Nov 29, 2017

Membuat Tulisan Layak Baca & Terbaca

Menulis adalah sebuah media komunikasi, karenanya kualitas sebuah tulisan diukur dari efektifitasnya dalam mengkomunikasikan pesan si penulis kepada orang lain (pembaca). Sederhana bukan? 



Nyatanya, buat sebagian orang (termasuk saya) menulis secara efektif tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi mengedipkan mata. Nah di postingan kali ini, saya ingin berbagi tentang prinsip menulis efektif yang pernah saya pelajari ketika saya menjadi content writer dan tim jurnalis majalah.

 Enjoy!



Perencanaan

Kata orang sih, "Gagal berencana sama dengan berencana untuk gagal." Membuat tulisan yang berkualitas dimulai dengan perencanaan yang baik. 

Perencanaan dalam menulis, meliputi brainstorming ide-ide topik yang akan kita tulis. Kapan kita mau publikasikan tulisan kita juga cukup penting dalam memilih topik. Jangan sampai kita menulis tentang topik yang sudah basi, misalnya menulis tentang hari kemerdekaan di bulan November. Kalau mau aman sih, pilihlah topik-topik yang everlasting alias nggak ada matinya. Atau bisa juga menulis tentang passion kita, bagaimana perjalanan kita menemukan dan mengejar passion itu, tips-tips atau sharing pengalaman kita. Topik-topik semacam ini lebih "tahan lama" dibandingkan topik kontemporer berdasarkan sebuah even. 

Selain itu pada tahap ini, kita juga bisa menentukan sudut pandang atau perspektif yang mau kita pakai di tulisan kita. Bisa jadi, topik yang mau kita tulis itu sudah ada yang membahas sebelumnya, tapi sudut pandang yang kita gunakanlah yang membuat perbedaan.

Buat timeline dan deadline tentang topik-topik yang mau ditulis dan dipublikasikan. Dan berkomitmen lah dengan rencana yang sudah dibuat itu. Seringkali masalah terbesar penulis adalah disiplin. Menunda menulis karena lagi "kering" ide, narasumber yang susah ditemui, dan banyak hal. Memiliki deadline dapat memaksa kita untuk menyelesaikan tulisan kita. Bayangkan saja seandainya tulisan kita lewat dari deadline yang sudah kita buat, maka kita harus membayar 50 juta...apakah masih sempat kita kering ide?

Tentukan Waktu Untuk Menulis
Setelah selesai dengan perencanaan, langkah berikutnya adalah meluangkan waktu untuk menulis. Saya percaya, waktu luang hanya ada bila kita sengaja meluangkannya. Buang jauh-jauh pikiran, saya akan menulis kalau ada waktu, karena percaya atau tidak, kita tidak akan pernah punya waktu.



Saya pribadi memilih meluangkan waktu untuk menulis di pagi hari. Selain kondisi otak masih fresh, istri dan anak saya lagi lelap tidur, jadi saya bisa lebih fokus dalam menulis.

Memang ada kalanya malas dan kantuk menyerang, tapi kita harus memaksakan diri untuk bangun dan menulis. Di awal pasti berat, tapi itu hanyalah soal kebiasaan saja. 

Menyusun Kerangka Tulisan
Saya dulu termasuk orang yang percaya dengan prinsip "tulis saja". Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari kalau prinsip itu tidak efektif (setidaknya buat saya). 

Saya sering blank di tengah proses menulis, atau tanpa saya sadari tulisan saya lama-lama keluar jalur. Ibarat saya mau ke Jakarta, eh tiba-tiba berbelok ke Palembang. Juuaaauuuh melencengnya.

Dengan memiliki kerangka tulisan, kita jadi lebih mudah dalam menulis. Sebab, kita tahu runutan cerita yang mau kita tuliskan dan membuat kita lebih aware saat kita mulai hilang arah dan tujuan. Kerangka tulisan itu seperti pagar, yang menjaga agar tulisan kita tetap berada di jalur yang benar.

"Saya jadi nggak bisa kreatif dong kalau gitu." Mungkin itu yang kita pikir. Well, kreatif itu bagus, tapi ingat, kreatifitas juga perlu dijaga jangan sampai terlalu liar. Karena bisa-bisa malah nggak ada tulisan yang selesai sangking kreatifnya.

Menulis Draft
Rencana sudah ada, waktu sudah ditentukan, kerangka sudah disiapkan, sekarang waktunya mulai menulis. Lakukan kerjanya, karena sayangnya, ide kita, tidak akan menulis dengan sendirinya. Kitalah yang harus duduk dan menulis.

Ada yang bilang kalau menulis draft, itu tidak perlu terlalu perfeksionis. Artinya, tulis saja tanpa edit. Walaupun ada typo di sana-sini, tulis saja jangan berhenti. Ide dasarnya adalah, kita perlu memisahkan antara waktu menulis dan mengedit tulisan kita.

Ini yang agak berat buat saya. Saya memiliki kecenderungan perfeksionis, baru nulis dikit, sudah diedit. Gatel lihat ada yang salah eja di penulisan, pemilihan kata, dan lainnya. Akhirnya waktu yang digunakan untuk menulis jadi lebih panjang. Selain itu, ternyata juga berpotensi kehilangan ide, bila keseringan menulis dan mengedit bersamaan. Ibarat mau lari, eh tiap 1 meter berhenti merapikan tali sepatu. Kira-kira kapan nyampenya kalau gitu.



Salah satu tips untuk menghindari hal ini adalah dengan merubah warna teks menjadi putih, sehingga kita tidak bisa melihat apa yang kita tulis. Yang bisa kita lakukan adalah hanya menulis, titik. Baru kemudian, kita cek tulisan kita. Mau ada salah ketik, salah pilih kata, dan kesalahan lain, kita nggak akan sebentar-sebentar berhenti untuk ngedit.

Ada yang bilang, kalau nulis draft itu ibarat jamming, nge-band bareng, bukan untuk rekaman. Tapi semacam mengeluarkan isi otak (bukan secara harafiah ya).

Editing
Nah, setelah kita selesai dengan draft tulisan kita...barulah langkah berikutnya, kita edit naskah kasar kita. 

Menulis itu seperti memahat patung. Sebenarnya yang dilakukan seorang pemahat bukan membuat patung. Apa yang ia lakukan hanyalah membuang bagian-bagian dari seonggok batu besar, supaya bentuk patung itu terlihat. Begitu pula dengan menulis, proses editing adalah proses kita membuang bagian-bagian yang tidak diperlukan, menggantinya dengan kata lain yang lebih tepat, merubah susunannya, supaya tulisan kita lebih powerfull dan cantik.

Yang membedakan antara memahat dan menulis adalah, dalam menulis, kita perlu terlebih dahulu membuat onggokan batu yang akan kita pahat, yang kita sebut draft.

Idealnya proses editing ini dilakukan oleh orang lain, untuk menjaga objektifitas dan kualitas editan. Namun, kita juga bisa kok mengedit sendiri naskah kita.

Caranya, beri jeda waktu antara proses drafting dan editing. Saya pribadi mengedit naskah saya keesokan harinya. Alasannya untuk supaya kita bisa memiliki "jarak" yang cukup jauh dari tulisan kita, dan lebih mampu melihat naskah kita dari sudut pandang pembaca. Kemudian, baca naskah yang sudah kita buat dengan keras (nggak perlu teriak-teriak). Melalui proses ini, kita juga bisa tahu, seperti apa sih tulisan kita ini "kedengarannya". Cukup enak didengar nggak. Misalnya, bila penggunaan kata "Anda" membuat tulisan kita terdengar kaku dan *nggak gue banget*, maka tak ada salahnya menggantinya dengan "kamu", "agan", atau "bro-sis".

Finishing
Setelah selesai dengan proses editing, langkah berikutnya adalah melakukan sentuhan akhir. Di sebuah artikel yang pernah saya baca (lupa sumbernya), katanya lebih dari 50% orang merupakan tipe visual. Artinya, orang lebih mudah memahami sesuatu dengan bantuan visualisasi (ilustrasi dan gambar).

Di tahap finishing ini, kita bisa menyisipkan gambar-gambar yang relevan dengan tulisan kita. Selain itu, dengan menambahkan gambar, pembaca jadi tidak cepat lelah membaca tulisan kita sampai tuntas.

Selain gambar, kita juga bisa bermain-main dengan format penulisan seperti bold, italic, underline, atau mengganti warna font. Penggunaan format penulisan seperti ini, ibarat rest area ketika kita sedang menempuh perjalanan jauh.

Publish
Yeyy....sekarang kita sudah siap untuk mempublikasikan tulisan kita. Namun, sebelum kita publikasikan ada baiknya kita membaca ulang lagi untuk final check susunan kalimat, penggunaan kata-kata, penulisan, dan lainnya. Dan jangan lupa baca doa dulu ya.

Nah sekarang, publikasikan!


Marketing
Dulu saya kira, tugas kita sebagai penulis hanya berakhir ketika kita menyelesaikan naskah dan mempublikasikan/memposting di media. Ternyata belum.

Memang benar, sebagai penulis pekerjaan utama kita adalah menulis. Namun, seperti halnya produk/jasa, tulisan kita juga perlu dipromosikan. Kita perlu "woro-woro" kalau tulisan kita itu eksis. Dan sayangnya, promosi juga merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai seorang penulis.

Sebagai penulis pemula, memang canggung sih rasanya kita promosi karya tulis kita. Ada rasa malu dan takut. Takut dikritik, takut diketawain, takut tulisan kita "nggak bagus-bagus amat", takut dikira kepedean, dan banyak lagi. Tapi, kalau kita nggak mulai, sampai kapanpun kita nggak akan bergerak ke mana-mana. 

Salah satu tips untuk mulai promosi adalah, ke orang-orang dekat kita dulu. Orang yang kita tahu baik, nggak suka mengkritik, dan menyenangkan. Itung-itung belajar pede. Lalu, coba update status di Whatsapp. Sekarang ini kan kita bisa update status di Whatsapp, coba saja posting gambar tentang artikel atau tulisan kita. Bagikan juga info, di mana mereka bisa baca tulisan kita itu. Kemudian coba lihat bagaimana respon mereka.

Nah, baru lah setelah itu coba promosi di akun media sosial kita, untuk exposure yang lebih luas.



Di sini, kita perlu siap mental. Siap mental untuk menjaga semangat menulis ketika hujan kritikan mendera, maupun saat kita menuai apresiasi tanpa henti. Jangan menyerah ketika gagal, dan jangan pula sombong bila sudah berhasil. 

Ingat, bahkan penyanyi atau band legendaris sekalipun, nggak semua lagu mereka dalam satu album bagus semua. Paling yang nge-hits cuma1-2 lagu saja. Jadi, kenapa kita berhenti setelah 1-2 tulisan?

Menulis Lagi
Sudah, jangan lama-lama "mantengin" tulisan yang baru saja diposting. Ingat, masih ada topik lain yang perlu kita tulis, sesuai timeline dan deadline di awal saat kita menyusun perencanaan. Waktunya move on.

Mulai lagi, dan terus menulis.


Okay, saya rasa cukup sharing sedikit tentang menulis dari saya. Kalau kalian punya tips lain tentang menulis, silahkan berbagi di kolom komentar ya. Semoga, tulisan singkat dan sederhana ini bermanfaat. Jangan lupa, share dan bagikan, karena "sharing itu berbagi".

Ketemu lagi di postingan berikutnya, ya.

Wassalamualaikum.
Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.