Aug 17, 2018

2 Jenis Hutang Dalam Bisnis


Sebelumnya, saya menulis tentang hal-hal yang saya pelajari dalam memulai bisnis. Masih ngomongin soal bisnis, di tulisan kali ini saya mau share tentang hutang.

Hutang dan bisnis memang bak dua sisi mata uang. Di mana ada bisnis di situ ada hutang.

Dari pengalaman saya (yang baru seumur jagung) menjalankan bisnis bersama pasangan, saya belajar bahwa ada dua jenis hutang di dalam sebuah bisnis. Kedua jenis hutang ini adalah hutang modal dan hutang operasional.

Hutang Modal
Yang namanya bisnis, apapun itu perlu modal. Kalau ada yang datengin kamu, nawarin kerja sama bisnis trus bilang kalau bisnis tersebut nggak perlu modal, kemungkinannya dua, kamu lagi dibohongin atau temen kamu itu nggak sadar kalau dia kena bohong. Semua bisnis ada modalnya, minimal dengkul.

Seperti namanya, hutang modal adalah hutang yang muncul ketika memulai sebuah bisnis. Tepatnya saat kita hendak memodali bisnis kita.

Hutang modal ini nggak melulu sebatas hutang ke lembaga keuangan formal (bank) atau non formal (misal, bokap-nyokap, temen, pacar, mantan, dll). Namun juga hutang ke tabungan kita sendiri.

Saya dan istri termasuk tipe yang konservatif dalam berhutang. Maksudnya, kalau emang lagi 'nggak ada' ya nggak usah maksa ngutang. Kebetulan, kami pernah ngerasain gimana nggak tenangnya hidup di jaman kebelit hutang KPR. Jadi udah cukup sekali itu aja kami berhutang. Ngutangnya sih simpel, ngangsurnya yang ngos-ngosan.

Ketika kami memulai bisnis minuman kami, kami itung-itung berapa modal untuk memulai. Setelah itu, kami 'meminjam' sejumlah uang dari tabungan kami yang nggak seberapa waktu itu.

Kenapa saya bilang pinjam? Pertama, uang tabungan itu sejatinya ada untuk tujuan lain. Jadi kalau diambil, harus segera dikembalikan. Kedua, kami memaksa diri untuk disiplin. Walaupun pinjem ke tabungan sendiri, tetap harus dikembalikan. We're doing business, not just playing around.

Hutang Operasional
Jenis hutang yang kedua ini baru saya temui di dalam perjalanan saya berbisnis. Walaupun bukan jenis hutang baru, tapi tetap saja buat newbie di dunia bisnis, pertemuan dengan jenis hutang seperti ini memberikan pelajaran tersendiri.a

Utamanya buat saya yang sering 'kurang bijak' dalam mengelola uang.

Hutang operasional yang saya alami sering kali ketika customer yang notabene teman sendiri, nggak bayar di tempat. Entah karena nggak bawa uang atau karena uangnya kegedean, sehingga saya nggak bisa kasih kembalian. Intinya, transaksi berjalan satu arah. Produk sudah dikonsumsi, uang belum masuk kantong.

Yang celaka dua belas ketika menghadapi hutang operasional adalah, baik pembeli maupun penjual (yap, that's me) sama-sama lupa kalau ada hutang di antara kami. Sedangkan transaksi sudah terjadi. Walhasil, saya sering norokin kekurangan uang hasil penjualan hari itu.

Solusi sederhana mengatasi hutang operasional adalah pencatatan yang baik.

Nggak perlu yang ribet anjrit soro tenan, cukup menulis secara real time ketika terjadi transaksi. What goes out must comes in. Kalau perlu, catat setiap 'tersangka' per transaksi. Lalu, tagih di akhir hari.

Nagihnya pun nggak perlu kirim debt collector dan tukang pukul. Cukup ingetin aja dan yang paling penting, samperin.

Membiasakan diri tertib administrasi ternyata juga penting buat kesehatan bisnis. 



