Monday, April 15, 2019

Mencoba Tetap Ok Walau Tanpa ART


Kadang-kadang saya iri dengan cerita 'bahagia' keluarga muda yang bisa dengan mudah menitipkan bayi kecilnya ke orang tua mereka.

Bayangan saya sih, mereka pasti bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan tenang karena buah hatinya berada di tangan yang bisa dipercaya.

Lain ceritanya dengan kami. 

Kedua orang tua istri saya sudah meninggal dan walaupun kedua orang tua saya masih ada, tetapi kesibukan mereka dengan pekerjaan dan proyek-proyek yang terus berdatangan, membuat mereka tak punya cukup waktu untuk menemani putra kami, cucu mereka.

Di satu sisi, saya senang melihat mereka masih aktif di usia yang tak lagi muda. Namun, tidak dipungkiri ada perasaan marah dan kecewa.

Karena dari cerita teman-teman saya, orang tua itu senang sekali menimang cucu. Apalagi cucu pertama. Segalanya tak penting lagi kecuali melihat cucu mereka, bermain bersama dan tertawa bersama.

Ya, setiap keluarga punya ceritanya sendiri. Kebetulan, cerita kami berbeda dengan cerita teman-teman kami. But, that's life.

Ketika ART menjadi opsi

Suka tidak suka, menyewa tenaga Asisten Rumah Tangga (ART) merangkap pengasuh, menjadi opsi yang paling memungkinkan daripada salah satu berhenti bekerja.

Bagai mencari jarum di tumpukan jerami, mendapatkan ART yang 'memenuhi kualifikasi'  tidak mudah.

Maunya sih...kemampuan Nanny, dengan harga ART.

Tapi memang sulit. Akhirnya, kami pun berkompromi dengan standar kami. Yang penting orangnya baik, itu sudah cukup. Karena kami akan menitipkan Bio selama seharian bersamanya.

Cerita tentang ART ini benar-benar 'fantastis' buat saya dan istri saya. Ada 5-6 kali kami gonta-ganti ART. Sampai-sampai orang mengira kalau kami ini terlalu jahat, jadi nggak ada yang kerasan.

Tapi ya...mereka tahu apa sih? 😊

Tahun lalu, tepatnya waktu lebaran...waktunya ART mudik. Saya dan istri saya benar-benar merasakan kebebasan yang nggak pernah kami alami ketika ada ART.

Home sweet home 

Akhirnya terbesit ide untuk memulai hidup mandiri tanpa ART. Semua opsi kami kumpulkan dan pertimbangkan plus-minusnya, apa konsekuensinya, dan apakah kami mampu menanggungnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak lama setelah lebaran, mbak ART terakhir kami kembali bekerja. Namun, selang beberapa bulan kemudian ia mohon pamit pulang karena mau menikah dan nggak balik lagi.

This is it. Keragu-raguan kami tentang apakah kami siap hidup hanya bertiga dijawab Allah dengan menempatkan kami pada situasi tersebut. Dan, setelah menimbang-nimbang akhirnya, Bismillah, kami pun mantap memutuskan hidup tanpa ART.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami antara lain,

  1. Ada orang yang bisa kami percaya untuk menjaga Bio. Bahkan, ia sudah seperti orang tua bagi kami dan menganggap Bio bak cucunya sendiri.
  2. Kami 'cukup' mampu mengurus Bio sendiri, mulai mandiin, nyuapin, hingga menemaninya bermain (dulu saya cuma bisa di bagian mainnya aja sih). Terlebih Bio juga sudah cukup besar dan Alhamdulillah bisa diajak kerja sama.
  3. Kami bisa mengurus rumah sendiri, karena rumah kontrakan kami yang baru nggak terlalu besar. Jadi, cukup simpel dibersihin. Pelajaran juga kalau nanti cari rumah, jangan yang besar-besar biar nggak susah ngerawatnya.
  4. Kami mendambakan kebebasan untuk menjadi diri sendiri di rumah kami. Tanpa orang luar walaupun mereka itu baik.


Alhamdulillah sudah hampir setahun kami menjalani kehidupan sehari-hari tanpa ART. And it's awesome.

Tentunya ada beberapa perubahan, atau lebih tepatnya penyesuaian gaya hidup. Termasuk di dalamnya investasi yang kami lakukan. Beberapa di antaranya,

  1. Menurunkan standar. Kalau biasanya rumah selalu bersih dengan adanya ART (kalau kebetulan ART-nya resikan), kami pun mencoba nggak terlalu perfeksionis dalam hal yang satu ini. Untungnya rumah kami ngga besar-besar amat, dan barang kami nggak terlalu banyak, jadi memudahkan proses bersih-bersih.
  2. Bagi tugas. Papa, mommy, dan Bio...semuanya kebagian tugas buat mengerjakan pekerjaan rumah. Saya dan istri saya pun lumayan bisa saling back up dan gantian ngerjain salah satu kerjaan rumah (misal : seterika atau cuci piring).
  3. Berinvestasi dalam barang-barang yang membantu kami menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah. Seperti mesin cuci, vacuum cleaner, dan water heater. 
  4. Kami juga mulai berlangganan TV kabel, sekadar untuk self reward saat kami selesai beres-beres rumah. Pertimbangannya daripada nonton acara TV yang serba nggak jelas dan nggak mendidik, aja kok.


