Bagaimana Menghadapi Komentar Nyinyir Dan Menyebalkan Di Facebook


Saya menggunakan Facebook sudah sejak lama. Namun, di 2018 saat saya mulai ngeblog, saya memutuskan untuk membuat akun Facebook baru. Idenya waktu itu untuk mempromosikan konten-konten blog dan menjalin relasi dengan blogger lain.

Saya sih menyebut akun baru ini akun publik. Artinya segala sesuatu di akun Facebook ini adalah konsumsi publik. Jadi, jangan buang waktu mencari foto-foto saya bersama keluarga atau pun foto istri maupun anak saya di sini. Nggak ada dan nggak akan pernah ada.

3 Tombol Facebook

Di Facebook, ada tiga jenis tombol untuk menunjukkan respon kita terhadap sebuah postingan: Like, Comment, dan Share.

Tombol Like yang sekarang berevolusi menjadi beraneka emoji, adalah tombol untuk menunjukkan persetujuan kita terhadap sebuah postingan. Itu sama seperti mengatakan, I'm on your side.

Tombol Share artinya, postingan itu memiliki nilai dan bermanfaat. Jadi postingan itu harus dilihat oleh banyak orang. Karena itulah di-share. Dan buat blogger, postingan kita di-share itu seperti ada kepuasan yang tak terucapkan (atau tertuliskan lebih tepatnya).

Nah, yang sering kali bikin berdebar-debar itu adalah Comment.

Buat orang yang tingkat kepercayaan dirinya nggak tinggi-tinggi amat seperti saya gini, ngelihat notifikasi komentar di postingan saya itu kadang bikin was-was. Ya kalau komentarnya itu enak dibaca, kalau mengkritik, nyinyir, atau ngajak berantem gimana?

Ini yang bikin bingung. Mau diladeni itu kok ya orangnya jauh di sana. Tapi kalau nggak diladeni itu seperti membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri.

Padahal kalau mau dipikir dengan penuh kewarasan ya, uang 100 ribu selusuh dan sekotor apapun, nggak akan berkurang harga dirinya. Ia tetap 100 ribu yang bisa jadi 2 gelas kopi Starbuck atau ratusan cangkir kopi di warung kopi langgananmu.

Nah, kadang-kadang kita ini suka keliru mengartikan harga diri (self esteem) dengan kebanggaan diri (pride).

Kita ngakunya membela harga diri, padahal sejujurnya yang kita bela adalah kebanggaan diri. Kita marah ketika apa yang kita banggakan selama ini dizalimi oleh warganet yang maha benar itu. Kita tersinggung dan sedih.

Ya bayangin aja, kamu udah spend dua hari dua malam merangkai kata-kata mutiara buat ngupdate status Facebookmu. Mau kamu, memotivasi teman kamu di Facebook. Terus ada satu orang nyinyirin, lalu tiba-tiba saja awan mendung menyelimutimu. Kamu sedih, marah, dan terluka.

Bukan harga dirimu yang terluka, melainkan kebanggaan dirimu.

Harga dirimu nggak akan berkurang selama kamu nggak ijinkan. Sama halnya dengan uang 100 ribu tadi.


Bijak menyikapi komentar

Bahagiamu itu urusanmu.

Kamu harus menjadi pribadi yang mandiri dengan emosimu. Udah nggak jamannya lagi bahagia atau sedihmu itu dipengaruhi orang lain atau situasi dan kondisi.

Walaupun demikian, saya nggak menyangkal kalau akan selalu ada orang-orang miring di kotak komentarmu.

Kalau sudah begitu, kamu bisa coba beberapa cara berikut yang saya kutip dari Simple Living Daily:
  1. Sadarilah kalau merekalah yang bersikap menyebalkan dan itu nggak normal.
  2. Kendalikan reaksimu, bukan perilaku mereka.
  3. Buat batasan karena orang akan melakukan apapun kepadamu selama kamu mengijinkannya.
  4. Nggak usah sawang sinawang, buat apa juga membanding-bandingkan diri dengan orang lain?
  5. Cobalah berempati, karena nggak jarang orang-orang ini berlaku menyebalkan karena mereka merasa insecure dan mungkin...satu-satunya cara yang mereka tahu adalah dengan menjadi menyebalkan.

Pada akhirnya, semua kembali ke kamu. Ketika ada dalam situasi tersebut, do what the best version of you will do.


Jadi, bagaimana kamu menanggapi komentar-komentar kurang menyenangkan di Facebook-mu?

16 comments

  1. Warga net memang kejam dan maha benar mas,.. tapi kadang kadang ternyata kwmaha benaran dankekejaman itulumayan seru e mas (pernah) dan mungkin perasaan itu yg kadang buat orang tetep semena mena di medsos ya (perasaan bisa Sesuka sukanya karena nganggap kalo mereka anonim di medsos) wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bijak menyikapinya, bisa lho jadi novel atau blog post, dan hal lain yang konstruktif 😊

      Delete
  2. Urusan begini sulit kalau ama parempuan pak Candra. Maklum perempuan mah baperan. Jadi kalau ada yang nyinyir gitu, suka baper wkwkwkwk. Makanya nih aku sebagai perempuan mau belajar dri syahrini. Mau dikomenin n nyinyirin kayak apa aja, dia mah nggak baper. Langsung menghempaskan nyinyir itu dengan manja ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Syahrini itu dinyinyirin kaya gimana aja nggak pernah ngedrop malah semakin melejit. Berbanding terbalik sama yang nyinyirin 😂

      Delete
  3. Sebenarnya sih, menurut saya, apapun yang sudah kita tulis ya memang harus dipertanggungjawabkan. Kudu kuat menghadapi konsekuensinya.
    Sebagian besar image atau gambar besar sudah ada ketika seseorang berkomentar. Tugas kita adalah memastikan bahwa gambar tersebut sesuai. Makanya harus jujur dan apa adanya. Jangan jadi social climber atau pura-pura kaya. Repot kalau ditagih hutang (kalau punya) di komentar. Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju mbak Susindra, segala sesuatu yang sudah dipublikasikan adalah konsumsi publik. Jadi sebaiknya hati-hati sebelum publish.

      Kalau memang nggak mau dikomentarin, sebaiknya nggak usah dipublikasikan.

      Kalau udah dipublikasikan dan ada yang nyinyir, ya itu konsekuensi.

      Delete
  4. alahmdulilah belum pernah dan jangan deh, sebisa mungkin membuat stautus yang bermanfaat dan bukan hal yang lagi sensitif di masarakat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kadang, sebermanfaat apapun update yang kita buat, ada aja lho yang nyinyirin. It's something inevitable, unfortunately.

      Delete
  5. Wah sy mah ikutan buat akun fb jg krn alasan buat ngeblog itujgvbr sekitar 7 bln aja.. Sebelumnya gak prnh sy cmn punya IG aja... Sy jg jrg status di fb.. Kebanyakan tmn jg sy pilih"biar aman jd swmemtara ini aman" aja.. Gitu jgvdi ig sy alhamdullilah aman" aja gak ada yg nyinyir soalnya kebanyakan perempuan ibu" itu jg sy pilih"gak swmua sy add.. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya mah, semua yang ada embel-embel blogger, penulis, saya add-in semua. Tujuannya untuk menjalin relasi dengan kawan-kawan yang punya passion yang sama di dunia literasi.

      Walaupun along the way, mas mbak yg saya add itu kadang-kadang nyetatus yang jauh dari literasi, but that's okay. Kan orang punya preferensi masing-masing. 😊

      Delete
  6. Beberapa Kali dinyinyirin karena status yg berhubungan dengan pola makan saya yang rada enggak biasa. Saking kebangetannya itu nyinyiran, guru nutrisi saya sampai turun tangan. Wkwkwk. Saya sih mulai biasa dinyinyirin. Waktu biasanya bakal ngebuktiin bahwa ada yang kurang dalam diri si tukang nyinyiran��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang pola makannya kenapa mbak? Ya sih memang in the end, akan ketahuan kok who is the real looser 😊

      Delete
  7. "Bahagiamu itu urusanmu"

    Teringat kata tung desem waringin, bahagia itu ya tanggung jawab kita masing2, jadi jangan salahkan orang lain kalau kita tak merasa bahagia.

    Nice post gan ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, senang bila bisa bermanfaat 😊

      Delete
  8. hahahah ini susaaaaah sih mas :D. dan jujur aja kdg aku kebawa emosi jg :p. kalo FB sih ga parah2 amat yaaa. yg parah komen blog. soalnya kan tulisanku mereview kuliner ato hotel biasanya. naaah, aku tipe yg kalo ga enak ya bakal bilang ga enak. kalo jelek ya bilang jelek. pernah ada yg marah2 doong :p. tp yg aku ga suka krn pake ancaman dan makian. sorry... utk yg kritik seperti itu, lgs aku tendang ke spam. boleh kritik, tp tlg dengan bahasa santun. toh walopun nulis review jujur, aku jg menyaring bahasaku. jd ga plek plek menghina bilang jelek :p.

    kalo di fb pernah 2-3x kalo ga salah nemuin komen ga enak. awalnya diladeni masih baik, tp pas ngelunjak aku unfriend lgs. block kalo kelewatan. ga ushlah fb kita berisi org2 yg begitu :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Extrem ya. Saya juga pernah ngeblok satu temen FB yang bawaannya komen negatif mulu. Bukannya apa sih, tapi hal negatif itu bener-bener toxic.

      Diladenin itu ya kita sendiri yang jadi tampak tolol, didiemin itu ya sakit hati. Akhirnya ya sudah, daripada daripada, mendingan mendingan. Unfriend + block.

      Kalau blog...hmm, komentator blog ini baik-baik semua sih. 😅

      Delete

Post a Comment