Oct 27, 2018

Berhenti Mengejar Mimpi


Beberapa minggu ini, terbersit pikiran membuat blog baru. Blog tentang passion saya, menulis.

Saya membayangkan lewat blog ini, saya berbagi pengalaman dan juga pandangan terkait dunia tulis-menulis. Kemudian, dapat bermanfaat bagi orang-orang dengan passion yang sama, menulis.

Beberapa perencanaan sudah saya buat, mulai desain, format konten, sampai nama blog.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kesibukan di pekerjaan semakin bertambah. Selain itu, ART yang pamit pulang membuat saya dan istri sibuk dengan tugas-tugas rumah tangga.

Alhasil, saya tak sempat meluangkan waktu, bahkan, sekedar membuat halaman About Me pun tak sempat.

Sempat merasa gelisah, saya berusaha mencari-curi waktu untuk mulai 'blog impian' saya. Namun, ternyata semakin sulit untuk membagi waktu dan konsentrasi antara ngeblog, aktivitas di kantor, dan kerjaan rumah.

Alhasil, saya memutuskan menunda dulu me-running blog impian ini.

Pelajarannya : Tak Semua Impian Perlu Diwujudkan

Saya berharap ketika blog impian saya bisa terwujud, saya bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Berbagi pengalaman, pengetahuan, maupun cara pandang baru terhadap dunia tulis-menulis ini. Menginspirasi atau sekedar menjadi pengingat hal-hal dasar dalam menulis.

Kedengarannya seperti cita-cita mulia ya?

Cita-citanya memang mulia, tetapi saya jadi mempertanyakan diri saya kembali. Kenapa kok saya mau melakukan itu? Demi siapa? Apakah niat saya memang membantu, atau jangan-jangan saya sedang menipu diri sendiri. 

Sok-sokan mau 'menebar manfaat' padahal yang dicari adalah popularitas di dunia maya.

Sebagai blogger, adalah hal yang menyenangkan bukan bila banyak orang mengunjungi blog kita, meninggalkan komentar-komentar positif, bahkan terinspirasi untuk mencoba sesuatu yang baru setelah membaca tulisan kita.

Lebih-lebih, saat apa yang kita tuliskan di-share ke mana-mana sehingga semakin banyak orang yang terbantu.

Tempting isn't it? Benar-benar menggoda, apalagi buat saya. 

Namun, seiring berjalannya waktu, ketika intensitas ngeblog semakin bertambah, tanpa saya sadari, pelan-pelan saya mulai kehilangan kontak dengan realita. Fokus saya terlalu berat ke blog, menyenangkan orang di luar sana, dan melupakan orang-orang di sekitar saya. 

Istri dan anak, rekan kerja. Orang-orang yang secara fisik beneran ada. I can see and touch them.

This is not good. 

Karenanya, sebelum saya terperosok lebih jauh, saya mengambil langkah yang sangat tidak menyenangkan (buat saya) sehubungan dengan blog impian ini. I cancel it.

Nggak semua mimpi perlu diwujudkan. Apalagi ketika apa yang akan kita dapatkan tak sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan.

Niat baik saja (ternyata) tidak cukup. Ada kalanya kita perlu kembali mempertanyakan, menantang, diri sendiri untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana : ngapain?

Fitrahnya, ada harga yang harus dibayar untuk mewujudkan impian. Pastikan harga itu sepadan dengan hasilnya. 

Jangan mau kemahalan.

Bagikan:

1 comment:

  1. Saya juga punya pengalaman yang sama. Ingin bikin blog ini-itu. Ada yang sudah dibuat namun sekarang terlantar. Ada yang semangat di awal, akhirnya tidak terwujud. Akhirnya kembali lagi fokus pada blog personal yang sudah ada

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.