Menu

14 February 2018

Why Me...Why Not?


Waktu saya masih duduk di bangku SD dulu, ada satu acar kuis yang agak 'nyeleneh' dibandingkan acara sejenis di masa itu. Sebuah kuis singkat, hanya berdurasi 5 menit yang tayang di salah satu TV swasta berinisial RCTI, itu bernama Telekuis Jari-Jari.

Dipandu oleh seorang komedian, dengan gaya yang ceplas-ceplos dan anti mainstream itu sontak merebut perhatian banyak orang. Saya pribadi, yang paling saya ingat dari acara itu adalah, pertanyaannya guampang dan pasti terjawab. Masalahnya, line teleponnya selalu ramai, jadi susah masuknya.

Seru sih acara kuis itu dulu.

Ngmongin soal alm. Ferrasta Soebardi alias Pepeng ini, satu yang tak akan dilupakan banyak orang adalah perjuangannya melawan 'multiple scerosis' sejak 2005. 

Pada 2015 ia tak lagi kuasa melawan penyakit langka tersebut dan pulang ke Rahmatullah.

Saya bukan fans sejati almarhum Pepeng yang mengikuti seluk beluk kehidupan beliau. Namun, ada satu momen yang saya ingat betul sampai hari ini 'pesan' beliau sebelum hembusam nafas terakhirnya.

Saya kurang ingat detilnya, waktu itu ada sebuah acara Talkshow di sebuah stasiun TV. Kebetulan di acara tersebut narasumber yang diwawancarai adalah almarhum Pepeng. Dengan kondisi terbaring di kasur, Pepeng menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Satu cerita yang ia sampaikan yang benar-benar menancap di kepala saya adalah tentang bagaimana ia menerima kondisi dirinya dengan ikhlas dan legowo.

Ia bercerita bahwa sebenarnya ia bisa saja mempertanyakan keadilan Tuhan dengan berkata, "God...why me?" Tapi, lanjutnya, bagaimana bila jawaban Tuhan adalah, "Why not?" Terus mau apa?

Kisah itu saya ingat betul dan selalu terngiang ketika saya merasa 'didzalimi' Tuhan. 

"Why me?" komplain saya yang seolah langsung dijawab Tuhan, "Why not?"

Dua kalimat tersebut sukses bersarang di kepala saya sampai hari ini.

Ketika kenyataan tak sejalan dengan rencana, kehidupan yang jauh dari ideal, hukum sebab akibat yang tak lagi berjalan dengan semestinya, dan banyak lagi. Hal itu membuat saya kadang merasa Tuhan sedang berlaku tidak adil. Kenapa yang seharusnya gini, jadinya gitu, kebaikan kok dibalas kejahatan, dll.

Namun, saya belajar bahwa segala sesuatu terjadi karena tujuan tertentu. Dan saya menarik satu kesimpulan bahwa Tuhan memang maha TIDAK ADIL.

Ya Tuhan itu tidak adil. Contoh sederhana, kok bisa Tuhan mengirimkan wanita yang luar biasa baiknya menjadi pendamping saya yang biasa-biasa saja ini, atau mengaruniai pernikahan kami dengan seorang anak yang lucu, pintar, dan aktif, padahal saya nggak punya pengalaman jadi ayah. Atau bagaimana mungkin Tuhan memenuhi kehidupan saya dengan orang-orang baik di sekitar saya, lah wong saya ini lho apa.

Tuhan maha tidak adil? Ya dan saya bersyukur atas 'ketidakadilan-Nya' pada kehidupan saya. Semoga Tuhan tetap 'tidak adil' seperti ini.

Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Subscribe via Email

Minimal Blog

Designed by Anders Norén