ke mall bareng orang tuanya sambil mata mereka terus memandangi layar handphone. Makan bareng di resto mahal, semua sibuk dengan gadget masing-masing. Kalau buat mereka it's okay ya nggak apa-apa. Cuma, untuk kami berdua, hmm...nggak deh.

2. Budget
Walaupun nggak semua mainan itu harus beli, tapi sayangnya tetap ada beberapa mainan tertentu yang hanya bisa didapat dengan merogoh kocek.

Kami berdua tak segan mengatakan kepada putra kami bahwa, mainan yang ia minta terlalu mahal. Atau, kami tidak punya budget untuk itu.

Mahal dibandingkan dengan kondisi dompet maupun dengan kondisi barang tersebut.

3. Keawetan
Salah satu hal termiris menjadi orang tua adalah ketika melihat mainan yang baru saja dibeli sudah -tak berbentuk- rusak karena polah si kecil.

Mau dimaklumin itu ya gimana, lah belinya pake uang (walaupun nggak selalu cash), tapi kalau dimarahin itu ya, sebenarnya salah kami juga ngasih mainan kaya gitu.

Karenanya, kami selalu mikir-mikir kalau mau ngasih mainan lagi. Berkaca dari kecenderungan anak kami memainkan mainan-mainannya.

Kadang-kadang demi menjaga keawetan mendidik putra kami bertanggung jawab terhadap mainan-mainannya, kami jadi sedikit over protektif terhadap...mainan-mainannya.

Namun, memang lebih aman bila pada dasarnya mainan tersebut tahan banting (dalam artian sebenarnya). Sehingga kalau kami pas keluputan ngawasin, minimal aman lah.


Selain ketiga pertimbangan di atas, ada satu kekhawatiran saya saat memberikan mainan buat putra kami. Menurut saya, memberi mainan itu mudah. Tantangannya adalah, bisakah saya sebagai orang tua memberikan waktu, tenaga, dan perhatian penuh untuk menemaninya bermain.

Memberi mainan hendaknya juga sepaket dengan memberikan diri kita untuk bermain bersamanya. 

Kan, mainan itu bukan pengganti kita sebagai orang tua mereka toh.

Dec 26, 2018

Movie Think : Door To Door


Beberapa hari yang lalu, waktu saya lagi browsing-browsing Youtube. Tak sengaja saya menemukan sebuah film lawas berjudul Door To Door. Dilihat dari durasinya, sepertinya full version nih. Namun, berhubung ketika itu paket data lagi seret, saya save dulu saja url-nya.

Akhirnya, setelah isi ulang paket data Telkomsel favorit saya, paket 75 ribu sudah dapat 15 GB kuota internet (semua jaringan), gratis telepon ke sesama Tsel, dan 100 menit telepon ke non-Tsel. Saya pun mengajak istri saya nobar.

Kebetulan film ini adalah film favorit saya semasa kuliah dulu. Ya, semacam nostalgia gitu lah.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang perjuangan seorang salesman bernama Bill Porter, seorang sales door to door yang memiliki cerebal palsy.

Secara fisik, kondisi Bill Porter tidak memungkinkan menjadi seorang salesman. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya berjalan 10 - 20 mil per hari, belum lagi terkadang ia harus membawa tas besar berisi barang-barang atau pun sampel produk. Karena itulah, Chuck, manager penjualan Watkins Inc ragu saat Bill muda datang ke ruangannya, melamar sebagai seorang salesman door to door.

Bill pun mendapat penolakan pertamanya dari Chuck. Namun, tak ingin mengecewakan sang ibu yang percaya penuh padanya, ia kembali menemui Chuck dan memintanya untuk menempatkannya di rute terburuk yang ia punya. Ia bahkan meyakinkan kalau Chuck tidak akan rugi apapun.

Singkat cerita, Bill pun mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ia pun mulai menjalankan tugasnya mengetuk pintu demi pintu, meminta waktu para calon customer agar ia bisa menjelaskan lebih banyak tentang produk-produk unggulan Watkins Inc.

Namun, menjual ternyata penuh tantangan. Setelah penolakan demi penolakan, ia sampai ke rumah Ny. Sullivan, janda yang tinggal sendiri di sebuah apartemen.

Setelah bercerita tentang kelebihan produk-produk Watkins, dengan ragu Bill mencoba melakukan closing. Di luar dugaan, Ny. Sullivan mau membeli dari Bill Porter. Bahkan, ia membeli lebih banyak dari yang Bill tawarkan.

Malamnya, ia mentraktir ibunya makan di luar.

Kisah sedih terjadi ketika ibu Bill Porter meninggal dunia. Dunia Bill terasa hancur, tetapi di satu sisi ia harus tetap menjalankan tugasnya, menjual.

Dua hal yang selalu ditanamkan sang ibu kepada Bill Porter: kesabaran dan kegigihan, benar-benar menjadi pegangan Bill dalam bekerja. Dan, akhirnya mengantarkannya menjadi Salesman of The Year.

Seiring berjalannya waktu, dengan berkembangnya teknologi internet. Perlahan, peran salesman door to door mulai tergantikan oleh para telemarketing. Rekan-rekan Bill pun yang dahulu sama-sama berada dalam satu divisi, door to door, beralih menjadi telemarketer.

Merasa tak sanggup mengikuti perubahan teknologi membuat Bill dilematis. Ia mencintai pekerjaannya, ia senang menjual. Namun, perubahan ini di luar jangkauannya. Haruskah ia pensiun dan berhenti menjual?

*****

Awalnya saya mengajak istri saya menonton film ini sebatas nostalgia karena saya suka sekali film ini. Tak disangka, ternyata istri saya melihat hal lain dari film ini, tentang melakukan pekerjaan dengan penuh kecintaan. Bukan semata mengejar uangnya.

Well, good for her.

Alur film ini cukup sederhana. Lumayan lah buat ngisi waktu luang kalau kamu lagi males liat film-film yang memaksamu untuk mikir.

Mau lihat film ini? Langsung saja klik di sini.