Dec 31, 2018

Memberi Mainan Itu Mudah


Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh keceriaan dan kegembiraan. Dengan caranya sendiri, mereka mampu menciptakan kebahagiaan dengan dunia mereka. Imajinasi dan fantasi yang sangat hidup, jauh berbeda dengan kebanyakan orang dewasa. Boro-boro mau bahagia, lihat tagihan aja udah migrain.

Tapi ya begitulah anak-anak. Mereka senang sekali bermain dengan apapun yang ada di sekitar mereka.

Melihat keasyikan mereka bermain, kadang kita sebagai orang tua ingin mendukung dan menambah keseruan aktivitas mereka. Salah satu cara yang paling umum adalah, memberikan mainan.

Namun, pernah nggak kita sebagai orang tua memikirkan tentang mainan-mainan yang kita berikan kepada si buah hati? Bukan soal niat ya, karena pasti niatnya sama, menyenangkan membahagiakan anak.

Buat saya pribadi, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan saya dan istri dalam memilihkan mainan untuk kami berikan pada putra kami.

 1. Jenis mainan
Buat si kecil, apapun yang berlabel mainan itu pasti menyenangkan. Namun, tidak demikian halnya bagi si orang tua.

Tentunya, kita para orang tua ingin membahagiakan anak dengan memberi mainan. Namun, tentunya kita wajib bijaksana dalam memilih mainan yang akan kita berikan. Bagaimana dampak terhadap tumbuh kembang mereka? Alias, jangka panjang bagaimana.

Kami sendiri, bukan tipe pemberi-gadget-pada-anak. Karenanya, tidak ada satu pun game yang terinstal di handphone saya dan istri saya.

Bukan apa-apa, kami cuma agak miris saja melihat anak kecil jalan-jalan ke mall bareng orang tuanya sambil mata mereka terus memandangi layar handphone. Makan bareng di resto mahal, semua sibuk dengan gadget masing-masing. Kalau buat mereka it's okay ya nggak apa-apa. Cuma, untuk kami berdua, hmm...nggak deh.

2. Budget
Walaupun nggak semua mainan itu harus beli, tapi sayangnya tetap ada beberapa mainan tertentu yang hanya bisa didapat dengan merogoh kocek.

Kami berdua tak segan mengatakan kepada putra kami bahwa, mainan yang ia minta terlalu mahal. Atau, kami tidak punya budget untuk itu.

Mahal dibandingkan dengan kondisi dompet maupun dengan kondisi barang tersebut.

3. Keawetan
Salah satu hal termiris menjadi orang tua adalah ketika melihat mainan yang baru saja dibeli sudah -tak berbentuk- rusak karena polah si kecil.

Mau dimaklumin itu ya gimana, lah belinya pake uang (walaupun nggak selalu cash), tapi kalau dimarahin itu ya, sebenarnya salah kami juga ngasih mainan kaya gitu.

Karenanya, kami selalu mikir-mikir kalau mau ngasih mainan lagi. Berkaca dari kecenderungan anak kami memainkan mainan-mainannya.

Kadang-kadang demi menjaga keawetan mendidik putra kami bertanggung jawab terhadap mainan-mainannya, kami jadi sedikit over protektif terhadap...mainan-mainannya.

Namun, memang lebih aman bila pada dasarnya mainan tersebut tahan banting (dalam artian sebenarnya). Sehingga kalau kami pas keluputan ngawasin, minimal aman lah.


Selain ketiga pertimbangan di atas, ada satu kekhawatiran saya saat memberikan mainan buat putra kami. Menurut saya, memberi mainan itu mudah. Tantangannya adalah, bisakah saya sebagai orang tua memberikan waktu, tenaga, dan perhatian penuh untuk menemaninya bermain.

Memberi mainan hendaknya juga sepaket dengan memberikan diri kita untuk bermain bersamanya. 

Kan, mainan itu bukan pengganti kita sebagai orang tua mereka toh.

Bagikan:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.