Aug 16, 2018

Pelajaran Dalam Memulai Bisnis



Belum lama ini saya dan istri, memulai bisnis kecil-kecilan di bidang minuman. Di pengalaman perdana berbisnis ini, ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan terkait bisnis.

Mulai dari yang disukai
Salah satu nasehat yang pernah saya dengar tentang memulai bisnis adalah, mulailah dari hal-hal yang kita sukai. 

Walaupun begitu, saya masih saja sulit menemukan sesuatu yang saya sukai dan bisa dibisniskan. Entah saya yang keruwetan orangnya atau gimana. Singkat cerita, saya nggak mulai-mulai.

Sampai di suatu sore, saya menyadari kalau saya punya sebuah kebiasaan njajan minuman-minuman kopi botolan. Saya hobi dan freak banget ngopi, sampai-sampai saya kebal sama efek meleknya kopi. Masio ngopi berapa banyak pun, kalau ngantuk ya bobok. 

Terus, saya rembugan sama istri (saya, bukan istri tetangga)...gimana ya kalau kita jualan minuman-minuman seperti ini.

Singkat cerita, kami mulai cari-cari informasi dan referensi supplier. Dan kami pun mulai menjalankan bisnis minuman ini dengan pangsa pasar teman kantor dan pengunjung car free day.

Saya nggak jago ngitung, karenanya Allah ngasih saya pasangan yang doyan ngitung. Dan setelah dihitung-hitung, ternyata kita dapat untung, Alhamdulillah.

Mulainya kecil dulu
Seorang tabib tersohor bernama Madam Erot pernah berkata, "Semua yang besar, awalnya kecil"

Demikian pula dalam berbisnis. Ternyata untuk memulai, kita cukup berangkat dari yang kecil-kecil dulu. Skala produksi kecil, pasar kecil, volume kecil.

Yang penting jalan dulu.

Mulai....aja
Saya pernah baca sebuah kutipan yang ditulis di foto seorang almarhum pengusaha terkenal Indonesia yang terkenal dengan gayanya yang nyentrik, menggunakan kemeja lengan pendek dan hot pants. 

Tulisannya begini, "Bisnis yang bagus adalah yang dijalankan, bukan ditanyain mulu."

Ya itulah yang kami lakukan. Kami memulai. Takut, khawatir nama baik tercoreng juga ada (dikatain bakul, sales, dll). Tapi setelah dilakukan ternyata semua ketakutan dan kekhawatiran benar-benar terjadi. 

Saya dikatain bakul sama teman-teman saya. 

Malu awalnya, tapi saya kuat-kuatin nahan malu. Katanya, kalau ada yang ngetawain kita, maka kita harus ketawa lebih keras (jangan tanya kata siapa). Jadi, berhubung saya nggak bisa merubah realita seperti Thanos dengan Reality Stone-nya, maka saya berusaha merubah persepsi saya tentang identitas seorang bakul.

Alih-alih menolak sebutan itu, saya memilih untuk menerima dan menyandang gelar tersebut dengan penuh kebanggaan (lah kate lapo maneh).

Jadilah saya dengan identitas baru saya sebagai bakul.

produk dagangan

Buat kamu yang sekarang lagi galau mau mulai bisnis, saya nggak punya saran apapun buat kamu. Cuman ngingetin aja, bisnis adalah aktivitas menolong orang yang dibayar.

Jadi, coba jawab dengan jujur. Apakah bisnis yang akan kamu mulai ini nolongin atau nyusahin orang.

Share:

2 comments:

  1. keren idenya, bisa jadi inspirasi untuk memulai bisnis dari yang DISUKAI... klo gak suka nantinya bakal bosan juga ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang simpel2 aja, yang sekiranya kita sendiri juga doyan or suka konsumsinya

      Delete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.