Memilih Minimalisme Sebagai Gaya Hidup, Bukan Sekedar Gaya-Gayaan


Awal perkenalan saya dengan gaya hidup minimalisme terjadi ketika saya sedang mencari-cari referensi tentang tips menulis. Waktu itu, saya baru mulai ngeblog. Jadi, pikir saya, saya harus belajar banyak dong gimana nulis efektif di blog.

Berhubung saya lebih suka mendengar daripada membaca, media podcast-lah yang paling sesuai. Nonton Youtube-juga, tapi lebih banyak mendengar daripada melihat videonya.

Singkat cerita, saya pun terdampar di sebuah web bernama The Minimalists. Pas banget waktu itu ada salah satu podcast mereka yang membahas tentang menulis.

Dari situ lah, saya mulai kepoin apa  itu minimalisme yang menjadi sudut pandang konten-konten di web/blog tersebut.

Dan, saya memutuskan menjadi seorang minimalist.

Apa Itu Minimalisme?

Banyak yang mengira kalau tujuan utama minimalisme adalah mengurangi, memiliki barang sesedikit mungkin. Bukan, bukan itu.

Mengurangi barang-barang yang kita punyai memang salah satu komponen penting dari minimalisme. Tapi, itu hanya satu bagian dari resepnya.

Ibarat sop ayam nih, ayam adalah bahan penting (bahkan utama). Tapi ada bahan-bahan lain yang juga nggak kalah pentingnya.

Kalau kita hanya fokus ke ayamnya saja tanpa memperhatikan bahan dan bumbu lainnya, maka kita tidak akan bisa menikmati kelezatan sebuah sop ayam.

Pun demikian dengan minimalisme.

Makan Malam Ala Minimalist

Barangkali, cara mudah memahami minimalisme adalah menggunakan analogi makan malam.

Bayangin kamu lagi lapar dan hendak menyantap makan malammu di meja makan. Tetapi, kamu melihat meja makan itu penuh dengan mainan anak-anak, piring kotor, dan kaleng krupuk, sehingga kamu nggak bisa tenang menikmati makan malammu.

Ada beberapa pilihan yang kamu bisa lakukan.

Pertama, kamu minta anak-anak merapikan mainannya, mengembalikan ke tempat mainan, piring kotor ditaruh di cucian, dan tempat krupuk dipinggirin.

Atau, karena kejadian ini terus berulang, kamu memutuskan untuk membeli sebuah meja makan baru yang lebih besar dan lega.

Ketiga, kamu buang semua mainan karena toh anak-anak masih punya mainan yang lain, mengurangi jumlah piring yang kamu miliki, dan hmm...sepertinya nggak pakai tempat krupuk pun nggak jadi masalah deh.

Mana yang seorang minimalist pilih untuk lakukan?

Manapun yang membuatnya dan orang di sekitarnya bahagia.

Fokus seorang minimalist bukan tentang meja baru atau menyingkirkan semua barang di rumah. Melainkan bagaimana cara terbaik untuk menikmati makan malamnya bersama orang tercinta, setelah seharian beraktivitas, berbagi cerita, dan ngobrol asyik soal rencana akhir pekan maupun rencana lain di masa depan.

Yang membedakan seorang minimalist dari kebanyakan orang bukan apa yang dia lakukan tapi kenapa dia melakukannya.

Sementara banyak orang yang memilih hidup mengalir seperti air, minimalist memilih untuk memiliki kesadaran penuh dan tanggung jawab atas apapun pilihan yang ia buat. Karena ia tahu, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.


Memilih Menjadi Seorang Minimalist

Minimalisme adalah satu dari sekian banayak cara menjalani hidup. Namun, menjadi minimalist bukan tujuan akhir.

Goal-nya adalah supaya kita bisa menjalani hidup dengan optimal, bahagia, terus bertumbuh, dan bermanfaat bagi orang banyak.

Bukankah Rasulullah SAW pernah berkata bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya?

Minimalisme adalah sebuah alat  untuk menyederhanakan diri kita sehingga kita bisa fokus akan hal-hal penting dalam kehidupan.

Minimalisme itu dinamis dan customized karena tiap orang punya value yang berbeda. Apa yang penting buat saya, mungkin nggak penting buat kamu. Begitu pula sebaliknya.

Minimalisme itu nggak ada buku panduannya. Kita sendiri yang menentukan minimalisme versi kita. Asalkan kamu bahagia, bermanfaat, dan menjadi versi terbaik dari dirimu.


Apakah kamu tertarik menjadi minimalist? Seperti apa minimalisme versi kamu?

12 comments

  1. Aku tertarik banget setelah lihat tedx the minimalists. Tapi jujur bingung mau mulai darimana, ka, dan lagi masih tinggal sama orangtua jadi merasa ga leluasa ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang sih ya, kadang orang lain itu jadi salah satu tantangan buat kita untuk merubah diri. Mau jadi minimalis, tapi apa daya, masih tinggal seatap dengan orang tua yang maksimalis.

      Tapi gini, kalau mbak Risa menganggap dengan menjadi minimalis itu banyak faedahnya kenapa nggak mulai dari dirimu sendiri dan hal-hal yang bisa kamu kendalikan? Jangan dulu berpikir untuk membuang semua perabotan di rumahmu. Salah-salah tar kamu yang dibuang 😁

      Mulai aja dari kamarmu, barang-barang pribadimu. Sambil pelan-pelan ngobrol sama orang tuamu tentang pandangan hidupmu sebagai seorang minimalist.

      Be the change you want to see.

      Delete
  2. Masya Allah. Alhamdulillah pagi-pagi begini aku sudah baca tausiah begini. Terima kasih, Kakak. Yup. Minimalis bukan perkara ngurangin kuantitas semata....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan tausiah kak, sekedar berbagi opini dan pengalaman :)

      Delete
  3. Terimakasih sharingnya.. saya jg suka yg minimalist :)

    ReplyDelete
  4. hmm...jangan2 apa yg selama ini saya lakukan minimalis dong ya. Punya barang yang pokoknya penting aja nggak masalah ikutin mode atau apa. Juga disesuaikan dengan kebutuhan.

    ReplyDelete
  5. Menarik sekali, ya. Pengen juga mencoba menerapkannya. Meskipun awalnya nggak pernah kenal gaya hidup minimalis, tapi selama ini kayaknya udah nyerempet gitu ke arah sana 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini kan baru-baru aja populer soalnya jaman sekarang mau punya apa2 relatif lebih mudah sampai-sampai tanpa sadar udah numpuk barang-barang di rumah.

      Intinya sih hidup sederhana, itu aja biar bahagia. Karena bahagia itu sederhana. Yang ruwet, orangnya 😅

      Delete

Post a Comment

Pages

© 2019

Prima G Chandra