Nov 29, 2017

Gravigardian : Sebuah Kisah

Ini mungkin postingan paling nggak penting yang pernah saya buat

Nama saya Prima Gravigardian Chandra, tapi biasa dipanggil Prima. Banyak orang yang terkagum-kagum waktu tahu nama lengkap saya. Terutama di bagian tengahnya. Kedengeran agak-agak western (baca londhoisasi). Ya kita sama-sama tahu lah, gimana orang kita kalau mendengar sesuatu yang kebarat-baratan...secara 3,5 abad dikuasai londho.

Okay, kembali ke cerita. Saya mau cerita sedikit tentang makna di balik nama tengah saya yang kedengeran unik ini, Gravigardian. Ngomong-ngomong, sejauh yang saya tahu, cuma ada 2 orang yang punya nama ini lho...saya dan anak saya. Ya lumayan membanggakan lah.

Nah, banyak yang nanya apa sih artinya Gravigardian itu? Ada hubungannya sama gravitasi tah? Atau dari kata Guardian yang artinya penjaga?

Well, jujur nih...saya juga ada sedikit berharap kalau Gravigardian itu memiliki arti seperti yang mereka kira. Namun, sayangnya nggak gitu juga sih ceritanya.

Awal mula nama Gravigardian ini, menurut pengakuan nyokap ya, terjadi di sekitar tahun 1986. Waktu itu, kata nyokap, beliau yang waktu itu sudah dikaruniai 2 orang anak merasa sudah cukup lah 2 aja, nggak usah nambah lagi. Kemudian beliau dan bapak saya sepakat untuk memasang alat kontrasepsi supaya nggak nambah anak. Usut punya usut, kontrasepsi yang dipakai nyokap ini adalah produk impor buatan Jerman. Merknya Gravigard.

Penampakan Gravigard


Waktu saya tanya, kenapa trus nama itu dipakai buat nama si jabang bayi...beliau bilang, biasanya nama merk itu diambil dari nama penemunya, jadi harapan nyokap kepada saya adalah biar saya jadi seorang penemu. Aammiin.

Nah, ternyata Tuhan berkehendak lain. Entah kenapa saya nggak tahu pasti, tapi yang jelas si Gravigard ini gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Alhasil, muncullah saya di tengah-tengah kalian. Ehehehe.

Dari cerita nyokap ini, ada pelajaran berharga buat saya.
1. Manusia Berencana, Tuhan Memutuskan
Sehebat-hebatnya manusia dalam membuat rencana, pada akhirnya Tuhan juga lah yang menentukan hasilnya. Sekuat apapun usaha seorang ibu untuk "nggak nambah momongan" ketika Tuhan sudah berkehendak, maka jadilah.

2. Saya Lebih Dari Seorang Pemenang
Kata orang bijak, kita semua adalah pemenang karena kita adalah satu dari sekian juta sel sperma yang berhasil menembus dan ber-fusion dengan sel ovum. Nah, untuk kasus saya...selain harus bersaing dengan jutaan sel sperma lain, saya juga harus melewati hadangan si Gravigard ini supaya saya berhasil menyatu dengan mbak Ovum.


Sekian dulu sharing nggak penting hari ini. Saya nggak yakin postingan ini bermanfaat, tapi minimal saya berharap nggak bikin mood kawan-kawan lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Moga-moga postingan selanjutnya lebih berbobot hehehe.

Bye.
posted from Bloggeroid
Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.