Feb 3, 2018

Sebuah Cerita Di Balik Bulan Darah

Beberapa waktu lalu, dunia dihebohkan dengan fenomena gerhana bulan total, Super Blue Blood Moon. Fenomena alam yang membuat bulan tampak kemerahan seperti darah ini memang menarik banyak perhatian orang. Apalagi konon kabarnya, kejadian ini hanya berlangsung 250 tahun sekali. Tentunya, banyak orang tak mau kehilangan momen ini.

Ngomong-ngomong soal Blood Moon alias Bulan Darah ini, ada sebuah legenda menyeramkan yang mungkin nggak banyak orang tahu. Namanya juga legenda, benar atau tidaknya tentu saja patut dipertanyakan.

Di postingan kali ini, saya mau share cerita tersebut untuk Anda semua. Tenang aja, ini bukan cerita horor....cuma cerita 'aja'.
Cerita Tentang Ritual Penyihir Jahat
Cerita ini terjadi pada jaman dahulu kala di eranya penyihir baik vs penyihir jahat. Pada waktu itu, banyak kejahatan dilakukan oleh penyihir jahat, mulai penculikan anak sampai mengirimkan penyakit atau wabah.

Maraknya kejahatan oleh penyihir membuat orang-orang membenci penyihir. Semua penyihir, baik atau jahat diburu. Lalu mereka digantung dan dibakar hidup-hidup.

Karena merasa terancam, salah seorang penyihir mencari cara supaya dirinya kebal terhadap api. Jadi, ia tak akan mati sekalipun dibakar. Dalam pencariannya, ia menemukan sebuah perkamen tua berisi sebuah ritual yang membuat pelakunya memiliki kekebalan terhadap api.

Ritual itu menuntut si pelaku untuk mengumpulkan 12 anak berusia di bawah 12 tahun, yang lahir setahun sebelum terjadinya Bulan Darah. Keduabelas anak ini merupakan representasi 12 bulan dalam setahun (Januari - Desember). Kemudian, 12 anak ini akan dikorbankan kepada roh jahat sebagai tumbal. Roh inilah yang nantinya akan memberikan si penyihir kekuatan untuk kebal terhadap api.

Menjelang Bulan Darah, penyihir ini pun mulai melancarkan aksinya dengan memata-matai penduduk desa. Targetnya tentu saja, anak-anak yang lahir di tiap bulan dalam setahun. Setelah ia 'menandai' mangsanya, ia menyusun rencana supaya ia berhasil menculik mereka ketika Bulan Darah terjadi.

Dan malam Bulan Darah pun tiba. Dengan bantuan dari beberapa penyihir jahat yang berhasil ia kumpulkan, mereka pun menyerang desa, membakar rumah-rumah, dan menculik anak-anak yang sudah 'ditandai' sebelumnya. Keduabelas anak tak berdosa ini, dibawa ke sarang para penyihir di atas kaki bukit.

Bulan mulai memerah pertanda Bulan Darah akan segera dimulai.

Si penyihir jahat menyuruh penyihir lainnya membawa anak-anak itu keluar. Kini, mereka ada di tengah-tengah para penyihir yang mengelilingi mereka dengan tatapan tajam. Gigi hitam tak karuan tampak jelas ketika mereka tertawa.

Dan ketika Bulan Darah mencapai puncaknya, Roh yang disebutkan di dalam perkamen tua itu pun muncul. Dengan mata merah menyala, tubuh berbalut asap hitam, menambah kengerian di malam yang semakin larut itu.

Jerit tangis anak-anak itu, bak genderang yang ditabuh sebagai pertanda sang roh memulai makan malamnya.

Namun, sebelum roh jahat berhasil menghisap jiwa-jiwa murni keduabelas anak itu. Muncul penyihir-penyihir baik yang menyerang roh jahat dan para penyihir jahat.

Pertarungan sengit pun terjadi. Baku tembak kekuatan kebaikan dan kejahatan tak dapat dielakkan. Namun pada akhirnya, kekuatan kebaikan berhasil mengalahkan kejahatan.

Roh jahat berhasil dihancurkan dan para penyihir jahat dibekuk. nyawa anak-anak pun terselamatkan.

Menyadari ketakutan manusia terhadap sihir dan penyihir, setelah mengantarkan anak-anak itu kembali ke rumah mereka. Para penyihir itu pergi ke dunia lain dan membangun dunia mereka sendiri. Sebuah dunia tanpa manusia, hanya penyihir.

Satu-satunya akses penghubung kedua dunia itu adalah sebuah stasiun kereta tua, Platform 9 3/4.

***

Begitulah kira-kira cerita untuk hari ini. Selamat berakhir pekan buat kalian semua.

#OneDayOnePost
#odopbatch5

Share:

4 comments:

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.