Feb 10, 2018

Ketika Anak Susah Makan


Orang tua mana sih yang nggak suka lihat anaknya aktif dan ceria? Namun, tak dapat dipungkiri, supaya si kecil bisa menjalani aktivitasnya dengan sepenuh hati, dibutuhkan asupan gizi yang seimbang.


Berbicara soal asupan gizi, tentunya yang kita bicarakan adalah kualitas makanan.

Tapi, buat pap-bun yang 'dianugerahi' anak yang sulit makan. Jujur deh, boro-boro ngomongin kualitas, makanan bisa masuk aja sudah syukur. Betul?

Hal serupa juga pernah saya alami dengan putra kami, Fabio.

Momen makan dari sarapan sampai makan malam, merupakan momen yang sangat menguras tenaga, emosi, dan kewarasan. Beragam cara pun sudah pernah kami coba. Dari memberikan iming-iming hadiah, mengancam, membentak, menghukum, dan beberapa cara lain yang tak kunjung membuahkan hasil.

Sampai akhirnya, kami menyadari alasan di balik aksi GTM (Gerakan Tutup Mulut) yang ia lakukan. Agak lama memang, kami tersadar dan entah sudah berapa juta saraf di otaknya yang terputus akibat terlalu sering menerima bentakan dari papa-mamanya. Semoga, kejadian-kejadian itu tak berpengaruh negatif terhadap perkembangannya

Ada dua hal yang jadi penyebab ia menolak bekerja sama menyelesaikan makanannya. Pertama ia tak cocok dengan menu maupun rasa masakannya, dan yang terakhir, dia maunya makan bersama papa mamanya. Bukannya makan sendirian seperti selama ini.

Saya bersyukur dianugerahi wanita luar biasa sebagai istri saya. Di tengah kesibukannya sebagai seorang wanita karir, ia selalu menyempatkan memasak menu makanan kami setiap hari. Ia bahkan sangat selektif dengan bahan dan bumbu masakan yang akan ia gunakan. Sebisa mungkin ia menghindari penggunaan MSG di makanan yang saya dan Fabio santap.

Hasilnya, rasa dan kualitas gizi menu harian kami benar-benar terjaga. Bahkan, untuk ukuran orang yang belum pernah memasak, rasa masakannya sangat enak. Cocok di lidah Fabio yang cenderung picky kalau urusan makanan.

Masalah pertama, soal menu sudah terselesaikan. Selanjutnya, berhubungan dengan 'metode' makan.

Awalnya, kami makan sendiri-sendiri. Setelah saya dan istri saya selesai makan, maka kami lanjutkan agenda kami dengan menyuapi Fabio.

Namun, belajar dari pengalaman 'buruk' di momen suap-menyuapi ini. Kami merubah pendekatan kami. Alih-alih menyuapi Fabio setelah kami selesai makan, acara makan kami ganti dengan acara makan bersama. Artinya, kami bertiga makan di satu meja, dengan menu yang sama.

Alhamdulillah, metode ini berhasil dengan baik. Bahkan dengan cara ini, kami pun mengenali akar permasalahan aksi GTM yang ia lakukan karena ia tak suka makan sendiri. Dia mau makan bersama kami, orang tuanya, menghabiskan sisa waktu bersama-sama. Hal yang kami berdua lupakan karena kesibukan di pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran.

Perkenalan dengan Laperma
Karena aksi GTM yang Fabio lancarkan. Kami sempat berpikir untuk memberikan penambah nafsu makan, supaya ia lapar dan ujungnya mau makan.

Sempat mencoba vitamin penambah nafsu makan yang dipasarkan bebas di apotek maupun Indomaret dan Alfamart. Namun, hasilnya tak sesuai harapan. Bahkan rasanya nggak enak buat Fabio.

Suatu waktu, ketika lagi scrolling Facebook (atau Instagram, saya lupa), saya melihat iklan vitamin penambah nafsu makan bernama Laperma.

Karena penasaran, saya pun masuk lebih jauh ke situsnya. Saya baca-baca informasi tentang produk tersebut. Satu hal yang membuat saya tertarik adalah bukti bahwa produk tersebut memiliki sertifikat BPOM.

Saya tidak tahu terlalu banyak tentang BPOM, tapi istri saya yang bekerja di bidang farmasi pernah bilang kalau mendapat sertifikat BPOM itu susah dan ribet.

Saya cek nomer registrasinya ke situs BPOM dan kebetulan memang benar, produk itu sudah tersertifikasi BPOM.

Saya cerita ke istri saya dan kami pun mencoba memesan satu paket produk Laperma ke salah satu agen.

Singkat cerita, Laperma sudah sampai di tangan. Istri saya membaca dengan teliti kandungan di dalam vitamin tersebut. Dari keempat komponen utama produk ini (madu, ikan salmon, temulawak, dan lempuyang), kandungan ikan salmon lah yang membuat kami lebih memilih produk ini. Sebelumnya, istri saya juga ditawari produk sejenis, tapi ikan yang digunakan adalah ikan gabus.

Kami pun mencoba memberikan Laperma ke Fabio. Kadang dia mau minum langsung, kadang harus dicampurkan ke susunya. Karena ada bau amis khas ikan di dalam vitamin ini. Jadi wajar kalau dia nggak seberapa suka.

Tapi kami tetap konsisten meminumkan Laperma sembari menjaga 'ritual' makan bersama kami.

Hasilnya benar-benar tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada perubahan signifikan di nafsu makan anak saya. Makannya tetap sedikit, walaupun sudah kooperatif.

Walaupun demikian, kami tetap melakukan apa yang harus kami lakukan, menyiapkan masakan, makan bersama, dan minum vitamin.

Hasil yang kami rasakan adalah, peningkatan daya tahan tubuh Fabio. Kalau dulu mudah terserang batuk dan flu, semenjak minum Laperma, ia mulai jarang sakit. Sekalipun teman-temannya ada yang flu, Alhamdulillah dia menter-menter aja.

Setelah Laperma berkurang setengah botol, mulai tampak perbaikan di nafsu makannya. Bahkan ia sendiri pernah bilang, "Aku laperrr..."

Sebuah kalimat pendek yang terdengar indah sekali di telinga kami.

Oya, satu lagi tentang Laperma. Dari pengalaman kami, sepertinya vitamin ini tidak menimbulkan efek ketergantungan. Karena ada sekali waktu kami lupa meminumkan Laperma, ternyata tidak berpengaruh pada nafsu makan Fabio yang tetap baik.

Manusia berusaha, Allah yang menentukan.
Sebagai orang tua, apa yang kami lakukan tak lebih dari ikhtiar untuk memastikan kecukupan asupan gizi Fabio. Alhamdulillah, hasil yang kami dapatkan cukup baik.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat atau 'minimal' tak merugikan. Kita ketemu lagi di postingan berikutnya. Kalau pap-bun tertarik atau mau info lebih lanjut tentag Laperma, langsung saja main-main ke situs ini.

Share:

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Betul, sampai sekarang usia anak pertama hampir lima th, ia tak mau makan sendirian😊
    ReplyDelete

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena makan sendirian buat ananda dirasa nggak seru bun 😁

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.