Menu

05 March 2018

Kenali Prosesnya, Jangan Asal 'Hajar Bleh'



Optimis itu wajib, tapi realistis juga perlu.

Masih ingat nasehat bapak-ibu (termasuk guru) tentang cita-cita? Gantungkan cita-citamu setinggi langit, betul? Bermimpilah besar, karena mimpi itu suatu hari akan menjadi kenyataan (kalau diupayakan).

Ya, punya cita-cita setinggi langit dan mimpi besar itu memang perlu. Bahkan perlu banget. Tapi, jangan pernah lupa untuk menginjak tanah. Artinya, kita tetap perlu realistis. Karena kalau tidak, kita bisa frustasi sendiri akibat mimpi yang nggak kunjung tercapai.

Salah satu yang perlu kita ingat adalah proses.

Segala sesuatu ada prosesnya. Mau makan ada prosesnya, mulai beli bahan, masak, sampai akhirnya makanan itu siap untuk disantap. Lho, saya nggak masak kok, tapi beli. Lah emang beli makanan nggak ada prosesnya? Minimal, tahu dulu lah mau makan apa dan di mana, ya nggak?

Kenapa sih perlu tahu proses? Emang penting gitu?

Jadi gini, di awal kita sudah sepakat kalau cita-cita itu mesti tinggi kan, mimpi kudu besar. Nah, apa iya impian dan cita-citamu itu ujug-ujug langsung jadi? 

Pastinya enggak dong...enggak lah...enggak toh...enggak kan?

Contoh nih saya (paling enak pake contoh diri sendiri, nggak ada tersinggung kecuali yang GR-an). Saya punya mimpi jadi penulis. Di kasus saya, ternyata saya nggak bisa mak bendhundug jadi penulis loh.

Saya perlu belajar baca A-B-C, belajar nulis, sampe akhirnya sekarang saya punya blog. Itu semua proses loh. Ada yang gampang, banyak yang susah.

Ngeblog pun juga ada prosesnya. Dari ngumpulin ide, nulis, ngedit, sampe woro-woro biar ada yang baca. Itu semua proses loh.

Kenapa kita perlu tahu dan memahami proses? Sederhana, biar tahu apa yang akan kita hadapi di depan, kapan, dan yang paling penting menyusun rencana alias strategi perangnya.

Nggak bisa dong maju perang kalau nggak tahu siapa lawannya. Salah-salah belum maju dah mati duluan. Istilah kerennya UMG alias Ulo Marani Gepuk.


Gagal berencana sama dengan berencana gagal.

Sekarang ini saya 'masih' terdaftar sebagai anggota ODOP5. Di sini saya diwajibkan ngeposting tulisan di blog sehari sekali (plus utang kalau ada).

Dulu, waktu masih jadi blogger hidayah (ngeblog kalau ada hidayah dan inayah), supaya bisa posting satu kali aja, saya butuh waktu seminggu (termasuk ketika ada pergantian cuaca, mood, dll).

Nah, berhubung sekarang harus posting sehari sekali, pastinya cara yang dulu kala udah nggak bisa lagi saya pakai.

Akhirnya saya 'terpaksa' mengembangkan strategi baru. Dengan bermodal naluri untuk bertahan hidup, yang saya punya dari lahir, saya pun menciptakan beberapa strategi ampuh untuk nulis saban hari (kecuali pas ada bencana alam atau kucing tetangga mati).


1. Ngumpulin ide (10 menit)
Biasa saya lakukan di akhir pekan atau setiap ada kesempatan. Segala bentuk ide, wangsit, pangsit, dan bakpao, semua saya tulis di buku, supaya nggak lupa. Nggak perlu yang canggih-canggih kalau ini.

2. Nulis (30 menit)
Pas nulis, kalau ada ide baru ya langsung ditulis. Tapi pas buntu, buka lagi krepekannya. Nulis juga saya batesin, maksimal 30 menit per sesi selesai nggak selesai.

3. Ngedit + upload (10 menit)
Saat ini saya nulis banyakan di handphone pakai aplikasi simplenote, lalu saya upload pake Blog It. Terakhir saya publish pakai Blogger Pro. 

Banyak banget aplikasinya? Itu sudah berkurang banyak dibandingkan dulu.

4. Finishing (10 menit)
Proses finishing biasanya yang saya lakukan meliputi cari gambar ilustrasi, format teks (bold, italic, quote), masukin link aktif, dan mengkategorikan tulisan.

5. Promosi/laporan (5 menit)
Setelah finishing kelar, saya posting. Biar postingannya ada yang baca, saya promosi ke grup Facebook dan laporan ke PJ komunitas. 

Kemudian langkah terpenting berikutnya adalah ulangi lagi minimal sampai ODOP5 selesai.


Langkah-langkah itu cukup sukses membuat saya posting 1x sehari, minimal. Termasuk nyicil utang yang rasanya nggak kelar-kelar.

Bagaimana denganmu? Apa strategimu supaya rajin posting di blogmu? 

Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, kritik, saran, atau opini kalian.

Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén