Nov 11, 2018

Mengkritik Di Kolom Komentar...Yey or Ney?


Siapa yang pernah blogwalking ke postingan bloger favoritmu, dan sudah ada 80 komentar di sana. Apa yang kamu rasakan? 

Kagum? Heran? Atau...iri?

Saya sih, campur aduk. Kagum iya, jealous iya.

Walaupun jumlah komentar di postingan saya belum ada yang mencapai angka 50, tapi tetap saja, melihat ada komentar masuk itu, rasanya sudah gimana gitu. Apalagi kalau ada yang komentar tentang bagaimana postingan saya menginspirasi mereka.


Memang, rata-rata komentar-komentar yang masuk di postingan saya itu positif semua. Walaupun ada beberapa yang...ya, komen biar saya main balik ke blog dia. Tapi it's okay lah.

Cuman, kadang-kadang penasaran juga. Kenapa komentar yang masuk baik-baik semua ya? Apakah memang konten saya sekeren itu? Penulisan saya apa ya sebagus itu? 

Hmm... .

Atau memang mereka 'terlalu baik' untuk memberikan komentar yang sedikit pedas, alias mengkritik konten, ide, maupun teknik penulisan saya. Mungkin mereka takut saya mogok makan setelah dikritik. Mungkin... .

Kritik adalah saran yang tidak enak didengar

Dikritik memang nggak nyaman, bikin naik darah, sampai naik pitam. Tapi, kalau boleh jujur, kritik itu penting lho supaya kita nggak terlena. Jangankan saya dan kamu, wong penulis yang sudah terkenal saja masih dikritik.

Betul?

Kamu sendiri gimana? Pernah nggak dapat komentar yang mengkritisi pemikiranmu, sudut pandangmu, bahkan typo di salah satu postinganmu? 

Seandainya saya main-main ke blogmu, terus di kolom komentar saya mengkritisi dan mengoreksi kontenmu, kira-kira komentar itu bakal kamu hapus nggak? Terus sayanya bakal kamu block selamanya nggak?

😊

Kalau kamu mau, boleh share link blog kamu. Nanti saya mampir ke situ. Tapi...saya komeninnya pake lombok 20 ya, yang karetnya dobel.

I won't play nice, that's for sure.

Tapi, ya itu pun kalau kamu mau sih. Nggak juga nggak apa-apa kok.


*****

Nov 8, 2018

Postingan Tanpa Gambar



Sebuah gambar bisa bercerita lebih banyak dibandingkan kata-kata. Di blog post, gambar memiliki peranan penting dalam mengkomunikasikan pesan kita terhadap pembaca.

Apalagi 90% penduduk bumi merupakan tipe visual yang lebih mudah mencerna informasi visual ketimbang tulisan belaka. 

Setidaknya buat saya, gambar berfungsi sebagai : 

  1. Menentukan tema/nuansa sebuah postingan
  2. Sebagai ilustrasi
  3. Tanda jeda, supaya pembaca tidak lelah terutama untuk postingan-postingan panjang (1000 kata atau lebih)
  4. Pemanis
Karenanya, saya selalu berusaha menyisipkan gambar di setiap postingan saya. 

Namun, apakah lantas menyisipkan gambar menjadi wajib hukumnya di setiap blog post?

Karena saya juga melihat beberapa blog seperti Jurnal Agus Mulyadi, blognya mas Pandji, atau beberapa blog luar seperti blognya Seth Godin atau Zen Habits, yang tampaknya tidak 'mengikuti aturan' ini.

Nyatanya, blog mereka juga ada yang baca, ada yang subscribe pula.

Nah loh, trus gimana dong?

Saya jadi ingat pas join #ODOP5 awal tahun ini, salah seorang mentor (yang saya lupa namanya...maaf ✌) bilang,

setiap tulisan itu memiliki pembacanya sendiri. 

Hmm... .

Bisa jadi sih. Menurutmu gimana? Lebih baik pakai gambar atau tidak? Atau beberapa postingan perlu pakai gambar, beberapa tidak. Misalnya kalau postingan buat lomba blog atau review, pakai gambar (selain wajib, juga biar kelihatan niat bikinnya).

Share opini kamu dong.

*****

Nov 4, 2018

7 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Saat Down


Ada yang bilang kalau hidup bak roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang lewat jalan yang mulus, sesekali lewat jalan penuh lubang. Seru ya hidup itu.

