Menu

29 November 2017

Menemukan Passion Menulis

Source : blog.oxforddictionaries.com


Love what you do, do what you love
Kita semua punya passion. Namun tidak semua dari kita bisa menemukan passion kita. Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi petualangan saya, menemukan passion saya, menulis. Semoga bisa bermanfaat dan menginspirasi.


Awal Pertemuan : Kecelakaan yang merubah segalanya
Perjumpaan dengan passion ini bermula dari sebuah kecelakaan. Tahun 2014, terjadi perubahan organisasi di tempat kerja saya. Saya yang ketika itu di posisi Recruitment Officer dipindah ke Organization Development (OD), sebagai OD Officer.

Di OD, Salah satu tugas saya adalah mengelola portal berita perusahaan. Mulai mencari berita, wawancara dengan narasumber, menulis artikel, mengambil foto, sampai mempublikasikannya dalam bahasa Inggris. Semacam content writer, hanya saja waktu itu saya masih belum tahu ada istilah content writer.

Singkat cerita, saya pun mulai belajar menulis. Saya baca banyak artikel tentang menulis, menonton video-vidoe tutorial di Youtube, sampai konsultasi dengan atasan saya. 

Perjalanan pun dimulai…

Menulis merupakan sebuah cara menyampaikan ide, opini, maupun pesan kita kepada orang lain. Jadi, bagus tidaknya tulisan terlihat dari sejauh apa tulisan itu dapat dengan jelas menyampaikan pesan penulis kepada pembacanya.

Dan inilah proses paling susah dan berdarah-darah di awal karir “kepenulisan” saya. Tulisan saya seringkali “sukses” membuat atasan saya kebingungan dan kesulitan menangkap apa yang ingin saya sampaikan. Bahkan tak jarang, menyesatkan.

Menulis, adalah sebuah keterampilan.

Hasilnya, naskah saya ditolak dan dikembalikan untuk saya revisi. Kadang hanya perlu sedikit revisi, tapi seringkali harus merombak total bahkan memulai lagi dari nol. Situasi yang tidak nyaman, membuat saya marah dan frustasi.

Pernah sampai 9 kali saya diminta merevisi naskah yang sudah saya buat susah-susah. Bisa bayangin itu? Marah, kecewa, campur aduk jadi satu, sementara deadline tayang sudah semakin dekat.

Saya baca ulang naskah “gagal” beserta komentar di dalamnya. Sambil berusaha untuk tetap tenang, saya coba perbaiki sesuai masukan yang saya terima. lalu dengan mengucap Bismillah, saya kirim lagi naskah itu. Girang bukan kepalang ketika naskah itu akhirnya disetujui.

Saya tahu, atasan saya bukan tipe orang yang mudah “iba”. Jadi kalau ia menyetujui naskah yang saya buat, artinya naskah itu memang sudah sesuai dengan yang ia harapkan. Bukan kasihan melihat wajah menderita saya. Later on, saya bersyukur dia memperlakukan saya dengan “kejam”.

Ketika cinta mulai bersemi
Walaupun saya jengkel bukan main, tapi lama-kelamaan saya pun jatuh cinta dengan menulis. Ada sebuah perasaan bahagia yang sukar diceritakan setiap kali saya berhasil menyelesaikan naskah tulisan saya.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa kualitas tulisan saya meningkat (walaupun masih dalam level “mendingan”). Buktinya, hanya perlu 2-3 kali revisi, naskah saya sudah disetujui untuk tayang. Alhamdulillah.

Menulis adalah sebuah seni komunikasi, dan dalam komunikasi, cara kita menyampaikan sebuah pesan akan menentukan isi dari pesan tersebut.

Babak baru : Blogging
Sejak 2016, saya sudah tak lagi di posisi OD Officer, tapi kecintaan saya terhadap menulis membuat saya tetap menulis. Menulis sudah menjadi passion saya. Saya senang bercerita, dan saya senang menulis. Akhirnya, lahirlah blog ini.




Ke depannya, salah satu impian saya adalah menjadi seorang penulis buku. Sebuah buku yang mampu menginspirasi orang untuk berpikir, merasa, dan berbuat lebih baik.
           
Bagaimana denganmu?
Nah, jadi itulah cerita saya menemukan passion menulis. Kamu sendiri gimana? Sudah ketemu passion kamu belum? Nggak apa-apa. Tetap semangat menjalani hidup, berilah kontribusi agar hidupmu berarti, dan mungkin suatu hari nanti kamu akan temukan passion kamu.

Share:

2 comments:

  1. Great story. And you did not quit. That is the best part of all.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for drop by and compliment, Johanna.
      Really appreciate it.

      Delete

Silahkan tulis komentar, kritik, saran, atau opini kalian.

Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén