Feb 9, 2018

Tegas Tanpa Membentak



Apa sih yang terlintas pertama kali ketika mendengar kata 'tegas'? Kalau saya, gambar pertama yang muncul di kepala adalah seorang Jenderal bersuara lantang yang disegani (atau mungkin ditakuti) para prajuritnya. Itulah gambaran saya tentang tegas dan ketegasan.

Ketika menjalani peran sebagai seorang suami, ayah, dan kepala keluarga, saya dituntut untuk tegas. Baik kepada istri lebih-lebih terhadap anak saya.

Buat kawan-kawan sesama orang tua, pasti sudah sama-sama tahu ya bagaimana suka duka dan tantangannya mengasuh anak. Apalagi kalau kita 'dianugerahi' anak yang super aktif dan keingintahuan yang tinggi. Kadang muncul dilema antara membiarkan atau melarang. Kalau dibiarkan nanti kebablasan, kalau dilarang-larang bisa-bisa perkembangannya terganggu. Nggak mau dong, kita punya anak yang 'masa kecilnya kurang bahagia'. Sudah cukup papa-mamanya aja yang mengalami.

Seringkali di saat-saat seperti inilah ketegasan saya diuji. Ketegasan seperti apakah yang harus saya tunjukkan? Kalau saya marahin dia, bentak dia dengan suara lantang bak Jenderal, apakah itu adalah langkah yang tepat? Ataukah saya cuekin saja, biar dia diam dengan sendirinya? Atau mungkin sebaiknya saya turutin maunya dia?

Jujur, kalau yang namanya tegas itu sama dengan membentak, wah itu berat sekali buat saya. Dan ternyata, ada sebuah penelitian yang mengatakan kalau anak dibentak, ada syaraf-syaraf di otaknya yang terputus. Waduh, ngeri kan jadinya. Ya sudah diturutin aja maunya kali ya.

Dalam sebuah talk show parenting bersama Ayah Edy, ternyata yang namanya tegas itu tidak diukur dari sekencang atau selantang apa bentakan kita kepada anak. Tapi soal bagaimana kita sebagai orang tua, menjaga kesepakatan yang sudah kita buat bersama anak kita.

Kata kuncinya di sini adalah menjaga kesepakatan.

Tegas terhadap anak artinya kita sebagai orang tua memegang komitmen untuk menjalankan (maupun menjauhi) semua hal yang sudah kita sepakati bersama. Dan, tentu saja kita tidak akan bisa menjaga sesuatu yang tidak ada. Jadi, sebelum kita bicara lebih jauh soal komitmen dan kesepakatan, pertama kita perlu punya dulu kesepakatannya. Kan gitu.

Ini yang saya sering lupakan sebagai orang tua. Lebih mudah melarang-larang dan menghukum mereka karena 'melanggar aturan'. Padahal, saya pun tahu, satu-satunya aturan yang tidak bisa dilanggar adalah aturan yang tidak ada.

Setelah mendengarkan talk show tersebut, saya mulai mencoba berbicara dengan anak saya. Kami mendiskusikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kami membuat kesepakatan dan konsekuensi apabila kesepakatan itu dilanggar. Siapa pun orangnya, bila melanggar, harus menerima konsekuensinya.

Setelah kesepakatan selesai dibuat, maka langkah berikutnya adalah memastikan kesepakatan itu dijalankan. Atau memang bila perlu dirubah kalau sudah tidak sesuai.

Membuat kesepakatan memang bukan hal yang mudah. Tetapi itu memudahkan kita sebagai orang tua untuk bersikap tegas terhadap anak kita. Nggak perlu lagi marah-marah, bentak-bentak, cukup mengingatkan apa yang sudah disepakati dan apa konsekuensi bagi yang melanggar.


Share:

2 comments:

  1. Saya juga seorang ibu dari 2 orang anak, sayangnya walaupun sudah membaca dan mengikuti berbagai sesi parenting belum juga membuat saya insyaf, masih beberapa kali bersuara lantang..semoga ke depan bisa memperbaikinya..terima kasih sharingnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama bun, saling mengingatkan ya 😊

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.