Yang terpenting dan tersulit dalam hidup adalah untuk tetap waras di tengah ketidakwarasan.
Tidak jumawa kala berjaya dan depresi waktu sedang diuji.

Nah, beberapa hal ini bisa kamu coba lakukan untuk 'menjaga kewarasan'-mu ketika awan kelabu menutupi hangatnya sinar mentari.

1. Membaca
Membaca ulang novel atau komik favorit bisa jadi satu cara yang cukup ampuh untuk mengembalikan 'dirimu'. Atau kamu bisa juga membaca beberapa artikel dari blog favoritmu.

Pilihlah jenis bacaan yang positif dan sekiranya bisa menarikmu ke jalur yang benar.

Jangan mantengin timeline yang isinya nyinyiran dan provokasi. Bisa-bisa kamu jadi makin nggak waras.

2. Menulis
Suka nulis? Tuangkanlah apa segala kegalauan dan kegundahanmu lewat kata-kata. Mau umpatan, cacian, makian, anything lah.

Tapi...jangan diposting!

Ingat, kamu nggak sedang bikin penguman soal gimana beratnya jadi kamu lho. Selain nggak bermanfaat, nggak ada yang peduli juga.

3. Hangout
Menghabiskan quality time bersama orang-orang kesayangan, berbagi cerita sekalian curhat, juga salah satu alternatif untuk mengembalikan kewarasanmu.

Kadang hanya melihat wajah mereka saja sudah cukup bisa mengembalikan mood kita seperti sedia kala. Betul nggak?

Pastikan saja kamu nggak hangout bersama orang-orang yang hidupnya jauh lebih suram darimu. Walaupun ada kemungkinan cerita mereka bikin kamu mensyukuri hidumu sekarang, tapi resiko kamu yang keseret jauh lebih besar.

Kita sedang berusaha tetap waras kan, bukan tambah sedheng.

4. Menangis
Kalau memang kamu merasa perlu menangis, menangislah...di atas sajadah tanpa ada satu pun orang yang tahu.

Nggak perlu ngomong apa-apa. Keluarin saja semuanya di hadapan-Nya yang Maha Agung.

5. Menonton film favorit
Sesekali boleh lah memanjakan diri, menikmati acara favorit untuk melepas penat.

Menonton film-film lama, walaupun kita sudah tahu alur dan akhir ceritanya, tetap saja cukup mampu membantu memperbaiki mood lho.

6. Memutar musik favorit
Oldies but goodies. Mendengarkan musik favorit sudah jadi rahasia umum bisa merubah mood kita. Apa musik favorit kamu saat lagi bermuram durja?

7. Diam
Diam saja, nggak usah ngapa-ngapain. Terima kenyataan bahwa kamu sedang bersedih dan coba rasakan bagaimana situasi emosimu saat itu.

Live the moment.


Nah, jadi itulah 7 hal yang bisa kamu lakukan waktu lagi down. Mana yang mau kamu coba?

Atau kamu punya cara lain? Boleh lah di-share di kolom komentar.

*****

Nov 2, 2018

More Than Writing

I used to believe that blogging is only writing. I have passion in writing and therefore I blog.

Turns out, writing is just a small piece from this blogging thing.

For me, blogging is about... .

• Communicating
• Inspiring
• Caring
• Helping
• Struggling
• Adding value
• Educating
• Entertaining
• Learning and growing

What about you? What is blogging all about for you?

Oct 27, 2018

Berhenti Mengejar Mimpi


Beberapa minggu ini, terbersit pikiran membuat blog baru. Blog tentang passion saya, menulis.

Saya membayangkan lewat blog ini, saya berbagi pengalaman dan juga pandangan terkait dunia tulis-menulis. Kemudian, dapat bermanfaat bagi orang-orang dengan passion yang sama, menulis.

Beberapa perencanaan sudah saya buat, mulai desain, format konten, sampai nama blog.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kesibukan di pekerjaan semakin bertambah. Selain itu, ART yang pamit pulang membuat saya dan istri sibuk dengan tugas-tugas rumah tangga.

Alhasil, saya tak sempat meluangkan waktu, bahkan, sekedar membuat halaman About Me pun tak sempat.

Sempat merasa gelisah, saya berusaha mencari-curi waktu untuk mulai 'blog impian' saya. Namun, ternyata semakin sulit untuk membagi waktu dan konsentrasi antara ngeblog, aktivitas di kantor, dan kerjaan rumah.

Alhasil, saya memutuskan menunda dulu me-running blog impian ini.

Pelajarannya : Tak Semua Impian Perlu Diwujudkan

Saya berharap ketika blog impian saya bisa terwujud, saya bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Berbagi pengalaman, pengetahuan, maupun cara pandang baru terhadap dunia tulis-menulis ini. Menginspirasi atau sekedar menjadi pengingat hal-hal dasar dalam menulis.

Kedengarannya seperti cita-cita mulia ya?

Cita-citanya memang mulia, tetapi saya jadi mempertanyakan diri saya kembali. Kenapa kok saya mau melakukan itu? Demi siapa? Apakah niat saya memang membantu, atau jangan-jangan saya sedang menipu diri sendiri. 

Sok-sokan mau 'menebar manfaat' padahal yang dicari adalah popularitas di dunia maya.

Sebagai blogger, adalah hal yang menyenangkan bukan bila banyak orang mengunjungi blog kita, meninggalkan komentar-komentar positif, bahkan terinspirasi untuk mencoba sesuatu yang baru setelah membaca tulisan kita.

Lebih-lebih, saat apa yang kita tuliskan di-share ke mana-mana sehingga semakin banyak orang yang terbantu.

Tempting isn't it? Benar-benar menggoda, apalagi buat saya. 

Namun, seiring berjalannya waktu, ketika intensitas ngeblog semakin bertambah, tanpa saya sadari, pelan-pelan saya mulai kehilangan kontak dengan realita. Fokus saya terlalu berat ke blog, menyenangkan orang di luar sana, dan melupakan orang-orang di sekitar saya. 

Istri dan anak, rekan kerja. Orang-orang yang secara fisik beneran ada. I can see and touch them.

This is not good. 

Karenanya, sebelum saya terperosok lebih jauh, saya mengambil langkah yang sangat tidak menyenangkan (buat saya) sehubungan dengan blog impian ini. I cancel it.

Nggak semua mimpi perlu diwujudkan. Apalagi ketika apa yang akan kita dapatkan tak sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan.

Niat baik saja (ternyata) tidak cukup. Ada kalanya kita perlu kembali mempertanyakan, menantang, diri sendiri untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana : ngapain?

Fitrahnya, ada harga yang harus dibayar untuk mewujudkan impian. Pastikan harga itu sepadan dengan hasilnya. 

Jangan mau kemahalan.

Oct 26, 2018

Bukan Lagi Tentang 'Gimana Caranya'


Hari gini masih bingung gimana caranya ngeblog? Makanya punya alat jangan dianggurin.

Sekarang ini jamannya informasi melesat secepat kilat. Bingung gimana cara memulai, malu tanya kanan kiri, sudah ada Google. Jadi, sudah nggak ada lagi alasan buat bingung 'gimana' kan?

Ini berlaku juga untuk semua bidang, nggak cuma blogging. Kita bisa dengan sangat mudah menemukan gimana.

Selama, kita mau mencari.

Namun, pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah...kenapa?

Kenapa mau ngeblog?
Kenapa mau mulai bisnis?
Kenapa mau pedekate-in si doi?
Kenapa dan kenapa... .

Karena percuma tahu gimana kalau kita nggak tahu, kenapa kita mau melakukan apa yang mau kita lakukan.

Apa esensinya? Demi apa (atau siapa)?

Jawaban itu jauh lebih penting dibanding sekedar tahu gimana caranya.

Kenapa-mu itu ibarat bahan bakar yang membuatmu mau melakukan. Gimana-mu, adalah petunjuk yang membuatmu mampu melakukan.

Mau dan mampu memang sama-sama penting. Tapi banyak bukti yang menunjukkan orang jadi mampu karena dia mau. Dan banyak pula orang yang sebenarnya mampu, tapi nggak mlaku karena nggak mau.

So?

Setuju nggak setuju, silahkan berbagi opini dan pandanganmu di kolom komentar.

Oct 17, 2018

Kalau Konten Itu Raja



Maka ratunya pastilah para pembaca.

Dalam dunia bisnis dan marketing ada istilah copywriting, sebuah teknik penjualan menggunakan media tulisan. Sederhananya, copywriting adalah cara memengaruhi orang lain lewat kata-kata.

Yang menarik, walaupun copywriting itu penting di dalam dunia penjualan. Ternyata ada yang lebih penting dibandingkan copywriting itu sendiri, yaitu target market.

Copywriting secanggih dan sehebat apapun, kalau target marketnya salah ya gak akan ada closing penjualan.

Kalau dipikir-pikir kok mirip sama ngeblog ya.

Konten seindah apapun kalau nggak ada yang baca, sedih juga. Setuju?

Pertanyaannya, kita tahu nggak, siapa target market alias reader kita?

Oct 7, 2018

My Blogging Values : Cerita Seorang Blogger

"Mas Prim, kamu kan blogger. Ajarin dong gimana sih caranya ngeblog?"


Ada yang pernah terima pertanyaan seperti ini nggak? Ya walaupun kita, Anda dan saya, bukan blogger beken seperti Koh Huang, Febriyan Lukito, Mas Sugeng atau pun Agus Mulyadi. Namun, berhubung orang tahunya kita rajin ngeblog, jadi ya akhirnya mereka nanyanya ke kita.

Antara sungkan dan senang karena dianggap kompeten untuk tanya-tanya seputar blogging.

Sungkan karena ya masih banyak yang perlu dipelajari, ilmu masih cetek, nulis masih serampangan, page view ya segitu-gitu aja, tampilan blog ya biasa-biasa...eh, dimintain advis cara ngeblog. 😅

Rasanya kok ya durung pantes.


Balik Tanya
Saya sendiri, kalau ada yang nanya gimana caranya ngeblog, saya akan ajukan dua pertanyaan.

Pertama, saya tanya balik, udah googling belum? Kan pastinya bukan dia seorang manusia di muka bumi ini yang penasaran gimana caranya ngeblog. Jadi, pastilah ada banyak sumber tentang cara ngeblog dari para expert. Nah, kalau yang sesederhana googling aja males, apalagi ngeblog.

Pertanyaan kedua, alih-alih saya sok-sokan ngajarin, saya akan tanya "Kenapa kamu mau ngeblog?"

Sederhananya, kalau alasan ngeblog aja nggak jelas, mau jadi apa blog dia nanti. Karena ngeblog itu butuh konsistensi, kemauan belajar (plus praktek, soalnya belajar tanpa praktek itu nol besar), dan disiplin diri. Kalau enggak, blog itu akan dibuat asal-asalan, nggak jelas tujuannya, lebih-lebih nggak ada value lebih yang ditawarkan buat pembaca.


Me & My Blog
Blog buat saya adalah media untuk menyalurkan hobi menulis sekaligus, melatih kecakapan saya menyampaikan ide secara sistematis dan mudah dipahami. Selain untuk berbagi informasi dan inspirasi.

Jadi walaupun blog ini adalah blog pribadi, tapi sebisa mungkin saya nggak akan posting curhat full emosi tanpa esensi di sini.

Tentunya, tiap orang punya value-nya masing. Namun buat saya, ada 3 hal penting dalam blogging.


1. Valuable
Istilah konten adalah raja, sudah jadi rahasia umum buat mereka yang bergelut di dunia blogging. Saya sendiri mengibaratkan blog tak ubahnya seperti bisnis, yaitu sama-sama menolong orang.

Bisnis menolong orang lewat produk dan jasanya, sedangkan blog lewat konten.

Karenanya, akan lebih bijak bila kita semua para blogger benar-benar memperhatikan kualitas konten kita, terutama dari sisi kebermanfaatannya bagi para pembaca.

Bahkan, lebih baik lagi kalau jika semua konten kita seperti status Facebook, cuitan di Twitter, maupun gambar-gambar Instagram benar-benar kita jaga kebermanfaatannya.

Dunia internet sudah penuh dengan konten-konten 'sampah', jadi tidak perlu kita tambah satu lagi kan.

2. Readable
Sebaik-baiknya konten dan value yang terkandung di dalamnya, apabila disajikan dengan ala kadarnya, susah dimengerti, bikin bingung, ya sama saja bohong.

Blogging bukan lagi tentang (sekedar) menulis. Melainkan bagaimana mengemasnya dengan seatraktif mungkin, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami konten yang kita sajikan.

Dan sebenarnya, tak terlalu sulit kok membuat konten kita menjadi readable alias mudah dibaca.

Beberapa cara yang saya lakukan antara lain: (1) menggunakan kalimat dan paragraf pendek, (2) membuat list, (3) menebali sub paragraf dan/atau menggunakan huruf kapital, dan (4) memasukkan gambar di awal dan tengah tulisan.

Karena 90% penduduk bumi adalah orang visual, bila saya hanya menyajikan plain text, mungkin tak banyak yang akan membaca dari awal sampai akhir. Boro-boro baca, lihat aja udag ogah mungkin.

