Feb 4, 2019

5 Kebiasaan Orang Sukses Yang Perlu Kamu Tiru

Apa yang membedakan antara orang sukses dan orang gagal? Jawaban sederhananya adalah kebiasaan.

Orang sukses punya kebiasaan yang tidak dilakukan orang gagal. Demikian pula sebaliknya. Orang gagal punya kebiasaan yang tidak dilakukan orang sukses. Betapa sebuah hal sesederhana kebiasaan membawa perbedaan yang signifikan.


Tapi, apa sih kebiasaan orang-orang sukses itu?

Bicara tentang kesuksesan, kita bisa menemukan banyak sekali referensi dari mbah google. Namun dalam tulisan kali ini, saya mau sharing beberapa kesamaan dari orang-orang sukses yang ada di sekitar saya. Mereka yang awalnya seorang operator, tapi kini telah berada di posisi manajerial.

Setidaknya saya melihat ada lima hal yang mereka lakukan sehingga mereka berhasil meraih kesuksesan.

1. Melihat Sesuatu Secara Utuh
Setiap organisasi memiliki proses bisnis masing-masing. Tak jarang, proses tersebut saling berkaitan satu sama lain. Buat saya, tidak ada yang lebih menyebalkan ketika saya bertanya pada seseorang mengenai alasan pengerjaan sebuah proses, lalu jawabannya adalah, “Wah ya nggak tahu.”

Bayangin, kalau kamu masuk ke sebuah toko dan melihat dua baju bagus tapi harganya beda. Penasaran kan, kenapa kok harganya beda. Terus tanya ke mbak/mas yang jual…eh dijawab, “Wah ya nggak tahu.”

Kira-kira gimana nasib mbak/mas itu kalau setiap kali kamu tanya tentang barang-barang di situ, dia konsisten dengan jawaban, “Wah ya nggak tahu.”

Iki niat dodolan opo ora (niat jualan atau tidak) kan gitu jadinya.

Jarang dan hampir nggak pernah, saya mendapat jawaban seperti ini dari orang-orang sukses. Malah mereka bisa cerita panjang lebar tentang apa yang mereka kerjakan dan kenapa mengerjakannya seperti itu. Bahkan mereka tahu apa dampak dari kesalahan mereka terhadap proses selanjutnya di divisi atau departemen lain.

Singkatnya orang-orang ini bukan sekedar bekerja wis pokoke garapanku mari (yang penting kerjaan saya selesai), tapi mereka sangat memahami sampai akar, esensi dari apa yang mereka kerjakan. Termasuk, kenapa mereka mengerjakannya seperti itu dan bagaimana dampaknya terhadap proses lain bila kualitas pekerjaan mereka buruk.

2. Memiliki Visi
Hampir semua orang sukses yang saya kenal pasti memiliki visi atau pandangan ke depan. Seperti apa saya 5 tahun dari sekarang, tim seperti apa yang mau saya bangun, dan sebagainya.

Kalau kata paman saya, Stephen R Covey, mereka ini orang yang begin with the end. Mereka sudah punya gambaran, hasil akhirnya itu seperti apa dan itu yang membuat mereka menjadi pribadi yang efektif.

Bandingkan dengan orang yang hidup tanpa visi. Hidup mengalir seperti air, padahal air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Selain memiliki visi pribadi, mereka juga paham apa visi organisasi. Jadi mereka bisa menyesuaikan mau mereka dengan visi organisasi. Alias nyambung. Bukan semaunya sendiri. Organisasi mau ke kanan, eh dia belok kiri. Disuruh A, yang dikerjain Z.

Kalau dipikir-pikir, ibarat nyari jodoh. Kamu (ya kamu, jomblo yang ngaku single), juga perlu punya visi seperti apa sih jodoh yang kamu mau. Soalnya, kalau kamu aja nggak tahu maumu apa, gimana temen-temenmu bisa nyariin calon yang ‘sesuai’ sama kamu.

3. Membangun Relasi Positif
Kita ini by default diciptakan dengan keterbatasan. Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita bukan Superman yang bisa semuanya sendirian. Bukan pula Suparmin (nama samaran) yang nggak bisa apa-apa. Tapi kita bisa bersinergi menggabungkan kekuatan kita dengan orang lain untuk meraih meraih hasil yang luar biasa.