Nah, jadi itulah cerita saya dan hutang dalam berbisnis. Kalau kamu punya cerita lain, feel free tuk berbagi di kolom komentar ya.

Aug 16, 2018

Pelajaran Dalam Memulai Bisnis



Belum lama ini saya dan istri, memulai bisnis kecil-kecilan di bidang minuman. Di pengalaman perdana berbisnis ini, ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan terkait bisnis.

Mulai dari yang disukai
Salah satu nasehat yang pernah saya dengar tentang memulai bisnis adalah, mulailah dari hal-hal yang kita sukai. 

Walaupun begitu, saya masih saja sulit menemukan sesuatu yang saya sukai dan bisa dibisniskan. Entah saya yang keruwetan orangnya atau gimana. Singkat cerita, saya nggak mulai-mulai.

Sampai di suatu sore, saya menyadari kalau saya punya sebuah kebiasaan njajan minuman-minuman kopi botolan. Saya hobi dan freak banget ngopi, sampai-sampai saya kebal sama efek meleknya kopi. Masio ngopi berapa banyak pun, kalau ngantuk ya bobok. 

Terus, saya rembugan sama istri (saya, bukan istri tetangga)...gimana ya kalau kita jualan minuman-minuman seperti ini.

Singkat cerita, kami mulai cari-cari informasi dan referensi supplier. Dan kami pun mulai menjalankan bisnis minuman ini dengan pangsa pasar teman kantor dan pengunjung car free day.

Saya nggak jago ngitung, karenanya Allah ngasih saya pasangan yang doyan ngitung. Dan setelah dihitung-hitung, ternyata kita dapat untung, Alhamdulillah.

Mulainya kecil dulu
Seorang tabib tersohor bernama Madam Erot pernah berkata, "Semua yang besar, awalnya kecil"

Demikian pula dalam berbisnis. Ternyata untuk memulai, kita cukup berangkat dari yang kecil-kecil dulu. Skala produksi kecil, pasar kecil, volume kecil.

Yang penting jalan dulu.

Mulai....aja
Saya pernah baca sebuah kutipan yang ditulis di foto seorang almarhum pengusaha terkenal Indonesia yang terkenal dengan gayanya yang nyentrik, menggunakan kemeja lengan pendek dan hot pants. 

Tulisannya begini, "Bisnis yang bagus adalah yang dijalankan, bukan ditanyain mulu."

Ya itulah yang kami lakukan. Kami memulai. Takut, khawatir nama baik tercoreng juga ada (dikatain bakul, sales, dll). Tapi setelah dilakukan ternyata semua ketakutan dan kekhawatiran benar-benar terjadi. 

Saya dikatain bakul sama teman-teman saya. 

Malu awalnya, tapi saya kuat-kuatin nahan malu. Katanya, kalau ada yang ngetawain kita, maka kita harus ketawa lebih keras (jangan tanya kata siapa). Jadi, berhubung saya nggak bisa merubah realita seperti Thanos dengan Reality Stone-nya, maka saya berusaha merubah persepsi saya tentang identitas seorang bakul.

Alih-alih menolak sebutan itu, saya memilih untuk menerima dan menyandang gelar tersebut dengan penuh kebanggaan (lah kate lapo maneh).

Jadilah saya dengan identitas baru saya sebagai bakul.

produk dagangan

Buat kamu yang sekarang lagi galau mau mulai bisnis, saya nggak punya saran apapun buat kamu. Cuman ngingetin aja, bisnis adalah aktivitas menolong orang yang dibayar.

Jadi, coba jawab dengan jujur. Apakah bisnis yang akan kamu mulai ini nolongin atau nyusahin orang.

Aug 8, 2018

Kisah Kecoa Yang Sombong



Hai Pandas (papa & bunda)! Siapa yang hobi membacakan dongeng buat putra-putrinya nih menjelang istirahat malam? Kali ini saya mau membagikan sebuah kisah yang beberapa hari ini saya ceritakan ke Fabio kecil untuk mengantarnya ke alam mimpi. Oya, cerita ini bukan bikinan saya...walaupun sudah sedikit saya permak di sana-sini. Semoga bermanfaat ya Pandas.

