Aug 4, 2018

Daily 300



Menulis itu seperti halnya otot. Kalau nggak pernah dipakai ya lama-lama kendor, alias nglewer. 

Saya yakin kita sudah nggak asing dengan nama Christiano Ronaldo. Pemain sepak bola asal Portugal yang baru-baru ini bergabung dengan klub idola saya, Juventus.

Saya pernah membaca di sebuah situs (lupa dari mana sumbernya). 

Cerita ini terjadi semasa Ronaldo masih bermain di Real Madrid. Ada salah seorang pemain baru (saya pun lupa namanya), yang katanya datang ke tempat latihan pagi-pagi. Mungkin karena orang baru, jadi masih rajin-rajinnya.

Nah, sesampainya di sana, si pemain ini terkejut mendapati Ronaldo tengah berlatih di lapangan.

Membaca cerita ini, saya appreciate sekali dan bahkan semakin mengidolakan sosok Ronaldo. Ketenaran dan kesuksesan yang dia peroleh tak membuatnya lupa hal mendasar dari sebuah olahraga, berlatih.

Mungkin karena itulah, ia dipercaya menyandang ban kapten di tim nasional Portugal. Benar-benar sosok panutan.

Kembali lagi tentang menulis.

Saya belum pernah melihat orang menulis tanpa menggerakkan otot jarinya. Artinya menulis pun sama seperti olah raga. Perlu menggunakan otot. Semakin sering otot-otot itu digunakan, semakin baik.

Karena otot juga bisa menyimpan memori (bukan tentang mantan) dari apa yang biasa ia lakukan. Semakin sering, semakin membiasa, dan lama-lama menjadi semacam program bawah sadar.

Karenanya jangan heran, kalau pemain sepak bola seperti Ronaldo memiliki pergerakan yang 'kayanya' nggak pakai mikir. Luwes dan natural banget. Meliuk-liuk melewati hadangan pemain lawan sambil menggiring bola tanpa terus-terusan mantengin bolanya lagi di mana. Sedangkan kita, yang masih belajaran, boro-boro liak-liuk. Lari setengah meter aja ngos-ngosan. 😅

Karenanya, latihan itu penting. Practice make perfect, latihan membuat sempurna. Bukan dalam arti sempurna tanpa cela, melainkan sempurna karena sering diulang-ulang. 

Pun demikian dengan menulis. 

Dulu saya pernah bergabung dengan komunitas One Day One Post (ODOP) dan 'memaksa' diri untuk nulis dan posting tiap hari. ODOP adalah satu cara untuk melatih otot-otot nulis kita.

Semenjak saya libur ODOP, saya pun berasa nulis jadi kaku dan berat. Nggak lagi ngalir seperti dulu. 

Jadi, dengan mengusung konsep ODOP saya mencoba melatih otot-otot nulis saya dengan memposting tiap hari.

Satu hal yang saya belajar ketika saya gagal menyelesaikan tantangan ODOP  dulu adalah, karena saya terlalu perfeksionis dan kebanyakan aturan.

Nulis itu harus begini dan begitu. Harus ada kopinya, ada jajannya, di tempat yang sunyi senyap melebihi kuburan. 

Alhasil, nggak nulis dan nggak posting. Hutang tulisan numpuk. Yang ada malah uber-uberan bayar hutang, bukannya mikir mau nulis apa. 

Jatuh sekali wajar, jatuh dua kali di lubang yang sama, dengan gaya yang itu-itu aja, kurang bijak.

Jadi, kali ini saya nggak mau terlalu banyak aturan ini dan itu. Walaupun tetep perlu ada pagar biar nggak kebabalasan. Paling nggak, aturannya cuman ini aja,

Aturan Main
• Panjang tulisan min 300 kata
• Nggak harus pakai ilustrasi
• Nulis dan posting tiap hari

Make it simple aja lah. Hidup udah ruwet, nggak perlu ditambahi dengan keruwetan nulis harus bagus dan indah. Namanya juga latihan. 😊

Kalau berminat boleh ikutan. Tapi perlu saya ingatkan, nulis dan posting tiap hari itu simpel tapi nggak gampang. 

Ini bukan tantangan, tapi latihan. Jangan dijadikan beban yang berlebihan. Yang penting dilakukan.

Enjoy!
Share: