Jan 31, 2019

Sederhana Tak Berarti Mudah


Masih ingat nggak, kisah tentang 3 babi kecil dan serigala jahat? Kalau lupa, yuk dibaca lagi kisahnya di sini.


Photo by Sander Wehkamp on Unsplash

Buat saya, dongeng tentang 3 babi kecil ini mengajarkan saya tentang arti sebenarnya dari sebuah kesederhanaan. Sederhana tidak selalu mudah.

Saya sering salah dalam membedakan mudah dan sederhana. Yang saya kira sederhana, ternyata hanya ‘cari mudahnya’. Nggak ada yang salah dengan mencari yang mudah dalam melakukan sesuatu. Sah-sah saja. Kan di dalam prinsip ekonomi, ada istilah, dengan usaha yang seminimal mungkin mendapatkan hasil semaksimal mungkin.

Sejauh yang saya pelajari, cara yang paling sederhana ternyata bukan yang termudah untuk dilakukan. Kadang-kadang justru malah yang paling berat.

Seperti halnya dengan kisah 3 babi kecil dan serigala.

Dua babi pertama membangun rumahnya dari jerami dan kayu. Bagi mereka itu adalah cara paling sederhana dalam membangun rumah. Nyatanya, yang sebenarnya terjadi adalah, kedua babi itu ‘hanya’ cari gampangnya saja. Mereka enggan untuk bekerja sedikit lebih keras untuk membangun rumah yang kuat.

Hasilnya bisa ditebak. Rumah mereka dengan mudahnya dirobohkan oleh sang serigala.

Lain halnya dengan apa yang dilakukan babi ketiga. Ia membangun rumahnya dari batu bata. Apakah mudah? Tentu tidak. Buktinya, rumah babi ketiga adalah yang terakhir selesai dibandingkan kedua babi lainnya. Selain waktu yang lebih lama, prosesnya pun juga lebih sulit.

Namun, semua itu terbayar ketika rumah yang ia bangun susah payah, mampu melindungi bukan hanya dirinya sendiri, melainkan kedua saudaranya dari serangan sang serigala.

Begitulah makna sebuah kesederhanaan. Babi ketiga ini tahu kalau esensi dari sebuah rumah adalah tempat berlindung. Karenanya, rumah haruslah kokoh dan kuat. Kalau tidak, rumah tidak akan mampu menjalankan fungsinya sebagai tempat perlindungan. Sesederhana itu.

Sederhana itu memahami esensi. Segala sesuatu yang kita lakukan (dan tidak lakukan) tentunya harus didasari pada pemahaman akan esensi dari aktivitas itu. Goal-nya melakukan sesuatu itu apa. Tujuannya apa?

Menyapu adalah sebuah aktivitas. Apa esensinya? Tentunya adalah rumah yang bersih. Pertanyaannya, kalau rumahnya setelah disapu ternyata nggak bersih, berarti nyapunya berhasil nggak? Udah pasti nggak kan.

Itulah sederhana. Sesederhana memaknai esensi dari setiap aktivitas. Bukan, yang penting sudah melakukan…tapi, bagaimana hasilnya.

Sederhana bukan?

Bagaimana dengan menulis atau ngeblog. Apa sih esensi nulis dan ngeblog buat kamu? Biar terkenal? Dapat uang? Traffic? Komentar? Atau…ada hal lain yang penting buatmu dan kebetulan, bisa dilakukan lewat nulis dan ngeblog. Walaupun, mungkin ada cara lain, selain ngeblog yang bisa kamu pilih untuk mencapai tujuan itu.

Ngeblog hanya sebuah cara, kendaraan, atau jalan. Untuk apa? Mari dijawab sendiri.


Bagikan:

1 comment:

  1. Terinspirasi sedehana dr crt babi... Sy ngeblog br sebts beljr aja..dr awal emg niat cm berbgi aja ttg keseharian... Suer. Ga lbh

    ReplyDelete

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.