Langsung saja, ini dia Kisah Kecoa Yang Sombong.


***


Pada jaman dahulu, dunia serangga terbagi menjadi 3 wilayah. Wilayah Udara yang dikuasai oleh Ratu Lebah, wilayah pohon dipimpin Raja Semut, dan wilayah tanah di bawah kendali Pangeran Kecoa. Walaupun terbagi menjadi 3, mereka semua hidup berdampingan dengan damai dan saling tolong menolong.

Namun di antara ketiga penguasa wilayah itu, Pangeran Kecoa memiliki tabiat yang paling buruk. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengagumi keindahan tubuhnya, sayapnya yang berkilau diterpa cahaya, dibandingkan mengurusi rakyatnya, para serangga penghuni wilayah tanah.

Suatu hari, Pangeran Kecoa sedang berjalan-jalan menyusuri wilayah Tanah yang menjadi kekuasannya. Seluruh serangga tunduk ketika sang Pangeran berjalan melintas di depan mereka.

Pangeran Kecoa yang sombong semakin menjadi melihat bagaimana para serangga itu memberikan penghormatan kepadanya.

Tiba-tiba, tanpa ia sadari melintas seekor cacing tanah tepat di hadapannya. Pangeran Kecoa terkejut bukan kepalang, sampai terjungkal. Pangeran Kecoa marah tak karuan. Ia lalu menyuruh cacing itu berhenti, kemudian ia maki-maki si cacing. Pangeran Kecoa menumpahkan semua kekesalan dan kemarahannya kepada si cacing yang hanya bisa diam tak berdaya. Ia tak mampu berbuat apa-apa sekalipun sebenarnya ia sakit hati diperlakukan demikian oleh Pangeran Kecoa.

Setelah beberapa makian, hujatan, dan sumpah serapah, akhirnya Pangeran Kecoa berhenti dan mealnjutkan perjalanannya. Ia tinggalkan begitu saja si cacing yang diam menahan malu dan sakit hati.

Asik berjalan-jalan, sampailah Pangeran Kecoa di sebuah tempat yang ia belum pernah lihat sebelumnya. Ia terheran-heran, bagaimana mungkin ia tidak pernah tahu selama ini bahwa ada tampat seindah surga di wilayah kekuasaannya. Pikirannya langsung negatif.

"Jangan-jangan Raja Semut dan Ratu Lebah bersekongkol untuk menyembunyikan tempat ini dariku," gumamnya dalam hati.

Pangeran Kecoa memasuki tempat itu. Ia melihat tanaman-tanaman yang tumbuh di sana memiliki bentuk yang aneh. Tanaman itu berwarna hijau dan memiliki bentuk seperti kantong. Namun, aroma nektar yang dikeluarkan tanaman-tanaman itu benar-benar sangat menggoda.

Tergoda oleh aroma nektar dari tanaman aneh itu, Pangeran Kecoa pun mendekati dan memanjat batang salah satu tanaman tersebut. Semakin ia mendekati bagian tanaman yang berbentuk kantong itu, semakin kuat pula aroma nektar yang ia cium. Tanpa pikir panjang, sang Pangeran memasuki kantong itu.

Di dalamnya, ia mendapati nektar yang sangat sedap dan manis. Lalu ia pun melahapnya.

Ia tidak menyadari bagian atas kantong itu mulai menutup, dan ia terkejut bukan kepalang ketika kantong itu menutup sempurna. Merasa ada yang aneh, Pangeran Kecoa berusaha membuka kantong tersebut, tetapi usahanya gagal. Bahkan dinding kantong itu semakin menghimpitnya. Pangeran Kecoa panik.

Nektar yang beraroma sedap dan manis tadi seraya berubah menjadi berbau busuk. Cairan terus keluar memenuhi kantong membuat Pangeran Kecoa tenggelam di dalam cairan kental yang berbau busuk itu.

