Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Yang Efektif

komunikasi-efektif
Photo by Jack Sharp on Unsplash

Kita semua minta dipahami. Paling menyebalkan kalau udah ngomong panjang x lebar x tinggi...tinggi sekali, ndilalah yang diajak ngomong ternyata nggak paham.

Padahal kita udah berbusa-busa tuh ngomongnya.

Lebih menderita lagi, ternyata apa yang dia pahami jauh berbeda dengan yang kita maksud. Pernah ngalamin yang kaya gini?

Jadi korbannya atau pelakunya?

Komunikasi memang penting. Kenapa? Karena kita sering berada dalam situasi dan kondisi yang mengharuskan kita kerja bareng orang lain.

Karenanya, biar satu sama lain itu nyambung harus ada komunikasi (walaupun nggak dari hati ke hati).

Masalahnya, nggak semua orang bisa secara efektif mengkomunikasikan apa mau mereka kepada orang lain. Alhasil, ya gitu deh, ngomongnya apa, ditangkepnya apa.

Tujuan Komunikasi

Kalau kita balik ke awal, sebenarnya apa sih komunikasi itu?

Sederhananya, komunikasi adalah proses penyampaian pesan. Titik. Jadi, di dalam komunikasi setidaknya ada 3 komponen yang diperlukan agar komunikasi itu bisa efektif.

Pertama, ada pesan yang hendak disampaikan.
Kedua, ada si pengirim pesan.
Ketiga, ada si penerima.

Dari ketiga komponen itu, satu aja bermasalah. Bubar sudah. Dan, komponen yang paling krusial dan sering jadi penyebab masalah dalam komunikasi adalah si pengirim pesan.

It’s not what you say,  it’s how you say it

masalah-komunikasi
Photo by Jason Rosewell on Unsplash

Masalah Komunikasi

Saya sering melihat banyak orang (termasuk saya), sering melakukan beberapa kesalahan ini ketika berkomunikasi dengan orang lain. Mungkin, kamu juga pernah melihat hal yang sama,

1. Pesan yang tidak jelas

Okay, kalau yang ini saya nggak akan pakai contoh orang lain. Karena ini adalah kesalahan yang paling sering saya lakukan.

Di pekerjaan, saya harus berinteraksi dengan orang lain dan kemudian melaporkannya kepada atasan saya.

Nggak jarang, ketika saya lagi asik-asiknya cerita. Atasan saya menyela karena ada yang ia tidak pahami dari cerita saya. Pertanyaannya sederhana sih, “Lho kenapa bisa gitu ya?”

Celakanya, saya kok ya pas meeting sebelumnya nggak menanyakan hal itu. Akhirnya daripada nggak njawab, saya menggunakan logika dan asumsi saya sendiri. Kadang bener, seringnya salah.

Seandainya saya memahami benar-benar isi dari apa yang saya dapat dari meeting itu. Saya tidak akan kesulitan menjawab pertanyaan atasan saya.

Pelajaran buat saya, pahami dulu benar-benar pesan yang mau kita sampaikan ke orang lain. Karena, kita lah sebagai si pengirim pesan yang akan ditanyain. Jangan sampai kita nggak bisa jawab, atau lebih buruk lagi dengan entengnya njawab, “Wah nggak tahu.”

Lah kok bisa, nggak tahu mau ngasih tahu. Nggak ada tempenya pula.

2. Terlalu berbelit-belit

Ini adalah akibat dari kurang memahami isi dari pesan yang mau kita sampaikan. Ibarat sop buntut, visualnya apik menggugah selera, garnish-nya ciamik, tapi nggak ada buntut-nya.

Tapi judulnya, sop buntut.

Nah itu lah yang sering saya alami ketika saya mulai glagepan ngomong. Atasan saya sudah paham, kalau saya mulai tergagap-gagap seperti itu, artinya something is not right.

If you can’t explain it simply you don’t understand it well enough - Albert Einstein

Logikanya, kalau nggak pernah makan sop buntut, bisa nggak cerita gimana lezatnya sop buntut (walaupun kolesterolnya dan lemaknya setinggi langit)?

3. Terlalu detail

Karena nggak paham, ceritanya jadi berbelit-belit. Cerita dari A - Z kuadrat. Cerita puanjang lebar mulai sejarah perang dunia 1, padahal yang ditanya cuma, “Kenapa apel rasanya manis?”