You can’t save the world alone

Bedanya orang sukses dan gagal adalah, orang sukses paham betul bahwa ia tak mungkin mencapai tujuannya sendirian. Bisa karena keterbatasan kemampuan atau otoritas. Karenanya, mereka menggandeng orang lain, bekerja sama, dan pada akhirnya mereka mampu mencapai tujuan mereka.

Ibarat sepak bola. Mereka bukan orang egois yang harus mencetak gol. Mereka hanya perlu tim mencetak gol sebanyak-banyaknya dan kebobolan sesedikit-sedikitnya, terlepas apakah nama mereka muncul di papan skor atau pun tidak.

4. Eksekusi
Punya ide itu mudah. Yang sulit adalah mengeksekusi ide tersebut menjadi sebuah rencana kerja yang jelas dan terukur.

Orang yang sukses punya segudang ide kreatif untuk ‘memperbaiki keadaan’. Yang membedakannya dengan orang gagal adalah, alih-alih berkoar-koar di media sosial, ia mencoba ide itu. Bersama-sama dengan tim ia membuat sebuah mini project untuk mencari tahu apakah idenya itu bisa dilakukan atau tidak.

Setelah ia yakin ide tersebut bisa dilakkan, barulah ia datang ke pihak dengan otoritas lebih tinggi untuk ‘menjual’ ide tersebut. Alih-alih berkata, “Saya punya ide bagus, saya yakin ide ini bisa dikerjakan dan hasilnya baik,” mereka memilih untuk berkata, “Saya punya ide dan sudah saya coba beberapa waktu lalu, hasilnya baik, saya rasa kita bisa memperbaiki kinerja dengan melakukan ini.”

Apa bedanya? Sederhana. Yang satu berdasar asumsi, satunya berdasarkan fakta. Dan kalau kita memposisikan diri sebagai pemilik bisnis, kita mau dengar asumsi atau fakta sih dari karyawan kita? Kita mau investasi pada sesuatu yang jelas atau yang burem?

Niat baik saja belum cukup. Lakukan!

5. Tanggung Jawab
Pernah nggak kita bertanya pada diri sendiri, kenapa sih perusahaan mempekerjakan kita? Dari sekian juta penduduk dan ratusan pelamar, kenapa kita yang dipilih sih?

Begini alasannya, kita dinilai mampu menyelesaikan masalah yang sedang perusahaan hadapi.

Dari resume kita, pengalaman, dan juga hasil asesmen menunjukkan bahwa we are the man. Dan itu pula yang menjadi ekspektasi perusahaan pada kita.

Lalu, apa yang terjadi? Kita lebih banyak memberi tahu apa-apa yang tidak bisa dilakukan daripada apa yang bisa dilakukan. Kita mengeluh tentang 1001 masalah yang kita hadapi, yang kita anggap menghambat pekerjaan kita.

Well…here’s the thing, perusahaan mungkin sudah tahu masalah yang kamu hadapi jauh sebelum kamu cerita. Justru karena itulah kamu dibayar. Mereka mau solusi, bukan cuma informasi ada yang salah.

Orang-orang sukses yang saya kenal, mereka memilih untuk menjadi bagian dari solusi. Sedangkan orang gagal dengan mudahnya terbawa arus masalah.

Ketika menghadapi masalah, pertanyaan yang terlontar pertama kali dari orang-orang sukses adalah, “Bisa nggak ya?” Sebaliknya, orang gagal akan sangat mudah berkata, “Ya nggak bisa.”


Everything is impossible until it’s not.
kebiasaan-sukses

Nah, jadi itulah beberapa kebiasaan yang dimiliki oleh orang sukses. Kalau kamu tertarik mencoba, saya perlu ingatkan di awal, kalau yang namanya sukses itu tidak mudah. Sederhana, tapi tidak mudah. Jadi, kamu perlu sabar menjalani prosesnya dan terus mengingatkan dirimu kenapa kamu mau melakukan ini.

Setidaknya ada satu manfaat yang kamu bisa peroleh dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan ini, kredibilitas.