Pangeran Kecoa menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Seketika, ia teringat akan kesombongan dan perbuatan-perbuatan jahatnya kepada serangga-serangga tanah. Ia menyesal sekali, dan memohon ampunan kepada Tuhan.

"Tuhan, aku telah banyak menyakiti serangga-serangga lain. Aku mohon ampun Tuhan. Kiranya Engkau berkenan memberiku kesempatan kedua, aku akan berubah," pinta sang Pangeran Kecoa.

Namun, tidak ada yang terjadi. Pangeran Kecoa kehilangan kesadaran ditelan oleh cairan kental dan busuk itu.

•••••


Secercah cahaya menyeruak, memaksa sepasang mata Pangeran Kecoa untuk terbuka. Samar-samar ia melihat dua sosok yang cukup dikenalnya. Perlahan ketika kesadarannya kembali, ia pun berhasil mengenali sosok itu yang tidak lain adalah Raja Semut dan Ratu Lebah.

"Apa yang baru saja kamu lakukan, hai Pangeran?" selidik Raja Semut. "Tak tahukah kamu tanaman apa yang kamu masuki tadi?" lanjutnya.

Pangeran Kecoa hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu tanaman apa itu. "Tanaman itu bernama Kantong Semar," sahut Ratu Lebah.

"Hah, Kantong Semar?" tanya Pangeran Kecoa.

"Ya, itu adalah tanaman karnivora pemakan kaum serangga," lanjut Ratu Lebah. "Kamu benar-benar beruntung, Tuan Cacing lewat di sekitar sini dan melihatmu masuk ke dalam Kantong Semar," sela Raja Semut.

"Tuan Cacing?" tanya Pangeran Kecoa.

"Ya, kalau dia tidak menggali tanah di sekitar Kantong Semar yang kamu masuki tadi, mungkin nyawamu sudah melayang," tegas Raja Semut.

Pangeran Kecoa memandang Tuan Cacing dengan malu. Pagi ini ia baru saja menghardiknya habis-habisan, menyakiti perasaannya. Namun, Tuan Cacing telah menyelamatkannya.

"Terima kasih, Tuan Cacing dan aku minta maaf atas kata-kata kasarku pagi ini," sesal Pangeran Kecoa.

"Tidak mengapa tuanku, yang penting Anda sekarang selamat," jawab Tuan Cacing.

Pangeran Kecoa benar-benar menyesali perbuatannya. Sambil di saat yang bersamaan, Pangeran Kecoa mencium bau busuk. Ternyata aroma tak sedap itu keluar dari tubuhnya. Dan terus menerus tanpa henti.

Ia benar-benar malu melihat dirinya sendiri. Sepertinya inilah hukuman dari Tuhan atas kesombongan dan keangkuhannya selama ini.

Karena itu, ia pun pergi mengasingkan diri. Menyendiri tanpa seorang pun menemani. Pangeran yang dulu tinggal di istana megah, kini harus berdiam di kegelapan, di balik batu dan dedaunan yang mengering. Ia tak pernah lagi menampakkan dirinya, malu akan dirinya sendiri.

Rasa malu itu ia bawa sampai ke keturunannya. Karenanya kita sering melihat para kecoa lebih senang tinggal jauh di kegelapan. Mungkin ia masih menyimpan malu atas aib yang menimpa leluhurnya.

TAMAT

***

Nah, begitulah kisah Kecoa Yang Sombong. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua ya Panda. Oya, jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan update-update terbaru dari blog ini. Mampir juga di Instagram untuk konten-konten yang nggak kalah asiknya ya.


Aug 7, 2018

Perlu Apa Aja Biar Bisa Ngeblog?

Hilthart Pedersen via Unsplash

Mulai aktif ngeblog sejak 2017, ternyata 98% postingan saya, saya buat dan posting dengan menggunakan handphone. Dari alm.Samsung Galaxy S3 Mini, alm.Samsung Galaxy Tab 3 Lite, sampai sekarang lewat Samsung Galaxy J2 Prime.

Okay, most of them are Samsung. Tapi percayalah, postingan ini bukan iklan handphone besutan Korea ini kok. Suer!

Sejak memulai (lagi) aktivitas daily blogging, saya sedikit melihat ke belakang terkait apa saja sih yang sebenarnya saya perlukan biar saya bisa ngupdate postingan di blog. Dari nulis draft sampai cari ilustrasi, dan akhirnya promosi (biar ada yang baca).

Walhasil, cuma ada 2 hal yang saya perlukan untuk ngeblog...yaitu :

1. Handphone, dan
2. Kursi

Lalu, kalau hanya dua itu saja. Kenapa saya tidak bisa rajin mengupdate postingan di blog ya? Itulah pertanyaan selanjutnya.

Ternyata, sejauh saya bisa ingat ada beberapa hal yang menjadi alasan (atau lebih tepatnya, alesan) saya nggak rajin posting.

1. Terlalu banyak aturan
2. Terlalu perfeksionis
3. Nggak punya bahan tulisan
4. Tergoda media sosial
5. Tergoda baca blog orang
6. Nggak bisa atur waktu
7. Lagi nggak mood
8. Nggak segera mulai
9. Dan lain-lain

Menjaga konsistensi ngeblog memang sulit, dan ini sudah diinformasikan oleh banyak senior bahkan veteran blogger. Tapi, setelah mengalaminya sendiri, barulah saya bisa mengangguk dan mengakui kalau konsisten ngeblog itu simpel tapi nggak gampang.

Setuju?

Aug 6, 2018

Menjadi Seorang Profesional

Leone Venter via Unsplash

Apa sih yang membedakan seorang profesional dan amatir? Sederhana saja, profesional dibayar.

Apapun bidangnya, prinsip ini berlaku sama. Pemain bola profesional dibayar, pengacara profesional dibayar, penulis profesional, dibayar...dan demikian pula profesional di bidang profesi lainnya.

Pertanyaanya, kenapa mereka dibayar?

Kenapa sih kok ada orang yang rela ngeluarin uang untuk membayar mereka? Bahkan ada yang sampai merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa mendapatkan service para profesional ini. Buat apa?

Ini jawabannya, they helps people.

Simpel ya? Emang. Tapi justru karena simpel ini lah yang kadang-kadang membuat kita lupa menjaga profesionalisme kita di dalam profesi yang kita tekuni saat ini.

Kita sering lupa kalau kita sebenarnya adalah solusi buat orang lain. Pengalaman kita, ilmu kita, sampai tenaga kita merupakan aset yang sangat berharga. Berharga bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

Seorang blogger misalnya. Dengan kemampuannya memahami sebuah informasi, mengolahnya sedemikian rupa menjadi sebuah artikel yang informatif dan menarik. Kemudian mereka mempublikasikannya secara online, kemudian dari artikel yang mereka buat ini, banyak orang merasa terbantu dan terinspirasi. Bukankah ini adalah sesuatu yang berharga?

Seperti Bunda Yeni dan Mas Febriyan Lukito yang sering berbagi tips dan informasi tentang dunia parenting dan SEO. Adapun Koh Huang yang rajin mengenalkan destinasi-destinasi asik untuk dikunjungi. 

Dari mereka, saya belajar satu hal. Menjadi blogger, bukan tentang menulis apapun yang kita mau tulis (walaupun judulnya personal blog alias blog pribadi). Namun bagaimana menggunakan blog sebagai media untuk membantu orang lain (reader misalnya), melayani mereka dengan what they can do best, menjadi blogger.

Pertanyaannya untuk kita sendiri sekarang. Sudah seprofesional apa sih kita dengan profesi kita? Apakah kita masih sibuk dengan diri kita sendiri sehingga lupa menggunakan potensi kita untuk membantu orang lain?

Bukankah Rasullullah pernah berkata bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang paling banyak manfaatnya?