Sep 30, 2018

Pertimbangan-Pertimbangan Sebelum Beli Apapun, Sebuah Pengalaman Pindah Kontrakan


Hidup sebagai kontraktor, ngontrak sana, ngontrak sini memang memiliki tantangan tersendiri.

Ini adalah cerita saya dan keluarga ketika kami pindah dari rumah kontrak. Rumah yang sudah kami huni selama kurang lebih empat tahun itu terpaksa harus kami tinggalkan karena beberapa hal. Pertama dari sisi kelayakan rumah, kemudian dari segi biaya yang membumbung tinggi (terlebih bila dibandingkan dengan kondisi rumah saat itu).

Setelah berbagai pertimbangan dan negosiasi alot dengan si pemilik rumah, kami sampai pada keputusan kalau telah tiba saatnya kami pergi.

Dan mulailah petualangan kami hunting sana sini, survey ke sana kemari, untuk menemukan hunian berikutnya. Standard kami sebenarnya cukup sederhana, yang penting rumahnya nyaman, aksesnya mudah, lingkungan aman, dan tentunya ramah di kantong.

Singkat cerita, kami berhasil mendapat kata sepakat untuk sebuah hunian yang berlokasi tak jauh dari Taman Dayu Pandaan.


WAKTUNYA PINDAHAN
Setelah sukses meminang rumah tersebut, maka langkah berikutnya adalah memindahkan segala jenis perabotan dari rumah sebelumnya ke rumah yang baru ini.

Dan di sini, kami baru menyadari betapa banyak barang-barang yang kami punya. Bahkan ada beberapa yang kami sendiri nggak ingat pernah punya. 😥

Mengingat ukuran kontrakan baru kami tak selapang kontrakan yang sekarang, rasanya kok kurang bijak kalau semuanya diboyong. Wis jelas nggak mungkin.


MENGELOLA KELEBIHAN BARANG
Saya dan istri kemudian sepakat untuk melakukan 3 hal terhadap barang-barang kami yang banyaknya minta ampun ini. Saya menyebutnya 3D (sebuah singkatan yang dipaksakan dan dipas-paskan) yaitu, dijual, disumbangkan, dan dibuang.

Maksa banget kan singkatannya 😄

1. Dijual
Barang-barang baru yang nggak pernah kami pakai hasil beli tapi nggak bisa dipakai lagi seperti kemeja lengan pendek istri saya (karena sekarang ia berhijab) atau pemberian dari kolega bisnis yang nggak pernah digunakan (misal parfum, padahal nggak ada yang doyan pakai parfum), tetapi masih memiliki nilai ekonomis, kami jual. Sepatu-sepatu koleksi hasil pemberian perusahaan setiap tahun pun masuk ke dalam daftar jual.

Mulai media online maupun offline, yang penting barang-barang tersebut 'bergerak'.

Hasil penjualan barang-barang itu kami gunakan untuk (1) ongkos pindahan, (2) tambahan untuk ganti barang yang lebih berkualitas, dan (3) nambah tabungan.

2. Disumbangkan
Barang-barang yang masuk kategori donasi adalah barang yang masih layak pakai tapi dijual nggak laku. Jadi daripada darah tinggi gegara calon pembeli menawar dengan sesadis-sadisnya, ya sudah disumbangkan saja.

Harapannya, barang-barang tersebut bisa lebih bermanfaat dan bernilai buat orang lain. Selain tentunya, mengurangi timbunan barang di rumah sih.

3. Dibuang
Nah, untuk yang kategori ketiga ini saya sendiri merasakan sulitnya memilah milah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Beberapa hal yang secara esensi nggak diperlukan, tapi memiliki nilai emosional. Istilahnya sih sentimental items.

Berat sekali untuk bisa tegas pada diri sendiri dan berkata tidak, saya nggak perlu ini.

Lalu, saya mencoba menganalisa (okay, nggak gitu-gitu juga sih ), kapan terakhir saya menggunakan barang tersebut, kapan saya mau menggunakannya lagi, dan berapa kali sebulan saya mau menggunakannya. Kalau frekuensi pemakaiannya rendah, bisa jadi saya memang nggak perlu punya barang tersebut. Sederhananya sih begitu, walaupun prakteknya...ya, perlu sedikit perjuangan.

