Alasan Kita Perlu Mengenali dan Menghadapi Rasa Takut


Apakah kamu berencana untuk memulai sesuatu yang baru akhir-akhir ini?

mengenali-dan-menghadapi-rasa-takut
Photo by Radu Florin on Unsplash
Pernah nggak, barang sedikit aja, muncul keraguan di hati kecilmu? Sudah benarkah keputusan yang kamu ambil ini? Yakin kah bahwa ini adalah yang terbaik, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulainya?

Saya sendiri, karena dari lahir memang tidak dibekali tingkat kepercayaan diri setinggi langit. Seringkali tuh ragu, takut, cemas, dalam memulai sesuatu yang baru dalam hidup saya.

Bisa nggak ya? Jangan-jangan nanti.... .

Hmm, entahlah...mungkin karena waktu kecil dulu saya sering makan jangan (jangan asem, jangan lodeh, jangan tewel, jangan bening, dan jangan-jangan lainnya), akhirnya kebawa deh sampai dewasa. Mau ini itu, langsung di pikiran keluar pertanyaan, “ Jangan-jangan…”

(Jangan = sayur, dalam bahasa Jawa)

“Jangan-jangan, nanti nggak sukses.”
“Jangan-jangan, nanti nggak ada yang baca.”
“Jangan-jangan, nanti nggak ada yang suka.”

Dan jangan lainnya.

Lumrah nggak sih kalau kita ragu dan takut saat memulai sesuatu yang baru?


Memahami rasa takut

Takut adalah sesuatu yang alamiah. Bahkan, memiliki rasa takut merupakan karunia Tuhan.

Rasa takut memiliki fungsi sebagai alarm ketika ada sesuatu yang mengancam atau membahayakan diri kita.

Ya anggap saja seperti indera laba-labanya Spiderman.

Ketika alarm ini berbunyi, tingkat kewaspadaan kita meningkat. Dan, pada mode waspada inilah kita mampu melakukan langkah-langkah antisipatif.

Sebab, sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mencari kenyamanan dan menghindari ketidaknyamanan.

Masalah yang timbul karena rasa takut

Walaupun bermanfaat, tetapi ketika rasa takut ini tidak dikelola dengan baik, pada akhirnya akan merugikan diri kita.

Ya sih, wajar kalau kita memilih menghindari situasi-situasi atau objek menakutkan. Namun bila kita terus-terusan menghindar dan menjauhinya, salah-salah rasa takut itu bisa menyebar ke mana-mana lho.

Yang tadinya kita hanya takut berbicara di depan publik, karena keseringan menghindari situasi-situasi sejenis itu. Bukan tidak mungkin, kita malah jadi nggak mau bersosialisasi sama sekali.

Kalau sudah begitu, siapa yang rugi?

Mengatasi rasa takut

Hadapi atau lari, pada akhirnya hanya ada dua opsi itu saja yang kita punya.

Setelah kita tahu bahwa 'lari' bukan cara terbaik untuk menghadapi ketakutan kita. Maka, satu-satunya jalan adalah dengan menghadapinya.

Saya pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan tim saya. Pilihan saya saat itu ada dua, saya diam dan berharap tidak ada yang tahu. Atau, saya hadapi dengan mengatakan situasi sebenarnya.

Dan saya memilih opsi kedua.

Apakah opsi itu nyaman? Tentu tidak. Bahkan ada resiko besar yang menanti saya jika mengambil opsi itu. Namun, sayangnya opsi tersebut adalah pilihan yang benar bagi saya dan tim.

Apakah saya takut? Setengah mati saya takutnya.

Pada akhirnya ketika saya memilih menghadapi ketakutan saya, ada dua hal yang saya dapatkan. Pertama, hidup saya jadi lebih damai karena saya tak perlu repot berusaha menutupi keadaan dengan kebohongan. Kedua, saya belajar untuk mencegah hal serupa terjadi lagi.

Sedangkan resiko yang saya kuatirkan tadi, hmm...ya saya tetap memang menerima konsekuensinya. Mau gimana lagi.Tapi setelah itu selesai, ya sudah selesai.

Kesimpulan

Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. Ada keraguan dan ketakutan yang muncul, dan itu lumrah. Yang terpenting adalah, apa yang kita pilih untuk lakukan terhadap keraguan dan ketakutan tersebut.

We are what we did and didn’t do

Kita adalah apa yang kita lakukan dan tidak lakukan. Dan tindakan selalu menjadi kunci pembeda antara pemenang dan pecundang.


Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya cerita tentang mengelola rasa takutmu? Akan sangat menyenangkan jika kamu sudi berbagi pengalaman di kolom komentar.



Semoga tulisan sederhana ini bisa menginspirasimu. Kalau kamu merasa tulisan-tulisan di sini bermanfaat, jangan lupa klik berlangganan dan dapatkan update terbaru langsung ke email kamu (tanpa spam kok).




Post a Comment

Pages

© 2019

Prima G Chandra