Jan 10, 2019

Tema 2019 : Simplifikasi


Beberapa hari lalu istri saya santai bertanya, "Papa, apa resolusimu di tahun 2019?"

Spontan saya menjawab, "simpler life"

Hidup lebih simpel. Itu adalah tema yang saya pilih di tahun 2019. Kenapa begitu? Sederhananya begini, saya adalah orang yang sangat rumit, ruwet, dan njelimet. Hal-hal yang tampaknya sederhana, di tangan saya akan jadi luar biasa kompleka. Yang bisa selesai dalam 5 menit, saya buat jadi 15 menit. Bahkan lebih. Hasilnya...nggak lebih baik.

Apa pasal? Saya adalah orang yang dikaruniai kreativitas sedikit lebih banyak dibanding orang-orang di sekitar saya. Istri saya, maupun rekan kerja.

Saya suka mengkreasi sesuatu. Melakukan improvement agar sesuatu tampak lebih indah dan bagus.

Namun, seringkali apa yang saya kreasikan bukannya jadi lebih baik. Malah sebaliknya. Nggak selesai, atau lebih parah, nggak sesuai harapan dan kesepakatan.

2018 menjadi tahun yang cukup berat buat saya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan terutama dalam melakukan sesuatu yang sebut sebagai, simplifikasi diri. Seringkali lewat cara sulit dan menyakitkan.

Saya sadar kalau apa masih ada banyak PR buat saya dalam men-simplifikasi diri. Dan, perjalanan 2019 baru saja dimulai.

Tentunya tak elok bila bicara target maupun resolusi tanpa tahu, apa targetnya, seperti apa indikator keberhasilannya, dan kenapa hal itu perlu dilakukan.

Buat saya simplifikasi semacam be more with less.

Apa saja sih 'more'-nya?
1. Kuantitas
2. Kualitas
3. Kepuasan diri
4. Positive impact
5. Produktivitas
6. Dan lain-lain

Sedangkan 'less'-nya antara lain
1. Proses (jenis dan waktu)
2. Stres
3. Waste
4. Emosi negatif
5. Dan lain-lain

Kenapa be more with less alias simplifikasi ini perlu? Sederhananya begini, kita semua punya waktu yang sama kan dalam sehari? Sama-sama 24 jam per hari. Namun, yuk jujur sama diri sendiri, berapa banyak sih yang bisa kita hasilkan selang waktu tersebut? Berapa persen sih tingkat efektifitas kita? Dan, berapa lama sisa waktu kita?

Kita semua punya waktu yang terbatas. Namun, sayangnya tuntutan dan ekspektasi yang kita terima seringkali lebih banyak dari waktu yang tersedia. 24 jam sehari, bukan berarti 24 tugas yang harus dituntaskan.

Dan sebagai makhluk yang pasti mati tanpa tahu kapan. Sudahkah kita memikirkan, sejauh mana pencapaian tugas kita? Sebagai suami, sudah sejauh mana kita melakukan tugas kita menyiapkan keluarga bila sewaktu-waktu ajal menjemput? Sudah cukup mandirikah mereka tanpa kita? Mampukah kita menyiapkan kemandirian mereka bila kita sibuk dengan keruwetan kita sendiri?

Itu baru dari satu sisi, keluarga. Bagaimana dengan pekerjaan, spiritualitas, atau untuk diri kita sendiri? Bermimpi punya bisnis, tapi ruwet dengan pertanyaan-pertanyaan: bisnisnya apa, modalnya dari mana, marketnya bagaimana, dan keruwetan-keruwetan lain yang kita ciptakan sendiri.

Apakah memang menjadi ruwet ini adalah sifat dasar kita? Jangan-jangan ada hubungannya dengan anatomi otak kita yang mlungker-mlungker. Atau, bisa jadi karena sejak kecil kita terlalu sering dicekoki 'jangan' (jangan bening, jangan tewel, maupun jangan lodeh), sehingga kita terus meruwetkan diri setiap kali hendak melangkah dengan mbatin, jangan-jangan nanti... .

"Simplicity is the ultimate sophistication - Leonardo da Vinci"

Simplifikasi memang bukan perkara gampang. Bahkan simplifikasi cenderung ruwet minta ampun. Tak jarang yang kita kira simplifikasi, ternyata berujung semakin ruwet dan kompleks. Pernah? Saya sih sering.

Simplifikasi berarti memahami esensi.

Apa sih esensi kita berumah tangga, bekerja, menulis, ngeblog? Ketika kita memahami esensi dari setiap aktivitas itu, melakukan simplifikasi menjadi lebih efektif. Karena kita tahu apa esensinya, kita bisa memilah, mana proses yang must have dan mana yang sekedar nice have.

Simplifikasi bukan hasil akhir. Hanya sebuah alat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kita pribadi. Bukan berlomba-lomba mengurangi dan mengurangi.

Kuncinya, efektif dan efisien.

Jadi itu tema saya di tahun 2019. Bagaimana denganmu kawan? Apa tema kamu tahun ini?

Bagikan:

0 Tanggapan:

Post a Comment

Semua komentar masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.