Pernah nggak kamu ketemu dengan teman kantor yang berniat memulai bisnis tapi mengalami kendala dari sisi modal? Sepertinya, modal (uang) sering kali menjadi alasan buat orang untuk tidak memulai bisnis impian mereka. Apa kamu setuju?

Memang tidak punya uang itu masalah. Namun, di dunia bisnis, kadang bukan soal berapa uang yang kamu punya di awal. Melainkan, siapa kamu. Kenapa orang harus membeli dari kamu? Kenapa mereka harus menghubungimu ketika mereka membutuhkan jasa dari seorang profesional? Bisakah kamu menjadi solusi dari permasalahan mereka dan sebagai balasannya, mereka rela membayarmu mahal?

Jawabannya, adalah kredibilitasmu sebagai seorang problem solver. Dan, menerapkan kebiasaan-kebiasaan orang sukses ini, selain membuka peluangmu untuk meraih karir yang lebih tinggi. Kamu tanpa sadar sebenarnya sedang membangun sebuah portofolio pribadi. Kamu sedang membangun personal brand-mu sebagai seorang problem solver.

Rekan kerja, atasan, bawahanmu hari ini adalah calon klienmu di masa depan. Bangun dan jaga kredibilitasmu di mata mereka.

Perlu diingat bahwa kita tidak bisa selamanya menjadi karyawan. Akan ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, meninggalkan status karyawan. Suka rela maupun terpaksa. Mungkin kita akan mulai perusahaan kita sendiri, bisnis kita pribadi. Jadi, kenapa tidak meninggalkan sesuatu yang baik bagi perusahaan tempat kita bekerja.

Bicara tentang memulai usaha, salah satu kendala yang juga cukup sering dihadapi oleh pengusaha yang merintis usahanya adalah dari sisi lokasi yang strategis.

Mau buka kantor di rumah, eh lokasi jauh dari pusat kota dan sulit untuk diakses oleh calon klien. Sewa kantor di daerah tengah kota, tentunya harus merogoh kocek yang cukup dalam. Namun, kalau tidak punya kantor, kredibilitas kita dipertanyakan. Jangan-jangan perusahaan abal-abal.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan banyaknya perusahaan-perusahaan start up, kini sudah ada solusi buat kamu yang berencana memulai bisnis, tapi bujet terbatas untuk menyewa kantor fisik dan membiayai keperluan operasionalnya. Kenapa tidak menggunakan virtual office?

Virtual office alias kantor virtual, sesuai namanya adalah sebuah ruang kantor yang disewakan secara virtual. Sederhananya, kamu mendaftarkan perusahaanmu di salah satu lantai sebuah gedung dan menyewanya secara virtual.

Beberapa manfaat yang bisa kamu dapatkan dengan menggunakan virtual office dibandingkan menyewa kantor fisik antara lain,

  1. Kamu akan memilki alamat resmi perusahaan.
  2. Mendongkrak nilai brand perusahaanmu
  3. Fleksibilitas tempat
  4. Anti macet dan bebas parkir
  5. Hemat waktu
  6. Hemat biaya
kompetisi blog bersama Office99 dan C2Live
 
Dengan kelebihan-kelebihan tersebut dibandingkan dengan kantor fisik, tak heran banyak perusahaan yang memilih konsep virtual office untuk perusahaan mereka. Ada banyak penyedia virtual office di Indonesia, salah satunya adalah Office99 yang berlokasi di Tangerang, Banten. Paket yang ditawarkan pun beragam, mulai 2,8 juta per tahun kamu sudah bisa memiliki smart and virtual office kamu.

Sebaik-baiknya bisnis adalah bisnis yang dijalankan kan? Jadi jangan biarkan masalah ruang kantor menghentikanmu untuk membangun kerajaan bisnismu sekarang. Kan sekarang sudah ada #office99.



Disclaimer
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition Office99 bersama C2 Live.

Jan 31, 2019

Sederhana Tak Berarti Mudah


Masih ingat nggak, kisah tentang 3 babi kecil dan serigala jahat? Kalau lupa, yuk dibaca lagi kisahnya di sini.


Photo by Sander Wehkamp on Unsplash

Buat saya, dongeng tentang 3 babi kecil ini mengajarkan saya tentang arti sebenarnya dari sebuah kesederhanaan. Sederhana tidak selalu mudah.

