Menu

17 January 2018

Blunder!!!

Photo by Kat Smith from Pexels

Speechless.

Begitulah kira-kira yang saya rasakan. Tak banyak yang bisa saya lakukan, hanya menggaruk-garuk kepala padahal tak gatal, sambil geleng-geleng. Saya usap-usap wajah saya yang tegang dan membuatnya semakin kumal.

Sebuah kesalahan saya lakukan dengan mem-paste sebuah kode html dari salah satu web. Niatnya sih, mau memperindah tampilan blog ini. Namun, apa mau dikata, hanya karena salah koding, template yang sudah saya buat beberapa bulan lalu, berantakan sudah. 

Kesalahan! gerutu saya dalam hati.

Sebenarnya bisa saja sih saya susun ulang tampilan blog itu. Tapi seperti kita sama-sama tahu, menyusun tampilan blog itu makan waktu yang nggak sedikit kan. Gimana mau fokus bikin konten bagus, kalau harus ngulang proses mendesain blog.

Tapi ya sudah, nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa dilakukan sekarang adalah menambah toping di bubur itu dengan daging ayam yang disuwir-suwir, kacang tanah, rajangan daun bawang, telor dadar, tak lupa sedikit kecap asin, dan ditutup dengan menaburkan bawang goreng. Jadilah bubur ayam!

***

Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kesalahan merupakan sesuat yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Bahkan, membuat kesalahan adalah sifat dasar kita yang membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya.

Sengaja maupun tidak, sekalinya hal itu sudah terjadi maka tak mungkin diulang kembali. Atau kalau bahasa komputernya di-undo. Di dunia nyata, sayangnya (atau mungkin bagusnya) tidak ada tombol Ctrl + Z. 

Yang sudah terjadi, terjadilah.

Kesalahan bagi sebagian orang merupakan bencana. Namun buat sebagian lainnya, kesalahan bak trampolin yang membuat mereka melompat semakin tinggi. 

Lalu, termasuk yang manakah kita?

Fight or flight, hadapi atau lari. Begitulah respon orang selepas melakukan kesalahan. Ada yang cukup punya nyali untuk mengambil tanggung jawab dan menghadapi kesalahan yang ia buat. Ada pula yang hobi melempar-lempar kesalahan ke orang lain. Semua orang bisa salah, kecuali saya, begitulah kira-kira yang ada di pikiran orang-orang seperti ini.

Kalau kamu jenis yang mana?

***

Nah, kembali ke masalah blog, sebelum melebar semakin jauh dan tak terkendali.

Mengingat proses mendesain blog memakan waktu yang tidak sebentar, jadi supaya saya bisa segera fokus menulis konten, akhirnya saya ambil jalur potong pendek alias short cut. Caranya, dengan menggunakan template "siap saji".

Saya adalah fans Leo Babauta dengan Zen Habits-nya. Tampilannya yang super simpel dan clean, menyuguhkan kemudahan dalam membaca tulisan-tulisannya. Jadi, saya mencoba mencari-cari template yang kurang lebih mirip.

Singkat cerita, saya pun menemukan 2 template yang cukup sesuai dengan apa yang saya mau. Keduanya saya dapatkan dari sini.

Template pertama adalah Writer Simple. Kesan pertama saya terhadap template ini adalah "WOW!!!" Inilah yang saya cari. Tampilannya so simple dan mirip sekali dengan template yang digunakan Leo Babauta.

Tanpa pikir panjang, saya unduh dan install di blog saya.

Namun, saya terpaksa gigit jari. Ternyata ada satu aspek dari blog ini yang saya tidak bisa kustomisasi, yang berisi deskripsi dari template ini. Mungkin karena saya menggunakan yang versi gratis.

Kesimpulannya, template ini tidak bisa saya pakai.

Masih dari situs yang sama, ada satu template bernama Typography. Walaupun template ini tidak benar-benar sesuai dengan apa yang saya mau, tapi saya suka dengan kesederhanaannya. Menurut saya, template ini mampu menyuguhkan pengalaman membaca yang nyaman bagi para pengunjung blog saya. 

Singkat cerita, saya install-lah template ini. Berbekal pengalaman mengkustomisasi desain blog terdahulu, saya lakukan sedikit perubahan di daerah Menu dan Footer untuk media sosial. 

Walaupun tidak sempurna, tetapi template Typography ini, cukup bagus buat saya. Sepertinya saya akan tetap menggunakan template ini, sambil jalan membangun ulang template blog saya sendiri.

Sebenarnya akan sangat membantu kalau saya bisa menyewa jasa web designer untuk mengkustomisasi tampilan blog. Namun mengingat keterbatasan sumber daya, sepertinya itu bukan pilihan bijak. 

Maybe next time.
Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, kritik, saran, atau opini kalian.

Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén