Aug 8, 2018

Kisah Kecoa Yang Sombong



Hai Pandas (papa & bunda)! Siapa yang hobi membacakan dongeng buat putra-putrinya nih menjelang istirahat malam? Kali ini saya mau membagikan sebuah kisah yang beberapa hari ini saya ceritakan ke Fabio kecil untuk mengantarnya ke alam mimpi. Oya, cerita ini bukan bikinan saya...walaupun sudah sedikit saya permak di sana-sini. Semoga bermanfaat ya Pandas.

Langsung saja, ini dia Kisah Kecoa Yang Sombong.


***


Pada jaman dahulu, dunia serangga terbagi menjadi 3 wilayah. Wilayah Udara yang dikuasai oleh Ratu Lebah, wilayah pohon dipimpin Raja Semut, dan wilayah tanah di bawah kendali Pangeran Kecoa. Walaupun terbagi menjadi 3, mereka semua hidup berdampingan dengan damai dan saling tolong menolong.

Namun di antara ketiga penguasa wilayah itu, Pangeran Kecoa memiliki tabiat yang paling buruk. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengagumi keindahan tubuhnya, sayapnya yang berkilau diterpa cahaya, dibandingkan mengurusi rakyatnya, para serangga penghuni wilayah tanah.

Suatu hari, Pangeran Kecoa sedang berjalan-jalan menyusuri wilayah Tanah yang menjadi kekuasannya. Seluruh serangga tunduk ketika sang Pangeran berjalan melintas di depan mereka.

Pangeran Kecoa yang sombong semakin menjadi melihat bagaimana para serangga itu memberikan penghormatan kepadanya.

Tiba-tiba, tanpa ia sadari melintas seekor cacing tanah tepat di hadapannya. Pangeran Kecoa terkejut bukan kepalang, sampai terjungkal. Pangeran Kecoa marah tak karuan. Ia lalu menyuruh cacing itu berhenti, kemudian ia maki-maki si cacing. Pangeran Kecoa menumpahkan semua kekesalan dan kemarahannya kepada si cacing yang hanya bisa diam tak berdaya. Ia tak mampu berbuat apa-apa sekalipun sebenarnya ia sakit hati diperlakukan demikian oleh Pangeran Kecoa.

Setelah beberapa makian, hujatan, dan sumpah serapah, akhirnya Pangeran Kecoa berhenti dan mealnjutkan perjalanannya. Ia tinggalkan begitu saja si cacing yang diam menahan malu dan sakit hati.

Asik berjalan-jalan, sampailah Pangeran Kecoa di sebuah tempat yang ia belum pernah lihat sebelumnya. Ia terheran-heran, bagaimana mungkin ia tidak pernah tahu selama ini bahwa ada tampat seindah surga di wilayah kekuasaannya. Pikirannya langsung negatif.

"Jangan-jangan Raja Semut dan Ratu Lebah bersekongkol untuk menyembunyikan tempat ini dariku," gumamnya dalam hati.

Pangeran Kecoa memasuki tempat itu. Ia melihat tanaman-tanaman yang tumbuh di sana memiliki bentuk yang aneh. Tanaman itu berwarna hijau dan memiliki bentuk seperti kantong. Namun, aroma nektar yang dikeluarkan tanaman-tanaman itu benar-benar sangat menggoda.

Tergoda oleh aroma nektar dari tanaman aneh itu, Pangeran Kecoa pun mendekati dan memanjat batang salah satu tanaman tersebut. Semakin ia mendekati bagian tanaman yang berbentuk kantong itu, semakin kuat pula aroma nektar yang ia cium. Tanpa pikir panjang, sang Pangeran memasuki kantong itu.

Di dalamnya, ia mendapati nektar yang sangat sedap dan manis. Lalu ia pun melahapnya.

Ia tidak menyadari bagian atas kantong itu mulai menutup, dan ia terkejut bukan kepalang ketika kantong itu menutup sempurna. Merasa ada yang aneh, Pangeran Kecoa berusaha membuka kantong tersebut, tetapi usahanya gagal. Bahkan dinding kantong itu semakin menghimpitnya. Pangeran Kecoa panik.

Nektar yang beraroma sedap dan manis tadi seraya berubah menjadi berbau busuk. Cairan terus keluar memenuhi kantong membuat Pangeran Kecoa tenggelam di dalam cairan kental yang berbau busuk itu.

Pangeran Kecoa menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Seketika, ia teringat akan kesombongan dan perbuatan-perbuatan jahatnya kepada serangga-serangga tanah. Ia menyesal sekali, dan memohon ampunan kepada Tuhan.

"Tuhan, aku telah banyak menyakiti serangga-serangga lain. Aku mohon ampun Tuhan. Kiranya Engkau berkenan memberiku kesempatan kedua, aku akan berubah," pinta sang Pangeran Kecoa.

Namun, tidak ada yang terjadi. Pangeran Kecoa kehilangan kesadaran ditelan oleh cairan kental dan busuk itu.

•••••


Secercah cahaya menyeruak, memaksa sepasang mata Pangeran Kecoa untuk terbuka. Samar-samar ia melihat dua sosok yang cukup dikenalnya. Perlahan ketika kesadarannya kembali, ia pun berhasil mengenali sosok itu yang tidak lain adalah Raja Semut dan Ratu Lebah.

"Apa yang baru saja kamu lakukan, hai Pangeran?" selidik Raja Semut. "Tak tahukah kamu tanaman apa yang kamu masuki tadi?" lanjutnya.

Pangeran Kecoa hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu tanaman apa itu. "Tanaman itu bernama Kantong Semar," sahut Ratu Lebah.

"Hah, Kantong Semar?" tanya Pangeran Kecoa.

"Ya, itu adalah tanaman karnivora pemakan kaum serangga," lanjut Ratu Lebah. "Kamu benar-benar beruntung, Tuan Cacing lewat di sekitar sini dan melihatmu masuk ke dalam Kantong Semar," sela Raja Semut.

"Tuan Cacing?" tanya Pangeran Kecoa.

"Ya, kalau dia tidak menggali tanah di sekitar Kantong Semar yang kamu masuki tadi, mungkin nyawamu sudah melayang," tegas Raja Semut.

Pangeran Kecoa memandang Tuan Cacing dengan malu. Pagi ini ia baru saja menghardiknya habis-habisan, menyakiti perasaannya. Namun, Tuan Cacing telah menyelamatkannya.

"Terima kasih, Tuan Cacing dan aku minta maaf atas kata-kata kasarku pagi ini," sesal Pangeran Kecoa.

"Tidak mengapa tuanku, yang penting Anda sekarang selamat," jawab Tuan Cacing.

Pangeran Kecoa benar-benar menyesali perbuatannya. Sambil di saat yang bersamaan, Pangeran Kecoa mencium bau busuk. Ternyata aroma tak sedap itu keluar dari tubuhnya. Dan terus menerus tanpa henti.

Ia benar-benar malu melihat dirinya sendiri. Sepertinya inilah hukuman dari Tuhan atas kesombongan dan keangkuhannya selama ini.

Karena itu, ia pun pergi mengasingkan diri. Menyendiri tanpa seorang pun menemani. Pangeran yang dulu tinggal di istana megah, kini harus berdiam di kegelapan, di balik batu dan dedaunan yang mengering. Ia tak pernah lagi menampakkan dirinya, malu akan dirinya sendiri.

Rasa malu itu ia bawa sampai ke keturunannya. Karenanya kita sering melihat para kecoa lebih senang tinggal jauh di kegelapan. Mungkin ia masih menyimpan malu atas aib yang menimpa leluhurnya.

TAMAT

***

Nah, begitulah kisah Kecoa Yang Sombong. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua ya Panda. Oya, jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan update-update terbaru dari blog ini. Mampir juga di Instagram untuk konten-konten yang nggak kalah asiknya ya.


Share: