Mar 16, 2018

Belajar Menggunakan Uang Dengan Bijak

Teliti sebelum membeli

Masih ingat nasehat lawas itu?

Saya termasuk orang yang kurang punya perhitungan matang dalam urusan perbelanjaan. Kalau saya suka dan ada uang ya saya beli, kalau nggak ada ya nggak beli. Walaupun kadang-kadang kalau sudah terlanjur suka, akhirnya diada-adain alias maksa.

Karena belinya berdasarkan suka nggak suka, akhirnya ketika sudah dibeli dan moodnya berubah, yang tadinya suka jadi nggak suka dan sebaliknya, siklusnya pun berulang kembali.

Ironis melihat betapa mudahnya saya menghambur-hamburkan uang. Padahal di luar sana, nggak kurang-kurang orang yang hidupnya serba berkekurangan. Jangankan mikir beli sesuatu yang mereka suka, bisa memenuhi kebutuhan pokok aja sudah bagus.

Hidup serba berkecukupan (kadang berlebihan) di satu sisi memang menyenangkan. Gimana enggak, apa yang kita mau bisa kita dapat dengan mudah. Kalau nggak cocok ganti dengan yang baru. Simpel kan?

Namun, di sisi lain semua kemudahan dan kenyamanan itu ibarat bom waktu yang siap meledak kapanpun. Yang lebih celaka lagi, sering kali kita nggak bisa milih mau meledaknya kapan. Nanti siang, sore, besok, bulan depan, atau 10 tahun lagi.

Ini saya alami sendiri.

Walaupun saya tidak menampik bahwa saya menikmati segala kemudahan dan kenyamanan dalam kehidupan saya. Tapi, saya harus menerima kenyataan pahit bahwa segala kenyamanan itu menjadikan saya tumpul.

Tumpul dalam menganalisa mana yang penting dan tidak.

Contoh paling mudah tentu saja dalam bagaimana saya membelanjakan uang. Saya lupa kapan terakhir kalinya saya benar-benar membuat sebuah perencanaan matang untuk membelanjakan uang saya. Barang-barang yang wajib saya beli dan yang sekedar memenuhi keinginan belaka.

Itu dari sisi perencanaan. Ketika memilih barang yang akan dibeli pun, saya nggak terlalu banyak mikir soal nilai sebuah barang yang saya incar. I just buy it selesai. Terlepas apakah barang itu kualitasnya bagus, tahan lama, atau benefit lainnya, nggak jadi soal.

At the end, saya sering salah beli. Ibarat kata, harga Lamborghini untuk sebuah unit Xenia. Apakah ini masalah? Enggak, waktu masih single, dan uangnya milik sendiri.

Yang jadi masalah adalah ketika saya sudah berumah tangga, dengan segala biaya kebutuhan pokok dan biaya-biaya lain yang juga perlu diprioritaskan. Salah beli artinya saya merugikan bukan hanya diri saya sendiri, tapi juga istri dan anak saya.

Karena dengan keterbatasan yang kami miliki secara finansial, satu keputusan kurang bijak berdampak signifikan bagi kesehatan keuangan kami.

Masalah lainnya terkait dengan pekerjaan. Ketumpulan saya dalam menganalisa 'penawaran terbaik' dapat merugikan tim dan perusahaan. Kualitas yang utama, tapi biaya juga perlu dipertimbangkan.

Nah kebayang gimana jadinya ketika orang yang salah satu kerjaanya berurusan dengan vendor adalah orang yang nggak banyak mikir berapa harga, gimana kualitas barang dan service vendor itu? Gimana rasanya kalau Anda punya bawahan seperti itu? Stroke lama-lama, bener nggak?

Merubah Kebiasaan
Saya nggak bisa merubah masa lalu, bagaimana saya dibesarkan dan sebagainya, dan sebagainya. Sekalipun saya ingin sekali bisa kembali ke masa-masa itu dan starting all over again.

Nggak mungkin...dan nggak perlu.

Biarlah masa lalu seperti apa adanya sekarang. Toh saya juga sudah nggak hidup di masa itu. Yang paling penting adalah bagaimana saya hari ini dan nanti.

Mulai dari hal-hal kecil seperti selalu punya perbandingan lebih dari satu toko/vendor kalau mau beli sesuatu, mempertanyakan kembali tingkat urgency dan importancy dari produk yang mau saya beli, menyesuaikan harga dengan budget, sampai belajar bernegosiasi.

Murah boleh, murahan...jangan
Hal yang sulit dilakukan untuk menjadi pembeli yang bijak adalah, menjaga keseimbangan antara harga dan nilai produk/jasa yang dibeli. Istilah yang saya pakai adalah best price.

Best price atau harga terbaik tidak selalu yang termurah. Seringkali lebih mahal.

Tapi, saya belajar kalau harga murah hanyalah salah satu tolak ukur untuk membeli atau tidak. Ada parameter lainnya yang bisa digunakan.

Yang saya belajar dari istri saya waktu belanja adalah membandingkan harga dengan volume. Misal nih, shampoo A harganya Rp. 20.000 sedangkan shampoo B harganya 25.000. Secara kasat mata, tentunya shampoo B lebih mahal betul?

Ya, kalau ngebandinginnya pakai harga aja ya jelas. Tapi kalau misalnya shampoo A isinya 500 ml sedangkan shampoo B, 650 ml...mana yang lebih murah? Sederhananya sih gitu.

Kalau untuk urusan dealing sama vendor untuk urusan training, saya biasanya membandingkan paket yang ditawarkan vendor A dan vendor B. Prinsipnya sih sama, mahal enggaknya itu dilihat dari isi paket yang kita terima.

Lebih murah tapi ada biaya-biaya lain (misal, sewa komputer sendiri, dll) bisa-bisa jatuhnya lebih mahal. Belum lagi biaya non-finansial dari tambah ribet dsb.


Perubahan perlu proses dan seringkali prosesnya sakit
Saat ini saya masih belajar menjadi bijak dalam membelanjakan uang saya. Masih beberapa kali kecolongan juga, nggak mikir matang ketika membeli barang.

Ya nggak sempurna memang, dibandingkan istri saya atau kalian.

Tapi kalau saya membandingkan saya yang dulu dengan saya hari ini, bisa dibilang progressing lah.

Share:

4 comments:

  1. betul mengelola uang dengan bijak bukan berarti kita jadi pelit ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh pelit untuk hal-hal yang nice to have 😊

      Delete
  2. Wah selamat ya sdh semakin cerdas soal finansial. Lanjuuttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih proses belajar bun 😁

      Makasih dah mampir...

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.