Sebuah Profesi Bernama Kontribusi


Kamu inget nggak waktu kecil dulu ditanya, "Kalau sudah besar mau jadi apa?"

Dan, dokter adalah jawaban yang paling sering muncul dari pertanyaan seputar cita-cita ini. Setidaknya, itu adalah nama profesi yang pertama kali terlintas di benak saya.

Menurutmu, apa sih istimewanya dokter? Karena penghasilannya yang di atas rata-rata? Atau karena status sosialnya?

Jujur.

Walaupun dokter adalah sebuah profesi mulia, membantu orang lain, menyelamatkan nyawa, tetapi coba kita ingat-ingat, bagaimana orang tua kita dulu mem-branding profesi ini.

"Jadilah dokter, karena bayarannya besar."

Ironis.

Namun, begitulah kenyataan yang harus kita sama-sama hadapi. Cita-cita mulia menjadi dokter yang mengabdikan dirinya demi orang lain, jarang sekali ditanamkan dan diulang-ulang. Hanya uang dan uang, yang selalu didengung-dengungkan.

Bukan hanya dokter. Profesi-profesi lain pun mengalami nasib yang sama. Digambarkan sebagai kendaraan untuk meraih kekayaan dan ketenaran.

Padahal sejatinya, ada misi mulia di setiap profesi yang jauh lebih bernilai daripada kelimpahan materi. Kesempatan untuk melayani dan berkontribusi.

Bicara soal kontribusi, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah ia yang paling banyak manfaatnya.

Kadang, kita tergoda untuk melupakan esensi dari profesi yang kita jalani.

Kita memilih untuk melihat profesi kita tak lebih sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita. Sandang, pangan, papan. Dan tidak salah memang. Namun, pernahkah kita mencoba melihat profesi kita sebagai alat untuk melayani dan berkontribusi?

Senyaman apa sih kita dengan pikiran kita kalau kerja itu sebatas menghasilkan uang? Sehingga kita menolak kenyataan bahwa ada hal lain dari sekedar menghasilkan uang lewat pekerjaan kita.

Pada akhirnya, pola pemikiran ini pun kita wariskan ke generasi berikutnya.

Tanpa sadar kita telah mengajarkan anak cucu kita, esensi sebuah profesi untuk melayani dan berkontribusi.

Kenapa nggak kita sudahi saja pola pikir semacam ini? Kenapa nggak kita berikan anak cucu kita kesempatan untuk memilih profesi dari kesempatannya untuk melayani dan berkontribusi? Mungkin dengan begitu, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik untuk kita.

Mungkin... .




Sent from my Samsung Galaxy smartphone.

Post a Comment