Jun 4, 2018

Jangan Posting Sebelum Proofreading


Pernah dengar istilah, Proofreading? 

Waktu saya masih aktif sebagai kontributor di majalah karyawan, proofreading merupakan proses krusial. Karena di sinilah kami mengecek typo, mengedit, menata ulang urutan paragraf, sampai merombak total naskah yang dari kontributor. Tujuan proofreading hanya satu, memastikan pesan tersampaikan dengan jelas ke pembaca.

Apalagi majalah karyawan merupakan jembatan informasi antara pihak manajemen dan karyawan. Kalau sampai pesan yang disampaikan multitafsir, bahkan melenceng jauh...kan bisa bahaya.

Jadi itulah sekilas tentang proofreading. Lalu, bagaimana caranya?

Berikut beberapa poin yang saya tahu tentang cara proofreading. Kalau kurang, tambahin ya.

1. Selesaikan Naskahmu
Hal pertama sebelum proofreading adalah menyelesaikan draft alias naskahmu. Sounds so obvious padahal iya.

Kamu nggak akan bisa proofreading kalau nggak ada naskah yang bisa kamu proofread kan?

Sama halnya kamu nggak bisa menikmati soto ayam kalau ayamnya belum disembelih.

Selesaikan naskahmu dulu sebelum lanjut ke poin berikutnya.

2. Simpan dan Cuekin Naskahmu
Bukan untuk selamanya, cuma sementara aja. Paling cepet, kalau kamu selesaiin naskah ba'da Dhuhur, cuekkin sampe ba'da Maghrib. Tapi supaya lebih efektif sih 1-2 hari (hari ya, bukan tahun atau pun abad).

Tujuannya adalah kamu bisa melakukan langkah ketiga dengan efektif.

3. Baca Naskahmu
Inilah penyebab kamu perlu cuekkin naskah buatanmu selama beberapa saat. Supaya kamu bisa memposisikan diri sebagai pembaca. Dan, inilah poin penting proofreading : bagaimana naskahmu di mata pembaca.

Terkait : Membuat Tulisan Terbaca

Sad but true, seringkali kita sebagai penulis (termasuk blogger) lupa tentang bagaimana tulisan kita di mata pembaca.

Selesai, ya sudah...posting. Ndilalah, ketika ada yang meluangkan waktu dan atensinya mengunjungi blog kita (entah sungkan karena diminta BW balik atau memang tertarik sama topik kita), mereka kesulitan memahami apa inti tulisan kita.

Typo kececeran di mana-mana, nggak ada titik maupun koma, susunan paragraf nggak karu-karuan, bertele-tele, sampai inti pesan yang nggak jelas njluntrungannya.

Terus kita berharap dapat komentar apa nih kalau seperti ini postingan kita?

Karenanya, proofreading itu penting. Itu adalah cara kita memastikan apa yang kita sampaikan tertangkap sebagaimana adanya di mata pembaca.

4. Editing


Setelah kamu selesai membaca ulang naskahmu, dan gatel-gatel sendiri membacanya. Next thing to do adalah, perbaiki kesalahanmu. Bahasa kerennya sih, editing.

Ada beberapa cara untuk memudahkan proses editing ini.

Pertama, kamu bisa menggunakan Microsoft Word dan rubah format bahasa menjadi Bahasa Indonesia (jika naskahmu berbahasa Indonesia). Selanjutnya kamu fokus ke kata-kata bergaris merah dan perbaiki bila perlu.

Kedua, yang agak ribet. Print dan coret-coret naskahmu dengan bolpen merah. Sebagaimana halnya dosen pembimbingmu dulu.

Biasanya, ketika saya melakukan editing...dua paragraf pertama selalu jadi korban yang saya buang. Alasannya karena nggak add value apapun di situ.

Hanya opening nggak penting.


5. Finishing
Selesai editing, next thing adalah melakukan sentuhan akhir.

Bisa dengan memberikan ilustrasi yang relevan dengan topik yang kamu tulis, menambahkan link (external maupun internal), mungkin juga dengan menebali dan mencetak miring kata-kata tertentu di tulisanmu.


6. Baca Doa Sebelum Posting
Kalau kamu Islam, baca Bismillah dulu sebelum posting. Niatin postinganmu itu untuk ibadah dan membantu orang.