3. Uncopyright
Saya pertama mengenal istilah ini dari seorang blogger asal Amrik bernama Leo Babauta.

Konsepnya adalah, melepaskan hak cipta atas konten kita.

Lho kok? Jadi nggak apa-apa nih kalo konten di blog ini ada dijiplak orang, disebarluaskan tanpa seijin saya, lalu orang itu dapat untung, sedangkan saya nggak dapat bagian sedikit pun. Bahkan sekedar back link ke blog ini?

Yup, that's right.

Kalau apa yang saya tulis di sini memang layak dijiplak dan disebarluaskan, berarti tulisan saya bagus dan readable dong. Buat saya, itu sudah cukup.

Jadi, bagi siapapun yang berniat melakukan plagiarisme konten saya, saya persilahkan. Mungkin dengan begitu, pesan saya lebih tersampaikan dengan baik dan didengar lebih banyak. Kalau mau kasih kredit buat saya, terima kasih...tapi enggak juga nggak apa-apa.


Ngeblog itu perlu kah?
Perlu nggak sih kita punya blog? Hmm...pertanyaan yang bagus.

Perlu atau enggak ya tergantung ya. Tapi sebelum kamu memutuskan untuk mulai bikin blog, saya mau share beberapa manfaat ngeblog buat saya. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan buat kamu sebelum akhirnya memutuskan untuk ngeblog.


  1. Ngeblog melatih kemampuan saya dalam menuangkan ide secara sistematis dan mudah dipahami
  2. Ngeblog melatih kreativitas saya dalam menulis
  3. Ngeblog melatih kedisiplinan saya, dalam hal mengupdate konten
  4. Ngeblog merupakan media untuk menginspirasi orang lain dengan membagikan pengalaman pribadi saya
  5. Ngeblog melatih kesabaran untuk tidak tergesa-gesa mem-publish tulisan sebelum proofreading
  6. Ngeblog memperluas networking saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama dengan saya, dan terakhir
  7. Ngeblog adalah jurnal pribadi, media untuk mengabadikan proses-proses yang saya lalui dalam hidup

Jadi, masih perlu ngeblog? Saya sih perlu. Kamu gimana?


°°°°°

Disclaimer
Postingan ini diikutsertakan dalam lomba blog #C2CreatorContest oleh C2Live.

Sep 30, 2018

Pertimbangan-Pertimbangan Sebelum Beli Apapun, Sebuah Pengalaman Pindah Kontrakan


Hidup sebagai kontraktor, ngontrak sana, ngontrak sini memang memiliki tantangan tersendiri.

Ini adalah cerita saya dan keluarga ketika kami pindah dari rumah kontrak. Rumah yang sudah kami huni selama kurang lebih empat tahun itu terpaksa harus kami tinggalkan karena beberapa hal. Pertama dari sisi kelayakan rumah, kemudian dari segi biaya yang membumbung tinggi (terlebih bila dibandingkan dengan kondisi rumah saat itu).

Setelah berbagai pertimbangan dan negosiasi alot dengan si pemilik rumah, kami sampai pada keputusan kalau telah tiba saatnya kami pergi.

Dan mulailah petualangan kami hunting sana sini, survey ke sana kemari, untuk menemukan hunian berikutnya. Standard kami sebenarnya cukup sederhana, yang penting rumahnya nyaman, aksesnya mudah, lingkungan aman, dan tentunya ramah di kantong.

Singkat cerita, kami berhasil mendapat kata sepakat untuk sebuah hunian yang berlokasi tak jauh dari Taman Dayu Pandaan.


WAKTUNYA PINDAHAN
Setelah sukses meminang rumah tersebut, maka langkah berikutnya adalah memindahkan segala jenis perabotan dari rumah sebelumnya ke rumah yang baru ini.

Dan di sini, kami baru menyadari betapa banyak barang-barang yang kami punya. Bahkan ada beberapa yang kami sendiri nggak ingat pernah punya. 😥

Mengingat ukuran kontrakan baru kami tak selapang kontrakan yang sekarang, rasanya kok kurang bijak kalau semuanya diboyong. Wis jelas nggak mungkin.


MENGELOLA KELEBIHAN BARANG
Saya dan istri kemudian sepakat untuk melakukan 3 hal terhadap barang-barang kami yang banyaknya minta ampun ini. Saya menyebutnya 3D (sebuah singkatan yang dipaksakan dan dipas-paskan) yaitu, dijual, disumbangkan, dan dibuang.

