Menu

06 March 2018

Pintu Ke Pintu


Wajah pria paruh baya itu tampak serius mengamati angka-angka yang tersusun rapi di atas kertas itu. Dengan tangan kanannya ia genggam mantap beberapa lembar kertas itu sambil sesekali membolak-balik ke lembar berikutnya menggunakan tangan kirinya. Bola matanya bolak-balik bergerak dari kiri ke kanan, membaca poin demi poin klausul dengan penuh ketelitian.

Aku hanya bisa diam memandang pria itu. Sesekali aku raih cangkir kaca berisi kopi hitam pekat yang sudah mulai dingin.

Nama pria itu Agus Hermanto. Pemilik usaha garmen yang ia jalankan bersama istrinya sejak 3 tahun lalu. Pak Agus, begitu ia biasa disapa, adalah orang kelima yang  kutemui hari ini untuk aku tawarkan asuransi jiwa. Agen asuransi, sebuah profesi yang aku pilih untuk jalani, bukan karena terpaksa sebab tak ada pekerjaan lain, melainkan karena keinginanku untuk membantu orang-orang memiliki perencanan keuangan yang baik.

Dengan pendidikan S1 Informatika, banyak yang heran melihatku memilih menggeluti profesi yang 'nggak bergengsi' ini. Teman-temanku bahkan menyayangkan gelar sarjana dan IPK 3.8 milikku.

"Jadi agen asuransi?! Nggak salah Bim?"  tanya Abdee, sahabat baikku sejak SD, keheranan saat aku menceritakan padanya betapa aku ingin menjadi seorang agen asuransi.

"Bima...Bima, kamu tau nggak, agen asuransi itu penipu. Kamu ingat kan cerita bokapnya Dimas yang terpaksa ngutang sana-sini gara-gara perusahaan asuransinya nggak mau bayar klaimnya," serangnya.

"Iya, tapi...." belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, ia sudah menimpali lagi dengan hujan ceramah tentang agen asuransi busuk, perusahaan asuransi penipu, dan berbagai sumpah serapah yang kental dengan emosi yang meluap-luap khas Abdee.

Aku hanya diam, karena tahu kalau dia sudah mulai angkat bicara seperti ini, nggak akan ada yang bisa menghentikannya. Gas pol rem blong, gurauan aku dan kawan-kawanku tentang Abdee.

"Mas Bima," suara laki-laki itu membuyarkan lamunan nostalgiaku bersama sahabat karibku.

"Ya pak, bagaimana? Apakah ada yang mau Bapak tanyakan dari penawaran saya?" tanyaku.

"Saya perlu berdiskusi dulu dengan istri saya soal proposal Mas Bima," balasnya sambil tersenyum seadanya. 

Aku paham betul makna senyuman seperti itu. Sebuah senyuman yang dipaksakan hanya untuk terlihat sopan, padahal hatinya berkata lain. 

Kemudian, sambil tersenyum, aku tatap matanya dan berkata, "Saya yakin Bapak perlu waktu untuk mendiskusikan hal penting seperti ini dengan Ibu."

Ia mengangguk.

"Ini kartu nama Bima, kalau boleh lusa saya hubungi Bapak ya," lanjutku sambil menyerahkan sebuah kartu nama berwarna putih itu ke tangannya.

Lima janji temu, lima penolakan. Sepertinya begitulah bagaimana hari ini akan berakhir.

Setelah berjabat tangan sebentar, aku melangkah ke arah pintu kayu berwarna coklat tua. Pak Agus berjalan di belakangku untuk melepas kepergianku yang sudah menyita waktunya. 

Setelah sepatuku kerjaku terpasang sempurna, aku bergerak menuju sepeda motor Honda Beat-ku yang berwarna hitam. Tujuanku hanya satu, kembali ke kantor.

Namun, sesaat sebelum aku melaju, aku rasakan getaran di saku kananku. Kuraih handphone Samsung itu dan betapa terkejutnya aku melihat gambar yang terpampang di layar handphoneku. Wajah ayu yang dihiasi senyuman di bibir berlipstik merah. 

"Halo!" jawabku setelah memencet tombol telepon berwarna hijau di layar.

"Hai Bim....apa kabar?" tanyanya dari seberang sana.

"Ee...halo Bu Anna, baik Bu," jawabku sedikit terbata-bata.

"Gimana prospekanmu hari ini? Lancar?" Lanjutnya.

Mati aku. Harus jawab apa ini. Nggak mungkin aku bilang kalau aku melalui hari ini tanpa closing-an lagi. Ini sudah bulan kelima dan sampai sekarang tak satu pun nasabah yang berhasil aku dapatkan. Dan sekarang Bu Anna, manager penjualan menghubungiku langsung ke handphoneku. 


-bersambung-

Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar, kritik, saran, atau opini kalian.

Subscribe to Minimalist Blogger via Email

Minimalist Blogger

Designed by Anders Norén