Aug 1, 2018

Cara Mudah Mengajarkan Dan Melestarikan Kebohongan


Pernah denger istilah 'white lies' alias kebohongan putih?

Awalnya saya kira White Lies adalah nama band rock lawas berlogo kepala singa. Ternyata bukan. Bahkan lies yang memiliki makna 'bohong' ini pun, saya kira artinya berbaring. Jadi saya salahnya dobel.

Tapi bohong 😁

Nggak lah, saya udah tahu dari awal kalau white lies itu artinya apaan. Itu kan kebohongan yang 'katanya' demi kebaikan, dan seiring berjalannya waktu jadi rancu, kebaikan siapa yang dimaksud

Sama halnya seperti yang saya lakukan barusan dengan pura-pura nggak tahu apa itu white lies.

Saya melakukan white lies, bohong demi kebaikan....nya saya sendiri. Supaya saya punya bahan buat opening tulisan ini.

Sebagai orang tua, saya berusaha menjaga sebisa saya untuk tidak berbohong kepada anak saya (ya iya lah, masa anak tetangga). Saya dan istri sepakat untuk benar-benar menjaga itu. Kami menolak untuk berkata, "Habiskan makanmu, kalau enggak nanti ditangkap polisi!" atau "Jangan ke situ, ada hantu." 

Alasannya simpel aja, saya nggak suka dibohongi, dan nggak berencana untuk membesarkan seorang pembohong. Pun demikian dengan istri saya.

Walaupun begitu, saya punya tips buat kamu yang berbeda pandangan dengan kami. Mungkin buat kamu, bohong itu nggak apa-apa. Nah, kamu bisa gunakan cara ini untuk mengajarkan dan bahkan melestarikan budaya bohong di keluargamu.

1. Berikan Contoh
Anak adalah seorang peniru ulung. Ia memiliki kemampuan untuk mempelajari dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, dengan cepat. 

Jadi, kalau kamu mau mendidik dan membesarkan seorang pembohong ulung, berikanlah contohnya.

Mulai dari hal simpel seperti mengajarkan mereka bilang, "Kalau ada yang cari Papa, bilang lagi pergi," padahal si Papa lagi ngorok di kamar. Atau membantu mereka memalsukan usia biar bisa dapat SIM. 

Niscaya, anak akan dengan cepat menginternalisasi perilaku-perilaku tersebut. Dan tanpa kita sadari, ia akan menjadi lebih ahli daripada kamu yang ngajarin.

2. Hukum Ketika Mereka Jujur
Pernah ngalamin nggak, ketika si anak melakukan kesalahan. Lalu dia menceritakan kronologisnya, alasannya, dan bahkan mengakui kesalahannya. Dan apa yang terjadi kemudian? Kita sebagai orang tua, 'menghabisi' keberanian mereka untuk bertanggung jawab, memarahi dan mencaci maki 'kebodohan' mereka.

Lain hari, mereka belajar dari kesalahannya. Sebelum melakukan sesuatu, mereka bertanya kepada papa mamanya. Apa yang terjadi? Si papa mama nggoblok-goblokkin mereka. Katanya, "Gitu aja pake nanya!"

Guess what'll happen next. Daripada ngaku, mending bohong aja. Lah, jujur malah kaya ulo marani gepuk...kan mending bohong wae toh. Slamet.


*****

Jadi gimana? Cukup mudah sebenarnya kan? Mau coba?