Jul 31, 2018

Blogger Partikelir


Saya mulai intens ngeblog sejak 2017. Waktu itu ceritanya sih hobi nulis, tapi belum punya nyali buat nulis buku. Alhasil, jadilah blog sebagai media menulis dan mempublikasikannya ke khalayak ramai.

Awalnya minder dan worry. Takut dikritik apalagi dicaci. 

Kalau ada yang nanya-nanya soal blog saya, bukannya seneng dan promosi, malah sok merendah. 

Kebetulan ada seorang kawan yang juga blogger. Jadi bisa tanya-tanya lah tentang dunia perngeblogan. Singkat cerita, kawan ini menginvite saya join di grup Facebook yang isinya blogger dari seantero nusantara. Sebagai pemula, seneng dong rasanya jadi bagian dari sebuah komunitas yang memiliki minat dan hobi yang sama, ngeblog (saya nggak hobi ngeblog sih, cuman seneng nulis dan sharing aja).

Singkat cerita, saya mulai aktif ngeshare postingan di grup ini. Oya, nama grup ini adalah Warung Blogger (sampe lali).

Traffic dan komentar mulai berdatangan di postingan-postingan yang saya share. Artinya, tulisan saya dibaca orang (Alhamdulillah). 

Beberapa lama bergabung di grup ini dan grup lain yang sejenis, saya mulai ngelihat 'kejanggalan' dari postingan-postingan yang kawan-kawan blogger share. Lebih tepatnya, sayanya yang janggal sih. 

Gimana enggak, mostly postingan yang mereka share adalah tentang review (entah produk, even, atau produk dalam rangka lomba).

Terus saya lihat balik ke postingan-postingan saya. Kok beda ya.

Saya jarang banget nulis tentang produk (mentok aplikasi nulis yang saya pernah coba), nggak pernah ngeliput even (lah ngendon di pabrik udah lebih dari 12 jam/hari), ikut lomba cuman 1-2 kali. Then I questioning myself, am I a blogger?

Apakah saya ini blogger? Saya memang suka nulis dan kebetulan punya blog. Tapi apakah itu artinya saya blogger? Kan saya ndak pernah nulis review seperti teman-teman itu. 

Jangan-jangan, saya bukan blogger. Cuma ngakunya aja blogger, padahal bukan. Berarti saya ini blogger partikelir.

Share: