Feb 22, 2018

#WaktunyaMoveOnSob, Cerita Move On-ku Bersama Jagoan Hosting



Mulai ngeblog di pertengahan 2017, alasan satu-satunya saya ngeblog adalah hobi nulis. 

Agak 'ironis' memang, mengingat awalnya saya paling anti sama yang namanya nulis. Jaman sekolah dulu aja, bisa bikin 2 paragraf 'nggenah' aja udah sukur. Dan apa lah arti 2 paragraf dibandingkan sebuah kertas kwarto? Seperempatnya aja nggak ada. Akhirnya sisa tulisannya murni ngarang alias ngawur. Lirik lagu, pantun, dan segala macam tulisan masuk semua. Yang penting satu halaman terisi penuh dulu. Nyambung atau enggak, urusan nanti.

Sampai akhirnya di 2014, saya dipindahtugaskan ke satu bagian yang salah satu tugasnya sebagai content writer untuk portal berita perusahaan. Nah, entah ini namanya nasib atau takdir, akhirnya mau nggak mau saya pun belajar nulis yang baik dan efektif. 

Terpaksa. Ya, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasinya kala itu. Kalau dulu nggak bisa nulis, resiko paling besar adalah nilai jeblok, tapi tetap naik kelas. Nah, kalau urusannya pekerjaan...wah bisa runyam kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi bos.

Akhirnya, saya mulai belajar nulis, menyampaikan ide secara efektif lewat rangkaian kata. Berantakan memang awalnya. Mungkin ada sampai 10 kali draft saya mentah di tangan editor. Mulai typo, pemilihan kata yang kurang tepat, pengulangan, sampai tulisan yang nggak jelas apa ide pokoknya.

Marah, kesel, sebel, campur jadi satu. Tapi ya sudah dijalani saja prosesnya. Namanya juga berproses.

Namun, tanpa saya sadari mulai timbul kecintaan terhadap dunia tulis menulis ini. Ada rasa rindu untuk terus menulis. Tapi nulis di mana? Itu pertanyaannya.

Akhirnya, saya pun melirik ke arah blog. Saya tahunya blog itu adalah semacam diary online yang bisa dibaca banyak orang. Saya nggak minat nulis diary, karenanya nggak pernah tertarik ngeblog. Saya pikir ngapain curhat kok dipublikasikan.

Ternyata ngeblog itu nggak sekedar curhatan galau layaknya update status Facebook atau cuitan Twitter. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan lewat blog. Dari informasi tentang destinasi wisata yang keren-keren, inspirasi kehidupan, sampai tutorial sederhana tapi nggak semua orang tahu (misal: bagaimana cara mengganti lampu yang mati).

Bahkan, banyak kawan-kawan penulis menggunakan blog sebagai media untuk mempublikasikan karyanya.

Langkah Awal

Singkat cerita, saya pun mantab membuat blog. Tujuannya sederhana, menyalurkan passion nulis. Sudah, titik.

Blog pertama saya menggunakan Wordpress gratisan. Sebagaimana akun gratis, embel-embel '.wordpress.com' selalu setia menempel di nama blog. 

Selang beberapa bulan, saya berpikir untuk mengupgrade blog dengan domain '.com'. Namun, ternyata nggak sesederhana itu. Sejauh yang saya tahu, kalau saya mau upgrade domain ke '.com' saya perlu punya kartu kredit. Masalahnya, saya nggak punya (dan nggak berniat apply) kartu kredit. 

Selain itu, di Wordpress kalau kita mau mengganti domain '.wordpress.com' menjadi '.com' kita perlu membayar biaya lagi untuk hosting. Ibarat rumah, hosting adalah tanah tempat bangunan (blog) kita berdiri, sedangkan domain itu seperti alamat rumah. Artinya, saya perlu merogoh kocek yang cukup dalam kalau mau menghilangkan embel-embel '.wordpress.com' dari alamat blog.

Akhirnya saya urungkan niat itu dan terus berkarya di Wordpress gratisan saya. Pikir saya, ngeblog kan hanya untuk hobi, jadi ngapain bela-belain bayar ini dan itu.

Pindahan Ke Blogger

Beberapa waktu kemudian, waktu lagi santai browsing saya ketemu sebuah blog yang membahas tentang Blogger, platform ngeblog besutan Google. Dari situ saya baru tahu ternyata kita bisa mengkustomisasi blog kita dengan domain '.com' tanpa perlu tambahan biaya hosting.

Artinya, saya bisa merubah alamat blog saya ke 'com' dengan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan Wordpress. 

Singkatnya, saya boyongan ke Blogger. Mulai bikin blog dari awal lagi (karena blog sebelumnya postingan juga masih hitungan jari). Dan...voila! Blog baru saya resmi beroperasi.

Selanjutnya saya cari penyedia domain lokal untuk kustomisasi alamat blog saya.

