Feb 4, 2018

Grup Whatsapp


This post is inspired by an essay from The Minimalist : Unfollow, Enjoy!


Segala sesuatu berubah kecuali perubahan. Sebuah kalimat yang cukup pas untuk menggambarkan kondisi perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Tengok saja perkembangan media sosial, dari Friendster, Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk disebutkan mengingat, akun medsos yang paling sering saya buka hanya Facebook dan Instagram.



Selain media sosial, perkembangan sepak terjang inovasi di dunia messenger pun seolah tak mau kalah. Dari SMS, BBM, Whatsapp, Telegram, dan banyak lagi lainnya (mungkin). Di ranah ini, tampaknya Whatsapp masih merajai dari sisi jumlah user-nya.



Bicara soal Whatsapp, saya ingat pertama kali bisa install aplikasi ini, rasanya bahagia sekali. Akhirnya, bisa juga chating tanpa harus punya Blackberry (BB) dengan BBM-nya. Bisa saling bertukar pesan dari yang regular sampai alay untuk pertama kalinya itu rasanya happy banget.



Seiring dengan perjalanan waktu dan inovasi-inovasi yang dibenamkan di aplikasi ini. Muncullah fenomena baru : Group Whatsapp. Mulai urusan kerjaan sampai sosial, rasa-rasanya semua ada grupnya.



Saya pernah iseng-iseng update status di Facebook. Di situ saya bertanya, rata-rata kawan-kawan saya itu punya berapa grup Whatsapp sih? Pertanyaan ini muncul karena saya merasa tergelitik melihat ‘partisipasi’ saya di beberapa grup Whatsapp. Saat itu, saya ‘terlibat’ dalam 4 grup Whatsapp, semuanya bersifat sosial.



Saya pikir jumlah grup Whatsapp itu sudah banyak. Ternyata, saya salah. Saya nggak nyangka kalau ada ya, orang yang punya dua kalinya, tiga kalinya, bahkan 4 kalinya jumlah grup Whatsapp saya. Saya cuma bisa menjerit dalam hati, “Wiikk!!”



Lambat laun, ternyata saya pun mengalami hal yang serupa. Walaupun tidak sampai ekstreem punya let say 10 grup Whatsapp. Kebanyakan grup yang sifatnya sosial.



Dari kemunculan beberapa grup baru di Whatsapp saya, ada beberapa kesamaan yang saya lihat dari grup-grup ini.
  1. Selalu diawali dengan niat mulia : Silaturahmi 
  2. Seiring waktu, mulai jadi sarana berbagi informasi 
  3. Lama-lama mulai ngomong ngalur ngidul nggak jelas 
  4. Akhirnya, share gambar, cerita, informasi yang lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya



Di sinilah kebimbangan dan kegalauan muncul. Kalau tetep diikuti itu takut keseret ke perbuatan yang sia-sia, tapi kalau leave group nanti dimusuhi. Is it just me atau ada yang mengalami ‘nasib’ serupa?



Sekalipun sudah di-mute, tapi kadang selalu ada dorongan untuk ngebuka, kepo-in, ada update apa sih di grup ini. Begitu sudah dibuka…mulai terpancing untuk mengikuti dan menimpali.



Akhir tahun 2017, saya sudah melakukan ‘bersih-bersih’ friend list di Facebook. Dari 1000 teman, saya sisakan 100-an orang yang benar-benar saya kenal, dan memang orangnya ‘ada’.



Tampaknya, hal serupa saya perlu lakukan dengan grup Whatsapp ini. Saya perlu lebih selektif untuk join di sebuah grup. Bukan karena saya nggak mau bersilaturahmi dengan kawan lama, tapi lebih karena ada hal-hal yang membutuhkan fokus lebih dari saya. Lagipula, hanya karena saya leave grup, bukan berarti saya nggak bisa dihubungi atau menghubungi mereka kok.



Berat memang, terutama kalau Anda terlahir sebagai orang yang sungkanan, nggak mau menyinggung perasaan orang, atau takut dinilai buruk oleh orang lain. Seperti saya.



Saya bahkan sampai membuat list kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seandainya saya benar-benar leave group:
  • Dicaci
  • Dimaki
  • Dibenci
  • Dimengerti


Tapi biarlah. Toh saya juga nggak ke mana-mana. Biarlah mereka melakukan apa yang harusnya mereka lakukan. Saya percaya, kalau mereka, kawan-kawan saya, adalah orang-orang baik yang cukup dewasa dan bijak dalam menyikapi segala sesuatu.



Selalu ada pertama kali untuk segala sesuatunya. Mungkin bagi saya, ini adalah kesempatan untuk pertama kalinya memilih, melakukan, dan menerima segala konsekuensi dari pilihan itu.



What’s the worst could happen anyway?
Bagikan:

3 comments:

  1. aku pun udah beralih dari BBM ke WA. Kadang pengen diajak gabung ke grup wa biar rame di hape haha

    ReplyDelete
  2. Saya juga joint beberapa group wa, namun kebanyakan sebagai silebt reader. Kalau sempat ya dibaca kalau nggak sempat ya clear chat ..:)

    ReplyDelete
  3. Apalagi grup alumni, beuh penuh chat tidak penting dan jumlahnya ratusan perharinya. Pusing. Wkwkwk.

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.