May 7, 2018

Bisnis Itu Bukan Tempat Pelarian




Kalau ada yang pernah diprospek sama temen yang ikut MLM, pasti tau gimana rasanya ketika temen lama yang nggak pernah kontak-kontakan, eh mendadak muncul entah dari mana. Awalnya nanya kabar, trus ngajakin ketemuan. Pas udah ketemuan, ngobrol ngalor-ngidul bentar dan selang beberapa menit kemudian, mulailah obrolan tentang bisnis dimulai.


Saya dulu juga pernah aktif di sebuah MLM, dan melakukan hal itu. Jadi mungkin saya kualat hehehehe... .


Sebenarnya apapun bisnisnya, selama nggak berseberangan dengan value pribadi kita, nggak merugikan orang, saya rasa sah-sah saja untuk dilakukan. Betul?


Pun demikian dengan MLM.


Untungnya teman yang nawarin ini, orangnya cukup profesional dalam menawarkan kerja sama bisnisnya. Dalam artian, pas saya bilang enggak pun, dia bisa memahami dan menghormati keputusan saya. Alhasil, pertemuan itu berakhir dengan semakin baiknya hubungan pertemanan saya dengan dia.


Namun, saya sering menjumpai juga orang-orang yang menjalankan bisnis ini dengan cara yang, menurut saya, kurang bijak. 


"Bosan tiap hari dimarahin Bos? Makanya join MLM X"


Pernah denger iklan semacam ini di Facebook temenmu yang join MLM? Atau, 'kampanye-kampanye' lain yang penuh dengan kebencian terhadap status ke-karyawan-an mereka?


Ironisnya, mereka yang gembar-gembor bahwa berbisnis (MLM atau apapun), itu lebih baik dari bekerja (menjadi karyawan) nyatanya masih mengandalkan gaji bulanan yang mereka terima sebagai seorang karyawan biar dapur tetep ngebul. Ironis bukan?


Buat saya, berbisnis atau bekerja itu sama baiknya. Malah bisa jadi bekerja (jadi karyawan) itu lebih mulia dibandingkan berbisnis. Semua kembali ke pelakunya masing-masing.


Saya selalu percaya bahwa yang namanya bisnis adalah:


Aktivitas menolong orang yang dibayar


Artinya, niat awalnya adalah menolong orang. Uang, adalah efek samping yang kita terima setelah orang lain (pembeli dan pelanggan) merasa tertolong dengan produk/jasa yang kita tawarkan. Bukankah begitu?


Dan, menurut saya setiap karyawan pun sebenarnya adalah seorang pebisnis. Mereka membantu pelanggannya (perusahaan), meningkatkan laba atau minimal mengurangi pemborosan. Untuk itulah karyawan dibayar bukan? Merekalah solusi agar profit perusahaan meningkat dengan cara yang seefisien mungkin.


Kalau karyawannya ngeluh dimarahin bos, sebenarnya mereka punya pilihan kan. Mau mendengar dan memberi solusi, atau mengakhiri kerja sama karena tidak ada titik temu.


Seperti halnya bisnis pada umumnya. Pasti ada lah orang yang nggak beli produkmu. Ya sudah nggak apa-apa. Setiap orang punya preferensinya masing-masing toh ya.


Nggak perlu lah mengumpat, menggunjing, atau menjelek-jelekkan pelanggan (bos) kita. Toh pilihan ada di tangan kita sendiri. 


Jangan gara-gara nggak suka sama si bos, terus kamu berpikir, "Ah daripada dimarahin tiap hari, mendingan buka usaha sendiri." Bisa jadi suatu hari nanti, bos yang kamu benci setengah mati itu, jadi penyumbang omset terbesar buat bisnismu lho. Kalau hubungan kalian nggak baik, wah...kamu sudah dengan sengaja menutup pintu rejeki sendiri tuh.


Jadi, berbisnislah dengan niat menolong orang. Jangan jadikan bisnismu sebagai pelarian, karena lari terus itu berat...kamu nggak akan kuat.

Share:

2 comments:

  1. lari sebentar aja aku gak kuat apa lagi lari terus terusan ya mas hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idem...saya juga nggak kuat lari, sampai saya sadar kalau di belakang saya ada 🐕

      Hehehe... .

      Makasih sudah mampir ya.

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.