Feb 4, 2018

Gagal Paham Atau Gagal Memahamkan?


Kita sering sebel ketika orang lain nggak paham-paham dengan omongan kita. Istilah bekennya ‘gagal paham’. Tapi kita lupa, kalau bisa jadi orang lain lebih sebel lagi sama kita yang kalau ngomong nggak pernah jelas arah dan maksudnya.




Di tulisan kali ini, saya mau berbagi dua nasehat dari Bapak saya tentang bagaimana berkomunikasi yang baik. Nasehat yang selalu saya ingat sekaligus sering lupa.

Bijak Dalam Pemilihan Kosakata
Ilmu boleh setinggi langit, tapi bahasa harus selalu membumi

Bapak saya sering mewanti-wanti tentang pentingnya menyampaikan ide atau pendapat saya dengan jelas ke orang lain. Nggak usah pakai bahasa yang melip-melip. Gunakan saja bahasa yang umum dan mudah dipahami orang. Tapi, dasar saya aja yang sepertinya nggak afdhol kalau pakai bahasa yang biasa-biasa aja.

Jadi nggak kelihatan pinter dong.

Alhasil, saya sering sukses membuat orang lain kebingungan mencerna bahasa tingkat dewa yang saya gunakan. Dan, saya harus effort lagi untuk mengulang penjelasan saya dari awal. Sesuatu yang harusnya nggak perlu dilakukan bila saya cukup bijak dan nggak mengedepankan ego saya.

Kurangi Ini dan Itu
Satu lagi yang sering Bapak nasehatin adalah, jangan kebanyakan ini dan itu kalau ngomong. Sebut saja istilah atau nama yang mau kita sampaikan.

Kenapa?

Ini yang saya pelajari. Nggak semua orang punya kecepatan yang sama dalam menangkap informasi baru. Misalnya Anda sedang menjelaskan cara menyalakan mesin mobil, mulai dari memasukkan kunci, memutar kunci sampai mesin menyala, dan mengatur posisi-posisi spion.

Kalau Anda terlalu banyak mengganti istilah-istilah dengan ini dan itu, resikonya ketika Anda sudah sampai ke tahap mengatur posisi spion, padahal audience Anda masih berusaha mencerna bagian-bagian kunci, kira-kira berapa persen pesan Anda yang ditangkap sempurna oleh audience Anda? Nggak banyak.

Lalu apa yang harus Anda lakukan? Mau nggak mau, suka nggak suka, harus ngulang lagi kan? Kecuali kalau Anda tidak terlalu peduli apakah audience Anda paham atau tidak, yang penting Anda sudah menyampaikan.

Resiko lain kalau Anda terlalu hobi menggunakan ini dan itu adalah, Ini-nya Anda belum tentu Ini-nya audience Anda. Jadinya, serba kebolak-balik. Terus Anda marah gara-gara mereka nggak paham-paham gitu? Come on!


Jadi, yuk mulai sekarang kita sama-sama memperbaiki cara kita menyampaikan pesan kita. Dan…kalau ada yang masih bingung dengan penjelasan kita, jangan buru-buru sewot. Pergi sebentar ke kamar mandi, berdiri di depan cermin, bisa jadi akar permasalahannya adalah orang di cermin itu
.
Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.