Feb 23, 2018

Cerita Sore




17:05, angka itu terpampang di jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Lewat lima menit dari jam pulang. Hari yang cukup menantang sudah aku lalui. Kini tiba saatnya mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk menyambut esok yang sepertinya tidak kurang menantang dari hari ini.

Dengan sisa tenaga, aku rapikan dokumen-dokumen yang berhamburan di atas meja kerjaku, aku atur sesuai urutan prioritas supaya memudahkanku memulai hari esok. 

Terakhir, tanganku menyusup ke balik layar monitor 16 inchi untuk menekan tombol power dan mengakhiri nyala komputer yang setia menemaniku selama 8 jam lebih.

Aku melangkah menuju pintu keluar setelah sebelumnya aku 'pamitan' dengan men-scan ibu jariku di mesin absen berwarna abu-abu tua. Matahari berwarna kemerahan bak telur asin menyapa sesaat setelah langkah kakiku keluar meninggalkan kantor yang selama ini telah menjadi rumah keduaku, tempat aku menghabiskan separuh waktuku dalam dalam sehari selama lima hari dalam seminggu. 

"Sampai jumpa besok ya," gumamku dalam hati seraya kakiku melangkah menjauhi gedung tua itu.

Beberapa saat kemudian, aku sampai di pemberhentian berikutnya. Sebuah lahan yang cukup luas tempatku meletakkan sepeda motor matic putihku, bersama dengan beberapa kendaraan milik karyawan lain. Aku berjalan menyusuri jalur pedestrian menuju lokasi di mana aku parkir motor matic-ku, dan langkahku terhenti di depan sebuah papan alumunium dengan huruf F tercetak di atasnya. 

"Sampai juga," gumamku.

Aku berjalan menyusuri lorong itu mencari motor matic-ku. Mataku bergerak ke kiri dan kanan menyapu jejeran motor di situ, mencari motor dengan helm berwarna merah tua yang penuh dengan sticker grup band rock tahun 80-an. Namun, sampai di ujung lorong tak juga aku temui. Aku garuk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal itu, sambil terus mencari motorku. 

"Tunggu dulu!" teriakku dalam hati. "Bukan di sini, ini kan tempat aku parkir kemarin," racauku sendiri. 

Ternyata, hari ini aku sandarkan motorku di blok J. "Ah...bagaimana aku bisa lupa," batinku.

Aku bergegas menuju blok J dan akhirnya, kutemukan motor matic keluaran tahun 2014 itu. Senangnya. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:55, waktunya pulang. Kurogoh saku celanaku mencari kunci, tapi ternyata kunci itu tak berada di situ. Pencarianku berpindah ke dalam tas ranselku, karena kadang aku letakkan di sana. 

"Lho kok nggak ada?!" tanyaku sendiri.

Aku coba ingat-ingat lagi. Otakku kupaksa memutar ulang adegan demi adegan yang kulalui hari ini. Sampai akhirnya berhenti di adegan ketika aku hendak pergi ke toilet. Aku ingat karena merasa tak nyaman dengan kunci di saku celanaku, aku masukkan kunci itu di dalam laci mejaku. Dan, kunci itu tetap ada di sana sejak saat itu.

"Sial!" gumamku sambil menendang gumpalan debu di tanah.

Apa daya, aku mau tak mau harus kembali ke ruanganku untuk mengambil kunci itu. Menempuh jarak 500 meter...lagi.

Langkahku gontai menyusuri tempat parkir menuju kembali ke ruangan kerjaku. Bak layang-layang putus yang terombang-ambing angin. Seperti itulah aku ketika mau tak mau harus mengulang perjalananku. 

Ya, sepertinya ini pelajaran buatku. Jangan pernah meletakkan kunci motor di laci meja...lagi. Siapa bilang pelajaran hanya ada di masa sekolah. Buktinya hari ini aku masih belajar, bahkan lewat cara yang tidak mengenakkan. Tapi ya sudahlah...mari segera akhiri 'penderitaan' ini.

Bagikan:

4 comments:

  1. Lumayan lho jalan kaki 500 m 4x itu...:). Bisa untuk olah raga sore...:)

    ReplyDelete
  2. wkwkwk aku juga sering lupa naro kunci motor...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...ini masalah nasional kayanya.

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.