Saya sering salah dalam membedakan mudah dan sederhana. Yang saya kira sederhana, ternyata hanya ‘cari mudahnya’. Nggak ada yang salah dengan mencari yang mudah dalam melakukan sesuatu. Sah-sah saja. Kan di dalam prinsip ekonomi, ada istilah, dengan usaha yang seminimal mungkin mendapatkan hasil semaksimal mungkin.

Sejauh yang saya pelajari, cara yang paling sederhana ternyata bukan yang termudah untuk dilakukan. Kadang-kadang justru malah yang paling berat.

Seperti halnya dengan kisah 3 babi kecil dan serigala.

Dua babi pertama membangun rumahnya dari jerami dan kayu. Bagi mereka itu adalah cara paling sederhana dalam membangun rumah. Nyatanya, yang sebenarnya terjadi adalah, kedua babi itu ‘hanya’ cari gampangnya saja. Mereka enggan untuk bekerja sedikit lebih keras untuk membangun rumah yang kuat.

Hasilnya bisa ditebak. Rumah mereka dengan mudahnya dirobohkan oleh sang serigala.

Lain halnya dengan apa yang dilakukan babi ketiga. Ia membangun rumahnya dari batu bata. Apakah mudah? Tentu tidak. Buktinya, rumah babi ketiga adalah yang terakhir selesai dibandingkan kedua babi lainnya. Selain waktu yang lebih lama, prosesnya pun juga lebih sulit.

Namun, semua itu terbayar ketika rumah yang ia bangun susah payah, mampu melindungi bukan hanya dirinya sendiri, melainkan kedua saudaranya dari serangan sang serigala.

Begitulah makna sebuah kesederhanaan. Babi ketiga ini tahu kalau esensi dari sebuah rumah adalah tempat berlindung. Karenanya, rumah haruslah kokoh dan kuat. Kalau tidak, rumah tidak akan mampu menjalankan fungsinya sebagai tempat perlindungan. Sesederhana itu.

Sederhana itu memahami esensi. Segala sesuatu yang kita lakukan (dan tidak lakukan) tentunya harus didasari pada pemahaman akan esensi dari aktivitas itu. Goal-nya melakukan sesuatu itu apa. Tujuannya apa?

Menyapu adalah sebuah aktivitas. Apa esensinya? Tentunya adalah rumah yang bersih. Pertanyaannya, kalau rumahnya setelah disapu ternyata nggak bersih, berarti nyapunya berhasil nggak? Udah pasti nggak kan.

Itulah sederhana. Sesederhana memaknai esensi dari setiap aktivitas. Bukan, yang penting sudah melakukan…tapi, bagaimana hasilnya.

Sederhana bukan?

Bagaimana dengan menulis atau ngeblog. Apa sih esensi nulis dan ngeblog buat kamu? Biar terkenal? Dapat uang? Traffic? Komentar? Atau…ada hal lain yang penting buatmu dan kebetulan, bisa dilakukan lewat nulis dan ngeblog. Walaupun, mungkin ada cara lain, selain ngeblog yang bisa kamu pilih untuk mencapai tujuan itu.

Ngeblog hanya sebuah cara, kendaraan, atau jalan. Untuk apa? Mari dijawab sendiri.


Jan 11, 2019

Memaknai Kerja


Ada yang bilang, kerja itu ibadah. Sebagian lagi menganggap kerja itu cari uang. Ada juga yang berpikir, kerja adalah aktualisasi diri, pemenuhan misi, dan bahasa-bahasa tingkat tinggi lainnya.

Buat saya, bekerja sesederhana melakukan dan menghasilkan sesuatu.

Dulu waktu masih sekolah, kita belajar tentang kalimat sempurna. Masih ingat? Kalimat sempurna harus terdiri dari 3 komponen yaitu, subyek, predikat (kata kerja), dan objek.

Kalau kerja itu cari uang, masa iya kata kerja berarti kata cari uang?

Tapi kalau kita ditanya, 'kerja apa' kenapa ya by default kita akan menjawab tentang pekerjaan alias profesi kita. Padahal waktu ditanya itu, bisa jadi kita sedang nulis, nyapu, atau mungkin nyuci mobil.

Kenapa nggak dijawab aja, "Oh, saya nyapu."

