Menu

10 March 2018

Lakukan dan Menangkan!



Bisa atau enggak itu nggak penting, pokoknya lakukan dan selesaikan

Beberapa waktu lalu, saya diminta pak bos buat nego sama vendor biar dapet best price untuk beberapa kebutuhan kami. Eh...nego? Yang bener aja nih.

Saya nggak punya pengalaman buat negosiasi dan secara personal, saya bukan orang yang cukup strong buat memengaruhi orang buat mengikuti apa yang saya mau.

Daripada ngecewain, saya bilang kalau saya nggak bisa. 

Baik ya niatnya, 'biar nggak ngecewain'. Tapi, apa yang terjadi? Alih-alih memaklumi dan menghargai kejujuran saya, eh malah tetep disuruh nyoba. Katanya, "Saya nggak mau tau, pokoknya saya mau harganya turun."

Antara shock dan nggak punya pilihan lain, saya cuma bisa jawab,  " Ya Pak."

Pasrah banget ya ๐Ÿ˜‚

Waktu itu hari Selasa, dan jadwal ketemuan sama vendor sudah saya set hari Kamisnya. Berhubung jurus pamungkas, 'pokoknya' udah keluar, artinya pilihannya tinggal dua, selesaikan atau...eee, nggak ada pilihan lain sih sebenernya.

Akhirnya saya cari cara gimana biar bisa sukses melakukan negosiasinya. Mulai dari tanya simbah Google sampe sowan ke teman di bagian pembelian. Saya cari semua infonya.

Pokoknya saya harus sukses negosiasi.

Singkat cerita, Kamis pun tiba. The battle will be started soon. Nggak ada opsi kalah, harus menang. Eh...ada sih opsi kalah, cuma nggak bisa dipilih. Nggak tahu kenapa ๐Ÿ˜…

Di ruang 3x4 (kurang lebih) itu, duduk di sudut biru sang penantang, sang vendor. Sedangkan di sudut merah, sang tuan rumah yang ngempet gemeter biar nggak ketahuan kalau lagi keder. 

Dan...bel pertanda ronde pertama dimulai pun berbunyi.

"Pagi Pak Prima, bagaimana penawaran saya kemarin? Apakah masih ada yang mau ditanyakan?" tanya sang penantang mantap.

Setelah mengumpulkan roh yang tercerai-berai nggak karuan, tuan rumah merespon serangan pertama dengan, "Pagi Pak!" sapa saya. "Kami sudah mendiskusikan penawaran bapak dan dari sisi kualitas kami melihat hasil pekerjaan Bapak yang terbaik dari vendor yang lain," lanjut saya. 

Senyum mengembang pertanda pertahanannya mulai terbuka.

"Senang sekali kalau kami bisa bekerja sama dengan perusahaan Bapak dalam proyek ini," lanjut saya bak sebuah uppercut yang mendarat telak di dagu lawan, membuatnya hilang kesadaran. Kemudian tanpa membuang kesempatan, saya pun melancarkan jab kanan dengan, "Jadi di sini saya mau bicara soal harga nih Pak."

"Dari harga yang Bapak tawarkan, saya minta diberikan potongan menjadi sekian," lanjut saya sambil menunjukkan sederet angka di atas kertas. Seperti tak mau memberinya kesempatan bernafas, saya terus hujani orang itu dengan beberapa pertimbangan 'logis' sehingga ia tak punya alasan untuk menolak permintaan saya.

Singkat cerita, ia pun menerima permintaan saya dan negosiasi hari itu berjalan lancar (buat saya).

Setelah pertemuan itu berakhir, saya melaporkan hasilnya ke pak Bos. "Good job, bisa gitu lho," ucapnya sambil tersenyum. 

Eh iya, bisa ya ternyata. Nggak nyangka lho, orang seperti saya bisa 'memenangkan' sebuah negosiasi. Terlepas lawan yang saya hadapi tadi termasuk level easy, tapi saya jadi sedikit percaya diri atas keberhasilan itu.

Saya nggak terlalu pintar mengambil hikmah dari suatu kejadian. Tapi mengingat bagaimana saya awalnya ketika diminta melakukan sesuatu yang saya pikir saya nggak bisa (dan memang nggak bisa), kemudian waktu jurus pamungkas 'pokoknya' sudah keluar, saya nggak punya banyak pilihan selain maju dan menang. 

Mungkin cara belajar seperti ini adalah cara yang efektif. 

Memang sih jadi stres nyari-nyari tips dan trik buat menangin sebuah negosiasi. Tapi, pada akhirnya saya bisa  kok.

Semoga nanti ada waktunya bagi saya buat 'balas dendam' ke orang lain yang bilang "saya nggak bisa" dengan cara yang sama seperti apa yang pak bos lakukan. 

Semoga... .
Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Subscribe via Email

Minimal Blog

Designed by Anders Norén