Menu

02 February 2018

Proses Atau Hasil?




Ini pertanyaan yang agak tricky untuk dijawab. Mana sih yang paling penting dari proses dan hasil? Yang perlu kita fokuskan lebih dari keduanya?



Kalau fokusnya ke hasil, berarti cara apapun boleh dong dilakukan? Kan yang penting tujuan atau hasil yang diharapkan tercapai. Eh, bukan...yang penting prosesnya. Karena proses itu menentukan hasil. Tapi tunggu dulu, kalau yang penting proses, jadi nggak masalah dong mau hasilnya bagus atau enggak? Kan yang penting prosesnya.



Gimana? Udah mulai pusing, pening, dan miring-miring?



Jawabannya, menurut saya, yang paling penting tentu saja hasilnya. Lho kok bisa? Jadi boleh dong menghalalkan segala cara yang penting berhasil? Tunggu dulu.



Memang jaman kuliah dulu, kita sering mendengar yang penting proses, proses, dan proses. Sebagai orang yang sedang belajar kita perlu mau 'berproses'. Jadi, lupakan dulu hasil akhirnya, yang penting Anda berproses.



Pertanyaannya, ada yang mau kuliah 15 tahun demi belajar dan berproses?



Kita hidup perlu punya tujuan. Minimal kalau nggak tahu apa sih tujuan hidup Anda, punyailah arah. Supaya Anda nggak menghabiskan waktu muter-muter tapi nggak menghasilkan apapun selain berproses menjadi pribadi yang kuat muter-muter.



Proses adalah sebuah keharusan. Sesuatu yang nggak bisa ditawar, wajib ada kalau mau menghasilkan. Mau makan roti ada prosesnya. Bisa beli atau buat sendiri. Kalau beli berarti harus ada uang, harus ada yang jual, dll. Kalau mau bikin sendiri artinya harus punya bahan-bahannya, peralatan masaknya, dsb. Tapi apapun cara atau prosesnya, semua bermuara pada satu tujuan kan? Makan roti.



Banyak jalan menuju Roma, berarti yang penting nyampe Romanya atau banyak jalannya? Romanya kan? Itu kan hasilnya. Proses itu menyesuaikan. Kalau nggak bisa lewat jalur darat, ya lewat jalur udara, atau jalur laut.



Jadi, hasil itu penting.



Saat ini saya sedang bergabung dengan sebuah komunitas menulis bernama ODOP, singkatan dari One Day One Post. Ini adalah cara saya, proses yang saya pilih, untuk mengasah kemampuan menulis saya. Kenapa? Saya punya mimpi jadi penulis buku. Saya ingin tulisan-tulisan saya bisa memberi informasi, edukasi, inspirasi, atau bahkan sekedar hiburan di kala senggang yang sifatnya positif untuk orang lain.



Apakah saya harus ikut ODOP? Tidak. Ada banyak cara lain. Ini hanya cara atau proses yang saya pilih. Kalau ternyata di ujung jalan cara ini, tidak memberikan hasil seperti yang saya harapkan, ya saya beralih ke cara lain. Simpel saja.



Yang penting, saya bisa menjadi penulis yang lebih baik.



Pengalaman saya, kalau saya fokus ke proses, ujung-ujungnya saya jadi semakin complicated. Karena saya punya kecenderungan untuk 'mempercantik' segalanya, termasuk prosesnya. Kalau saya fokus ke proses, saya akan sibuk melengkapi hal-hal nice to have (mis : instal aplikasi A-Z, membuat beberapa aturan menulis, dll) daripada melakukan hal yang paling penting dan mendasar, mulai menulis.



Lho harusnya kan menulis itu harus pakai laptop, harus di tempat yang tenang, harus ini dan itu. Preketek!



Pakai aja apa yang ada. Punyanya handphone, nulislah di handphone, punyanya PC jadul, nulislah di PC jadul. Jangan fokus di prosesnya. Fokuslah di hasilnya.



Apa sih hasilnya ikut ODOP? Ini sih opini saya:

1. Membangun kebiasaan menulis 
2. Meningkatkan kualitas isi tulisan



Buat kawan-kawan, sesama peserta ODOP maupun bukan. Yuk sama-sama mulai fokus ke hasil atau sasaran yang mau Anda capai. Lakukan saja. Prosesnya nggak harus sempurna kok, yang penting hasilnya. Kan, result speak the loudest.



#OneDayOnePost

#odopbatch5
Share:

5 comments:

  1. Saya sudah menerapkan ODOP hanya bertahan selama 1 bulan, itu pun kepotong satu hari saya tidak posting tapi saya tutup dengan 2 postingan di hari berikutnya
    untuk sekarang spertinya sulit karena banyak kegiatan offline yang harus saya lakukan..

    soal hasil atau proses, ya tentunya setiap orang mengharapkan haasil yang maksimal entah bagaimana prosesnya. Bukan berarti hasil penting lalu melakukan segala cara, tentu tidak juga. Tetap melakukan proses yang tidak menyalahi aturan dan mendapatkan hasil yang maksimal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya ngelihatnya, ODOP itu sebagai prosesnya Mas. Tujuannya untuk membangun habit nulisnya itu. Soalnya nulis kan kaya otot ya, semakin sering dipake semakin kuat.

      Tapi pastinya, setiap orang punya tujuannya masing, skala prioritasnya masing-masing pula.

      There's no one size fits for all. Setiap orang punya cara/prosesnya masing-masing. Selama itu berhasil, fine-fine aja :)

      Bukan begitu Mas Adi?

      Delete
  2. Wow ODOP. Aku posting mah seselonya aku dan semaunya aku.. Wkwkwk
    Kl dipaksakan malah jd nggak menikmati, iya nggak sih? Tp kl udh berkomitmen sehari satu postingan kerennnn bangeeet uwhhh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...saya juga dulu gitu Mbak Ella, sekarang pun masih struggle buat nulis tiap hari.

      Memang betul sesuatu yang dipaksakan jadi kurang nikmat. Apalagi kalau yang dipaksain itu nggak sejalan dengan misi kita, tujuan, atau value kita.

      Nggak semua orang harus jadi penulis juga. Semua punya jalannya masing-masing. Tapi as far as I know, untuk berhasil kadang kita perlu memaksa, dipaksa, dan terpaksa.

      Apapun pilihanmu, tetep nulis ya Mbak. Biar bisa berbagi sama kita-kita tentang pengalaman-pengalamanmu. Siapa tahu ada yang bisa kita pelajari dari situ :)

      Delete
  3. Hasil menurut saya banyak faktor yg mempengaruhi, sehingga kita tidak bisa kontrol hasil 100 persen. Jadi, tujuan ditetapkan dan fokus pada proses yang tentunya mengarah pada hasil, selepas itu serahkan pada yang kuasa

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Subscribe via Email

Minimal Blog

Designed by Anders Norén