Kerja tuh nggak melulu soal pekerjaan/profesi. Tapi apa yang kita lakukan dan hasilkan kan?

Bahkan, kita menggunakan pekerjaan/profesi kita sebagai jati diri. "Saya Prima, blogger", misalnya. Padahal hidup kita kan ada banyak sekali komponennya. Selain profesi kita, kita juga adalah seorang anak, orang tua, tetangga, teman, saudara, dan banyak lagi. Namun, kita lebih bangga mengenakan profesi sebagai jati diri.

Itu personal branding atau sekedar lupa, kalau hidup itu nggak 'cuma' soal pekerjaan.

Bagaimana menurutmu?

Jan 10, 2019

Tema 2019 : Simplifikasi


Beberapa hari lalu istri saya santai bertanya, "Papa, apa resolusimu di tahun 2019?"

Spontan saya menjawab, "simpler life"

Hidup lebih simpel. Itu adalah tema yang saya pilih di tahun 2019. Kenapa begitu? Sederhananya begini, saya adalah orang yang sangat rumit, ruwet, dan njelimet. Hal-hal yang tampaknya sederhana, di tangan saya akan jadi luar biasa kompleka. Yang bisa selesai dalam 5 menit, saya buat jadi 15 menit. Bahkan lebih. Hasilnya...nggak lebih baik.

Apa pasal? Saya adalah orang yang dikaruniai kreativitas sedikit lebih banyak dibanding orang-orang di sekitar saya. Istri saya, maupun rekan kerja.

Saya suka mengkreasi sesuatu. Melakukan improvement agar sesuatu tampak lebih indah dan bagus.

Namun, seringkali apa yang saya kreasikan bukannya jadi lebih baik. Malah sebaliknya. Nggak selesai, atau lebih parah, nggak sesuai harapan dan kesepakatan.

2018 menjadi tahun yang cukup berat buat saya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan terutama dalam melakukan sesuatu yang sebut sebagai, simplifikasi diri. Seringkali lewat cara sulit dan menyakitkan.

Saya sadar kalau apa masih ada banyak PR buat saya dalam men-simplifikasi diri. Dan, perjalanan 2019 baru saja dimulai.

Tentunya tak elok bila bicara target maupun resolusi tanpa tahu, apa targetnya, seperti apa indikator keberhasilannya, dan kenapa hal itu perlu dilakukan.

Buat saya simplifikasi semacam be more with less.

Apa saja sih 'more'-nya?
1. Kuantitas
2. Kualitas
3. Kepuasan diri
4. Positive impact
5. Produktivitas
6. Dan lain-lain

Sedangkan 'less'-nya antara lain
1. Proses (jenis dan waktu)
2. Stres
3. Waste
4. Emosi negatif
5. Dan lain-lain

Kenapa be more with less alias simplifikasi ini perlu? Sederhananya begini, kita semua punya waktu yang sama kan dalam sehari? Sama-sama 24 jam per hari. Namun, yuk jujur sama diri sendiri, berapa banyak sih yang bisa kita hasilkan selang waktu tersebut? Berapa persen sih tingkat efektifitas kita? Dan, berapa lama sisa waktu kita?

Kita semua punya waktu yang terbatas. Namun, sayangnya tuntutan dan ekspektasi yang kita terima seringkali lebih banyak dari waktu yang tersedia. 24 jam sehari, bukan berarti 24 tugas yang harus dituntaskan.

Dan sebagai makhluk yang pasti mati tanpa tahu kapan. Sudahkah kita memikirkan, sejauh mana pencapaian tugas kita? Sebagai suami, sudah sejauh mana kita melakukan tugas kita menyiapkan keluarga bila sewaktu-waktu ajal menjemput? Sudah cukup mandirikah mereka tanpa kita? Mampukah kita menyiapkan kemandirian mereka bila kita sibuk dengan keruwetan kita sendiri?

Itu baru dari satu sisi, keluarga. Bagaimana dengan pekerjaan, spiritualitas, atau untuk diri kita sendiri? Bermimpi punya bisnis, tapi ruwet dengan pertanyaan-pertanyaan: bisnisnya apa, modalnya dari mana, marketnya bagaimana, dan keruwetan-keruwetan lain yang kita ciptakan sendiri.

