Jul 16, 2018

Kamu Tidak Bisa Jadi Penulis


Alkisah, ada seorang pemuda yang tersesat sendirian di padang pasir nan luas. Ketika sedang berjalan menyusuri padang pasir itu, tanpa sengaja kakinya tersandung sebuah benda dan membuatnya terjatuh.

Ia melihat benda tersebut yang ternyata adalah sebuah lampu minyak berwarna keemasan. Bentuknya mirip lampu ajaib di film kartun Aladin, film favoritnya.
Iseng-iseng, ia gosokkan tangannya di badan lampu tersebut. Siapa tahu, nanti keluar jin yang bisa mengabulkan permintaannya.

Ternyata, lampu itu benar-benar lampu ajaib. Sesosok makhluk berwarna biru, berperut buncit, dan tanpa kaki, keluar dari lampu usang itu. Makhluk itu tertawa cekikikan, dan memperkenalkan dirinya kepada sang pemuda.

"Aku adalah Jinbo, Jin penghuni lampu ajaib ini," katanya sambil cekikikan dan mengusap-usap perut buncitnya.

"Aku akan mengabulkan 1 permintaanmu," lanjutnya.

Si pemuda yang sempat kaget, buru-buru menenangkan dirinya. Ini adalah kesempatan langka bisa bertemu dengan Jin yang bisa mengabulkan segala keinginannya. Ia pun merogoh tasnya membuka-buka buku impiannya. Ia sudah memiliki 100 impian, dan ia tinggal memilih mana yang mau ia wujudkan jadi nyata.

Sambil membuka-buka daftar impiannya, ia berhenti di sebuah halaman bergambar pensil. Ia ingat salah satu impiannya adalah menjadi seorang penulis hebat, yang mampu menginspirasi orang lain dan merubah dunia ini menjadi lebih baik.

Seketika itu, ia teringat masa kecilnya. Ayahnya adalah seorang penulis, dan waktu kecil Ayahnya senang sekali menulis cerita untuknya. Menjelang tidur, ayahnya selalu membacakan cerita-cerita petualangan yang ia ingat sampai sekarang.

Lagi asyik-asyik mengenang masa kecilnya, sebuah tepukan di jidatnya sukses membuatnya terjerembab di pasir.

"Eh, udah belum? Buruan atuh requestnya...malah ngelamun," ujar Jinbo sambil manyun.

"Iya, iya..maaf. Tadi keinget masa kecil bentar," jawab sang pemuda sambil garuk-garuk kepalanya.

"Nah, apa keinginanmu sekarang?" tanya Jinbo.

"Aku mau jadi penulis!!!" seru si pemuda, yang sampai sekarang belum terungkap namanya, dengan lantang.

Jinbo tersenyum.

Lalu ia menjentikkan jarinya. Sebuah asap berwarna biru menyelimuti si pemuda. Alunan drum dari sebuah band lokal, mengiringi prosesi pengabulan keinginan itu. Kemudian disusul oleh lengkingan suara gitar milik Slash, menandakan proses itu akan segera selesai. Dan akhirnya, 'Duar!!' letusan pistol seorang polisi, menuntaskan semua proses yang bertele-tele ini.

Dan, sontak asap biru lenyap. Hanya ada si pemuda. Di tangan kanannya, ia mengenggam sebuah pensil, dan kertas di tangan kirinya.

"Udah? Gini aja?" tanya si pemuda kepada Jinbo.

"Iya, sesuai permintaanmu," jawab Jinbo sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya yang terawat.

"Tapi..tapi..." sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimatnya, buru-buru Jinbo berkata, "Kamu adalah penulis, kamu cuma perlu menulis."

Lalu Jinbo hilang dari hadapan sang pemuda. Meninggalkannya dalam kebingungan dan kegalauan tanpa ujung.

°°°°°

Kawan, berapa banyak dari kita yang bermimpi menjadi penulis tapi bahkan mulai menulis pun tidak pernah?

Kita berandai-andai, melihat diri kita bersanding dengan penulis-penulis besar. Namun, tak satu pun kata yang sudah kita torehkan hari ini?
Kita adalah penulis, kita hanya perlu menulis.

Tidak perlu ragu. Tulis saja. Jangan biarkan keraguan akan kualitas tulisan kita, menghambat kita untuk mulai menulis. Mulailah menulis, dan teruslah menulis.

Jangan tunggu sempurna, karena kesempurnaan hanya milik-Nya kan.

Share:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.