Dec 26, 2018

Movie Think : Door To Door


Beberapa hari yang lalu, waktu saya lagi browsing-browsing Youtube. Tak sengaja saya menemukan sebuah film lawas berjudul Door To Door. Dilihat dari durasinya, sepertinya full version nih. Namun, berhubung ketika itu paket data lagi seret, saya save dulu saja url-nya.

Akhirnya, setelah isi ulang paket data Telkomsel favorit saya, paket 75 ribu sudah dapat 15 GB kuota internet (semua jaringan), gratis telepon ke sesama Tsel, dan 100 menit telepon ke non-Tsel. Saya pun mengajak istri saya nobar.

Kebetulan film ini adalah film favorit saya semasa kuliah dulu. Ya, semacam nostalgia gitu lah.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang perjuangan seorang salesman bernama Bill Porter, seorang sales door to door yang memiliki cerebal palsy.

Secara fisik, kondisi Bill Porter tidak memungkinkan menjadi seorang salesman. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya berjalan 10 - 20 mil per hari, belum lagi terkadang ia harus membawa tas besar berisi barang-barang atau pun sampel produk. Karena itulah, Chuck, manager penjualan Watkins Inc ragu saat Bill muda datang ke ruangannya, melamar sebagai seorang salesman door to door.

Bill pun mendapat penolakan pertamanya dari Chuck. Namun, tak ingin mengecewakan sang ibu yang percaya penuh padanya, ia kembali menemui Chuck dan memintanya untuk menempatkannya di rute terburuk yang ia punya. Ia bahkan meyakinkan kalau Chuck tidak akan rugi apapun.

Singkat cerita, Bill pun mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ia pun mulai menjalankan tugasnya mengetuk pintu demi pintu, meminta waktu para calon customer agar ia bisa menjelaskan lebih banyak tentang produk-produk unggulan Watkins Inc.

Namun, menjual ternyata penuh tantangan. Setelah penolakan demi penolakan, ia sampai ke rumah Ny. Sullivan, janda yang tinggal sendiri di sebuah apartemen.

Setelah bercerita tentang kelebihan produk-produk Watkins, dengan ragu Bill mencoba melakukan closing. Di luar dugaan, Ny. Sullivan mau membeli dari Bill Porter. Bahkan, ia membeli lebih banyak dari yang Bill tawarkan.

Malamnya, ia mentraktir ibunya makan di luar.

Kisah sedih terjadi ketika ibu Bill Porter meninggal dunia. Dunia Bill terasa hancur, tetapi di satu sisi ia harus tetap menjalankan tugasnya, menjual.

Dua hal yang selalu ditanamkan sang ibu kepada Bill Porter: kesabaran dan kegigihan, benar-benar menjadi pegangan Bill dalam bekerja. Dan, akhirnya mengantarkannya menjadi Salesman of The Year.

Seiring berjalannya waktu, dengan berkembangnya teknologi internet. Perlahan, peran salesman door to door mulai tergantikan oleh para telemarketing. Rekan-rekan Bill pun yang dahulu sama-sama berada dalam satu divisi, door to door, beralih menjadi telemarketer.

Merasa tak sanggup mengikuti perubahan teknologi membuat Bill dilematis. Ia mencintai pekerjaannya, ia senang menjual. Namun, perubahan ini di luar jangkauannya. Haruskah ia pensiun dan berhenti menjual?

*****

Awalnya saya mengajak istri saya menonton film ini sebatas nostalgia karena saya suka sekali film ini. Tak disangka, ternyata istri saya melihat hal lain dari film ini, tentang melakukan pekerjaan dengan penuh kecintaan. Bukan semata mengejar uangnya.

Well, good for her.

Alur film ini cukup sederhana. Lumayan lah buat ngisi waktu luang kalau kamu lagi males liat film-film yang memaksamu untuk mikir.

Mau lihat film ini? Langsung saja klik di sini.

Bagikan:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.