Feb 19, 2018

Belajar Menulis di ODOP5




Pagi yang cerah di awal pekan. Seperti biasa, saya mengawali aktivitas dengan memeriksa surel masuk. Saya pindai cepat dari nama pengirim dan judulnya. Tampaknya surel yang saya nantikan belum mendarat di kotak masuk. Hanya surel penawaran-penawaran program pelatihan dari vendor yang memenuhi ruang kotak masuk saya.


Pandangan saya pun beralih ke arah ponsel, memeriksa pesan masuk di aplikasi Whatsapp. Kebetulan nomor selular ini memang saya gunakan untuk keperluan pribadi dan pekerjaan, jadi semua pesan tercampur baur jadi satu di dalam ponsel besutan Korea itu.


Perlahan saya gulir ke bawah, memeriksa apakah beberapa pesan yang saya kirim sebelumnya ke kolega sudah mendapatkan respon sebagaimana harapan.


Beberapa sudah, tapi belum semua. "Hmm...mungkin perlu saya kirim ulang sebagai pengingat untuk mereka," batin saya.


Tampak beberapa pesan tak terbaca dengan angka berwarna merah menyala di atas pesan para kolega. Beberapa pesan dari grup Whatsapp mulai grup kawan lama, pekerjaan, hingga grup komunitas para penulis yang saya ikuti. Penasaran, saya membuka pesan di grup kepenulisan itu. Saya 'panjat' rentetan pesan di dalamnya. Karena memang tak terlalu aktif berkirim pesan di grup utama itu, jadi perjuangan 'meraih puncak' terasa cukup panjang. 


Setelah beberapa menit, sampailah saya di sebuah pesan yang dikirim oleh administrator grup tentang tantangan pekan ini.


Seperti biasa di grup One Day One Post batch 5 (ODOP5) ini, selain belajar teori tentang menulis, jenis-jenis tulisan, dan sebagainya, kami juga belajar praktek membuat tulisan dari berbagai jenis tulisan yang ada. Mulai fiksi sampai non fiksi. Sebuah metode pelatihan yang juga kami terapkan di perusahaan tempat saya bekerja. Metode ini kami sebut dengan 70-20-10 Framework.


Apa sih metode 70-20-10 ini? Secara singkat penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. 70 - praktek lapangan, OJT, proyek

2. 20 - coaching

3. 10 - in class training, kuliah


Metode-metode itu menggambarkan porsi presentase ideal dari sebuah pelatihan. Artinya dalam menyelenggarakan pelatihan, saya dan tim harus fokus kepada metode 70 dibandingkan dua metode lainnya. Alasannya cukup sederhana, lebih efektif.


Hal serupa juga dilakukan di komunitas ODOP5. Kami bukan hanya belajar teori (10), tapi juga praktek (70) dan bedah tulisan (20). Karena tujuannya mencetak penulis, bukan pakar atau ahli mengkaji tulisan. Maka porsi praktek menulis harus lebih banyak. 


Ibarat belajar bersepeda. Sulit kalau hanya duduk manis di dalam kelas dan mempelajari bagian-bagian sepeda kan? Buat apa? Kan tujuannya mau belajar bersepeda, ya sudah kayuh saja, menabraklah, jatuhlah, dan rasakan sakitnya. Yang terpenting, belajarlah supaya tidak terulang. 


Belajar adalah berubah. Satu tolak ukur keberhasilan sebuah pendidikan atau pengajaran, adalah bagaimana perubahan sebelum dan sesudah belajar. Pun demikian dengan ODOP5, keberhasilannya adalah sejauh mana kemampuan para pesertanya jadi lebih baik dari sebelum ODOP5. Kalau sama saja atau malah lebih buruk, artinya ada yang salah. Entah prosesnya atau orangnya. Sederhana bukan?


Kembali ke tantangan pekan ini di ODOP5. Tantangannya adalah membuat artikel tentang ODOP. Kami sudah belajar apa itu artikel dan komponen-komponen di dalamnya. Jadi ini merupakan kesempatan baik bagi kami untuk melihat, sejauh mana kemampuan kami sekarang dalam menulis.


Artikel ini saya buat untuk menguji kemampuan saya. Tentu saja akan sulit untuk menilai kualitas artikel ini tanpa ada masukan dari kawan-kawan semua. Karenanya, saya akan sangat senang mendengar respon kalian tentang tulisan ini.


Saran, kritik, bahkan caci maki pun terbuka lebar. Kadang sebuah pukulan di wajah lebih bisa mengajarkan banyak hal dibandingkan sekedar elusan, tepukan, cubitan atau pun jeweran. 


Bagi saya belajar menulis artinya belajar menyiapkan mental menerima komentar entah itu positif maupun negatif.


Share:

8 comments:

  1. Aku suka 70 20 10 nya. Suka juga tulisan ini. Sip deh. Semoga konsisten menulis ya Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Suden, sama-sama konsisten nulis untuk berbagi kebaikan ya.

      Delete
  2. Wah mantap perumpamaannya. Keren deh iniπŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mas...monggo lho kalau mau kasih kritikan. Tar kalo kebanyakan apresiasi jadi congkak takutnya 😊

      Delete
  3. Asyik. Tulisannya keren banget Mas ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih....masih belajar kok ini ☺

      Delete
  4. semoga mas dan blogger lain tetap istiqomah dalam berkarya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks mas Sandi...sama2 terus berkarya ya 😊

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.