Waktunya Beralih Ke Template Premium?



Setelah cukup lama bertahan dengan template Write dari New Blogger Theme, akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke template Premium alias berbayar.

Di tulisan kali ini, saya mau share beberapa alasan saya menggunakan template premium. Ini opini pribadi saya. Kalau kamu punya pertimbangan-pertimbangan lain, share juga dong. Biar kita sama-sama belajar.

Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih template blog

Sebelum kita bicara tentang perlu nggak kamu beralih ke template premium, kita bahas dulu yuk hal-hal yang kamu perlu perhatikan dalam pemilihan template.

Untuk template, saya paling suka template-template bernuansa minimalis. Jadi biasanya 3 hal berikut selalu jadi pertimbangan dalam memilih template blog :

1. Background putih

I love white. Menurut saya, warna putih memberikan kesan yang bersih dan simpel. Selain itu, konten jadi mudah terbaca di atas latar warna putih.

Mungkin karena itulah, banyak blog-blog terkenal yang memilih background putih untuk blog mereka.

2. Satu kolom (tanpa sidebar)

Ada banyak pendapat tentang apa yang harus ditampilkan di sebuah blog. Salah satunya adalah sidebar.

Saya pribadi sih nggak suka menggunakan sidebar. Mungkin karena keseringan main ke blog minimalis seperti The Minimalists, Minimalism Life, No Sidebar, dan Zen Habits.

Saya juga nggak suka blog yang lebar halaman utamanya full satu layar komputer. Buat saya, lebar halaman utama sebaiknya nggak lebih dari 650 px.

Dilihat lewat komputer maupun handphone, penampakannya nggak jauh beda.

3. Responsif

Maksudnya, blogmu punya kemampuan untuk menyesuaikan tampilannya tergantung gadget yang dipakai untuk mengaksesnya.

Ini penting. Karena hampir semua orang sekarang mengakses blog lewat handphone. Jadi, kalau tampilan blogmu nggak bisa ‘beradaptasi’ kasihan pembacamu.

Bayangin aja, kalau kamu harus zoom in dan zoom out buat baca blog. Lelah nggak sih?

So, pastikan template yang kamu pilih itu responsif. Coba dulu klik demo-nya. Gimana penampakannya saat diakses menggunakan komputer, tablet, dan smartphone.


Setelah ketemu template yang memenuhi kualifikasi tersebut, saya juga milih-milih dalam menggunakan widget. Perlu apa nggak, bermanfaat apa nggak.

Saya juga nggak pasang Adsense di blog saya. Bukan sok nggak mau monetizing blog, tapi lebih demi menjaga kenyamanan pembaca aja. Soalnya, saya suka sebel kalau baca blog yang penuh Adsense.

Apalagi pas ketemu blog yang kayaknya nafsu banget pengen dapet uang dari blog. Sampai dari header sampai footer banyak banget iklannya.

Biasanya saya nggak pernah lama ngendon di situ. Mending blogwalking ke blog lain aja kalau udah kaya gitu. Daripada mata jereng dan tekanan darah naik. Menjaga kesehatan itu (masih) penting lho.

Premium vs Free Template

Ada banyak template gratis buat kamu yang menggunakan platform Blogger. Pertanyaannya, perlukah beralih ke template premium alias berbayar?

Truth be told...nggak perlu.

Serius, kamu nggak perlu pakai template premium. Kualitas blogmu itu dilihat dari konten yang kamu buat. Kalau kontenmu bagus dan enak dibaca, nggak peduli template yang kamu pakai, blogmu ya bagus-bagus aja kok.

Kalau saya...saya pakai template premium.

Kenapa?

  1. Mentok dengan template gratisan yang gitu-gitu aja. Simpelnya sih gitu. Ada template-template yang saya taksir, ternyata masuk kategori Premium. Sedihnya lagi, bayarnya minta pakai USD. Jadi harus mengurungkan niat dan beralih ke vendor lokal yang ternyata punya template yang keren juga.
  2. Kemudahan dalam melakukan kustomisasi. Nggak perlu lagi masuk ke pengaturan tema dan edit HTML. Cukup masuk ke layout dan kustomisasi dari situ. So much easier.
  3. Membantu orang lain. Ya lah, kalau beli template premium, pastinya kita membantu orang lain. Minimal sang web developer-nya. 

Pengalaman menggunakan template premium dari Maha Templates

Saya belajar bahwa ada tiga hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum memutuskan sebuah pembelian, yaitu Quality, Delivery, dan Cost. Kami biasa menyebutnya QDC...kenapa hayo?

Hal yang sama saya lakukan ketika hunting penyedia layanan template premium untuk blog.

1. Quality

Saya dan kamu, punya standar berbeda soal Quality. Apapun standarnya, saran saya...jangan mau kompromi sama Quality.

Apalagi template blog itu sifatnya untuk jangka panjang. Bukan sehari dua hari ganti. Sering ganti malah nggak bagus buat blogmu.

Ibarat rumah, masa iya renovasi tiap hari? Jadi, teliti sebelum membeli ya.

2. Delivery

Untuk template blog, kita sebut saja services. Baik sebelum, ketika, dan setelah pembelian. Logikanya gini, barangnya bagus, tapi pelayanan buruk, kira-kira layak nggak keukeuh beli?

Ibaratnya kita beli makanan yang sudah terkenal kelezatannya. Tapi setiap kali order, nunggu nya lama. Padahal kita udah kelaperan tuh. Giliran dateng, ternyata udah dingin.

Boro-boro mau kasih rekomendasi. Kita balik ke sana aja mikir-mikir mungkin.

3. Cost

Alias biaya. Nggak semua biaya itu bentuknya uang. Waktu, tenaga, konsentrasi, itu kan juga biaya.

Prinsipnya gini, 100 ribu rupiah nggak selalu lebih murah dari 500 ribu rupiah. Dan sebaliknya. Ada hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Mahal dan murah itu relatif, tergantung barang dan seberapa dalam kocek kita. Udah gitu aja.

Memilih Maha Templates


Setelah browsing ke beberapa vendor template blog premium. Mulai Mas Sugeng, IDNtheme, KompiAjaib, BungFranki, Bamz, dan Maha Templates. Pilihannya mengerucut ke dua template berikut :

1. Classic (Bamz.co.id)

2. Stay Magz Mini (Maha Templates)



Pilihan pertama jatuh kepada template Classic keluaran Bamz.co.id. Walaupun dia menggunakan sidebar tapi pikir saya, tinggal di-nonaktifkan saja selesai masalah.

Plus, ada opsi afiliasi yang ditawarkan. Wah, lumayan nih buat monetisasi blog selain adsense.

Namun, at the end saya beralih ke StayMagz dengan pertimbangan :
  1. Bamz tidak memberikan layanan customer support yang saya perlukan. Chatting-an saya via WA bahkan hanya tercentang satu.
  2. Harga yang lebih mahal. Nggak mahal-mahal amat juga sih, tapi karena udah kecentok sama chatting yang nggak nyampe (boro-boro dibales, nyampe aja enggak), saya jadi mikir-mikir buat ambil template di sini.
  3. Referensi dari existing customer, yang sayangnya...mengamini asumsi saya terhadap customer support Bamz. 
  4. Responsifnya Maha Templates, dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan saya.

Sebenarnya saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pernyataan kalau postingan ini mengandung afiliasi dan saya akan menerima komisi dari transaksi kamu.

Sayangnya, belum. Mungkin suatu hari nanti...semoga. Hehehe.

Kesimpulan


Memiliki konten yang baik itu memang penting. Namun penggunaan template blog yang ramah pembaca bisa menjadi nilai plus buat blogmu.

Template gratis atau berbayar sebenarnya tidak terlalu signifikan. Tapi kalau kamu memang berniat beralih ke template berbayar, sebaiknya jangan dilakukan sebelum kamu konsisten ngeblog selama 6 bulan.

Nggak perlu gegabah, buru-buru ganti template. Take your time.

Kalau nantinya kamu memilih beralih menggunakan template berbayar, pastikan kamu selalu mempertimbangkan Quality, Delivery, dan Cost dari setiap penawaran yang masuk ke inbox-mu.

8 comments

  1. Pagi mas... Sy jd org pertm yg ksh komen.. Jd ni dh template yg berbyr yaa... Kl sy perhatikan emg templatenya ms Candra sllu simpel dn nuansa putih ya.. No side bar,no iklan.. Itu lh pointnya kl krn ingin spy pengunjung nyaman mwmbaca dn melihat ssutu yg simpel dn gak gaggu mata.. Ay sering bgt liat blog yg twmplatenya banyak pernak"krn kreatifitasnya yg pinter buat cooding tp too much gt liatnya.. Kl sy msh yg grtisan jg..ckp simpel cm ada wrn pink diatas... Sebetulnya ga suka wrn pink tp mlz gantinya... Ada side bar brp widget ttg followers dan profil sy aja sih biar ga terlalu kosong... Maklum perempuan... Dan no iklan sm sekali soalnya ga sukaa... Duh panjang amat ya.. 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mungkin ketularan karena sering dolan ke blog-blog minimalis. Kayaknya kok ok juga, secara dari sisi penampilan clean & simple.

      Di New Blogger Themes, ada banyak kok tempate gratis yang bagus. Emang agak effort dikit buat kustomisasi. Tapi itu pun mereka sediakan tutorialnya.

      Jadi, relatif lebih mudah.

      Tapi tetep...content is king. Jadi jangan lupa ngejaga kualitas konten.

      Delete
  2. Alasan saya memakai template atau dalam kasus saya adalah theme premium adalah karena saya males ribet untuk melakukan kustomisasi di theme gratisan.

    Theme premium biasanya sudah dilengkapi dengan theme options yang memungkinkan mengubah tampilan blog hanya dengan drag-and-drop dan centang-centang saja.

    Saya setuju dengan kalimat Prima Chandra bagian yang ini: "jangan dilakukan sebelum kamu konsisten ngeblog selama 6 bulan", saya menunggu hampir dua tahun sebelum memutuskan untuk beralih ke theme premium.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas Ari. Menggunakan template premium memang lebih mudah di dalam kustomisasi blog.

      Tapi, jujur pengalaman ngutak-ngatik HTML waktu masih pake template gratis itu sedikit banyak membantu apalagi waktu ngedit template.

      Dan, betul...nggak usah buru-buru ganti ke template premium.

      Kuatin dulu basic bloggingnya, jaga konsistensi, dan kualitas konten.

      Seperti halnya seorang Christian Ronaldo. Mau dia pakai Nike, Adidas, ataupun Specs...performanya ya tetep oke.

      Bukan merek sepatunya, tapi siapa pemakainya.

      Bukan soal apa templatenya, tapi siapa bloggernya.

      Delete
  3. saya malah baru tahu ada yang penyedia template lokal. Lebih ramah di kantong kalau harganya pakai rupiah daripada USD hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan lebih mudah dihubungi plus cara bayarnya bisa transfer. Cocok buat yang nggak punya kartu kredit 😉

      Delete
  4. Saya termasuk orang yang rela beli template premium buat blog. Buat saya kenyamanan blog juga merupakan hal utama selain konten tentunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😊
      Dijaga konsistensinya ya, kan sayang kalau templatenya premium, kontennya masih free version (kualitas dan kuantitasnya).

      Hehehe...

      Delete

Post a Comment