Maksa banget kan singkatannya 😄

1. Dijual
Barang-barang baru yang nggak pernah kami pakai hasil beli tapi nggak bisa dipakai lagi seperti kemeja lengan pendek istri saya (karena sekarang ia berhijab) atau pemberian dari kolega bisnis yang nggak pernah digunakan (misal parfum, padahal nggak ada yang doyan pakai parfum), tetapi masih memiliki nilai ekonomis, kami jual. Sepatu-sepatu koleksi hasil pemberian perusahaan setiap tahun pun masuk ke dalam daftar jual.

Mulai media online maupun offline, yang penting barang-barang tersebut 'bergerak'.

Hasil penjualan barang-barang itu kami gunakan untuk (1) ongkos pindahan, (2) tambahan untuk ganti barang yang lebih berkualitas, dan (3) nambah tabungan.

2. Disumbangkan
Barang-barang yang masuk kategori donasi adalah barang yang masih layak pakai tapi dijual nggak laku. Jadi daripada darah tinggi gegara calon pembeli menawar dengan sesadis-sadisnya, ya sudah disumbangkan saja.

Harapannya, barang-barang tersebut bisa lebih bermanfaat dan bernilai buat orang lain. Selain tentunya, mengurangi timbunan barang di rumah sih.

3. Dibuang
Nah, untuk yang kategori ketiga ini saya sendiri merasakan sulitnya memilah milah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Beberapa hal yang secara esensi nggak diperlukan, tapi memiliki nilai emosional. Istilahnya sih sentimental items.

Berat sekali untuk bisa tegas pada diri sendiri dan berkata tidak, saya nggak perlu ini.

Lalu, saya mencoba menganalisa (okay, nggak gitu-gitu juga sih ), kapan terakhir saya menggunakan barang tersebut, kapan saya mau menggunakannya lagi, dan berapa kali sebulan saya mau menggunakannya. Kalau frekuensi pemakaiannya rendah, bisa jadi saya memang nggak perlu punya barang tersebut. Sederhananya sih begitu, walaupun prakteknya...ya, perlu sedikit perjuangan.

Lalu, dari segi fungsi. Ada kalanya barang-barang yang saya pikir perlu, sebenarnya nggak ada pun nggak apa-apa.

Contohnya dalam kasus saya, amplop atau sampul ijazah. Ijazah-ijazah sekolah dan kuliah biasanya sepaket dengan cover-nya. Tujuannya untuk melindungi ijazah iti sendiri dan mempercantik. Namun, perlu space lebih kalau saya harus menyimpan ijazah beserta album/sampulnya. Masalahnya, tidak ada space lebih.

Jadi saya membuang cover itu, saya gabungkan semua ijazah ke dalam satu amplop. Less space more values.


PELAJARANNYA
Pengalaman pindahan ini menyisakan beberapa pelajaran bagi saya dan istri saya. Terutama dalam hal kepemilikan barang-barang.

Quality Over Quantity
Punya banyak dengan kualitas seadanya nggak lebih baik daripada punya sedikit tapi berkualitas. Selain lebih awet, barang-barang berkualitas baik juga memiliki nilai jual yang lumayan membantu neraca keuangan kami.

Setidaknya untuk disumbangkan pun masih cukup layak lah.

One In One Out
Supaya mencegah timbunan barang-barang di lemari baju, garasi, dan sudut rumah lainnya, saya dan istri sama-sama sepakat, lain kali kalau mau beli sesuatu (misal baju baru, celana baru) artinya harus ada barang lama yang keluar.

Tidak ada cukup ruang untuk semua barang dan kebetulan kami tidak berniat memfungsikan rumah kami sebagai gudang.

Apa Perlu?
Karena kami paham betul ukuran rumah kontrakan kami yang baru, maka setiap hendak membawa pulang barang dari toko, kami selalu menanyakan satu pertanyaan sederhana, apa perlu?

Apa perlunya barang yang mau dibeli itu? Apakah sebagai pengganti? Apakah untuk memudahkan sebuah aktivitas? Kalau kita nggak beli, resikonya apa? Nggak kebagian diskon saja, atau ada lainnya yang lebih krusial.

Memang jadi sering ngempet kalau jalan-jalan dan pas ngelihat sesuatu yang kita suka. Nggak dibeli kok ya lagi diskon, dibeli tapi ya nggak perlu-perlu banget. But in the end, it's worth for.