Feb 26, 2018

15 Menit



24 jam sehari, 7 hari seminggu...kurang?

Setiap orang memiliki waktu yang sama. 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Menurutmu, waktu segitu cukup nggak sih? Kelamaan atau kurang lama?

Kalau memang terlalu lama, harusnya semakin banyak ya yang bisa kita lakukan dengan waktu selama itu. Tapi kalau kurang, kok ada aja orang-orang yang bisa bertahan bahkan mencapai kehidupan di atas rata-rata. Padahal total waktunya kan sama. 

Kalau kamu termasuk yang mana? Merasa kekurangan atau kebanyakan waktu?

Saya pribadi termasuk keduanya. Kadang merasa kebanyakan, seringnya merasa kekurangan. "Kalau saja saya punya lebih banyak waktu, saya akan bisa lebih....," beberapa kali terbesit di dalam pikiran saya. Kamu juga?

Pun demikian yang saya rasakan dalam menulis. Beberapa kali saya membayangkan, seandainya saya punya satu ruangan khusus yang berada di sebuah dimensi tanpa waktu. Jadi saya bisa berlama-lama di dalamnya, dan pastinya saya akan lebih produktif dalam menulis. Mungkin bukan hanya sekedar tulisan-tulisan pendek untuk mengisi blog, tapi sebuah buku atau novel. Kalau sudah lelah nulis, tinggal buka pintu, kembali ke dimensi ini, tapi waktu masih menunjuk angka yang sama ketika memasuki 'ruang kerja' saya itu.

Tapi tentu saja, itu hanyalah sebuah khayalan belaka. Nyatanya, saya hanya punya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Nggak kurang, nggak lebih. Sama halnya sepertimu, dan penulis-penulis maupun para blogger lain. 

Kita pun punya kehidupan yang harus kita jalani. Ada tanggung jawab lain yang wajib kita penuhi di luar keasyikan kita untuk merangkai kata demi kata, menyusunnya sedemikian rupa sehingga membuatnya jadi lebih indah dan bermakna. Hal-hal yang tak hanya menyita waktu, tapi juga tenaga dan perhatian kita. Yang pada akhirnya menjauhkan kita dari melakukan apa yang jadi pilihan kita, menjadi seorang penulis.

Amboy, susah ya jadi penulis.

Bukan susah sih lebih tepatnya, tapi nggak mungkin. Jadi penulis itu hanya impian kosong. Janganlah bercita-cita jadi penulis. Ngapain? 

Eh lho kok?

Iya, percuma mimpi jadi penulis. Buang waktu. Kenapa? Karena kita semua itu penulis. Kita cuma perlu nulis. 

Jadi buat apa bermimpi menjadi yang sudah kita raih? Nggak guna kan. Daripada mimpi jadi penulis, gimana kalau kita mulai nulis? Nggak usah serem-serem ngebayangin duduk di ruang kosong sendirian tanpa teman. Nulis aja.

Nggak ada PC, pakai laptop. Nggak ada laptop, pakai handphone. Nggak ada handphone pakai pulpen dan buku. Yang penting nulis aja. Nggak perlu berjam-jam juga, 15 menit aja. 

15 menit di pagi hari, 15 menit di siang hari, 15 menit di sore hari. Malamnya, dibaca lagi, dirapikan, lalu publikasikan.

15 menit saja, bukan 15 jam. Mau coba?
Bagikan:

2 comments:

  1. Betul sekali 👍👍👍 Sarannya patut dicoba banget! Gampang ya ngingetnya, per 15 menit 😄

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.