Sep 17, 2018

Ketika Hidup Terasa Berat

Tahun lalu, dunia digemparkan oleh berita kematian Chester Bennington, vokalis band rock asal Amrik, Linkin Park. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Kabarnya, keputusannya itu dipicu oleh depresi tingkat tinggi yang ia alami. Entah ada hubungannya atau tidak, 2 bulan sebelumnya, sahabat karib Chester, Chris Cornell juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama. Depresi juga ditengarai sebagai biang keladi kematian Chris.

Saya bukan fans fanatik Linkin Park, tapi kematian seorang Chester ini membawa saya ke beberapa tahun lalu. Kembali ke masa-masa suram di mana mengakhiri hidup rasanya seperti satu-satunya solusi yang ada.

Sayangnya, saya belum memiliki nyali sebesar Chris maupun Chester.

Back to the future
Sejenak mengenang kembali masa-masa tersebut, saya cukup bersyukur tak senekat itu dulu. Kalau tidak, mungkin saya tak kan pernah merasakan dinamika menjadi seorang suami, ayah, dan rekan kerja di kehidupan saat ini.

Memang, ada kalanya ketika kehidupan terasa begitu berat, sejenak terlintas kembali solusi masa lalu itu. Namun, ada satu hal yang jadi pertimbangan saya sebelum 'bertindak' :  hidup itu berat, sayangnya ada kehidupan setelah hidup

Poinnya adalah hidup memang tak mudah. Namun, mati pun juga tak lebih menyenangkan. Karena kematian hanyalah sebuah gerbang menuju kehidupan lain. Hidup yang abadi.

Kabarnya, hidup yang abadi ini tidak lebih friendly dibanding hidup saat ini. Apalagi untuk orang-orang yang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri.

Bagikan:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.