Nggak apa-apa sih cerita secara terperinci kalau : a) diminta, dan b) memang perlu.

Lah kalau nggak ya ngapain?

Ya kalau orang yang kamu ajak ngomong itu kengangguren buat ndengerin dongengmu. Lah kalau dia lagi ada urgency lain yang lebih penting?

Penggunaan bahasa/istilah yang membingungkan
Kamu pernah ketemu orang yang kalau ngomong itu bahasanya melip? Alias ketinggian. Nggak jelas apa motifnya. Apakah biar dikira pintar, atau sengaja bikin bingung.

Hehehe...mulai senyum-senyum sendiri ya sambil ngelirik orang sebelah, padahal kita lagi ngomongin kamu. Iya kamu.

Coba deh inget-inget quote ini waktu kamu mulai tergoda untuk menggunakan bahasa dewata,

Smart people simplify, idiots complicate it

4. Pemilihan waktu yang salah

Pesan sudah jelas, bahasa tertata apik, tapi kalau timing-nya nggak pas...ya sami mawon.

Maksudnya gini, oke lah kita mau menyampaikan sesuatu yang menurut kita penting. Tapi, mbok ya o lihat dulu, yang mau kita ajak ngomong itu lagi ngapain.

Salah-salah, bukannya efektif...bisa-bisa kamu digampar.


Bagaimana Agar Komunikasi Efektif?

Ada 4  poin yang bisa kamu coba untuk melatih keterampilan komunikasimu, antara lain :

A. Rencanakan yang mau kamu sampaikan

Begin with the end kata Stephen Covey. Maksudnya, mulailah dengan hasil akhir. Seperti yang saya lakukan ketika menulis postingan ini. Apa yang saya lakukan adalah, saya nulis kesimpulannya dulu. Karena ujung-ujungnya, tulisan ini akan berakhir pada kesimpulan.

Jadi, kenapa ndak nulis kesimpulannya dulu aja.

Sama halnya dengan komunikasi verbal. Alih-alih kamu datang dan memberondong lawan bicaramu dengan kisah-kisah masa silam. Kenapa nggak mulai dengan mengatakan apa yang kamu mau dari mereka.

Baru kemudian, kamu cerita latar belakangnya.

B. Pahami audience-mu

Kita sama-sama tahu kalau setiap orang itu berbeda. Latar belakangnya beda, sifatnya beda, preferensinya beda.

Dengan memahami siapa lawan bicara kita, maka akan lebih besar peluangnya komunikasi kita menjadi efektif.

Kalau orangnya suka humor, kasihlah kelakar-kelakar ringan. Kalau orangnya flat, jangan ngomong panjang-panjang, tersiksa dia ndengerin kamu.

C. Gunakan media yang tepat

Pilih alat yang tepat untuk menunjang proses komunikasimu. Kalau kamu bicara di hadapan 10.000 orang di stadion sepak bola, jangan maksa pake TOA. Pakailah microphone dengan ditunjang sound system kelas wahid.

Biar suaramu kedengeran.

Kalau kamu nulis pesan, jangan gunakan bahasa 4L4Y ketika yang kamu kirimin itu orang seangkatan bapak-ibumu.

D. Minta umpan balik

Terakhir, pastikan orang yang kamu ajak komunikasi paham pesanmu seutuhnya. Caranya, minta mereka menjelaskan dengan bahasa mereka tentang apa yang barusan kamu sampaikan.

Kalau perlu, kirim email, Whatsapp, SMS, atau apapun sebagai ringkasan.

Jangan main asumsi, apalagi main hati. Pastikan mereka memiliki pemahaman yang sama denganmu.


komunikasi
Photo by Darius Soodmand on Unsplash

Kesimpulan

Komunikasi efektif merupakan sebuah keterampilan yang esensial.

Memang, mengasah keterampilan untuk berkomunikasi secara efektif perlu waktu. Kabar baiknya, karena ini adalah keterampilan, jadi bisa dipelajari.

Apa yang saya tulis di sini, mungkin berbeda dengan apa yang kamu alami sehari-hari. Menurutmu, gimana sih caranya biar komunikasi kita jadi efektif? Kasih pendapatmu di kolom komentar ya.

Terakhir, sebelum kamu pergi, berlangganan dulu ya. Jadi nanti setiap ada update, kamu akan jadi orang pertama yang tahu..

Post a Comment