May 13, 2018

Jika Aku Teroris

Pagi ini, seperti biasa saya dan istri saya menjalankan aktivitas akhir pekan dengan menjalankan bisnis kecil kami. Sebuah bisnis yang baru saja kami mulai jalani sejak 3 minggu belakangan ini.


Selepas kami selesai menata barang-barang dagangan, sambil menunggu pelanggan berdatangan, saya isi waktu dengan scrolling media sosial. Killing time lah.


Lagi asyik-asyik scrolling, saya dikejutkan dengan sebuah status dari seorang kawan bahwa pagi ini terjadi pemboman di gereja. Tak hanya satu, tapi 3 gereja di Surabaya, ketika kawan-kawan umat Kristiani sedang menjalankan aktivitas ibadah mereka.




Aksi terorisme telah menyerang kota Surabaya.

Surabaya berduka, seluruh rakyat berduka. Apalagi ketika siang hari saya mendapat kabar bahwa salah satu korban meninggal dunia adalah senior saya semasa kuliah dulu. Walaupun saya tidak mengenalnya, tapi tetap saja duka ini menjadi lebih personal untuk saya.


Apa kabar netizen?
Hampir seluruh timeline Facebook, Twitter, Instagram, sampai status Whatsapp, penuh dengan duka mendalam dan kecaman sampai kutukan terhadap teroris dan terorisme. Hashtag #SurabayaWani dan #SurabayaKuat menghiasi aneka ragam postingan di media sosial.


Seperti biasa, ketika sebuah fenomena merebak...perang opini pun terjadi di antara netizen.


Mereka semua mengecam aksi terorisme, tapi entah kenapa, opini-opini itu berujung pada debat kusir, saling menghujat, dan menyudutkan pihak tertentu.


Ada pula netizen yang 'baik hati' membagikan update terbaru foto dan video dari tragedi peledakan bom pagi ini. Foto dan video uncensored yang dengan gamblang menunjukkan gambar seorang korban meninggal dalam kondisi mengenaskan.


Saya bertanya-tanya, para netizen yang bijak ini semua mengecam dan bahkan menyatakan perang terhadap terorisme, tapi aksi mereka seolah mendukung aksi terorisme, dengan menjadi kepanjangan tangan para teroris ini untuk menebar teror.




Berempati Kepada Teroris
Empati sejauh yang saya tahu adalah kemampuan seseorang untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. Sederhananya, menempatkan diri di posisi orang lain.


Kalau versi KBBI :

em·pa·ti /√©mpati/ n Psi keadaan
n mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;


Terus maksudnya berempati kepada teroris itu gimana? Apa kita memaklumi dan memaafkan aksi terorisme?


Nope. Absolutely not!


Maksud saya berempati kepada teroris adalah, kenapa nggak kita coba berpikir dan merasa seperti layaknya teroris.


Coba kita tanyakan kepada diri kita sendiri,

 

"Kalau saya teroris, apa yang saya mau orang-orang pikirkan dan rasakan dari aksi terorisme yang saya lakukan?"


Kalau saya jadi teroris, pastinya mati karena bom bunuh diri bukanlah tujuannya. Itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Keresahan, ketakutan, perpecahan sepertinya lebih berharga dibanding sekedar mati bunuh diri.


Sekarang, mari kita melihat ke dalam diri kita masing-masing. Sudahkah kita mencoba berpikir dan merasa selayaknya para teroris itu berpikir dan merasa?


Mungkin, kalau kita mau sedikit saja melihat dari sudut pandang teroris, kita tidak perlu debat opini di media sosial, share video maupun gambar detik-detik meledaknya bom yang membuat kawan dan saudara kita sendiri semakin resah, atau bersih-bersih friend list.


Bukankah kesuksesan aksi terorisme itu diukur dari sejauh mana efek 'teror' yang mereka lakukan menghantui kita?


Melihat apa yang kawan-kawan netizen lakukan, sepertinya aksi terorisme terbilang sangat sukses. Ironisnya, kita turut andil dalam menyukseskan terorisme ini.


Bagikan:

2 comments:

  1. #KamiTidakTakut

    Terorisme musuh kemanusiaan bersama, siapapun aktor pelakunya harus ditangkap, yg bunuh diri hanya pion korban dari doktrin-doktrin ga jelas. Berempati kepada teroris memang jadi pro kontra antara warganet, tapi menurut saya bagus biar tahu komen-komen mereka hehe.

    salam

    ReplyDelete
  2. Setuju sama tulisan ini. Sederhana aja, stop share foto atau video yang seharusnya tidak jadi konsumsi publik. Suka ngenes emang, foto potongan tubuh pelaku bom bunuh diri yang udah nggak utuh di sebar kemana-mana. Bukannya sama aja dengan memperpanjang teror pasca bom meledak ya?

    Susah ya, zaman millenials gini orang lomba-lomba share foto viral sana-sini tanpa mikir apa dampaknya.

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.