Feb 15, 2018

Mahal? Dibandingkan Apa?


Kalau saya ditanya, mahal itu apa sih. Jawaban saya pasti membandingkan antara harga dan kantong. Kalau harga barang 10 ribu sedangkan isi kantong cuma 5 ribu, tanpa pikir panjang saya akan melabel barang itu sebagai barang mahal.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar kalau mahal atau tidaknya suatu barang itu tidak diukur dari sisi finansial saja. Ada setidaknya 3 aspek yang bisa dijadikan tolak ukur apakah barang itu mahal, murah, atau lumrah.


1. Kualitas
Ada harga,  ada rupa. Begitulah kira-kira perumpamaan ala pasar, untuk menilai sebuah harga. Barang premium tentu hitungan rupiahnya lebih tinggi dibandingkan produk non-premium (bukan bensin premium ya).

Alphard sudah pasti lebih mahal dibandingkan Avanza. Dan pastinya dua produk ini tidak bisa dibandingkan, karena memang spesifikasinya berbeda. Bahasa Maduranya, nggak apple to apple.

Harusnya kalau mau dibandingkan adalah, harganya berapa, barangnya alias kualitasnya seperti apa. Bisa jadi jatuhnya lebih murah Alphard dibandingkan Avanza. 

2. Waktu
Jaman sekarang ini kan jamannya semua serba online ya. Termasuk jual-beli barang. Mulai Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan masih banyak lagi.

Menentukan suatu produk itu mahal atau tidak, salah satunya adalah terkait waktu. Berapa lama sih kita bisa terima barang yang mau kita beli sejak proses deal.

Kadang-kadang barang sebagus apapun kalau nyampenya lama, jadinya mahal. Kebayang kalau pesen martabak jam 12.30 trus baru terimanya jam 12.31, dua hari kemudian? 

Selak ilang luwene, alias keburu hilang laparnya.

3. Biaya
Last but not least tentu saja, ujung-ujungnya duit lagi. Seberapa dalam kita harus merogoh kocek untuk mendapatkan produk ataupun jasa adalah tolak ukur absolut dalam menilai mahal atau tidak. Tapi perlu diingat, biaya di sini tidak terbatas pada nominal uang saja. Biaya non finansial pun masuk hitungan.

Contoh sederhananya, ada satu produk baju branded yang lagi diskon 90%. Tapi antrinya 100 km. Atau, produk itu hanya dijual di Jakarta, sementara kita tinggal di Denpasar. Kira-kira jatuhnya jadi lebih mahal atau murah?


Kesimpulan yang saya ambil, menilai mahal atau tidaknya sebuah produk/jasa adalah dari harga sebuah barang dibandingkan nilai/manfaatnya

Kalau harganya sebanding dengan nilainya, artinya barang itu nggak mahal, tapi sesuai. Bila harganya lebih rendah dari nilainya, berarti murah. 

Mahal adalah ketika nilai barang itu lebih rendah daripada harganya. Bayar Alphard dapat Avanza, mau?

Gimana menurut kalian? Punya opini lain? Boleh lah berbagi di kolom komentar. Kita ketemu lagi di postingan lainnya.


Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.