Dec 26, 2017

Bijak Saat Dimarahi

Ada dua hal yang nggak bisa dihindari dalam hidup : mati dan dimarahi


Kalau kamu hidup minimal 7 tahun, pasti pernah lah ngalamin yang namanya dimarahin. Waktu kecil dimarahin, udah besar masih dimarahin. Ya walaupun siapa dan kenapanya nggak sama lagi, tapi satu yang nggak berubah, dimarahin.

Memang senep dan pahit sih kalau lagi dimarahin. Apalagi kalau marahnya itu di depan banyak orang, plus nyinggung pribadi kita pula.

Saya termasuk orang yang kurang lihai untuk easy going seperti beberapa kawan saya. Cenderungnya take it personally, simpen dalam hati, nggondok, dan mutung.

Saya ya nyadar juga kalau yang macam begini ini nggak bagus buat perkembangan diri saya, baik secara pribadi, sosial, maupun profesional. Ini merupakan PR besar saya di tahun 2018. Kalau nggak segera diperbaiki, bisa bubar jalan.

Sebenernya sih (kalau pas lagi waras), saya paham ada beberapa sisi baik yang bisa saya pelajari dari dampratan, marah-marah, maupun caci maki yang ditujukan ke saya. Kalau bahasa kerennya sih, hikmah.

Seperti :
Marah itu feedback, nggak lebih
Yup, marah itu sama halnya seperti pujian/apresiasi. Hanya sebuah feedback dari orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Kalau yang kita lakukan sesuai, ya dipuji, kalau nggak sesuai ya dimarahi.

Jadi kalau lagi dimarahi, artinya ada yang perlu diperbaiki dari cara kita melakukan sesuatu.

Marah itu tanda sayang
Kalau ada dua pilihan, dimarahi dengan sadis atau didiemin terus njelungup, babras, bahkan nyaris mati, kalian pilih mana?

Hehehe, nggak ada yang enak emang pilihannya. Tinggal kuat mana aja nanggung sakitnya.

Saya pribadi sih lebih milih dimarahin habis-habisan daripada dicuekin. Bahkan saya punya satu kata yang saya jaga banget supaya jangan sampai itu terucap dari orang lain ke saya. Satu kata sakti yang buat saya lebih sakit daripada dimarahin itu sendiri. Kata itu adalah, terserah.

Marah itu proses kita belajar
Belajar adalah soal perubahan. Efektif atau enggaknya cara kita belajar ditentukan dari sejauh mana pembelajaran itu merubah kita. Dan yang namanya berubah, biasanya lebih banyak sakitnya daripada enaknya.

Salah satu enggak enaknya belajar itu ya, dimarahin tadi. Tapi nggak apa-apa, mungkin itu cara pembelajaran terbaik buat kita. Daripada kita dicekoki kata-kata manis tapi nggak/sedikit efeknya.

Katanya hidup itu adalah proses belajar yang nggak pernah selesai, long life learning lah istilahnya. Nah, dimarahin adalah bagian dari proses tersebut.

Tentu saja, nggak mudah untuk selalu berpikir positif dan bisa melihat sisi positif dari semua yang kita alami. Tapi, akan ada waktunya bagi kita untuk melihat ke belakang dan bangga atas apa yang telah sukses kita lewati. Mungkin di saat itu, kita bisa tertawa lepas mengingat kebodohan-kebodohan yang pernah kita lakukan. Kebodohan yang mengantar kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik saat ini.

"What doesn't kill you, make you stronger....or stranger at the very least"


Bagikan:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.