Sep 23, 2018

Apa Misimu?


Masih teringat jelas di kepala saya sebuah kejadian mengenaskan beberapa hari lalu. Ceritanya, waktu itu saya, sepulang kerja, memacu Honda Beat saya dengan cukup kencang, karena saya harus belanja beberapa bahan untuk bisnis saya.

Saya memang waktu itu sedang cepet-cepetan. Kebetulan di kantor, load kerja lagi gila-gilaan yang membuat saya pulang telat. Kalau nggak buruan, nanti mempersiapkan dagangan bakalan malam banget, dan itu nggak bijak. Plus, semakin tipis pula waktu menemani Fabio bermain.

Saya mampir ke beberapa mini market sepanjang perjalanan pulang untuk mencari bahan yang saya perlukan. Namun, entah kenapa hari itu bahan tersebut menjadi sebuah bahan yang langka.

Akhirnya saya mendarat di salah satu gerai Indomaret dekat Taman Dayu, Pandaan. Saya berharap-harap cemas, moga-moga bahan yang saya perlukan ada di situ. Sayangnya, nasib baik belum berpihak kepada saya. Alhasil, saya harus pulang dengan tangan kosong nih, pikir saya.
.
Lalu, saya teringat Alfamidi di dekat Masjid Cheng Ho Pandaan. Biasanya saya dan istri belanja bahan-bahan di situ waktu sedang ada promo.

Tanpa pikir panjang, saya pacu Honda Beat saya. Putar balik ke arah Masjid Cheng Ho.

Dekat perempatan tol, saya sudah ancang-ancang untuk belok kiri menuju Masjid Cheng Ho. Di depan saya, sebuah mobil sedan putih (lupa merknya) melaju. Saya juga sempat melihat pengendara motor di depan sedan itu.


Dan, di situlah tragedi itu terjadi.
Entah bagaimana, sedan putih itu menabrak pengendara motor hingga terjatuh.

Jerit histeris pecah dari seorang wanita yang dibonceng oleh si pengendara motor yang entah seperti apa kondisi pastinya, tersungkur di aspal dan tidak bergerak sama sekali lagi.

Sontak, para pengamen jalanan di ujung jalan berhamburan menggotong badan pria yang masih diam tak bergerak itu. Dari belakang, wanita itu terus berteriak histeris, meraung-raung penuh kepedihan.

Melihat ekspresi wanita itu, pikiran saya mulai menerka-nerka kemungkinan terburuk yang terjadi. Apalagi dengan kondisi pria itu yang tetap diam tak bergerak, di tengah hiruk-pikuk orang-orang di sekitarnya.

Merasa tak banyak yang bisa saya perbuat, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi kecelakaan itu.

Entah kenapa, setelah kejadian tersebut saya tak lagi mampu memacu Honda Beat saya melebihi angka 40 km/jam. Padahal sebelumnya, saya dengan gagah berani berjalan dua kali lebih cepat.

Saya merasakan sendi-sendi di kaki saya gemetaran. Jantung berdebar-debar, dan paranoid ketika melihat titik-titik perlintasan seperti pertigaan, perempatan, dan putar balik.

Setelah sampai di Alfamidi dan mendapatkan bahan yang saya cari. Saya mengabarkan apa yang baru saja terjadi, dan imbasnya terhadap kaki-kaki saya. Saya merasa perlu menenangkan diri dulu, karena masih perlu menempuh perjalanan lagi sebelum sampai di rumah.


Shock Terapy
Sejenak beristirahat di bangku-bangku di depan Alfamidi, saya berpikir, apakah ini cara Tuhan mengingatkan saya?

Saya yang sebelumnya penuh percaya diri merangsek bak Valentino Rossi, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang tak berdaya.

Peristiwa naas tadi benar-benar seperti shock terapy buat saya. I was literally shocked.




Sebuah Pelajaran
Setiap orang lahir ke dunia dengan mengemban peran dan misi masing-masing dari Tuhan. Ada yang diserahi kekayaan berlimpah dengan misi menyejahterakan saudara-saudaranya yang kekurangan. Ada pula yang dimiskinkan materi tapi kaya hati, sehingga saat mereka sukses kelak, menjadi pelajaran bagi manusia lainnya untuk bekerja keras dan pantang menyerah.

Pun mungkin demikian dengan pria tadi. Mungkin salah satu misinya adalah sebagai pelajaran bagi orang-orang di sekitar lokasi kecelakaan, yang seperti saya, memacu kendaraan tanpa memikirkan resikonya.

Kebetulan momennya pas dengan hari-hari di kantor yang lagi hectic tingkat tinggi. Yang dengan sukses membuat saya frustasi menjelang depresi.

Lalu saya berpikir, mungkin apa yang saya alami mungkin adalah salah satu misi dari Tuhan. Tuhan 'menjerembabkan' saya di situasi ini, karena mungkin Ia tahu saya mampu mengatasi semua ini. Lebih-lebih, mungkin juga, saya sedang dijadikan contoh pembelajaran buat orang lain, yang kurang hati-hati dan presisi dalam bekerja.

Mungkin. Toh, kita tak pernah tahu apa rencana Tuhan.


Bagikan:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.