Pertemuan Dengan Jagoan Hosting 

Setelah rampung dengan konsep dan nama blog. Saya mulai berburu layanan penyedia hosting dan domain. Ada beberapa provider yang saya banding-bandingkan ketika itu. Dan pilihannya mengerucut ke tiga provider, Domainesia, Dewaweb, dan Jagoan Hosting.

Kriteria saya dalam memilih provider sebenarnya cukup sederhana, (1) kualitas yang baik, (2) pelayanan sebelum dan purna jual, dan (3) harga yang bersahabat.

Dari dua kriteria awal, saya agak kebingungan memilih karena nggak tahu tolak ukur kualitas dari mana. Cek review kawan-kawan blogger pun rata-rata memberikan komentar positif. Akhirnya faktor penentu adalah harga. 

Pas banget, harga yang ditawarkan dari ketiganya Jagoan Hosting menawarkan harga Domain Murah yang paling kompetitif.

Satu nilai tambah buat saya adalah karena kedekatan lokasi, Malang, Jawa Timur. Jadi kalau ternyata layanannya jelek, gampang ndemonya ๐Ÿ˜….

Waktunya Move On
Singkat cerita, blog saya pun bertransformasi dari blog-prima.blogspot.com menjadi www.primachandra.com dengan merogoh kocek 55 ribu rupiah (untuk tahun pertama, dan 150 ribu di tahun kedua dan seterusnya) selama setahun.

Semua sudah siap, sekarang saya bisa fokus kembali ke tugas utama sebagai seorang blogger, membuat konten.

Hijrah Ke Wordpress
Melihat kembali pas awal belajar ngeblog, banyak master blog yang menggunakan dan merekomendasikan Wordpress sebagai platform blog mereka. Alasannya Wordpress memiliki sejumlah keunggulan yang membuat orang awam sekalipun dengan mudahnya mengutak-atik blog mereka.

Ke depan, ada sih pemikiran untuk hijrah balik ke Wordpress, tapi yang self hosted. Bukan versi gratisan yang ditempelin '.wordpress.com' di nama domainnya. Tapi itu nanti lah, ketika tujuan ngeblog saya sudah jelas. Sekarang biarlah saya menemukan jati diri dulu dengan menggunakan media Blogger.

Tentunya dengan pengalaman bekerja sama dengan Jagoan Hosting yang memuaskan. Saya nggak akan ragu memilih mereka lagi dengan Hosting Murah maupun Cloud Hosting untuk meng-handle keperluan hosting maupun domain saya.

Oh ya, satu lagi. Saya pernah tanya-tanya ke mbak CS Jagoan Hosting, ternyata mereka menerima pembayaran bulanan juga lho untuk pelayanan Hosting Murah mereka. Memang jatuhnya lebih mahal dibandingkan langsung bayar tahunan, tapi opsinya ada. Pilihan ada di tangan masing-masing blogger.

Jadi, itu cerita move on saya. Bagaimana dengan kamu? Apa cerita move on kamu?
Bagikan:

9 comments:

  1. Panjang perjalanannya๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  2. Saya belum kepikiran punya blog seperti Kak Prima. Suatu saat sepertinya harus.๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama itu baik dan bermanfaat, lakukan aja ๐Ÿ˜Š

      Ini saya juga lagi tahap 'pencarian jati diri' ceritanya.

      Delete
  3. Murah di awal tapi untuk perpanjangan lebih mahal kelihatannya. Saya pertahun 138 ribu di idwebhost.

    ReplyDelete
  4. Berbayar biasanya makin giat dirawat ya, pak. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha....semacam pecutan tak kasat mata ๐Ÿ˜‚

      Delete
  5. Menurut gue sih, 2018 itu gak zamannya lagi ngegalau atau nyaman dengan kebiasaan buruk kita. Ini saat yang tepat buat kita untuk meningkatkan level hidup kita, toh. Dan JagoanHosting bakal jadi teman sekaligus solusi terbaik untuk move on ke layanan hosting yang lebih baik. Bayangin, dengan hosting yang lebih baik, kita bakal bisa berkarya lebih kreatif lagi. JagoanHosting memang jagoan deh dalam urusan memotivasi dan memfasilitasi pelanggannya dengan pelayanan dan teknologi terbaru.

    Btw, gue udah baca tulisan lo diatas, dan itu keren banget. Semoga moveon bersama JagoanHosting-nya berhasil, karena ini #WaktunyaMoveOnSob. Dan semoga beruntung juga untuk lomba yang lo ikuti. Berharap aja hadiah-hadiah yang keren itu salah satunya mendarat didepan rumah kita dengan mulus. Hehehe. Amin

    Baca ulasan gue juga dong, BW-in balik ke bit.ly/UbahPerihJadiCerita. Terima kasih sebelumnya. Semoga beruntung semuanya!

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.