Menu

17 April 2018

Merokok Merugikan Kesehatan...Kata Siapa?!

Beberapa minggu lalu, saya punya ide untuk memulai sebuah bisnis minuman dalam botol, terinspirasi oleh apa yang kawan saya lakukan.


Setelah survey, saya memutuskan untuk membeli sebuah bahan baku minuman di sebuah pabrikan minuman serbuk. Untuk menghemat biaya ongkir, saya cari agen yang lokasinya dekat dengan kantor.


Singkat cerita, saya ketemu dengan Mas Edwin, agen minuman itu, di sebuah mini market.


"Rokok mas?" Kata Mas Edwin membuka obrolan sambil menyodorkan sebungkus rokok. Saya tidak mengenal merk rokok itu, sepertinya sih varian baru. 


"Enggak Mas, makasih....saya nggak ngerokok," jawab saya.


Setelah ngobrol sebentar, transaksi pun dilakukan dan 2 kg bubuk minuman sudah ada di tangan saya. Bismillah, semoga usaha saya ini barokah dan lancar.


Karena waktu sudah larut, saya pun undur diri.


Di perjalanan saya masih kepikiran sama merk rokok yang ditawarkan Mas Edwin tadi. Itu rokok apa, kok nggak terkenal ya, pikir saya. Sebelum akhirnya berhenti total dari 2013 sampai hari ini, saya juga adalah seorang perokok. Bukan termasuk perokok berat juga karena paling cuma menghabiskan 5-8 batang saja sehari. Kecuali kalau lagi nongkrong bareng temen atau nonton sepak bola. Sebungkus bisa habis hanya dalam 2-3 jam.


Ngomong-ngomong soal rokok, saya jadi keinget sebuah cerita teman di kantor.




Ceritanya teman saya ini sudah lama menikah tapi belum dikasih momongan. Suami teman saya ini adalah seorang perokok. 


Kemudian tahun 2013 kalau nggak salah, akhirnya teman saya ini hamil. Saya ingat sekali betapa girangnya dia waktu tahu kalau akhirnya dia hamil. Walaupun agak kuatir juga mengingat usianya yang sudah banyak. Tapi bismillah aja lah, que sera sera.


Singkat cerita akhirnya ia pun melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu sekali. Kegembiraan tampak jelas di wajahnya.


Namun, beberapa waktu kemudian saya mendengar kabar yang kurang menyenangkan tentang bayi teman saya ini. Saya kurang tahu detilnya, tapi si bayi yang belum genap setahun ini terpaksa dibawa ke rumah sakit karena ada masalah di saluran pernapasannya. Saya lihat fotonya di handphone seorang kawan. Miris sekali kondisinya. Selang-selang kecil menancap di tubuh mungil itu. 


Saya langsung teringat waktu Bio ngamar di rumah sakit karena diare. Rasanya ikut sakit waktu suster menusukkan jarum untuk memasang selang infus. 


Saya tahu bagaimana sakitnya perasaan teman saya itu. Bahkan mungkin apa yang dia rasakan jauh lebih sakit dari apa yang saya alami dengan Bio dulu.


Kabarnya, ia sempat bertengkar hebat dengan suaminya yang perokok akibat kejadian itu. Denger-denger akhirnya si suami sekarang sudah berhenti merokok. Alhamdulillah.


Merokok vs Kesehatan

Waktu saya masih merokok dulu, saya itu ya ngerti kok kalau merokok itu nggak baik buat kesehatan. Tapi saya nggak pernah ambil pusing. Lah wong saya ya sehat-sehat aja kok, teman-teman saya yang perokok ya sehat-sehat semua kok.


Saya malah punya guyonan, kalau perokok itu sakitnya paling cuman paru-paru, tapi kalau nggak merokok sakitnya rupa-rupa alias macam-macam.


Saya, dan mungkin semua perokok, selalu berpikir positif. Nggak mungkin lah saya sakit, paling orang lain (perokok)...nggak bakal lah kena ke saya.


Mungkin hal serupa juga dipikirkan oleh suami teman saya ini. Nggak mungkin lah dia yang sakit, paling orang lain. Dan kebetulan yang dia pikirkan itu ternyata benar. 


Dia yang merokok memang nggak sakit, sehat malah. Yang sakit anaknya. Yang usianya belum ada setahun, dan harus mendekam di dalam rumah sakit dengan selang-selang tertanam di tubuhnya.


Seandainya...

Kalau saya tanya ke kalian, paps n buns yang masih merokok nih. Seandainya kejadian yang dialami teman saya ini menimpa anak kalian, kalian mau nggak berhenti merokok?


Kalau saya sih enggak.


Lho kenapa? Ya iya, kalau seandainya, pasti saya nggak akan berhenti merokok. Lah wong cuman seandainya. 


Mungkin lain cerita kalau pertanyaanya begini :


"Ketika anak kalian yang harus menanggung akibat dari kebiasaanmu merokok, apakah kalian mau berhenti merokok?"


Wah kamu kok ndoain gitu sih?


Nggak kok, ini bukan doa. Cuman fakta saja. Karena bukannya kita baru bisa belajar dan berubah ketika kita mengalami sendiri bukan?


Kalau kejadiannya menimpa orang lain, toh kita akan dengan sangat yakin bilang, "Ah itu kan orang lain, nggak akan terjadi sama saya," betul?


Saya percaya kalau orang pintar adalah mereka yang mau belajar dari kesalahannya. Namun hanya orang bijak yang mau belajar dari kesalahan orang lain


Pertanyaannya, njenengan termasuk yang mana? Pintar atau bijak? 




Setelah membaca tulisan ini, pilihan ada di tangan kalian semua. Mau tetap merokok atau berhenti sekarang. 


Saya paham kok kalau kamu berpikiran bahwa merokok itu nggak akan merusak kesehatanmu. Saya juga mikir gitu dulu. Suami teman saya ini juga mikir seperti itu. 


Dan memang benar toh? Kitanya yang merokok nggak kenapa-kenapa kok. Paling orang lain yang sakit. 


Sayangnya kita nggak bisa milih orang lainnya itu siapa 😊.


Share:

3 comments:

  1. Ngerokok mati gak ngerokok jg mati....hihi

    ReplyDelete
  2. Nggak merokok itu merugikan perusahaan rokok hehehe

    ReplyDelete
  3. Setuju. Merokok itu mengancam kehidupan, misalnya karyawan pabrik rokok.

    Sama dengan komentar paling atas, merokok gak merokok juga mati, malah ada yang yang tidak merokok malah duluan mati, nah loe... hahaha...

    Uang, uang saya sendiri, kog sampeyan yang repot.
    Semua yang di atas itu kata teman saya lho ya, yang kebetulan perokok ^^.

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Subscribe via Email

Minimal Blog

Designed by Anders Norén