Monday, April 22, 2019

Weekend Bersama Keluarga Ke Gunung Kawi


Usai pesta demokrasi yang dihelat di tanggal 17 April 2019 lalu. Saya dan keluarga berencana untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Biasanya, mal adalah tempat jujugan favorit kami.

Namun, kali ini kami ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Gimana kalau kita habiskan akhir pekan kali ini di Gunung Kawi?

Ide ini datang dari istri saya. Kebetulan semasa kecil, ia sering diajak oleh papa dan mama berziarah di Gunung Kawi. Well, yang ziarah sih papa dan mama. Kalau istri saya, karena masih kecil ya...main-main saja. 😅

Mendengar ia bercerita masa kecilnya yang menyenangkan kala itu, menikmati sejuknya angin pegunungan plus beberapa keruwetan yang selalu ada aja waktu mau berangkat, serasa saya ikut merasakan keseruan yang ia alami dulu.

Dan, singkat cerita kami pun sepakat berwisata ke Gunung Kawi.

Persiapan

Gagal berencana sama dengan berencana gagal. Setidaknya itu secuil pelajaran yang saya dan istri saya dapat dari dunia kerja di industri manufaktur.

Kebiasaan itu pun terbawa ke dalam keseharian kami dalam mengelola kehidupan. Pun demikian halnya dengan rencana liburan kali ini.

Walaupun istri saya sering berkunjung ke Gunung Kawi, tapi itu sudah lama sekali. Jadi, pastinya ada banyak perubahan di sana sini.

Persiapan yang menurut kami penting adalah mengetahui medan dan lokasi yang kami tuju. Seperti biasa, Google selalu bisa diandalkan untuk hal yang satu ini.

Dan bloggers...guys, your stories helped a lot 😊

Salah satu yang sangat membantu kami mempersiapkan perjalanan adalah cerita dari gpramuditya. Terutama karena kami berencana liburan ala backpackers.

Kenapa memilih backpackers? Yang pertama karena kami tidak tahu seperti apa rute dan medan yang akan dilalui. Jadi sebagai langkah antisipasi kemungkinan terburuk (dorong mobil di tanjakan), kami memilih menggunakan angkutan umum. Selain itu, supaya memberi pengalaman baru buat Bio.

Setelah sedikit banyak mengetahui rute dan opsi transportasi, langkah berikutnya adalah menyusun itinerary.

Kebetulan tugas menyusun itinerary kali ini diserahkan kepada saya. Karena nggak pernah bikin itinerary sama sekali, once again, minta petuah ke simbah Google, dan dikasih lah contoh-contoh itinerary sederhana.

Setidaknya di itinerary buatan saya mengandung 4 poin berikut:

  1. Jam (waktu)
  2. Aktivitas (misal berangkat ke terminal)
  3. Pilihan transportasi
  4. Estimasi biaya

Setelah itu kami berberes baju yang akan dibawa dalam perjalanan kali ini. Nggak banyak-banyak wong cuma 2 hari semalem aja.

Ada satu hal yang menarik ketika kami beres-beres. Ceritanya, biar ringkes kami mengurangi bawaan yang nggak perlu, salah satunya isi dompet. Kartu-kartu yang nggak diperlukan (misal ATM bersaldo Rp 0) ditinggal di rumah.

Pas saya ngoprekin isi dompet saya, ternyata saya punya beberapa kartu yang selama ini tersimpan rapi di dompet, tapi nggak pernah sekalipun saya pakai. Seperti kartu BPJS, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Rumah Sakit, bahkan kartu asuransi yang sudah expired.

What the heck?!  

Jadi, nggak perlu waktu lama buat saya untuk langsung take action, keluarkan dari dompet, simpan yang masih diperlukan dan buang sisanya.

Ternyata selama ini dompet saya tebal tapi di bagian yang salah 😅.

Selesai berberes, istirahat lebih awal. Biar fresh untuk perjalanan esok hari.

Perjalanan Dimulai

Jam 03.00, alarm berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai. Mandi pagi dengan air hangat kemudian mulai berkemas. Targetnya, jam 05.00 harus sudah lepas landas dari rumah ke Taman Dayu, Pandaan. Kemudian menunggu bus ke arah terminal Arjosari, Malang.

Kurang lebih 45 menit kami menunggu, akhirnya bus yang dinanti pun tiba. Dan perjalanan pun dimulai.

Kira-kira pukul 07.00 kami mendarat di terminal Arjosari, Malang.

Kebetulan saya punya dua informasi soal opsi transportasi dari Arjosari. Yang satu bilang naik Bison (Elf) sedangkan ada blogger yang bilang kalau dari Arjosari naik bus.

Dua-duanya sama-sama nggak meyakinkan. Yang bilang naik Bison, nggak yakin, yang blogger, udah dari tahun 2015.

Jalan tengahnya, saya bertanya ke petugas di terminal Arjosari. Beliau menjelaskan kalau saya mau ke Gunung Kawi, saya bisa menggunakan Bus ke arah Blitar. Nantinya kita akan diturunkan di pertigaan Jalibar. Dari situ, kita bisa menggunakan angkudes berwarna biru langit menuju Pesarehan Gunung Kawi.

Jadi, kami segera menuju ke Shelter 4, tempat bus ekonomi ke arah Blitar. Untuk memastikan, sebelum naik saya bertanya kepada sopir bus dan kernet apakah bus ini menuju ke Gunung Kawi.