Boleh nggak berdoa supaya banyak yang baca alias traffic tinggi? Boleh, asal niatnya adalah semakin banyak yang baca, semakin banyak yang terbantu. Bukan sekedar ndongkrak DA/PA blogmu.

•••••

Nah, itulah sedikit yang bisa saya bagikan tentang proofreading. Semoga bermanfaat dan membantu meningkatkan kualitas tulisanmu.

Boleh di-share, boleh di-copas.

Terkait : Uncopyright

Last but not least, kalau kamu merasa tulisan-tulisan di blog ini bermanfaat, silahkan subscribe dan dapatkan update terbaru langsung di email kamu.

16 comments:

  1. Betul tu kak, kadang soalnya kalau kita selesei nulis pasti ngerasa tulisannya udah bagus sempurna, soalnya pas nulis tadi rasanya emang ga ada salah2, eh pas di cek lagi ternyata banyak juga yang kudu direvisi hehehe pengalaman pribadi soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idem, saya pas nulis ini pun juga rasanya udah lengkap semua. Ternyata setelah saya baca ulang, ada beberapa poin yang kurang 'nggigit' dan ada juga yang terlalu bertele-tele.

      Yang kaya gitu susah keliatan kalo pas lagi nulis. Ketauannya pas dibaca ulang.

      Delete
  2. kalau lagi niat, naskah aku print dulu
    kasih coretan sana sini
    ato kasih highlight klo ada yang gak konek
    tapi rata2 udah gak sempat heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang agak ribet kalo diprint dulu, tapi dari sisi quality yang sepengalaman saya lebih baik mas. Soalnya kalo pake cara manual gitu, kita sebagai editor lebih ekspresif mau ngoret2, nambahin dll.

      Delete
  3. wah makasi mas .. berarti harus double check bahkan triple check sebelum posting..sekali cek doang ga cukup ternyata.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Double check n triple check mungkin perlu...tapi ati2 jangan sampe jadi terlalu perfeksionis. 😊

      Delete
  4. Doble check bukan berarti membuang waktu... Lebih banyak memakan waktu apabila sudah terbit malah perlu diperbaiki.. Nggak hanya tipo, mungkin ada hal2 menarik lainnya yg bisa ditambahkan setelah membaca kembali
    .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya unda undi...antara ngeluangin waktu buat checking dan revisi yang sudah published.

      Tinggal pilih, mau spare waktu di depan atau di belakang. Kan gitu ya.

      Delete
  5. Ini penyakit aku waktu ngeblog 3 tahunan lalu, pas dibaca lagi sekarang banyak koma berceceran, penulisan Di dan Ke gak sesuai kaidah bahasa indonesia, dan lain lain. Sekarang masih sering salah juga sih tapi masih lebih mending daripada tulisan awal ngeblog

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo saya paling sering muncul kata "yang". Berusaha menjelaskan detil dan berujung pada bertele2 dan boros kata.

      Delete
  6. saya sering ngendapin seminggu dan editing,, hasilnya lumayan memperkece bahasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya udah netral dan bisa memposisikan diri sebagai reader ya mas

      Delete
  7. Sampai 1-2 hari ya? Saya kurang lama berati. Hehehe...
    Saya pribadi malah lebih lama ke proses membuat tulisannya, ketimbang saat harus proofreading. Nulis mungkin bisa 2 - 3 hari, sementara kalau tulisan udah selesai, ya pol-polan saya koreksi lagi dari awal sampai akhir cuma selang berapa jam. Kalau dirasa udah fix, langsung publish.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya dirimu nulis sambil ngedit mas, karena itu prosea nulisnya lama. Coba aja nulis tanpa edit. Mau typo, kalimat ga beraturan atau apapun...biarin, tulis aja sampe selesai.

      Setelah itu endapin, baru dibaca ulang.

      Delete
  8. No 2 itu yang selalu saya lakukan, parahnya pernah nih ya diendapin berhari2, malah lupa saya punya naskah wkwkwk.. eh malah fokus ama naskah baru :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, ngendapinnya kelamaan tuh. Tapi gpp, kan jadinya punya tabungan tulisan ya 😊

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.