Menu

28 December 2017

Obesitas Ilmu

Apa sih yang bikin orang jadi gemuk dan lama-lama obesitas? Kalau kita tanya teman-teman yang berkecimpung di dunia kesehatan, mungkin mereka bisa menjabarkan dengan rinci, gimana ceritanya seseorang mengalami kegemukan.

Kalau menurut saya, penjelasan paling sederhana adalah : apa yang masuk > apa yang keluar. Betul nggak?
Orang gemuk, entah apapun penjelasan ilmiahnya, itu orang yang "pemasukan"nya lebih banyak daripada "pengeluaran"nya. Sebaliknya dengan orang kurus.
Oke, sabar dulu ya. Jangan tersinggung dulu. Postingan ini saya buat bukan untuk ngomongin gemuk dan kurus. Bukan soal pola hidup sehat maupun bentuk tubuh ideal. Nggak sama sekali. Saya bukan ahli kebugaran, pola hidup saya juga nggak sehat-sehat amat (walaupun yang sekarang lebih mendingan daripada dulu sebelum menikah).

Trus, ngapain bawa-bawa gemuk/kurus? Hehehe...jadi gini ceritanya :
Di kerjaan saya sekarang, saya bertanggung jawab terhadap segala bentuk aktivitas people development atau yang lebih umum dikenal sebagai Training & Development di perusahaan lain. Fokusnya lebih ke arah eksekusi program dan evaluasi tahap awal (termasuk recording data pelatihan karyawan).
Menurut kalian, orang kalau sudah ikut training itu harusnya tambah pinter nggak sih? Tambah pinter dong ya, kan udah di-training-in, betul kan?
Next question, kalau udah tambah pinter, terus apa?
Coba kita ngayal sejenak ya, seandainya kita jadi Big Boss sebuah perusahaan. Kita mau ngirim karyawan untuk berangkat training. Apa sih yang kita harapkan dari orang itu setelah training? Tambah pinter? Tambah bijak? Atau nambahin untung a.k.a laba perusahaan lewat kontribusi-kontribusinya?
Saya pribadi sih, milih yang terakhir.
Lho, training itu kan kewajiban perusahaan terhadap karyawannya. Ada yang punya pemikiran seperti pemikiran saya dulu?
Dulu, saya pun mikirnya begitu. Adalah kewajiban perusahaan buat minterin karyawannya. Sampai saya gabung di tim People Development dan berkenalan dengan yang namanya biaya training, yang angkanya cukup fantastis.
Di sini juga saya dikenalkan dengan konsep : training is an investment.
Yup, training itu investasi yang dilakukan perusahaan seperti halnya perusahaan berinvestasi untuk mesin produksi, gedung, dll. Nggak usah pakai teori yang muluk-muluk lah untuk ini, yang namanya investasi itu harapannya untung atau rugi? Bahkan waktu dulu saya bergelut di dunia asuransi, saya belajar kalau nilai investasi itu masih senilai dengan apa yang kita keluarkan, kita masih merugi loh.
Investasi bukan soal balik modal, tapi soal ndongkrak nilai. Kalau ujung-ujungnya sama aja, ngapain repot investasi kan?
Hal yang sama berlaku pula dengan training sebagai investasi. Tahu nggak investasi apa saja yang dilakukan perusahaan ketika mengirim karyawannya training? 


As far as I know, setidaknya ada 4 investasi seperti :
1. Investasi ke biaya training (plus transportasi dan akomodasi)
2. Investasi waktu yang hilang karena training
3. Investasi tetap menggaji karyawan yang berangkat training
4. Dll.

Nah, dengan investasi-investasi itu, wajar dong kalau perusahaan pengen dapet nilai lebih dari biaya yang sudah mereka keluarkan di atas. Atau paling jeleknya, bisa balik modal.
Yang bikin sakit hati memang kalau karyawan yang pulang training tiba-tiba resign. Atau yang lebih ironis, ada orang dengan histori training yang panjaaaaaaang nggak ketulungan, tapi kinerjanya gitu-gitu aja. Mau lebih miris lagi? Udah training tapi kinerja terjun bebas.
Dari sisi perusahaan, selain 4 kerugian di atas, bebannya nambah karena masih harus menggaji karyawan itu. Dipecat pun ada biayanya, nggak gratis.
Ngapain sih ribet amat mikirin perusahaan dan investasi? Ya, kalau kita mau jadi pengusaha, kita perlu belajar mikir seperti yang mereka pikirin kan?
Nah, kembali soal gemuk dan obesitas.

Seperti halnya lemak terlalu banyak di tubuh menciptakan kegemukan, bukankah logika yang sama berlaku juga untuk ilmu, keterampilan, dan kemampuan kita?
Jaman sekarang, belajar sudah jauh lebih mudah dibandingkan dulu. Ada kelas online, blog, grup Whatsapp, Telegram, dll. Mulai yang gratisan sampai yang berbayar pun ada. Atau kalau mau sedikit old school, ada juga kelas-kelas offline.
Pertanyaanya, perlu nggak sih kita ikut kelas-kelas itu dalam rangka "mengembangkan diri"?
Kalau kamu termasuk orang yang suka belajar mungkin kamu akan jawab perlu banget. Bahkan kalau bisa semua kelas diikutin, biar tambah pinter. Pertanyaannya, kalau udah tambah pinter mau ngapain? Yakin, nggak malah jadi timbunan ilmu yang bikin "obesitas".
Oya satu lagi, tahu nggak kalau sebenarnya nggak ada yang bener-bener gratis? Gratis duit kelasnya iya, tapi biaya transport, parkir, hotel (kalau di luar kota), belum waktu yang kita luangkan untuk join di kelas-kelas itu.
Jadi, pastikan kelas yang mau kita ikutin itu, worth our time.
Gimana caranya nentuin apakah kelas yang mau kita ikutin itu layak atau nggak? Ini yang saya lakukan di lingkup training perusahaan, mungkin applied juga untuk personal training kalian.
1. Punyai tujuan yang jelas
Mulailah dengan hasil akhir (Stephen R Covey). Sebelum berangkat training, akan sangat bijak kalau kita tahu hasil seperti apa sih yang kita harapkan setelah training?
Be spesific. Mau belajar tentang blogging? Blogging yang seperti apa yang mau kita pelajari? Apakah panduan dasar, optimisasi SEO, atau malah yang kita perlukan sebenarnya adalah cara menulis blog yang baik.
2. Tahu kenapa mau training
Berikutnya, ketahui kenapa kita mau ikut training. Satu hal yang saya pelajari selama saya di people development adalah, training is just a tool. Training hanyalah sebuah alat untuk memudahkan kita mencapai tujuan.

Bukan soal trainingnya, tapi bagaimana setelah training kita jadi lebih produktif dan lebih cepat mencapai tujuan kita.
Nah, problem sebagian besar learning enthusiastist alias "pembelajar" adalah, mereka cenderung fokus ke proses trainingnya. Bukan ke impact training itu ke diri mereka dan goals mereka.
Malah, ada tujuan hidup pun nggak jelas. Karenanya, trainingnya lebih banyak sia-sianya daripada manfaatnya.
3. Rencanakan apa yang mau dilakuin pasca-training
Ini yang banyak dilupakan orang. Sebuah training hanya akan efektif bila apa yang kita dapatkan, berdampak nyata bagi produktivitas kita.

Training blog, bisa dibilang efektif kalau setelah training produktivitas blogging kita meningkat kan? Terus gimana kita mengukur produktivitas kita setelah training?
Gampang, rencanakan apa yang mau kita lakukan setelah training beserta dengan tolak ukur kesuksesannya. Misalnya, selepas training blogging, mau nulis artikel yang lebih berkualitas. Tolak ukurnya bisa dari page view atau komentar yang masuk.
4. Cari training yang sesuai
Ini yang sering kebalik. Umumnya orang cari-cari training yang pertama dilihat adalah penyelenggaranya. Branded apa nggak.

Ibaratnya cari sepatu. Yang benar itu kita cari sepatu yang sesuai sama ukuran kaki kita, atau kita harus menyesuaikan dengan sepatu yang ada? Kalau di satu toko kita nggak nemu sepatu yang pas, apa ya kita maksain beli yang ukurannya lebih besar/kecil hanya karena merk?
Siapa penyelenggara dan trainer itu memang penting. Tapi, paling penting kesesuaiannya dengan tujuan kita. Ingat, training itu hanya alat. Jadi jangan sampai kita yang diperalat.



Kesimpulannya, yuk bijak memilih mana program training yang sesuai sama kebutuhan kita. Jangan numpuk ilmu kalau ujung-ujungnya nggak kepakai.

Mumpung lagi awal tahun, susun target yang jelas, baru cari training yang memudahkan/mempercepat pencapaian kita atas target itu.
"Ilmu daging kalau nggak dipakai lama-lama busuk juga"  (Dewa Eka Prayoga)
Share:

1 comment:

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Subscribe via Email

Minimal Blog

Designed by Anders Norén