Mereka mengiyakan dan kami pun naik bus Tentrem tanpa AC itu.

Walaupun namanya Tentrem, nyatanya naik bus itu jauh dari tentrem. Nampaknya, sopir bus yang kami naiki ini adalah mantan pembalap F1. Lesatannya secepat kilat dan nyelap-nyelipnya sungguh aduhai...mengocok perut.

Dan benar saja, tak berapa lama....byorr! Bio, balita mungil itu langsung jackpot alias muntah di tempat. 😥

Saya dan istri saya hanya bisa berharap perjalanan itu segera berakhir. Tak tega kami melihat wajah Bio yang pucat pasi.

Akhirnya perjalanan 45 menit yang terasa seperti 45 tahun itu selesai. Kami turun di pertigaan Jalibar dan beristirahat sejenak di Warung Pecel Blitar tepat di pertigaan Jalibar.

Sambil mengisi perut yang belum sempat sarapan sekaligus memberi Bio ruang untuk memulihkan kondisinya pasca perjalanan 'menegangkan' barusan.

Setelah 30 menitan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pesarehan Gunung Kawi menggunakan angkudes berwarna biru langit. Walaupun ketika tawar-menawar di awal kami sepakat di harga 15 ribu per orang, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba kesepakatan berubah. Dengan sejuta alasan, mulai nggak ada penumpang lain, bensin nggak cukup, akhirnya si sopir angkutan itu meminta tambahan 2 kali lipat menjadi 30 ribu per orang.

Kami menawar di angka 45 ribu berdua dan akhirnya sepakat 50 ribu sampai di Pesarehan.

Walaupun sempat dongkol, tapi istri saya berhasil mendinginkan saya. Ya, hitung-hitung sedekah.

Dan...tiba lah kami di Pesarehan Gunung Kawi.

Touchdown Gunung Kawi

Jalan menanjak pun kami lalui menuju sebuah gapura pertama menuju pesarehan. Sepanjang perjalanan, kami didekati dan diikuti oleh orang yang ternyata sedang berusaha menawarkan jasanya sebagai pemandu kami.

Mungkin ia mengira tujuan kami adalah untuk berziarah, atau...satu dari sekian orang yang mencari pesugihan.

Dengan sopan, saya pun menolak semua tawarannya dan mengatakan kalau kami bukan berziarah dan juga sudah memesan penginapan. Jadi, thanks but no thanks.

Suasana Pesarehan

Aroma wangi dupa memenuhi sepanjang jalan dari gapura pertama menuju gapura kedua. Walaupun demikian, untuk ukuran destinasi wisata religi, saya pribadi merasa nuansa religi di tempat ini kurang begitu kental. Yang ada hanya suasana wisatanya.

Hal senada disampaikan istri saya yang dulu semasa kecilnya beberapa kali diajak papi dan mami ke tempat ini. Suasananya tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.

Berikut adalah beberapa dokumentasi perjalanan kami selama di Pesarehan Gunung Kawi.






Penginapan

Selama wisata ini, kami menginap di Penginapan Kawi Surapatha. Kebetulan, kakak kami sudah sampai sehari sebelumnya dan mereservasikan hotel ini untuk kami.

Overall hotel ini cukup nyaman walaupun sedikit pengap. Namun, hal itu bisa diatasi dengan membuka sedikit jendela kamar. Tak perlu kuatir nyamuk, karena selama di sana, tak satu pun nyamuk yang terlihat ikut berkunjung.

Buat kamu yang sedikit kurang nyaman (geli atau jijik) dengan cacing tanah, kamu perlu mengajak orang lain untuk menemanimu. Karena entah dari mana, setiap kali saya masuk kamar mandi, mereka sudah stand by lebih dulu.





Entah karena faktor lokasi atau apa, saya nggak tahu.

Hotel ini memiliki rate 215 ribu per malam, minus sarapan. Menurutmu, tarif segitu mahal nggak?

Hari Kedua, Mengunjungi Keraton Gunung Kawi

Di hari kedua, kami mengunjungi lokasi lain yaitu Keraton Gunung Kawi yang berjarak sekitar 4 km dari Pesarehan.

Jalan menanjak kami tempuh menggunakan mobil Toyota Rush kakak saya.

Sempat kehilangan sinyal GPS, akhirnya kembali ke metode oldschool saat tersesat...tanya orang. Namun, akhirnya kami berhasil sampai di Keraton.

Dan...pemandangan di sini bagus banget! Udaranya sangat bersih dan segar.

Menurut saya pribadi, tempat ini jauh lebih bagus dibandingkan Pesarehan. Ini dari sisi turis yang niatnya wisata ya 😁

Seperti inilah penampakannya,






Puas banget wisata ke dua tempat bersejarah ini. Apalagi melihat Bio yang begitu menikmati momen liburan bersama sepupu-sepupunya.

Lain kali, main-main ke tempat ini lagi, tampaknya bukan ide buruk.

Bagi Ke Teman:

1 comment:

  1. Aku kemarin juga ngide mau ke Kawi n nginep di Oyo Kawi. Rencana mau ke Poncokusumo Bromo tapi penginapan inceran udah full. Cuman ditolak sama pak suami karena gunung Kawi kan identik dengan hal klenik, takut anak-anam kesambet katanya, heuheu.

    ReplyDelete