Apakah memang menjadi ruwet ini adalah sifat dasar kita? Jangan-jangan ada hubungannya dengan anatomi otak kita yang mlungker-mlungker. Atau, bisa jadi karena sejak kecil kita terlalu sering dicekoki 'jangan' (jangan bening, jangan tewel, maupun jangan lodeh), sehingga kita terus meruwetkan diri setiap kali hendak melangkah dengan mbatin, jangan-jangan nanti... .

"Simplicity is the ultimate sophistication - Leonardo da Vinci"

Simplifikasi memang bukan perkara gampang. Bahkan simplifikasi cenderung ruwet minta ampun. Tak jarang yang kita kira simplifikasi, ternyata berujung semakin ruwet dan kompleks. Pernah? Saya sih sering.

Simplifikasi berarti memahami esensi.

Apa sih esensi kita berumah tangga, bekerja, menulis, ngeblog? Ketika kita memahami esensi dari setiap aktivitas itu, melakukan simplifikasi menjadi lebih efektif. Karena kita tahu apa esensinya, kita bisa memilah, mana proses yang must have dan mana yang sekedar nice have.

Simplifikasi bukan hasil akhir. Hanya sebuah alat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kita pribadi. Bukan berlomba-lomba mengurangi dan mengurangi.

Kuncinya, efektif dan efisien.

Jadi itu tema saya di tahun 2019. Bagaimana denganmu kawan? Apa tema kamu tahun ini?

Jan 8, 2019

Kapan Saring Sebelum Sharing Jadi Budaya?

Dua hari ini, Facebook dan Whatsapp penuh dengan share konten tentang kasus jajan 80 juta. Mungkin kamu juga menerima sharing berita maupun meme terkait kasus ini di media sosial kamu.

Entahlah, tapi melihat fenomena ini saya jadi teringat sebuah kalimat sederhana dari seorang narablog (yang mohon maaf, lupa namanya) sebagai berikut :

Saring Sebelum Sharing

Memang di era teknologi, ketika arus perputaran informasi bergulir begitu deras dan kencang, seolah membuat kita berlomba untuk cepet-cepetan jadi yang pertama membagi sebuah informasi. Sangking cepatnya, sampai-sampai kita lupa keabsahan, kebenaran dari informasi yang kita bagikan itu. Apalagi, memikirkan faedahnya bagi yang baca.

Bodo amat, bermanfaat atau enggak. Yang penting share dulu, kalau salah mari tertawa bersama.

Kalau sudah seperti ini mentalitasnya, kira-kira kamu kuatir nggak sama anak-anak kita nanti? Mereka yang sering pinjam gadget orang tuanya tanpa ijin, lalu tanpa sengaja mengakses konten yang dibagikan teman-teman kita. Konten yang, mohon maaf, sedikit manfaat banyak gaya.

Kalau gitu, jangan pinjamin anak kita gadget dong. Sederhana kan? Hmm..kamu kaya nggak tahu anak jaman sekarang. Yang jaman dulu aja, dilarang makin menjadi. Apalagi jaman now.

Sharing is caring, only if you care with what you share

Kita memang tidak bisa menyuruh semua orang sadar diri, menghidupkan budaya saring sebelum sharing. Namun, kalau kita mulai dari diri sendiri dan orang sekitar kita, sepertinya cukup realistis lah.

Jadi bagaimana? Mau memulai?

Jan 7, 2019

3 Hal Yang Bikin Bossmu, Nggapleki!


Boss vs Leader. Dua figur kepemimpinan yang selalu diperbandingkan satu sama lain. Herannya, boss selalu dilihat sebagai sosok antagonis, bengis, dan jahat. Sedangkan Leader, mendapat peran sebagai sosok yang ideal dan sempurna.

Entah siapa yang mengawali, memprovokasi, dan mempropagandakan sosok boss sebagai si jahat. Namun kalau mau ditelaah lebih jauh, saya melihat bahwa ternyata ada 3 faktor yang membuat sosok boss itu menjadi...kalau bisa dibilang, nggapleki.

1. Faktor Personal
Ini adalah faktor yang tidak bisa kita rubah sebagai manusia. Karena ini merupakan kehendak Tuhan YME.