Lalu, dari segi fungsi. Ada kalanya barang-barang yang saya pikir perlu, sebenarnya nggak ada pun nggak apa-apa.

Contohnya dalam kasus saya, amplop atau sampul ijazah. Ijazah-ijazah sekolah dan kuliah biasanya sepaket dengan cover-nya. Tujuannya untuk melindungi ijazah iti sendiri dan mempercantik. Namun, perlu space lebih kalau saya harus menyimpan ijazah beserta album/sampulnya. Masalahnya, tidak ada space lebih.

Jadi saya membuang cover itu, saya gabungkan semua ijazah ke dalam satu amplop. Less space more values.


PELAJARANNYA
Pengalaman pindahan ini menyisakan beberapa pelajaran bagi saya dan istri saya. Terutama dalam hal kepemilikan barang-barang.

Quality Over Quantity
Punya banyak dengan kualitas seadanya nggak lebih baik daripada punya sedikit tapi berkualitas. Selain lebih awet, barang-barang berkualitas baik juga memiliki nilai jual yang lumayan membantu neraca keuangan kami.

Setidaknya untuk disumbangkan pun masih cukup layak lah.

One In One Out
Supaya mencegah timbunan barang-barang di lemari baju, garasi, dan sudut rumah lainnya, saya dan istri sama-sama sepakat, lain kali kalau mau beli sesuatu (misal baju baru, celana baru) artinya harus ada barang lama yang keluar.

Tidak ada cukup ruang untuk semua barang dan kebetulan kami tidak berniat memfungsikan rumah kami sebagai gudang.

Apa Perlu?
Karena kami paham betul ukuran rumah kontrakan kami yang baru, maka setiap hendak membawa pulang barang dari toko, kami selalu menanyakan satu pertanyaan sederhana, apa perlu?

Apa perlunya barang yang mau dibeli itu? Apakah sebagai pengganti? Apakah untuk memudahkan sebuah aktivitas? Kalau kita nggak beli, resikonya apa? Nggak kebagian diskon saja, atau ada lainnya yang lebih krusial.

Memang jadi sering ngempet kalau jalan-jalan dan pas ngelihat sesuatu yang kita suka. Nggak dibeli kok ya lagi diskon, dibeli tapi ya nggak perlu-perlu banget. But in the end, it's worth for.
Bagikan:

9 comments:

  1. Membuang yg Tak terpakai butuh perjuangan. Baru semalam saya juga beberes Laci pakaian dalam. Saya kuras Abis Dan hanya menyisakan yg bakal dipakai saja. Sulit tapi harus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, selalu ada pemikiran dibuang sayang...akhirnya ga kerasa numpuk nggak karuan.

      Trying to let go is indeed not easy.

      Delete
  2. Kalo di Jepang istilahnya itu SEIRI dan salah satu hal yang paling sulit memilah barang yang masih digunakan dan yang oerlu dibuang. Sikap saya itu pasti bilang ihhh sayaang jangan dibuang padahal gak dipake pake hehehe. Dan upayakan selalu untuk menaruh barang kembali ke tempat semula supaya mudah dicari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seiri ini 5S ya?

      Hehe...iya emang gampang-gampang susah sih buat let it go. Dibuang sayang, nggak dibuang mangkrak.

      Delete
  3. Wah, benar juga ya, setiap ada barang yang dibeli, harus ada yang dikeluarkan. Itu berlaku untuk lemari baju saya yang kecil, isi dalamnya sudah meledak. Padahal ada baju-baju yang masih layak pakai, tapi tidak cocok lagi buat saya. Apa salahnya dijual kan? Terima kasih atas arannya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena rumah kita bukan gudang ya bun 🖒

      Delete
  4. ia mending barang2 yang gk kepakai di sumbangkan atau di kasih ke tukang loakan..jadi lebih bermanfaat dari pada numpuk di rumah di gudang..

    ReplyDelete
  5. Jangan membeli barang yang memang belum mendesak kebutuhannya. Kalaupun beli barang yang sudah tidak terpakai bisa dikasihkan ke orang lain.

    ReplyDelete
  6. membuang itu cukup bikin bingung lho mas. Membuang bukan berarti juga sih ga butuh. Meskipun frekuensi penggunaannya jarang, tapi kalau lagi butuh bisa jadi butuh banget dan memaksa beli

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.