Dec 21, 2018

Simpellin


Hidup itu sederhana, bahagia itu sederhana, segala sesuatu tentang hidup dan kehidupan itu sederhana…katanya. Nyatanya, seringkali hidup nggak pernah sesederhana RM Sederhana.

Banyak kerumitan dan keruwetan yang entah dari mana datangnya membuat kesederhanaan berubah menjadi penderitaan.

Agak lebay memang.

Sebelum kita lanjutkan, saya mau tanya sesuatu : "Apa jadinya ketika dua kekuatan, kreativitas tanpa batas dan hasrat akan kesempurnaan, bergabung menjadi satu?"

Akankah keduanya mampu mencipta sebuah mahakarya yang mengubah dunia? Atau…tidak jadi apa-apa.

Gimana mau jadi, lah dikit-dikit kreatif, maju sekali moles 3x…sampai nggak ada yang tersisa lagi untuk dipoles.

Benar adanya kalau ada yang bilang, kelebihanmu bisa jadi kekuranganmu. Kalau tidak dikelola dan digunakan dengan bijak.

Banyak yang mengapresiasi saya atas ide-ide kreatif yang saya punya. Nggak sedikit pula yang mengagumi ketajaman saya terhadap hal-hal detil. Namun, sayangnya dua kelebihan yang saya miliki itu tak membuat saya serta merta bergerak lebih jauh dari orang-orang yang mengapresiasi dan mengagumi saya.

Saya lebih banyak duduk diam, mengukir, mempercantik, kemudian menghapus dan memulai dari awal lagi.

Pada akhirnya, di dunia yang haus akan hasil, saya seolah tidak berkontribusi apapun. Dan bukan salah mereka berpikiran demikian.

Result does matter. Hasil itu penting. Tentunya bukan semata tafsiran impulsif, berarti prosesnya ga penting?

Hasil yang saya maksud di sini tolong diterjemahkan secara komprehensif, utuh, dan dewasa.

Mengutip nasehat seorang kolega saya, lakukan sesuatu yang baik dengan baik. Artinya, ya kita fokusnya ke hasil, tapi jangan lupa kalau ada proses yang harus dilalui (kami menyebutnya sequence) secara berurutan agar hasil yang diperoleh bukan hanya baik untuk jangka pendek, tapi juga untuk jangka panjang.

Ibaratnya, kalau cuma mau lukisan nempel di dinding, nggak harus kok ngebor tembok, masang fisher, dimur, baru lukisannya digantungin (bukan hati ya). Pakai aja lakban, selesai sudah.

Tapi bagaimana dengan kualitasnya, ketahanannya. Sekarang nempel, besok gimana? Bulan depan? Lah kalau lepas pas anak-anak main di bawahnya gimana?

Jadi hasil itu penting, tapi bukan pokoke mari. Ya oke lah sekali dua kali kalau emergency. Tapi masa iya emergency tiap hari.

Lalu bagaimana memadupadankan antara kreativitas dan perfeksionisme ini? 

Sederhana, mulailah dari akhir. Kata paman saya di bukunya 7 Habits of Highly Effective People, kebiasaan orang-orang yang efektif adalah mereka selalu 'begin with the end in mind'.

Punyai dulu, yang mau saya buat ini nanti jadinya seperti apa ya? Requestnya tadi gimana ya? Mintanya jadi kapan ya?

Barulah kemudian, buat urutan kerja yang harus dilakukan lebih dulu yang mana.

Ibarat mau pergi dari Surabaya ke Solo. Endingnya memang nyampe Solo, tapi 'nyampe Solo' yang seperti apa sih yang dimau itu? 

Ini juga yang saya coba mulai terapkan dalam upaya menyederhanakan hidup saya. Mulai dari akhir.

Alih-alih menguras ide kreatif dalam mencipta, saya mencoba untuk menjawab dulu 2 pertanyaan berikut : Apa, dan Kapan.

Apa sih hasil akhir yang diminta. Requestnya apa sih? Kalau request nasi rawon, berarti yang harusnya tersaji adalah nasi rawon yang lengkap bukan?

Kapan rawon itu harus tersaji juga wajib saya tahu. Lah kalau mintanya masih tahun depan, disiapin sekarang lak ya keburu dingin rawonnya. Atau mintanya kemarin, dikasih barusan…ya siap-siap aja dimaki atau minimal dilempar sandal.

Memahami kedua hal ini cukup membantu saya untuk menyederhanakan keruwetan-keruwetan 'internal' saya. Walaupun masih belum bisa konsisten menahan nafsu berkreasi dan menjadi ruwet lagi. Namun, kalau sudah mentok kejedok tembok, saya kembali lagi melihat 2 pertanyaan ini.

Karena seringkali ketika kita (eh, saya) kalau sudah asyik mengerjakan sesuatu, mengkreasi sekeren mungkin, memoles secantik mungkin…suka lupa waktu. Kadang-kadang malah ngerjain yang nggak diminta.

Tapi itu saya sih. Kamu gimana?

Bagikan:

1 comment:

  1. Aku juga. Kalo udah asik gambar, misalnya disuruh menggambar tema tertentu... awalnya gambar sesuai tema tapi akhirnya malah jauh dari tema. Atau ketika disuruh membuat sebuah tulisan, yang awalnya menceritakan tentang liburan eh di akhir cerita malah jauh dari topik. Udah nulisnya panjang lebar... ngumpulin paling akhir, tapi tulisannya gak nyambung dengan apa yang diminta. Hah, masa-masa sekolah dulu. Aku sering dapat laporan "kurang fokus".

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.