Jangan protes, kenapa Tuhan menciptakan orang-orang nggapleki. Nanti kalau Tuhan mencabut nyawa semua orang nggapleki, bisa-bisa tar nyawamu ikutan kecabut. Atau lebih parah, nyawa orang di sebelahmu. Mau?

2. Faktor Atasan Yang Nggapleki
Nggak semua boss itu berada di puncak kekuasaan. Ada boss-boss tertentu yang masih punya boss di atas mereka. Bisa jadi, boss-nya inilah penyebab boss kamu jadi nggapleki.

Karenanya, alih-alih membenci, menghujat, mengumpat, bahkan menggunjing boss-mu di media sosial. Seharusnya kamu menunjukkan empati, simpati, bahkan bantuan supaya nasib buruk boss-mu bisa tereduksi.

Jangan sibuk meratapi nasib karena punya boss yang nggapleki, karena bisa jadi boss yang kamu benci, juga sedang membenci hidupnya.

3. Faktor Bawahan Yang Nggapleki
Selain atasan, bawahan yang nggapleki juga kerapkali menjadi penyebab utama seorang boss ikut nggapleki.

Bayangin kalau kamu sebagai seorang boss, punya bawahan yang disuruh A ngerjain B, disuruh selesai jam 10 lah baru mulai ngerjain jam 9.45, dikasih 10 tugas...yang selesai cuma 1 (sisanya si boss terpaksa turun tangan ngerjain), diajarin tapi ngeyel thok, dan lain-lain. Kira-kira, gimana nasib tekanan darah, kolesterol, dan gula darahmu kalau 10 tahun kerja sama orang seperti ini?

Walaupun demikian, tentunya sebagai manusia normal, lebih enak kalau kita menyangkal kenyataan ini. Paling mudah ya, salahkan saja si boss.


Nah sekarang, mari kita lihat sama-sama wajah boss kita masing-masing. Wajah yang penuh derita itu, yang kerapkali kita gosipin dan omongin tanpa sepengetahuan mereka. Sudah pantaskah ia menerima perlakuan tersebut dari kita yang notabene, dipekerjakan untuk menjadi solusi atas permasalahan yang ia hadapi dengan pekerjaannya?

Lalu, mari sama-sama berjanji pada diri sendiri,

  1. Jangan nggapleki sehingga menambah masalah mereka
  2. Jangan nggapleki waktu nanti giliran kita yang jadi boss


Setuju?

Jan 3, 2019

For Money or Love?


It's said that the best way to kill your passion is by forcing yourself to make money from it. Money is not the problem, but when it become the end goal, that is when the problem arise.

For years I don't know if I have passion in writing. Even now, when I start enjoying and passionate about writing, it didn't actually happen the way I thought it would. I thought, finding what we passion about was merely knowing what we like to do, do it, and make money from it.

Not me.

I hated writing. As a matter of fact, I hated writing with all my heart. Or you can say, I hated it passionately.

But then, on 2014, I was assigned to a job which force me to be good at writing. Can you imagine? How the hell I could do good for something I didn't love to do? It doesn't make sense right?

But that what happened. I put into a situation then I was forced to be good at it, and guess what...I've became good at it. Even better, I found it enjoyable and have so much fun on doing it.

In short, I started blogging. Not for money or glory...but simply because I love writing.

As time goes, I tried to enter one or two blogging competition. Just to measure how good my writing was. The result was obvious, I failed few times untill I won my first blogging competition.

I was happy and tried another one, and another one. And without I even realize it, the goal was no longer measure how well I write. But for the prizes.

I thought that if I keep doing this (entering competition without winning it), than I'm just wasting my time. Suddenly, writing is no longer fun and enjoyable as it were. The pressure of I-have-to-win has turn the hobbies to a job.

I already have one...a stressful one. So why would I add one more stressful thing to my life? I have a life I have to live with all my heart, yet I put so much burden and cause me loose the passion of life. Is it something worth to do?

Instead of doing that, why wouldn't I spend more time with my family.

So, I come to a conclusion. I love writing, I do. And if I could get an extra income from it, that would be great. But if it doesn't, I completely fine with that. I write not only because I'm passionate about it, but also it give me a chance to add values to other people.

But of course, that just me isn' t it?