Memang, awal-awalnya sih susah. Tapi lebih karena belum terbiasa saja. Lama-lama, we've figured it out.

Mungkin seperti kata pepatah: awalnya terpaksa jadi bisa, lama-lama biasa (ada nggak sih pepatah kaya gini?).

Bagaimana denganmu? Seperti apa sih cerita perjalananmu bersama ART? Mind to share?

Bagi Ke Teman:

9 comments:

  1. Malam ms Chandra.. Kebetulan sy tuh dr awal menikah smpi sekrg ga punya art.. Jd apa"dilakukan sendiri alias gantian sm suami.. Kebetulan mmg sdh misah dr ortu.. Biar mandiri.. Kn niatnya mmg mau mandiri... Kl sdh kelewt cape urusan cuci mencuci plg sy ke londry aja.. Tp urusan masak.. Beberes dn rapih" rumah ttp sy kerjakan sendiri.. Kl dh cape paling banter tiduran aja.. Soalnya ssh kl mo selalu nuntut ttp rapi.. Alhamdullilah smpai skrg msh ttp setia no art... Duh komen sy kepanjangan ya.. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mbak, kalau sudah nikah sebaiknya memang 'pisah' dari orang tua supaya mandiri. Cuman kadang jealous aja denger cerita teman yang orang tuanya bisa dititipin.

      Tapi, ya sudah...toh tiap orang punya story sendiri.

      Makasih ya sudah berbagi opini.

      Delete
  2. Plus minus memang yaa kalau ada ART di rumah.
    Apalagi sekarang cari ART udah susah banget hiks hiks.

    Cheers,
    Dee Rahma
    heydeerahma.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pas dapet yang 'nggenah' sih lumayan banyak plusnya. Tapi kalo dapet yang kerja asal-asalan, ngakunya belanja padahal nggosip, ampun dah...

      Delete
  3. dulu banget pas anak saya masih playgroup pernah menyewa pengasuh (bukan art) dari semacam agency gitu. bertahan kurleb 5 bulan, gak tau kenapa kok mbaknya gak betah. akhirnya balik lagi deh, dititipkan mertua atau ortu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur mbak, ortu masih mau dan bisa dititipin 😊

      Delete
  4. banyak temen2ku dan keluarga yg bilang, aku beruntung utk urusan ART dan babysitter. dulu pas baru nikah, salah satu tetangga dtg dan menawarkan diri sendiri utk jd ART. waah kita happy lah. krn aku dan suami kerja kantoran yg mana pergi pagi buta, pulang malam hari. dan aku kayaknya ga mungkin kuat kalo msh hrs bersih2. jd di situ lgs kita trima. terbukti orgnya baik banget. s aku hamil dan lahiran, butuh babysitter kan. eh si art ini nawarin ada anak kenalannya dari bumiayu cari kerja. dicoba sebentar anaknya beneran baik dan telaten banget urus bayi. tp dia cm bertahan setahun krn ada tawaran yg lbh bagus. eh ndilalah tetangga yg dr awal ikut aku malah minta resign krn pgn jualan

    aku ga bakal nahan kalo memang itu penyebabnya. tapi blm sempet nyari pengganti 2-2nya ini , tetangga lain lgs nawarin gadis lain utk jd ART, dan kemudian ada 1 ibu2 yg baru aja kluar dr kerjaan sbgi babysitter, krn anak2 asuhannya udh gede.

    uwaaaah kayak kejatuhan bintang mas :D. 2-2 nya terbukti baiiik banget, dan sampe skr msh ikut aku. anak2pun sayang banget ama mereka. jd aku anggab udh kyk anggota keluarga sndiri. setahun sekali aku ajak traveling, sebulan sekali aku ajak staycaytion di hotel. supaya mereka makin betah dan ga kepikiran kluar juga.

    ga tau deh kalo sampe resign, aku stress mungkin -_-.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, rejeki anak sholeh/sholehah ya mbak. Beruntung banget lho bisa seperti itu.

      Semoga dirimu sekeluarga tetap dikelilingi orang-orang baik ya Mbak 😊

      Delete
  5. Saya beruntung karena ketika itu masih ada ibu yang menemani anak-anak. Tapi sempat beberapa saat mandiri, karena jarak rumah lumayan agak jauh sama ibu. Senang karena bisa nanggani anak sendiri. Lupakan rumah yang porak poranda yang penting anak keurus hahahaha itu prinsip kami. Jadi santai saja. Oh ya, anak jadi lebih mandiri lho mas.

    ReplyDelete